Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 168


__ADS_3

Andreas tidak langsung menjawab pertanyaan Nisa. Dia bukan bermaksud ingin membuat Nisa semakin penasaran dengan perusahaan yang dia kelola sejak lama. Hanya saja, Andreas ingin mengajak Nisa untuk ikut ke kantornya agar bisa melihat sendiri perusahaan tersebut.


"Sayang, tolong bukakan pintunya." Pinta Andreas saat dia kesulitan untuk menekan kode akses lantaran kedua tangannya harus menopang tubuh Kenzie dalam gendongannya.


"Berapa.?" Tanya Nisa. Dia menanyakan nomor kode akses apartemen Andreas dan sudah siap untuk menekan angkanya.


"Tanggal pernikahan kita." Jawab Andreas. Nisa sontak terkejut.


"Lagi.?" Ucap Nisa reflek. Sudah kesekian kalinya Andreas menggunakan tanggal pernikahan mereka. Bahkan sampai digunakan untuk kode akses apartemen mewahnya di Amerika.


Nisa yakin kode akses itu bukan baru di ganti oleh Andreas, karna mereka baru saja tiba dari Indonesia. Dan Andreas tidak punya waktu untuk mengganti kode aksesnya.


Seandainya benar jika selama ini Andreas menggunakan tanggal pernikahan mereka dalam kehidupan sehari-hari, pria itu pasti selalu mengingatnya setiap saat. Karna setiap keluar masuk apartemen, Andreas harus menekan angka tanggal pernikahan mereka.


Dan mungkin saja Andreas juga menggunakan tanggal pernikahan mereka untuk hal-hal lain yang berada di kantor.


"Bukan hanya di pintu masuk, di kamarku juga." Penjelasan Andreas semakin membuka pikiran dan hati Nisa akan keseriusan serta ketulusan Andreas selama menjalani pernikahan dengannya.


Tapi dendam yang akhirnya membuat Andreas tidak mengikuti kata hatinya.


Nisa buru-buru menekan kode aksesnya lantaran melihat supir pribadi Andreas sudah berjalan mendekat ke arahnya dengan membawa 2 koper besar.


Begitu pintu terbuka, Nisa meminta Andreas masuk lebih dulu. Dia tak mau mendahului pemilik apartemen mewah itu.


Nisa mengekori Andreas di belakang, namun dia tidak fokus berjalan lantaran sibuk mengamati apartemen yang sangat luas itu dan di isi dengan barang-barang mewah yang sudah pasti harganya tidak murah.


Dengan kekayaan dan kemewahan Andreas selama berada di Amerika, rasanya sulit di percaya kalau Andreas tidak memiliki hubungan dengan wanita lain di sini.


Apalagi Andreas pria dewasa yang Nisa tau tak bisa melewatkan urusan ranjang. Kalaupun Andreas tidak pernah menjalan hubungan secara resmi dengan siapapun, tapi pasti pria itu pernah one night stand dengan seseorang.


Bisa berhenti di tempat. Akibat prasangka buruknya pada Andreas, dia malah semakin melamun.


Tiba-tiba muncul rasa sakit yang menyeruak do dada karna membayangkan Andreas melakukan one night stand di apartemen yang dia masuki saat ini.


"Maaf Tuan, kopernya mau di taruh dimana." Suara supir pribadi Andreas membuat Nisa buyar dari lamunannya.


"Biarkan disitu saja. Kamu boleh pulang." Jawab Andreas.


Supir itu mengangguk paham dan pamit pada mereka untuk meninggalkan apartemen.


"Sudah biarkan disitu saja, kamu harus istirahat sayang." Andreas mencegah Nisa yang hendak mengambil koper itu.

__ADS_1


"Besok saja bongkar kopernya." Ucapnya lagi.


Nisa mengangguk patuh, mereka kemudian masuk ke dalam kamar Andreas.


Pemandangan pertama yang di lihat oleh Nisa ketika masuk ke dalam kamar tersebut adalah figura foto besar di salah satu sudut kamar.


Nisa hanya terpaku di tempat, dia menatap foto pernikahannya dan Andreas dengan tatapan sendu.


Nisa menyadari bahwa selama ini dia dan Andreas sama-sama tersiksa karna harus berpisah di saat hati masih mencintai.


Kini Nisa bisa mengerti kenapa Andreas nyaris depresi setelah melalui semua ini.


Andreas tersiksa dengan penyesalan dan kerinduan yang mendalam, namun Andreas tidak memiliki sumber kekuatan dalam hidupnya. Tak seperti Nisa yang memiliki Kenzie sebagai sumber kekuatan hingga dia mampu melewati semua rasa sakit itu.


Perasaan Nisa berkecambuk, kesedihan dan rasa sakit mulai menyelimuti. Matanya yang sejak tadi mengembun, perlahan mulai melelehkan buliran bening yang membasahi kedua pipinya.


Andreas baru selesai membaringkan Kenzie di ranjang, dia tampak panik melihat Nisa menangis dan hanya berdiri di tempat dengan tatapan kosong. Tanpa pikir panjang Andreas segera menghampiri Nisa, dia menarik Nisa ke dalam dekapan tanpa mengatakan apapun.


Tangis Nisa semakin pecah, dia balas memeluk erat tubuh Andreas dan membenamkan wajahnya di sana.


