Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 105


__ADS_3

"Tidak masalah Brian, kami masih bisa meng-handlenya." Nisa meyakinkan kliennya bahwa dia dan tim di kantornya bisa menyelesaikan orderan tepat waktu.


Kliennya itu tiba-tiba merubah waktu, meminta Nisa menyelesaikan orderannya 2 minggu lebih cepat dari tanggal yang sudah di sepakati sebelumnya.


"Makasih banyak Anissa, maaf sudah membuatmu repot." Brian tampak tidak enak hati pada pemilik konveksi yang di gadang-gadang masuk dalam 20 besar konveksi ternama di Batam. Usaha yang baru di rintis sekitar 3 tahun itu cukup memiliki nama di sana.


Tak hanya konveksi untuk menerima pesanan dalam partai besar, sebuah butik ternama juga di kelola dengan baik dengan banyak pelanggan.


Butik yang merancang hasil designnya sendiri itu cukup banyak di minati oleh kalangan menengah ke atas.


Brian bisa mengenal Nissa juga berkat sang Mama yang rutin memesan baju rancangan Nisa untuk menghadiri acara-acara penting.


Mungkin sudah lebih dari 1 tahun yang lalu mereka saling mengenal dan kini tampak akrab sebagai teman dekat.


Usia Brian yang hanya berjarak 2 tahun lebih tua dari Nisa, membuat chemistry di antara keduanya cukup baik sebagai teman.


"Santai saja, kamu bukan sedang bekerja sama dengan orang asing Bri." Sahut Nisa seraya tersenyum santai. Dia meraih gelas di atas meja dan meneguk jus alpukat miliknya.


Brian tampak mengukir senyum simpul, di tatapannya lekat gerak-gerik Nisa yang tengah meminum jus alpukat itu.


Cantik, wanita di hadapannya itu benar-benar sangat cantik. Orang yang baru pertama kali bertemu dengan Nisa tidak akan menyangka kalau dia seorang janda yang memiliki 1 anak.


Entah Nisa yang terlalu apik menjaga tubuhnya, atau memang sudah bakatnya memiliki tubuh ramping ideal. Jadi meskipun sudah melahirkan seorang anak, Nisa masih terlihat seperti gadis.


"Kamu menatapku seperti itu lagi Bri,," Nisa menegur. Ini yang membuatnya tidak nyaman setiap kali menghabiskan waktu dengan Brian meski hanya sekedar membahas soal pekerjaan.


Karna Brian sering kedapatan memandangi wajahnya dengan tatapan penuh kekaguman dan rasa yang entah sulit untuk di jelaskan.


"Ini bukan kemauanku." Sahut Brian. Dia mengulum senyum dan mengalihkan pandnagan ke arah lain setelah di tegur oleh Nisa.


"Banyak gadis yang berebut untuk mendapatkanmu, kenapa harus melirik wanita yang sudah memiliki anak sepertiku." Nisa bicara dengan sedikit terkekeh. Dia memang sudah biasa bercanda dengan Brian, jadi membahas hal seperti ini sudah tidak canggung lagi.


Briam mengulum senyum tipis, pipinya tampak merona. Apa yang di katakan Nisa memang benar, dibanding mengencani para gadis diluar sana yang menyukainya, Brian justru memilih sendiri dan mengagumi sosok janda muda itu.

__ADS_1


"Kamu mau aku menjawabnya.?" Tanya Brian. Nisa dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia bukan tidak mau mendengar jawaban dari Brian, tapi Brian sudah pernah mengatakannya 1 kali dan itu masih terngiang-ngiang di ingatan Nisa.


"Tidak perlu Tuan Brian Davidson. Aku masih ingat dengan jawabanmu." Ucap Nisa dengan suara pelan namun menekankan kalimatnya.


Brian tertawa kecil, senyum di bibirnya begitu lepas. Jarang sekali dia bisa tertawa seperti itu bersama seorang wanita.


Karna selama ini wanita-wanita yang mendekatinya selalu memiliki niat terselubung. Mereka seakan memakai topeng, menjaga image dan bergaya layaknya sosialita di depannya. Tak seperti Nisa yang selalu tampil apa adanya meski dia termasuk pengusaha yang sukses di usia muda.


"Aku tau ingatanmu sangat tajam." Kata Brian.


Laki-laki itu memindahkan beberapa beef teriyaki miliknya ke piring Nisa.


