
“Ja,,jaaddi pacar Kaka.?" Tanya Tiara dengan kegugupan yang tak bisa dia tutupi.
Setelah Aditya mengetahui status Tiara yang masih single, tiba-tiba dia meminta Tiara untuk menjadi pacarnya. Mana mungkin Tiara tidak terkejut, karna sangat mendadak dan tak terduga. Benar-benar tak pernah terlintas di benak Tiara, sekalipun dia berharap bisa memiliki Aditya.
"Emm,, maksudku pacar pura-pura." Ucap Aditya menjelaskan. Namun terlihat jika Aditya terpaksa menawarkan itu pada Tiara. Dia termasuk laki-laki yang enggan menyakiti hati perempuan. Tapi situasi saat ini sedang genting, dan di Batam hanya Tiara satu-satunya wanita yang dia kenal selain Nisa. Dan tidak mungkin dia meminta bantuan Nisa, karna itu hanya akan menyusahkan hidupnya yang harus berurusan dengan Andreas.
Ekspresi wajah Tiara langsung terlihat kecewa. Mungkin karna sudah terlanjur senang saat Aditya meminta dia untuk menjadi pacarnya.
"Maksudnya bagaimana.? Aku tidak mengerti,," Tiara menatap penasaran, dia menunggu penjelasan dari Aditya. Entah apa maksud dan tujuan dari pacar pura-pura itu. Tapi Tiara yakin hal itu hanya akan menguntungkan Aditya saja.
"Jadi begini,,,"
Tiara mendengarkan dengan seksama cerita Aditya. Rupanya semalam Aditya tidak sengaja bertemu dengan wanita masa lalunya yang dulu sudah meninggalkannya begitu saja dan memilih laki-laki lain.
Tapi tiba-tiba wanita itu muncul kembali dengan status yang sudah berbeda, lalu dengan entengnya menanyakan cinta pada Aditya.
Wanita itu sangat yakin jika Aditya masih sangat mencintainya dan mau kembali padanya.
Hati yang sudah terlanjur hancur tentu saja tak bisa dikembalikan seperti semula. Sekalipun masih ada sedikit cinta di hatinya, Aditya memilih enggan untuk kembali. Dia tak mungkin menyerahkan hatinya yang terlalu berharga untuk orang yang pernah meninggalkannya.
Dan saat itu dengan tegas Aditya menolak untuk kembali, dia juga mengatakan bahwa sekarang sudah memilih kekasih yang sebentar lagi akan dia nikahi.
"Bagaimana.? Apa kamu mau membantuku.?" Aditya tampak ragu, apalagi melihat ekspresi wajah Tiara yang terlihat tidak senang.
"Hanya pura-pura di depan dia saja, nanti malam dia minta untuk bertemu." Tutur Aditya meyakinkan.
“Kamu boleh meminta apapun sebagai imbalannya." Ujarnya lagi. Sepertinya Aditya benar-benar ingin melakukan sandiwara di dapan masa lalunya sampai membujuk dan menawarkan imbalan pada Tiara.
"Apapun.?" Tanya Tiara memastikan.
Aditya langsung mengangguk cepat.
"Bagaimana kalau aku meminta hatimu,, Apa kamu akan memberikannya.?" Batin Tiara dengan senyum getir. Karna dia sadar itu tak akan pernah terjadi. Melihat bagaimana sikap cuek Aditya, jelas sekali kalau laki-laki itu tak memiliki perasaan apapun padanya.
"Tidak perlu, aku tidak ingin imbalan apapun." Ucap Tiara yang tampak memaksakan senyum.
Dia tidak mau menerima imbalan apapun dari Aditya. Karna dengan menerima imbalan, Tiara takut Aditya berfikir buruk tentangnya. Sekalipun Aditya sendiri yang menawarkan imbalan.
__ADS_1
"Katakan saja apa yang harus aku lakukan nanti.?" Tanya Tiara yang kini mulai terlihat santai. Sepertinya dia memang sudah membuang jauh-jauh khayalannya yang terlalu tinggi itu.
Lagipula hanya dekat dengan Aditya saja sudah cukup membuatnya senang.
"Kamu hanya perlu menjawab jika dia bertanya."
"Aku bilang padanya kalau kita sudah menjalin hubungan selama satu tahun dan satu bulan lagi akan menikah." Terang Aditya. Dia memberitahu pada Tiara agar nanti Tiara tak bingung seandainya wanita itu ingin memastikan kebenarannya pada Tiara.
"Menikah.? Satu bulan lagi.?" Tanya Tiara yang sedikit kaget, namun seketika terdiam karna sadar bahwa semuanya hanya cerita yang dibuat sandiwara.
"Apa ada yang salah.?" Aditya menatap heran. Tiara buru-buru menggelengkan kepala.
"Kalau begitu jam 5 sore aku akan menjemputmu, kita akan mencari baju lebih dulu dan pergi ke salon."
"Kamu boleh pergi kan.?"
