Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 172


__ADS_3

Andreas hanya diam saja sambil menatap wajah lNisa yang tengah duduk di atas tubuhnya. Nisa bahkan sudah melepaskan kemeja dan celana panjang Andreas hingga kini tubuh bagian atas Andreas polos tanpa sehelai benang, hanya menyisakan celana dlm yang masih membungkus rapat pusakanya yang sudah siap untuk bertempur.


Wanita cantik itu mengibas pelan rambut curlynya ke belakang. Padahal Nisa hanya membenarkan rambutnya agar tidak mengganggu karna ingin mengungkung tubuh Andreas. Tapi di mata Andreas, Nisa terlihat sedang menggoda dengan gerakan seksi.


"Sepertinya aku tidak bisa." Suara berat Andreas terdengar serak. Belum sempat Nisa mengungkung tubuh Andreas untuk mencium bibirnya, tubuhnya justru lebih dulu di jatuhkan dan kini dengan posisi di bawah kungkungan Andreas.


Pria itu tidak tahanhanya diam saja tanpa memberikan serangan lebih dulu. Apalagi melihat Nisa yang berbeda malam ini. Lingerie dan lipstik merahnya terlalu menggoda iman.


"Andreas,, aku bahkan belum mulai,," Protes Nisa.


Sepertinya dia gagal untuk mendominasi permainan. Baru duduk di atas tubuhnya saja sudah membuat Andreas kalang kabut sampai tidak bisa menahan diri.


"Biar aku saja yang mulai." Andreas menjawab dengan seringai mesum. Dalam hitungan detik dia sudah memagut bibir Nisa, satu tangannya menjelajahi bukit favoritnya.


Meski mendapat serangan mendadak, Nisa dengan cepat mengimbangi pagutan bibir Andreas.


Beberapa menit berlalu, kini tubuh keduanya sudah polos. Nisa mendapatkan beberapa tanda kepemilikan di dua bukitnya. Niat hati ingin memanjakan Andreas dengan mendominasi permainan, justru malah dia yang di manjakan oleh Andreas.


Pria tampan itu sudah membuat Nisa mendapatkan pelepasan untuk pertama kali tanpa melakukan penyatuan.


"Sudah siap.?" Bisik Andreas di telinga Nisa. Dia baru saja memberikan waktu pada Nisa untuk mengatur nafasnya.


Nisa mengangguk cepat, kemudian bangun dan langsung naik ke atas tubuh Andreas.


"Biar aku saja." Ujarnya seraya memposisikan diri untuk melakukan penyatuan.


Andreas sontak mengukir senyum, dia selalu menyukai posisi seperti ini. Meski Nisa tidak terlalu pandai melakukannya, tapi cukup membuatnya mengeram nik mat.


Nisa tampak menggigit bibir bawahnya saat tangannya mengarahkan benda itu untuk masuk.


Andreas juga membantunya dengan memberikan dorongan dari bawah sana.


Tidak sabar lantaran hanya terbenam sedikit, Andreas lantas menyentaknya ke atas.


"Aww,,! Andreas,," Nisa memukul pelan dada bidang suaminya karna sudah membuatnya tersentak kaget sekaligus memberikan rasa sakit di bawah sana.


"Sorry baby,,".Ucap Andreas Dia menarik tengkuk Nisa untuk menyambar kembali bibir manis itu, sebelum akhirnya meminta Nisa untuk bergerak.

__ADS_1


Pergulatan mereka semakin panas. Nisa bergerak semakin liar, dia sampai membuat Andreas menatap tak percaya dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini. Namun jelas sekali bahwa yang dia lakukan sudah membuat Andreas kehilangan akal sehat sampai terus mengerang nik mat.


Nisa tampak mengukir senyum tipis bahkan nyaris tak di sadari oleh Andreas.


Ternyata tidak sia-sia dia mencari tau tentang gerakan untuk mengalahkan pasangan di atas ranjang.


Permainan panas itu berlangsung cukup lama. Nisa sampai mengajak Andreas untuk bermain di sofa dengan pemandangan kota Los Angeles dari balik dinding kaca di kamar mereka.


Nisa tidak khawatir tubuhnya dia lihat orang dari luar. Selain ruangan di dalam kamar sengaja diredupkan, dinding kaca itu juga tidak tembus pandang dari luar. Jadi tidak ada seorangpun yang akan menonton percintaan mereka secara live.