"Makan yang banyak, sepertinya kamu terlihat lelah hari ini." Ucapnya saat Nisa menatapnya dengan dahi berkerut karna dia sudah memberinya beef teriyaki miliknya.


"Apa ada masalah dengan bisnismu di Jakarta.?" Tebak Brian. Pasalnya Nisa baru saja kembali ke Batam setelah pergi ke Jakarta.


Melihat sorot mata Nisa dan senyumnya yang tak seceria sebelumnya, Brian jadi beranggapan bahwa telah terjadi sesuatu saat Nisa berada di Jakarta.


Nisa tergelak, apa iya raut wajahnya semuram itu sampai Brian bisa menebak kalau dia kelelahan dan masalah selama berada di Jakarta.


Dan tidak mungkin juga Nisa menceritakan masalah pribadinya pada orang lain.


Jujur saja semua karyawan ataupun orang terdekatnya yang berada di Batam, tak ada satupun yang tau tentang masa lalunya. Bahkan tidak tau akan keberadaan laki-laki yang masih berstatus suaminya.


Mereka menganggap dia seorang janda beranak satu, meski Nisa tak pernah memberikan pernyataan secara langsung tentang statusnya.


Mereka yang berasumsi sendiri kalau Nisa seorang janda muda.


...****...


"Sudah lewat jam makan siang. Apa Anda tidak ingin pergi ke restoran.?" Tanya Aditya lirih. Dia sedang menemani Andreas berkeliling mencari keberadaan Nisa, namun tak membuahkan hasil meski sudah 3 jam mereka mendatangi satu persatu tempat usaha ataupun kantor yang sejenis dengan usaha milik Nisa di Jakarta.


Andreas tersadar dari lamunan. Sejak tadi dia membuang pandangan ke luar jendela dengan tatapan mata menerawang. Bayangan sosok anak laki-laki yang sengat mirip dengan itu, terus berputar-putar di kepalanya.

__ADS_1


3 tahun, dia memang terlalu bodoh dan egois hingga tidak menyadari kehadiran malaikat kecil dalam hidupnya.


"Cari restoran terdekat saja." Jawab Andreas tanpa ada semangat sama sekali.


Raut wajahnya tampak semakin sendu dari waktu ke waktu. Dia terlihat putus asa lantaran tak kunjung menemukan di mana keberadaan Nisa.


Aditya mengikuti perintah Andreas. Dia membelokkan mobilnya ke salah satu restoran terdekat.


Tak mau kondisi bosnya memburuk lantaran selalu telat makan, Aditya tidak pernah bosan mengingatkan Andreas untuk makan.


Andreas berjalan tegap memasuki restoran, Aditya mengekorinya di belakang.


Laki-laki itu langsung duduk di salah satu meja yang masih kosong tanpa memperhatikan keadaan di dalam restoran lantaran hati dan pikirannya sedang berada di tempat lain.


Aditya ikut duduk di depan Andreas, dia kemudian memanggilkan pelayan dan keduanya memesan makanan.


"Sudah Brian,, kamu bisa membuatku gendut."


Andreas tertegun, telinga tak mungkin salah mendengar. Dia hapal betul pemilik suara wanita tersebut.


Hatinya bergetar, matanya tampak berbinar dengan hati yang sedikit lega karna akhirnya dia menemukan keberadaan Nisa.


Laki-laki itu bergegas berdiri, dia mengedarkan pandangan mencari sosok wanita yang memang sedang dia cari sejak pagi.


Sementara itu Aditya tampak menatap heran pada Andreas. Dia jelas heran karna tidak mengingat suara Nisa dengan baik.


Pandangan mata Andreas berhenti pada sosok wanita yang tengah memasang wajah cemberut di depan seorang laki-laki tampan.


Dia menajamkan pandangan, memastikan jika wanita yang tengah makan siang bersama laki-laki itu adalah Nisa istrinya.


Ada perasaan sakit yang sulit untuk dia ungkapkan ketika melihat Nisa begitu dekat dengan laki-laki lain. Namun Andreas merasa tak berdaya.


Seandainya Nisa sudah bisa melupakannya dan bahagia dengan laki-laki yang jauh lebih baik darinya, dia bisa apa.?

__ADS_1


Luka yang sudah dia torehkan terlalu besar, pasti tak akan mudah mendapatkan maaf dari Nisa apalagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


Andreas kembali duduk dengan lesu. Dia tak berani menganggu Nisa dan memilih untuk menunggu Nisa selesai makan dengan laki-laki itu.


__ADS_2