
Nisa hanya bisa menggelengkan kepala melihat putranya di gandeng oleh Andreas. Dengan langkah yang terburu-buru dan teriakan antusias, keduanya memasuki showroom terbesar dengan dinding kaca. Beberapa mobil mewah tampak berjejer dan bisa terlihat jelas dari luar gedung.
Kenzie bahkan sudah menunjuk salah satu mobil incarannya sejak Andreas menurunkanya dari mobil.
Agak berlebihan memang jika Andreas sampai membelikan mobil sport itu untuk anak yang usianya bahkan belum genap 3 tahun.
Tapi Pria itu sudah terlanjur janji pada putranya. Nisa juga tidak bisa melarang Andreas karna harus menghargainya sebagai orang tua Kenzie juga. Dan mungkin dengan cara Andreas membelikan mobil yang diinginkan oleh Kenzie, bisa membuat rasa bersalah Andreas pada putranya sedikit berkurang.
"Sayang, ayo,," Suara lembut Andreas membuyarkan lamunan Nisa. Rupanya wanita itu diam di tempat dengan pandangan mata menerawang hingga membuat Andreas harus menghampiri Nisa dan menggandeng tangannya.
Nisa hanya melirik sekilas saat tangannya di genggam oleh Andreas. Dia membiarkan pria itu menggandengnya dan Kenzie sudah berada di dalam gendongannya.
"Kamu yakin ingin membeli mobil itu untuk Zie.?" Sekali lagi Nisa bertanya untuk meyakinkan Andreas akan keputusannya. Lagipula harga mobil itu pasti sangat mahal.
"Aku bahkan akan membeli showroom ini dan isinya kalau Zie mau." Jawab Andreas seraya terkekeh kecil.
"Andreas,,!" Tegur Nisa sembari menggoncang tangannya. Dia tau Andreas sangat kaya dan bisa membeli apapun yang dia inginkan. Tapi bukan berarti harus membeli tampat itu juga.
"Aku hanya bercanda." Jawabnya yang kemudian terkekeh karna Nisa menganggap ucapannya serius.
Nisa menatap wajah tampan itu beberapa saat. Terlalu banyak perubahan dalam diri pria itu. Dulu Andreas jarang bercanda, bahkan hampir tidak pernah bercanda. Pria itu sangat serius setelah menikah, tapi penuh perhatian dan selalu melakukan sesuatu yang menurutnya sangat manis.
...****...
"Kamu punya kakak atau adik.?" Aditya membuka obrolan setelah beberapa menit saling terdiam.
Mereka masih dalam perjalanan menuju kediaman orang tua Tiara yang jaraknya cukup jauh dari rumah Nisa.
Tiara menganggukan kepala.
"Satu Kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Kami beda ibu." Jawabnya kemudian.
Aditya langsung menoleh, dia sedikit tertarik setelah mendengar jawaban Tiara.
"Maksudnya.?" Ucap Aditya yang ingin tau lebih jauh tentang keluarga Tiara.
__ADS_1
"Ayah menikah lagi setelah Ibu meninggal. Mama sambungku itu membawa satu anak perempuan yang usianya 3 tahun lebih tua dariku. 2 tahun setelah menikah, Mama sambungku melahirkan adikku." Tiara menjelaskan dengan detail dan membuat Aditya langsung paham seperti apa keluarga Tiara.
Tiara juga memiliki alasan untuk menceritakan semua itu pada Aditya. Setidaknya laki-laki itu harus mengenal lebih jauh tentang keluarganya.
"Apa hubungan kamu dan mama sambungmu baik-baik saja.?" Tanya Aditya. Tatapannya sedikit menunjukkan kecemasan.
Mengingat banyak kejadian Ibu sambung yang bersikap kurang baik pada anak tirinya, tentu membuat Aditya jadi overthinking.
Mungkin saja Tiara pernah mendapatkan perlakuan buruk dari Ibu sambungnya.
"Mama Amira sangat baik padaku." Jawab Tiara jujur. Sejak kehadiran Mama Amira, Tiara bisa merasakan kembali kasih sayang seorang Ibu. Mama Amira tidak pernah membeda-bedakan dia dengan anak kandungannya. Tapi semua itu tak lantas membuat Tiara bisa hidup tenang dan bahagia.
Kasih sayang dan perhatian yang terbagi, membuat anak kandung Mama Amira menaruh kebenciannya pada Tiara. Elena, wanita yang kini berusia 23 tahun itu masih membenci Tiara sampai saat ini
"Syukurlah, aku pikir semua ibu sambung menyeramkan." Sahut Aditya yang tampak sedikit mengulum senyum.
