
"Apa kau sudah gila.!!" Andreas mendelik. Kalau saja kondisinya tidak lemah, mungkin saat ini Aditya sudah mendapatkan tinjuan darinya.
Entah ide gila macam apa yang di berikan oleh Aditya padanya. Asisten pribadinya itu menyuruhnya untuk pura-pura koma.
"Benar Tuan, aku memang sudah gila karna pusing dengan jalan hidupmu.!"
Aditya mengumpat dalam hati. Lama-lama dia bisa stress karna harus mengikuti Andreas setiap hari untuk berjuang bertemu dengan anak dsn istrinya.
Baru 2 hari saja sudah membuat kepalanya pusing dan lelah. Rasanya tak akan sanggup jika harus menemani Andreas lagi setelah bosnya itu keluar dari rumah sakit.
"Tidak ada cara lain Tuan."
"Ini cara ekspres untuk membuat Nona Nisa datang menemui Anda. Itupun kalau Nona Nisa masih memiliki perasaan pada Anda. Karna saya lihat dia sangat kecewa ketika bertemu di Ja,,,"
Aditya langsung merapatkan bibirnya. Sepertinya dia salah bicara karna membuat Andreas tertunduk sendu.
Laki-laki itu pasti sendang mengingat kesalahannya tempo hari saat acuh pada Nisa di bandara.
"Apa aku tidak pantas mendapatkan maaf.?" Tiba-tiba saja Andreas meloloskan pertanyaan yang menyayat hati, membuat Aditya merasa bersalah karna sudah mengatakan bahwa Nisa terlihat sangat kecewa.
Tak mau membuat bosnya semakin sedih dan patah semangat, Aditya coba untuk meyakinkan kembali.
"Siapapun berhak untuk mendapatkan maaf, Tuan. Asal tulus meminta maaf dan mau memperbaiki kesalahan."
"Percayalah, Nona Nisa pasti akan datang jika mengatahui Anda koma. Setidaknya setelah itu Anda bisa berjuang lebih keras lagi."
Entah pikiran bijak dari mana, tiba-tiba keluar begitu saja dari mulut Aditya. Padahal dia sendiri gagal untuk memperjuangkan cintanya yang kandas karna terhalang jarak. Karna dia memilih mengabdi pada Andreas dengan ikut pergi ke Amerika.
"Bagaimana jika aku ketahuan berbohong.? Yang ada Nisa akan semakin benci padaku." Andreas tak menyetujui begitu saja ide gila dari Aditya. Dia mempertimbangkan hal buruk yang mungkin saja terjadi jika sandiwaranya diketahui oleh Nisa.
Istrinya itu pasti akan semakin menjauh dan tak mau melihat wajahnya lagi.
“Anda punya banyak uang, gunakan uang Anda untuk membayar dokter dan perawat disini."
"Agar tidak ketahuan, Anda bisa meminta obat tidur pada dokter." Aditya mengulum senyum percaya diri, merasa kalau idenya sangat briliant dan akan sesuai dengan ekspektasinya. Yaitu membuat Nisa mau datang ke rumah sakit melihat Andreas.
...******...
"Kamu yakin disini rumahnya.?" Seorang laki-laki tampan menatap rumah besar berlantai dua dari dalam mobil.
"Yakin Pak, informasinya bisa di percaya." Jawab sang supir.
__ADS_1
Bergegas turun dari mobil, laki-laki berbadan tegap itu berjalan ke arah pos satpam. Berdiri di luar gerbang yang tinggi.
"Mau cari siapa Pak.?" Aldo menatap laki-laki itu dari ujung kaki sampai kepala. Berbalut pakaian casual namun dengan barang-barang branded, Aldo yakin jika laki-laki di hadapannya itu bukan orang biasa. Terlebih wajah tampannya juga semakin menunjang penampilan.
"Anissa, Anissa Salsabilla."
"Saya ingin bertemu dengannya," Dia tampak berharap jika rumah yang dia datangi benar-benar rumah Nisa.
"Maaf, apa Bapak sudah membuat janji.?"
"Karna Bu Nisa sedang tidak ingin bertemu siapapun."
Jawaban satpam itu membuatnya tertegun, senang bercampur tidak percaya karna dia berhasil menemukan keberadaan Nisa.
"Saya Devan Chandratama. Tolong sampaikan pada Nisa kalau saya menunggunya di sini." Pintanya memohon.
"Baik Pak, tunggu sebentar."
Aldo masuk ke dalam rumah tanpa membukakan gerbang. Dia membiarkan Devan menunggu di luar rumah sesuai perintah majikannya yang tidak mengijinkan membuka gerbang untuk siapapun.
