
Sorot mata tajam itu di penuhi dengan amarah dan rasa sakit yang menusuk. Sosok yang ada di hadapannya saat ini adalah alasan kehancuran dalam hidupnya.
Meski beberapa di antaranya bukan sepenuhnya salah dia. Namun semuanya berkaitan dengan namanya.
Nisa menarik nafas dalam, dia tampak mengukir senyum kecut yang menyayat hati. Menatap wanita yang tengah berjalan pelan ke arahnya dengan raut wajah bersalah.
“Boleh bicara berdua.?" Tanya Irene lirih.
Dia bergantian menatap Andreas dan Nisa untuk meminta persetujuan dari mereka.
Tapi tampaknya Andreas tidak setuju.
"Tolong tinggalkan kami berdua Ndre,," Pinta Nisa. Dia bicara lebih dulu sebelum Andreas bersuara untuk menolak keinginan Irene.
"Kondisi kamu belum stabil, sebaiknya jangan membicarakan apapun dulu saat ini." Tegur Andreas. Dia melarang Nisa untuk berbicara empat mata dengan Irene, mengingat perkataan Dewa mengenai kondisi kesehatan Nisa.
Andreas bisa menyimpulkan jika kondisi kesehatan Nisa yang tiba-tiba memburuk di sebabkan karna fakta tentang orang tua Irene.
Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, sebaiknya memang Nisa dan Irene tidak bicara empat mata.
"Kamu boleh keluar Irene," Usir Andreas datar.
"Tidak Ndre, aku harus bicara dengan Nisa,," Irene menatap memohon.
"Aku baik-baik saja Ndre,, biarkan kami bicara berdua." Nisa menyakinkan Andreas jika dirinya baik-baik saja.
"Baiklah,," Andreas melenggang keluar dari ruangan tersebut. Sepertinya memang tidak akan bisa mencegah kedua berbicara empat mata.
Baik Irene maupun Nisa, dua-duanya bersikeras untuk berbicara.
"Ada ribuan cara untuk hidup bahagia,," Suara sendu Nisa memecah keheningan yang sempat terjadi selepas kepergian Andreas.
__ADS_1
"Dari ribuan cara itu, beberapa diantaranya lebih memilih jalan pintas untuk mendapatkan kebahagiaannya. Tak peduli meski harus bahagia di atas penderitaan orang lain." Nada bicara Nisa penuh penekanan.
Perkataan Nisa jelas di lontarkan untuk menyinggung Irene. Agar mata dan hatinya terbuka lebar serta sadar bahwa apa yang telah dia dan orang tuanya lakukan merupakan sesuatu hal yang mengerikan.
Meski kasusnya berbeda, tapi Irene dan orang tuanya sama-sama merenggut kebahagiaan orang lain.
"Aku minta maaf,," Lirih Irene dengan suara berat yang menahan tangis. Perlahan dia bersimpuh di samping ranjang Nisa. Wanita hamil itu menundukkan kepala karna tidak berani menatap seseorang yang telah dia renggut kebahagiaannya.
"Kata maaf tak akan mengembalikan semua yang telah kamu dan orangtuamu renggut dariku." Nisa menatap tajam.
"Kamu ingin Devan kembali.?" Tanya Irene. Kali ini dia memberanikan diri untuk menatap Nisa karna tertarik dengan perkataan Nisa tentang apa yang sudah dia ambil darinya tak akan bisa kembali.
"Jadi kamu sudah tau kesalahanmu.?" Ucap Nisa dengan senyum sinis.
Jadi sia-sia saja melontarkan kata demi kata untuk menyinggung Irene, karna wanita itu sudah tau dimana letak kesalahannya.
Irene menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa sesak di dalam dada. Nyatanya bukan hanya Nisa saja yang merasakan sakit dan kehancuran.
Irene juga sudah mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia perbuat.
"Aku tak pernah berfikir jika memiliki seseorang yang tidak mencintaiku adalah hal yang menyakitkan." Suara Irene tercekat. Hidup 2 tahun lebih tanpa di cintai oleh suaminya, tentu menjadi perjalanan hidup yang berat bagi Irene.
"Devan masih sangat mencintaimu, aku hanya menjadi bayang-bayangmu saja." Senyum tipis di bibir Irene begitu menyayat hati.
"Seandainya aku melepaskan Devan, apa kamu akan kembali padanya.?" Irene menatap lekat, dia menunggu jawaban dari Nisa.
Namun Nisa justru terkekeh sinis.
"Kamu bisa berkata seperti itu karna aku sudah menikah."
"Kalau aku belum menikah, aku yakin kamu tidak akan berani menawarkan Devan padaku. Karna sudah pasti aku akan mengambil kembali apa yang sudah seharusnya menjadi milikku.!" Tegas Nisa penuh penekanan.
__ADS_1
Seketika raut wajah Irene berubah, apalagi dia melihat bagaimana Nisa mengatakan hal itu dengan serius.
Hal itu membuat hatinya goyah, ada perasaan berat untuk melepaskan Devan. Terlebih sikap Devan sedikit melunak sejak kejadian kemarin malam. Suaminya itu tidak terlalu acuh padanya.
...****...
"Kapan aku boleh pulang Ndre.? Aku sudah sehat,," Ujar Nisa yang sedikit mengeluh karna bosan berada di rumah sakit sejak kemarin.
Infus di tangannya bahkan sudah di lepas sajak pukul 10 pagi, tapi sampai pukul 2 siang belum ada tanda-tanda dia diperbolehkan untuk pulang.
"Kita tunggu sebentar lagi," Jawab Andreas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Karna tidak bisa berangkat ke kantor, Andreas sampai membawa laptopnya ke rumah sakit agar tetap bisa menyelesaikan pekerjaannya.
"Tunggu apa.? Memangnya ada seseorang yang akan kemari.? Atau tunggu ijin dari pihak rumah sakit.?" Tanya Nisa bingung.
"Menunggu dokter obgyn, dia akan datang jam 3 nanti." Lagi-lagi Andreas menjawab tanpa menatap Nisa yang semakin kebingungan.
Dia tidak tau kenapa harus menunggu dokter obgyn, padahal masalah kesehatannya tidak ada sangkut pautnya dengan dokter kandungan tersebut.
"Ya ampun,, kamu membuatku bingung Ndre." Nisa menghela nafas. Dia kemudian turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Andreas yang tengah duduk di sofa. Walaupun sejak tadi Andreas melarangnya untuk turun dengan alasan harus istirahat.
"Aku baik-baik saja, kenapa harus menunggu dokter obgyn.?" Nada bicara Nisa sedikit naik dan sudah ke tahap protes.
Dia duduk di depan Andreas, membuat laki-laki itu menatap ke arahnya.
"Aku tau kamu baik-baik saja." Jawab Andreas lembut.
"Kita menunggu dokter obgyn karna aku ingin cepat memiliki anak."
Penuturan Andreas membuat Nisa terkejut. Seketika wajahnya berubah pucat. Dia langsung mencemaskan pil kontrasepsi yang selama 3 bulan ini dia konsumsi tanpa melewatkannya sekalipun. Meski 2 hari ini dia tidak meminumnya karna berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Ka,,kaamu serius ingin punya anak.?" Tanya Nisa gugup. Dia sedang memutar otak untuk mencari cara supaya gagal bertemu dengan doker obgyn.
Karna kalau sampai dokter itu memeriksa kandungan lebih lanjut, sudah di pastikan dokter itu akan tau apa yang selama ini dia masukkan kedalam tubuhnya untuk menunda kehamilan.