"Itu rumahku." Tiara menunjuk salah satu rumah minimalis bercat abu-abu dan halaman yang sempit.
Aditya bergegas memarkirkan mobil di halaman rumah sederhana itu. Dengan lebar rumah yang kurang dari 10 meter, namun cukup rapi dan terawat.
"Tiara.?" Serunya dengan nada penuh haru. Dia bergegas menghampiri putrinya yang baru turun dari mobil.
"Ayah." Tiara menghambur kepelukan orang tuanya. Sudah hampir 2 bulan dia tidak mengunjungi orang tuanya. Terakhir pulang, terjadi keributan antara dia dan Elena. Jadi Tiara memutuskan tidak pulang untuk sementara waktu sampai dia bisa meredam kekecewaannya.
"Kenapa baru pulang.? Ayo masuk,," Pak Heru melepaskan pelukannya dan merangkul Tiara untuk masuk ke dalam.
"Di antar siapa.?" Tanyanya setelah melihat keberadaan Aditya. Laki-laki paruh baya itu tampak menatap Aditya dari ujung kaki sampai kepala. Dia belum pernah melihat Aditya sebelumnya. Biasanya Tiara akan pulang di antar oleh Pak Dito ataupun Aldo.
"Siang Pak." Sapa Aditya. Dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan calon mertuanya.
"Saya Aditya. Pacarnya Tiara."
Jawaban Aditya sontak membuat Tiara sedikit terkejut, tapi kemudian menyadari bahwa tujuan Aditya datang menemui orang tuanya untuk meminta ijin menikah.
"Apa.? Pacar.?!" Pak Heru tampak syok. Dia menatap Tiara untuk meminta penjelasan. Pasalnya selama ini Tiara tidak pernah memiliki pacar ataupun dekat dengan laki-laki.
__ADS_1
"Kita bicara di dalam saja Ayah." Ucap Tiara.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah.
...*****...
"Terimakasih banyak Pak." Manager showroom itu menjabat tangan Andreas setelah Andreas membubuhkan tanda tangan pembelian mobil seharga 9,5 milyar itu secara tunai.
"Sama-sama."
"Tapi saya mau memakai mobil itu sekarang. Putraku ingin berkeliling dengan mobil barunya." Ujar Andreas manager itu meyanggupi dan menyuruh karyawannya untuk menyiapkan mobil tersebut agar bisa langsung di bawa oleh Andreas.
Kini mereka bertiga sedang duduk di ruang tunggu. Melihat dari kejauhan beberapa karyawan yang sedang mengecek mobil baru tersebut.
"Jangan sampai ada mobil-mobil mahal berikutnya Ndre,," Ujar Nisa. Sangat di sayangkan melihat Andreas mengeluarkan banyak uang hanya untuk sebuah mobil yang pasti tidak akan di pakai setiap hari.
"Kamu ini masih saja seperti dulu." Andreas mengusap gemas pucuk kepala Nisa. Wanita cantik itu tak pernah berubah sejak dulu. Tak suka membeli barang-barang mahal jika tidak terlalu bermanfaat.
"Memangnya kenapa denganku.?" Nisa menautkan kedua alisnya.
"Kamu itu bawel, cerewet, tapi cantik dan seksi,," Andreas membisikkan kata terakhir di telinga Nisa. Sontak saja pria itu mendapatkan cubitan di pinggangnya.
"Sakit sayang,,," Ucap Andreas dengan nada manja.
"Jangan sadis-sadis di luar, nanti saja kalau di kamar." Andreas hampir saja mendapatkan cubitan lagi, tapi dengan cepat dia memegang tangan Nisa.
"Jangan seperti ini, kamu terlalu menggemaskan." Ucapnya menggoda. Tapi memang kenyataannya seperti itu. Bibir yang mencebik dan tatapan kesal, membuat raut wajah Nisa tampak menggemaskan.
"Dan kamu terlalu menjengkelkan." Bisik Nisa yang tak mau putranya mendengar ucapannya.
Cupp,,,
Sebuah kecupan di pipi membuat Nisa membulatkan kedua matanya. Dia menatap kesal pada Andreas karna sudah sembarangan menciumnya di depan umum.
"Kecupan permintaan maaf sayang."Kata Andreas sebelum Nisa mengamuk padanya.
__ADS_1