Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 72


__ADS_3

Nisa melirik Andreas yang sedang sibuk dengan laptop di atas pangkuannya. Laki-laki tampan dengan setelan jas itu terlihat sangat berkharisma saat sedang fokus dengan pekerjaannya.


Lagi-lagi harus di akui bahwa Andreas memiliki kesempurnaan di atas rata-rata, dari segi postur tubuh, ketampanan, dan kehebatannya dalam memimpin perusahaan.


Seandainya saja pertemuan Nisa dengan Andreas tidak di awali dengan kejadian mengenaskan, mungkin saat ini Andreas sudah mendapatkan cinta yang layak dari seorang wanita lemah lembut seperti Nisa.


Tapi sayangnya takdir sudah membawa mereka dalam lingkaran rasa sakit hati dan dendam.


"Bagus.!" Seru Andreas dengan suara lirih namun penuh penekanan.


Nisa semakin menatap intens karna penasaran.


"Apanya yang bagus.?" Tanya Nisa. Dia mencoba mengintip pada layar laptop Andreas, namun tidak terlalu jelas lantaran layarnya terlihat gelap saat di lihat dari samping.


Andreas mengukir senyum tipis pada Nisa sembari menutup laptopnya.


"Tuan Frans sudah di bawa oleh pihak kepolisian 1 jam yang lalu." Ujar Andreas. Dia baru saja mendapat laporan dari pengacara pribadinya yang sengaja dia suruh untuk mengurus kasus kematian kedua orang tua Nisa.


Kasus kecelakaan yang di sebut-sebut telah di rencanakan oleh Tuan Frans.


"Benarkah.??" Suara Nisa bergetar dengan mata yang berkaca-kaca. Dia baru bersuara setelah beberapa saat terdiam.


Perasaannya bercampur aduk, antara senang dan sedih. Senang karna akhirnya Tuan Frans bisa di tahan, dan sedih lantaran harus mengingat kembali tentang tragedi kecelakaan yang sempat membuatnya trauma dan depresi.


"Aku pastikan dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ujar Andreas dengan tatapan teduh.


Bibir Nisa bergetar, sudut matanya sudah mulai digenangi air mata. Dia membuang pandangan ke luar jendela dan saat itu air matanya tumpah.


Dia tidak mau terlihat lemah di depan Andreas, namun tak kuasa menahan rasa sakit yang berkecamuk dalam hatinya.

__ADS_1


Andreas meraih tangan Nisa dan menggenggamnya. Dia sedikit memberikan usapan sambil terus menatap Nisa yang menghadap ke arah lain.


"Kemari,," Satu tangan Andreas merangkul pundak Nisa, kemudian membawanya dalam dekapan.


Andreas paham betul seperti apa perasaan Nisa saat ini. Karna dia juga pernah merasakan berada di posisi Nisa meski dengan kasus yang berbeda. Namun sama-sama menyangkut tentang orang tua.


Di saat seperti ini, dia hanya butuh seseorang yang bisa menjadi sandaran ataupun pelukan untuk menumpahkan kesedihannya.


Berada dalam dekapan Andreas justru membuat tangis Nisa semakin pecah. Dia menumpahkan semua yang dia rasakan lewat air matanya. Dan hal itu mampu membuat perasaannya jauh lebih baik. Dekapan hangat dari Andreas juga memberikan ketenangan tersendiri dalam hatinya.


Cukup lama Andreas memeluk Nisa sembari memberikan usapan lembut di punggungnya, dia tak mengatakan apapun, hanya menjadi pendengar setia atas tangis kesedihan Nisa yang perlahan mulai reda.


"Ayo turun, kita sudah sampai di hotel." Ucap Andreas lirih. Nisa mengangkat wajahnya yang sejak tadi di benamkan di dada bidang Andreas. Dia segera menghapus sisa air mata di pipinya, dan tidak sengaja menatap jas milik Andreas yang basah akibat air matanya.


"Maaf, jas kamu jadi basah,," Nisa mengusap jas Andreas. Dia merasa tidak enak hati pada suaminya itu.


"Tidak apa,,," Andreas menjawab santai.


Nisa Mencebikkan bibir, dia paham ucapan Andreas hanya candaan, karna selama ini semua jas milik Andreas di cuci oleh tenaga profesional.


Karna tidak mungkin jas mahal itu di cuci sembarangan.


"Tugasku hanya mencuci baju harian saja,," Jawab Nisa.


"Bicara soal tugas, ada tugas yang lebih penting sekarang."


"Sebaiknya kita turun dari mobil dan masuk ke dalam" Andreas bergegas turun setelah supir membukakkan pintu untuknya. Andreas membuat Nisa tak berhenti mengalihkan pandangan, manik matanya mengikuti langkah Andreas yang hendak membukakkan pintu.


Pikiran Nisa sudah kemana-mana, tau jika Andreas akan meminta haknya.

__ADS_1


...*****...


Irene tak berhenti menangis sejak tadi. Kondisinya bahkan terlihat semakin kacau. Kehilangan seorang ibu membuat Irene seperti kehilangan separuh nyawanya. Pandangannya kosong dan selalu menerawang jauh. Sesekali memanggil sang Mama yang sedang di urus oleh pihak rumah sakit agar bisa segera di bawa pulang dan di makamkan.


Nyonya Sonya menghampiri putranya yang sejak tadi tak pernah beranjak sedikitpun dari samping Irene.


"Devan, sebaiknya ajak Irene pulang saja. Tunggu Mama Ambar di rumah." Ucap Nyonya Zoya. Dia tidak tega melihat menantu yang sedang mengandung cucunya itu harus berada di rumah sakit dalam keadaan perasaan yang sedang hancur.


"Sudah Mah, tapi Irene selalu menolak."


Devan tampak bingung harus berbuat apa agar Irene mau pulang. Karna Irene selalu menolak dengan alasan ingin mengantar mamanya pulang ke rumah mereka.


Mendengar jawaban Devan, Nyonya Zoya bisa berkata apapun lagi. Dia juga tidak bisa memaksa Irene untuk meninggalkan rumah sakit sedangkan sangat Mama masih ada di sana.


"Mama baru saja menghubungi Andreas dan Nisa," Ujar Nyonya Zoya.


"Mereka tidak bisa datang karna sedang berada di luar kota."


Devan langsung menatap serius wajah sang Mama yang baru saja menyebutkan nama Nisa dan Andreas.


Mengetahui bahwa keduanya sedang berada di luar kota, membuat pikiran Devan semakin tidak karuan.


Entah kenapa dia selalu mengkhawatirkan nasib Nisa yang ada di dalam genggaman Andreas. Devan takut jika suatu saat Andreas benar-benar membuktikan ucapannya yang akan membuat Nisa hancur dan menderita di tangannya.


"Mah,, tolong temani Irene sebentar. Aku belum sempat menghubungi Felix untuk meng-handle pekerjaanku." Devan beranjak dari sisi Irene.


Istrinya itu tak bergeming sedikitpun meski dia beranjak, karna Irene sibuk melamun sambil terus meneteskan air matanya.


"Iya, biar Mama temani Irene disini." Nyonya Zoya bergegas duduk untuk menggantikan Devan menjaga Irene.

__ADS_1


"Makasih Mah,," Devan buru-buru menjauh dari sana. Dia pergi bukan untuk menghubungi asisten pribadinya, melainkan untuk menghubungi Andreas dan memastikan Nisa baik-baik saja di tangan adiknya itu.


__ADS_2