
Andreas dan Nisa duduk didepan meja dokter. Hasil pemeriksaan MCU mereka berdua baru saja keluar. Sejak tadi Nisa dibuat gugup dan cemas. Dia takut Andreas akan menaruh curiga padanya jika mengetahui selama ini dia mengonsumsi pil penunda kehamilan.
Dia sudah berusaha untuk mencegah Andreas melakukan MCU bersama dengan berbagai cara, tapi Andreas bersikeras ingin melakukannya saat itu juga. Dengan alasan agar bisa segera mendapatkan perawatan dan melakukan progam kehamilan jika salah satu di antara mereka memiliki masalah dalam hal reproduksi.
Nisa tak berani mengangkat wajah. Dia terus menundukkan kepala saat dokter itu membuka map di atas meja. Map yang berisi laporan hasil pemeriksaan mereka berdua.
"Tuan Anderas dan Nyonya Annisa,," Ucap Dokter yang membaca nama pada map itu. Dia kemudian membaca hasil yang ada di tangannya.
"Semua normal dan sehat, kalian berdua tidak memiliki masalah pada organ reproduksi."
"Sel telurnya sangat bagus, begitu juga dengan sepr manya." Ujar Dokter dengan tenang dan pelan. Sesekali menatap hasil laporan, lalu menatap kedua pasangan suami istri itu juga.
Keduanya sama-sama subur, bahkan kemungkinan bisa menghasilkan bayi kembar.
"Sesuai keterangan Nyonya Annisa yang baru selesai haid 5 hari yang lalu, maka mulai besok sudah masuk masa subur. Sel telur sudah siap untuk dibuahi. Dan ada kemungkinan kalian bisa memiliki anak kembar." Ujarnya lagi.
Tentu saja semua yang di katakan oleh Dokter itu membuat Andreas bernafas lega, bahkan terlihat sangat senang. Di tambah lagi prediksi dokter yang menyebutkan kalau dia dan Nisa kemungkinan bisa memiliki anak kembar. Senyum di wajah Andreas semakin lebar saja dengan mata yang berbinar.
Berbeda dengan Andreas yang antusias dan fokus mendengarkan penjelasan dari dokter, Nisa justru masih menundukkan kepala. Dia sedang berfikir keras untuk memikirkan alasan yang tepat jika perbuatannya selama ini terbongkar di depan Andreas. Nisa sangat yakin kalau cepat atau lambat dokter itu akan mengatakannya.
"Kembar Dok.? Kami bisa punya anak kembar.?" Tanya Andreas yang masih setengah percaya.
"Itu bisa saja terjadi mengingat kondisi sel telur dan sper manya sangat bagus." Dokter memberikan pernyataan yang semakin membuat Andreas percaya.
"Asalkan Nyonya Annisa berhenti mengonsumsi pil penunda kehamilan, saya rasa bulan depan kalian akan mendapatkan kabar bahagia,,"
Deghh,,,!!
__ADS_1
Jantung Nisa seolah berhenti berdetak. Ini yang dia takutkan sejak Andreas mengatakan ingin memeriksakan diri ke dokter obgyn.
"Apa.?! Pil penunda kehamilan.?" Andreas terlihat kaget dan bingung. Dia. sampai bergantian menatap Nisa dan dokter itu.
Nisa semakin tidak berani mengangkat wajahnya. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa reaksi Andreas saat ini. Jika mendengar dari suaranya, Nisa bisa menyimpulkan Andreas sangat kaget dan tidak percaya.
Sementara itu, sang Dokter mulai bisa membaca situasi yang ada di depan matanya. Dia bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pasiennya itu.
Keduanya jelas terlihat tidak ada keterbukaan satu sama lain.
Melihat sang suami yang kaget setelah mendengar istrinya mengonsumsi pil penunda kehamilan, sudah pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
Akhirnya Dokter itu menyerahkan hasil pemeriksaan pada mereka dan menutup obrolan. Dia meminta keduanya untuk pulang ke rumah dan membicarakan masalah itu berdua. Karna hal itu sudah masuk ranah internal dalam hubungan rumah tangga mereka yang tidak perlu di ketahui oleh dokter.
...*****...
Nisa yang bermaksud ingin meluruskan dan menjelaskan pada Andreas, tak bisa berkata banyak karna Andreas sama sekali tidak mau merespon ucapannya.
Nisa sesekali mencuri pandang ke arah Andreas. Dia ingin mencari tau apa yang sebenarnya di rasakan oleh Andreas saat ini.
Rasanya tidak percaya dengan kesedihan dan kekecewaan yang di tunjukkan oleh Andreas dari raut wajah dan sorot matanya.
Nisa tak bisa berfikir positif pada Andreas, dia selalu menaruh curiga pada laki-laki itu karna takut apa yang sering di katakan oleh Devan tempo hari adalah sebuah kebenaran. Kebenaran jika Andreas menikahinya hanya untuk balas dendam pada Devan.
Sampainya di apartemen, Nisa hanya bisa diam dan membuntuti kemanapun Andreas melangkahkan kakinya.
Andreas berhenti di depan lemari pendingin. Dia mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin itu.
__ADS_1
"Kamu mau minum juga.?" Tawar Andreas pada Nisa yang diam berdiri di belakangnya.
Nisa menggelengkan kepala.
"Andreas aku,,,
"Nanti saja, jangan membahasnya sekarang. Aku sedang tidak bisa berfikir jernih,," Ujarnya memotong ucapan Nisa.
Laki-laki yang memiliki tubuh tinggi itu bergegas duduk di depan meja makan dan meneguk minuman kaleng yang dingin itu hingga habis tanpa sisa.
Dalam keadaan seperti ini, hal yang paling penting di lakukan oleh Andreas adalah mendinginkan hati dan pikirannya. Dia tidak mau gegabah, karna kebodohannya bisa saja membuat Nisa takut padanya dan berakhir dengan sia-sia.
"Kenapa masih berdiri di situ.?" Tegur Andreas lembut.
"Kemari,,," Pintanya sembari menepuk pahanya. Dia menyuruh Nisa untuk duduk di pangkuannya.
Nisa terlihat ragu-ragu untuk mendekat, tapi mengingat dia harus mencari cara untuk membuat Andreas tidak menaruh curiga padanya, Nisa memberanikan diri duduk di pangkuan Andreas.
Senyum dan gesture nya masih sangat kaku. Karna dia menahan segala perasaan yang sedang menyelimutinya saat ini.
"Aku minta maaf Andreas,," Nisa memberanikan diri menatap wajah Andreas. Dalam jarak yang sangat dekat, tentu dia menahan kegugupan.
"Kenapa harus minta maaf.?" Tanya Andreas dengan gaya bicara yang tenang. Kedua tangannya melingkar di pinggang Nisa.
"Karna aku meminum pil itu tanpa sepengetahuan kamu." Lirih Nisa.
"Awalnya aku tidak bermaksud untuk menundanya, tapi karna kamu tidak ingin memiliki anak dalam waktu dekat, aku jadi berfikir untuk mengonsumsi pil itu." Tuturnya. Dia beralasan dengan membawa keinginan Andreas pada awal-awal pernikahan mereka, dengan tujuan agar Andreas bisa memahami kenapa dia sampai meminum pil penunda kehamilan itu.
__ADS_1