"Sebaiknya kita keluar, nanti Zie bangun." Ucap Andreas lembut. Dia merangkul Nisa dan mengajaknya keluar dari kamar.


Mendudukkan Nisa di sofa dengan pemandangan kota Los Angeles yang bisa di lihat dari dinding kaca, Andreas kembali membawa Nisa dalam dekapannya. Dia membiarkan Nisa menangis untuk meluapkan kesedihannya agar lebih tenang setelah itu.


"Kenapa harus kita,,?" Ucap Nisa di tengah isak tangisnya. Suaranya tercekat, ada kehancuran dalam nada bicaranya.


Mereka saling mencintai, namun takdir begitu rumit mempermainkan hidup mereka.


Dia dan Andreas harus mengalami rasa sakit yang luar biasa selama ini. Meski pada akhirnya bisa kembali hidup bersama dengan Kenzie di tengah-tengah mereka sebagai kebahagiaan dan kekuatan mereka.


"Apa maksudnya.?" Tanya Andreas bingung.


"Kamu kenapa.?" Pria itu melepaskan pelukannya dan menyuruh Nisa untuk menatapnya.


"Jangan membuatku cemas," Pinta Andreas, dia tampak frustasi melihat Nisa terus menangis sampai sesegukan. Seolah kesedihan yang dia rasakan begitu berat.


"Kenapa kami tidak kembali sejak dulu.! Kenapa tidak berusaha untuk menemui ku.!" Teriak Nisa kemudian.


Dia meluapkan kekecewaannya sembari memukul dada bidang Andreas.


"Kalau saja kamu menemui ku sejak awal, pasti kamu tidak akan menderita seperti ini.!" Teriaknya lagi.

__ADS_1


"Kenapa harus menyiksa dirimu sendiri hah.?!" Tangis Nisa semakin pecah, namun dia kembali memeluk Andreas sambil terus memukul dadanya pelan. Dia kecewa sekaligus kasihan pada Andreas. Pria itu telah menyiksa dirinya sendiri dengan memilih untuk meninggalkannya.


Andreas tak menjawab, dia juga membiarkan Nisa memukulinya. Andreas sadar dia sangat bersalah dalam ini. Memaksa pergi walau sebenarnya sangat mencintai Nisa.


Saat itu dia memang egois karna hanya memikirkan dendam. Dan keegoisan itu yang telah membuatnya sangat tersiksa menjalani hidup.


"Jangan lakukan lagi.! Jangan pernah meninggalkanku.!" Tegas Nisa dengan nada memohon.


Keputusannya untuk kembali pada Andreas memang tepat, bukan semata-mata demi kebahagiaan Kenzie saja. Tapi dengan kebesaran cinta yang dimiliki Andreas untuknya, Nisa gakin dia juga akan bahagia hidup bersama Andreas.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Sahut Andreas seraya menggelengkan kepala. Sudah cukup di tersiksa selama 3 tahun, tak akan pernah dia mengulangi hal yang sama untuk


kedua kalinya.


Impiannya saat ini adalah hidup bahagia bersama istri dan anak-anaknya sampai maut memisahkan.


Beberapa saat mereka terdiam. Tangis Nisa mulai reda. Andreas membiarkan Nisa memeluk dan membenamkan wajah di dadanya.


Satu tangan Andreas mengusap punggung Nisa berulang kali. Wanita dalam dekapannya itu perlahan memejamkan mata. Nisa tertidur pulas, antara lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan lelah karna cukup lama menangis.


Andreas menggendong Nisa dan membawanya ke kamar, dia membaringkan Nisa di samping Kenzie.


Pria itu menatap mereka bersamaan. Soroti matanya penuh dengan cinta untuk mereka berdua. Tidak ada yang lebih berharga selain Nisa dan Kenzie. Andreas bahkan rela melepaskan apa yang dia miliki di negera ini demi tinggal bersama Nisa di Batam.


...*****...


Andreas membuka mata, dia reflek menatap ke samping untuk melihat Nisa dan Kenzie yang semalam tidur di sampingnya. Namun dia tidak mendapati Nisa di ranjang. Hanya ada Kenzie yang masih terlelap.


Andreas buru-buru turun setelah mengecup kening putranya. Dia mencari keberadaan Nisa di kamar mandi dan walk in closet, tapi tidak menemukannya di sana.


"Sayang,, kamu dimana.?" Teriak Andreas begitu keluar dari kamar. Entah kenapa dia merasa gelisah setelah membuka mata dan tidak melihat Nisa.


Andreas turun ke lantai bawah, dia bergegas menuju dapur karna yakin istrinya itu pasti sedang ada di sana untuk membuat sarapan.


Benar saja dugaan Andreas. Pria itu mengukir senyum lebar begitu melihat wanita cantik yang ingin dia lihat saat bangun dari tidurnya tadi.


"Rupanya kamu disini." Ujar Andreas yang langsung memeluk Nisa dari belakang. Nisa menoleh seraya mengukir senyum manis.


"Apa Kenzie belum bangun.?" Tanya Nisa. Tangannya masih sibuk memotong daging yang akan dia buat steak.


"Dia masih tidur. Apa kamu ingin memberikan sesuatu untukku.?" Nada bicara Andreas terdengar lain. Begitu juga dengan pertanyaan yang ambigu.

__ADS_1


__ADS_2