"Maaf Bu, di luar ada laki-laki yang mencari Ibu." Tutur Aldo.
"Siapa.?" Tanyanya. Dia yakin laki-laki bukan Andreas karna Andreas baru saja di larikan ke rumah sakit 1 jam yang lalu. Tidak mungkin dia keluar dari rumah sakit secepat itu.
Tidak mungkin juga itu Brian, karna Aldo juga sudah mengenalnya dan selalu memanggil dengan sebutan Pak Brian.
"Dia bilang namanya Devan Chan,,, aduh,, saya lupa Bu,," Aldo tersenyum kikuk karna tidak ingat dengan nama lengkap laki-laki itu.
"Devan Chandratama.?" Tebak Nisa ragu. Karna tidak mungkin jika tiba-tiba Devan juga ada di Batam.
"Iya Bu, Devan Chandratama." Aldo menegaskan.
"Dia menunggu di luar Bu. Apa perlu saya bukakan gerbangnya.?" Tawar Aldo. Dia berani berkata seperti itu karna Nisa mengenal laki-laki yang datang.
^^^"Untuk apa dia menemuiku." Gumam Nisa lirih.^^^
Dia benar-benar malas jika harus bertemu kembali dengan Devan. Apalagi tak ada ikatan apapun di antara dia dan Devan.
"Apa Bu.?" Tanya Aldo. Dia mendengar Nisa bicara namun tidak jelas apa yang di ucapkan oleh majikannya itu.
"Tidak perlu di buka, saya akan menemuinya."
__ADS_1
Nisa beranjak dari duduknya. Dia menitipkan Kenzie pada Tiara dan bergegas keluar menemui Devan.
"Anissa,," Ucap Devan. Dia seolah tidak percaya melihat Nisa yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Untuk apa menemuiku.?" Nisa manatap datar tanpa ekspresi.
"Pulanglah, jangan menganggu hidupku."
"Sudah cukup aku masuk dalam lingkaran keluarga kalian yang penuh dendam hingga menghancurkan semuanya.!" Kali ini Nisa menatap ketus.
Sejujurnya sejak dulu dia ingin mengungkapkan hal ini pada Devan.
Dendam di hati Andreas tumbuh akibat keluarganya sendiri yang telah membeda-bedakan Andreas. Meski murni kesalahan Tuan Chandra, tapi Devan dan Mama Zoya juga ikut andil karna tidak bisa meluruskan perlakuan Tuan Chandra pada Andreas. Yang pada akhirnya menciptakan dendam, lalu menyeret Nisa yang tak tau apapun ke dalamnya hingga dia menjadi korban yang paling menderita.
Jadi tidak salah kalau di ingin menghindari semua keluarga Andreas.
"Tidak Anissa, aku ingin memastikan kamu dan keponakanku baik-baik saja." Devan menatap sendu.
"Mama juga mengkhawatirkan kamu selama ini. Dia bahagia saat tau bahwa kamu memiliki anak dari Andreas." Devan hendak meraih tangan Nisa, namun Nisa melangkah mundur.
"Devan, aku tak ada hubungannya lagi dengan kalian. Hubungan saudara di antara kita sudah terputus 3 tahun yang lalu. Sekarang anggap saja kita tak pernah saling mengenal."
"Aku benar-benar menyesal pernah menjadi bagian dari keluarga kalian."
Mata Nisa berkaca-kaca. Rasa sesak begitu menghimpit dada. Andai waktu bisa di putar, dia akan pergi jauh setelah Andreas memper ko sanya agar tak ada pernikahan di antara mereka.
Meski harus merelakan Kenzie. Karna saat ini Kenzie juga harus menjadi korban sejak putranya itu masih dalam kandungan.
"Jangan seperti ini Nisa, kamu tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Aku ingin melindungi kamu dan putramu." Devan berucap tulus. Dia yang paling tau penderitaan Nisa sejak dulu. Sudah saatnya dia juga menebus kesalahan yang pernah dia perbuat pada Nisa.
"Percayalah aku lebih bahagia menjadi sebatang kara.! Cukup ada putraku.!" Sahuta Nisa cepat.
Karna tidak ada gunanya memiliki keluarga jika pada akhirnya keluarga itu yang akan menghancurkan dirinya sendiri.
"Kamu boleh pergi.!" Usirnya.
Nisa berbalik badan, bergegas pergi meninggalkan Devan yang masih berdiri di luar gerbang.
"Anissa,,, dengarkan aku dulu,,,!!" Teriak Devan.
Nisa tak menghiraukannya dan tetap masuk ke dalam rumah.
__ADS_1