Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 178


__ADS_3

"Aku yakin hasilnya tertukar dengan pasien lain,," Suara Tiara tercekat. Di lihatnya hasil laporan tes urine dari rumah sakit beberapa jam yang lalu.


Dia bahkan bingung saat sadarkan diri dan di minta untuk melakukan tes urine lantaran dokter yang memeriksanya menduga dia sedang hamil. Dan Tiara di minta untuk memastikannya dengan melakukan tes urine.


Yang membuat Tiara hancur dan sakit adalah Aditya percaya dengan hasil tes urine tersebut. Bahkan Aditya menanyakan siapa ayah dari anak tersebut. Tentu saja Tiara mengelak, karna dia tidak pernah melakukan hubungan terlarang itu dengan laki-laki manapun. Lalu bagaimana mungkin Tiara akan mengakuinya.


Dia sampai bersumpah kalau dirinya tidak hamil karna tidak pernah berhubungan dengan laki-laki selama Aditya berada di Amerika.


Tapi untungnya Aditya mengancam Elena agar tidak memberitahukan soal hasil tes urine itu pada kedua orang tua mereka. Dan itu cukup membuat Tiara merasa di selamatkan. Dia tidak tau apa jadinya jika kedua orang tuanya melihat hasil tes urine tersebut yang sudah tertukar.


Sudah 1 jam Tiara berada di dalam kamarnya. Jangankan bisa istirahat seperti yang di minta oleh mereka, dia bahkan tidak bisa tenang karna bingung harus berbuat apa agar Aditya percaya padanya.


Tiara memutuskan untuk keluar dari kamar, dia harus membicarakan masalah ini lagi pada Aditya. Namun dia harus kecewa lantaran rumahnya sudah sepi. Hanya ada kedua orang tuanya yang masih duduk di ruang tamu.


“Ayah, apa Kak Adit sudah pulang.?" Tanya Tiara. Padahal dia melihat sendiri kalau Aditya sudah tidak ada di rumahnya. Tapi berharap laki-laki itu belum pergi.


"Mereka baru saja pulang kw rumah Bu Nisa." Jawab Heru.


"Kamu sudah bangun.?" Tanyanya yang berfikir jika Tiara sempat tidur setelah pergi ke kamar.


Tiara memilih menganggukkan kepala lantar enggan memperpanjang obrolan.


"Istirahat lagi saja Ti. Jangan lupa minum vitaminnya." Ucap Amira pada anak tirinya itu.


"Iya Mah. Aku ke kamar dulu." Pamitnya dan kembali ke kamar.


Tiara kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi Aditya.


...****...


Sementara itu di taman belakang rumah Nisa, Aditya sedang mengobrol dengan Andreas.


"Kamu sudah bicara pada Tiara untuk menetap di Amerika.?" Tanyanya begitu selesai membahas soal pekerjaan.


"Sudah. Tiara keberatan, tapi orang tuanya setuju aku mengajak Tiara ke Amerika." Tuturnya.

__ADS_1


Beberapa hari lalu saat baru tiba di Batam, Aditya datang ke rumah Tiara dan meminta ijin untuk membawa Tiara ke Amerika setelah mereka menikah.


Suara dering ponsel mengakhiri pembicaraan mereka. Aditya merogoh ponsel, dia membaca nama kontak yang tertera di layar ponselnya.


Dia hanya diam saja, terlihat enggan untuk menerima panggilan dari calon istrinya itu.


Bukan tanpa alasan, Aditya merasa kecewa dan marah dengan fakta kehamilan Tiara.


Dia bahkan tidak bisa berbuat apapun untuk membatalkan pernikahan karna sudah di depan mata. Beberapa tamu undangan dari Amerika bahkan sudah berdatangan dan menginap di hotel.


Tapi meski begitu, sebenarnya Aditya sedang mencari bukti untuk memastikan ucapan Tiara.


Hal yang di sesali Aditya adalah dia tidak menyuruh orang untuk mengawasi keluarga Tiara terumata Elena. Mengingat perkataan Elena yang mengatakan akan mengacaukan pernikahan saudara tirinya itu, harusnya pengawasan pada Elena tetap di lanjutkan.