...****...


Pagi itu Andreas turun ke bawah setelah memastikan Kenzie masih tidur di kamar sebelah. Dia pergi ke dapur untuk mencari keberadaan istrinya yang sudah menghilang dari kamar.


"Siapa yang mengijinkanmu keluar dari kamar sebelum aku bangun." Tegur Andreas hingga membuat Nisa terperanjat kaget. Apa lagi tangan Andreas juga melingkar di perut tanpa permisi.


"Aku harus membuat sarapan untuk suami dan putraku." Jawab Nisa santai.


Dia melanjutkan memotong bahan makan yang akan dia masak.


Andreas hanya mengukir senyum tipis. Dia meletakkan dagu di pundak Nisa dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang semalam membuatnya tergila-gila dengan gerakannya.


Dan entah berapa kali mereka melakukan percintaan itu dengan berbagai posisi dan berganti-ganti tempat.


...*****...


Saat ini mereka sudah berada di ruang makan. Kenzie tampak tidak bersahabat pagi ini begitu bangun tidur. Dia merengek dan ingin terus di gendong oleh Andreas.


Pria itu bahkan sampai harus memangku Kenzie sembari menyantap sarapannya. Karna Kenzie sama sekali tidak mau duduk sendiri, atupun duduk di pangkuan Nisa.


"Zie,, ayo duduk sini sayang." Bujuk Nisa lembut. Tangannya menepuk pelan baby chair di sebelahnya.


"Biarkan Papi makan dulu ya." Ucapnya lagi.


Nisa jadi kasihan pada Andreas karna kesulitan makan lantaran ada Kenzie di pangkuannya.


Kenzie menggeleng cepat, dia justru semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Andreas.

__ADS_1


"Zie mau sama Papi." Ucapnya.


"Tidak apa sayang,, biarkan saja." Ujar Andreas yang merasa tidak terganggu dengan putranya. Dia justru senang melihat putranya sangat lengket padanya.


"Kalau begitu biar aku menyuapimu." Nisa menarik piring Andreas ke hadapannya.


"Kamu bilang ada rapat penting hari ini. Jangan sampai nanti terlambat." Katanya sembari menyuapkan makanan ke dalam mulut Andreas.


Binar kebahagiaan semakin terpancar saja di wajah tampan Andreas. Kali ini dia sudah bisa merasakan nikmatnya hidup sejak Nisa mau kembali padanya.


Tak lagi lagi tersiksa dengan penyesalan dan rasa bersalah. Kini hanya kebahagiaan yang menyelimuti hari-harinya.


Nisa sudah selesai menyuapi Andreas dan Kenzie. Dia juga sudah selesai sarapan.


Kini dia sedang berusaha membujuk Kenzie agar mau lepas dari Andreas yang harus berangkat ke kantor.


"Zie, tolong dengarkan Momi, sayang." Ucap Nisa yang kesekian kalinya. Entah kenapa pagi ini Kenzie benar-benar sulit untuk di bujuk dan tidak mau mendengarkan ucapannya.


"Zie mau ikut Papi." Pintanya lagi.


Saat Nisa bilang kalau Andreas harus berangkat ke kantor, Kenzie malah merengek ingin ikut.


"Baiklah,, Zie boleh ikut Papi ke kantor." Kata Andreas yang di sambut dengan teriakan antusias Kenzie.


"Tapi kaku harus rapat, tidak mungkin harus membawa Kenzie ke ruangan rapat Ndre,," Nisa tampak tidak setuju Andreas mengajak Kenzie ke kantor. Pasalnya hari ini suaminya itu akan sibuk.


Setelah beberapa saat memperdebatkan hal itu, akhirnya Andreas meminta Nisa untuk ikut ke kantor juga.


Mobil yang di kendarai supir pribadi Andreas, memasuki gedung perkantoran yang menjulang tinggi.


Gedung mewah yang lebih menonjol di banding dengan gedung-gedung di sebelahnya.


Kini Nisa mengerti kenapa Andreas memiliki banyak uang dan di kenal oleh beberapa orang di kota ini. Itu karna perusahaan Andreas sangat besar.


...****...


gak jdi di skip, buat nyenengin kalian🤣

__ADS_1


__ADS_2