Tiara hanya menganggukkan kepala. Dia akan meminta ijin pada Nisa saat majikannya itu pulang.
...******...
"Maaf Pak Surya, saya harus angkat telfon dulu." Pamit Nisa pada orang yang akan berinvestasi di perusahaannya. Dia beranjak dari duduknya kemudian keluar dari ruangan VIP salah satu restoran di pusat perbelanjaan.
Sementara itu, Andreas sudah berada di dalam mobilnya bersama Kenzie, Aditya dan juga Tiara.
"Aku ingin mengajak Zie main di pusat perbelanjaan, kamu tidak keberatan kan.?" Tanya Andreas. Di liriknya sang putra yang tampak bahagia karna akan pergi bersamanya.
"Zie mau jalan-jalan Momi,," Teriak Kenzie seraya mendekatkan wajah pada ponsel Andreas.
Suara Kenzie tentu saja di dengar oleh Nisa, dan tak butuh waktu lama Andreas mendapatkan ijin untuk membawa Kenzie jalan-jalan.
"Tidak usah khawatir, aku minta Aditya dan Tiara untuk menemani kami." Ucap Andreas saat Nisa memintanya untuk berhati-hati saat di pusat perbelanjaan nanti.
"Hmm,,, terimakasih sudah memberi ijin." Ucapnya tulus.
"Zie, Momi mau bicara." Andreas menempelkan ponselnya pada telinga Kenzie.
"Halo Momi,"
__ADS_1
"Iya, Zie tidak akan nakal." Kenzie menganggukkan kepala berkali-kali. Andreas hanya mengulas senyum melihat putranya yang terlihat sedang di nasehati oleh Nisa.
"Bye,, byee Momi,,"
Setelah itu Nisa memutuskan panggilan. Andreas lalu menyuruh Aditya untuk melajukan mobilnya.
Suasana di dalam mobil hanya di penuhi dengan canda tawa Andreas dan Kenzie yang duduk di jok belakang. Sedangkan Aditya dan Tiara yang duduk di depan hanya saling diam. Mereka tampak canggung untuk memulai obrolan lantaran ada Andreas. Ya meskipun Andreas juga tidak akan peduli jika mereka mengobrol. Karna Andreas sedang fokus bersama Kenzie.
...*****...
“Sesuai dengan yang tertulis di surat perjanjian ini, saya akan berinvestasi 3 milyar untuk usaha baru yang akan kamu jalankan." Jelas Pak Surya seraya menyodorkan surat perjanjian yang dia buat sendiri secara sepihak.
Seandainya Nisa keberatan, maka dia tidak jadi berinvestasi di bidang kosmetik tersebut.
"Kamu bisa baca dulu poin-poinnya." Ujar Pak Surya lagi.
Nisa mengangguk paham dan mengambil selembar kertas itu dari tangan Pak Surya.
Pak Surya adalah satu-satunya investor terbesar, dengan menerima investasi darinya, kemungkinan prodak kosmetik rancangannya bisa di produksi secara besar-besaran. Terlebih peminatnya sudah cukup banyak di awal perilisan yang hanya memproduksi beberapa ribu untuk tes pasar.
Nisa membaca dengan teliti dan memahami setiap poin yang ada. Dia harus selektif dan hati-hati agar tak merugikan diri sendiri kedepannya.
Nisa membaca poin 1 sampai 9, semuanya bisa dia terima dan di pahami. Namun dia sedikit bingung saat membaca poin ke 10. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres disini.
"Maaf Pak, apa maksud dari poin terakhir ini.? Saya tidak mengerti." Tanya Nisa seraya menyodorkan kembali kertas itu untuk di baca oleh Pak Surya.
Tanpa membaca kertas itu, Pak Surya tampak mengulum senyum penuh arti.
"Saya tidak akan meminta uang itu kembali setelah berinvestasi, asal kita bisa memiliki hubungan spesial." Ujar Pak Surya tanpa rasa malu sedikitpun. Padahal semua pengusaha disini sudah tau kalau Pak Surya masih memiliki seorang istri. Termasuk Nisa yang bahkan beberapa kali pernah bertemu dengan istri Pak Surya karya menjadi pelanggan di butik milik Nisa.
"Maaf Pak Surya, sepertinya Bapak salah orang." Nisa menatap tajam sebagai bentuk ketidak sukaannya atas tawaran Pak Surya.
"Saya tidak berminat menjadi simpanan siapapun." Ucapnya penuh ketegasan.
Pak Surya terkekeh, tawanya itu terdengar sedang merendahkan Nisa.
“Jangan munafik Nisa, apa kamu tidak kesepian hidup menjanda bertahun-tahun.?" Tatapan Pak Surya membuat Nisa bergidik ngerti karna seolah sedang memikirkan hal-hal kotor tentangnya.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bisa menerima investasi dari Anda." Nisa buru-buru mengemasi berkas miliknya untuk pergi dari ruangan itu.
Pantas saja Pak Surya memesan ruang VIP dan hanya ada mereka berdua, ternyata dia punya tujuan lain.