Karna wanita yang saat ini menjadi sugar baby itu, sepertinya tidak main-main dengan ucapannya.


Dan Aditya menduga kehamilan Tiara ada campur tangan Elena. Hanya saja dia merasa tidak yakin kalau pihak rumah sakit mau memalsukan hasil tes urine Tiara. Karna hal itu sangat beresiko bagi karier sangat dokter dan reputasi rumah sakit.


"Kenapa tidak di angkat.?" Tanya Andreas yang mendapati Aditya hanya diam saja dan membiarkan ponsel di tangannya terus berdering.


"Angkat saja. Aku mau ke atas,," Ucap Andreas seraya beranjak dari duduknya.


Dia mau menghampiri Nisa dan Kenzie di ruang bermain putranya itu.


"No Momi, bukan begitu." Seru Kenzie. Suaranya sampai terdengar di luar ruangan, membuat Andreas mengukir senyum saat memasuki ruangan yang tidak di tutup itu.


"Ada apa.?" Suara maskulin Andreas menarik perhatian mereka berdua.


"Momi tidak bisa main ini Papi,," Adu Kenzie seraya mengangkat mainannya untuk di tunjukkan pada Andreas.


"Bukan tidak bisa, tapi aku tidak pernah lihat mainan seperti itu. Lagian kenapa kamu membelikan mainan itu," Ujar Nisa yang memberikan pembelaan di depan Andreas.


Andreas hanya mengulum senyum melihat Nisa yang mencoba memberikan pembelaan lantaran enggan disebut tidak bisa memainkan mainan baru milik Kenzie.


"Iya sayang aku mengerti. Tidak masalah kalau kamu tidak tau memainkan mainan itu, asal jago memainkan yang lain." Sahut Andreas yang mengangkat kedua alisnya untuk menggoda Nisa.

__ADS_1


Sontak saja Nisa membulatkan mata mendengar perkataan Andreas yang ambigu. Meski dia tau kalau perkataan Andreas mengarah pada adegan 21+.


"Jangan macam-macam di depan Zie." Tegur Nisa pelan.


"Tapi dia tidak tau apa yang aku bicarakan." Jawab Andreas sembari mengacak gemas pucuk kepala Nisa.


"Kau itu,," Nisa membalas dengan mencubit pelan lengan Andreas.


"Aku mau ke kamar, tolong temani Zie dulu." Nisa yang hendak berdiri langsung di pegangi tangannya oleh Andreas.


"Hati-hati sayang,," Ucapnya yang tampak cemas. Padahal Nisa hanya bangun setelah duduk di lantai.


"Jangan mandi dulu, tunggu aku." Pinta Andreas sebelum melepaskan tangan Nisa.


"Baik Tuan Andreas,, aku sudah paham," Jawab Nisa penuh penekanan namun dengan ekspresi bercanda.


Mandi bersama adalah rutinitas wajib yang tidak mau di lewatkan oleh Andreas.


Sejak Nisa di nyatakan hamil, pria itu selalu membantu Nisa membersihkan diri. Tidak seperti sebelumnya yang selalu memanfaatkan mandi bersama untuk mencetak Andreas junior.


Walaupun sesekali sempat meminta bagiannya, itupun jika Nisa mau melakukannya. Jadi Andreas tidak memaksanya.


Senyum Andreas merekah.


"Aku mencintaimu,," Ucapnya kemudian mendaratkan kecupan sekilas di pipi Nisa.


"Jangan cium.! Itu Momi Zie." Seru Kenzie seraya menarik tangan Andreas untuk menjauh dari Nisa.


Putranya itu cemburu melihat Momi nya di cium.


"Astaga, jagoan Papi posesif sekali." Andreas menggeleng heran.


Nisa terkekeh geli melihat Andreas di protes oleh putra mereka.


"Bukannya sama posesifnya seperti kamu." Balas Nisa yang kemudian berlalu sembari mengulum senyum.

__ADS_1


__ADS_2