
"Aku tidak bisa mengantarmu ke dalam. Ada rapat penting dengan bagian divisi pemasaran 30 menit lagi." Kata Andreas sembari membantu Nisa melepaskan seatbelt.
Jarak keduanya sangat dekat dengan wajah yang hampir bersentuhan karna Andreas mencondongkan badannya.
"Hubungi aku kalau mau pulang. Aku akan menjemput mu." Perintahnya.
Dengan santainya Andreas mencium singkat bibir Nisa, membuat wanita cantik itu terpaku dalam lamunan dengan segala perasaan yang menyelimuti.
Nisa baru tersadar setelah Andreas mengusap sudut bibirnya.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Nisa berusaha bersikap santai sembari menunjukkan senyum manis pada lelaki tampan itu.
"Memangnya kamu pulang jam berapa.?" Nisa sedikit mundur karna tidak bisa tenang lantaran terlalu dekat dengan wajah Andreas.
Andreas menatap arloji di tangannya sebelum menjawab pertanyaan Nisa. Setelah rapat dengan divisi pemasaran, dia juga harus menyambut rekan bisnisnya yang akan datang ke perusahaan.
"Mungkin sekitar jam 5." Jawabnya.
"Kalau begitu jemput aku setelah pekerjaan kamu selesai." Nisa tersenyum teduh. Dia tidak mau mengganggu pekerjaan Andreas hanya karna meminta dia untuk menjemputnya. Itu sebabnya Nisa meminta Andreas menjemputnya setelah semua pekerjaannya selesai. Dan jawaban Nisa, membuat Andreas ikut mengukir senyum tipis pada wanita yang tidak pernah menuntut apapun selama pernikahan mereka.
Bisa dikatakan Nisa tak pernah sekalipun menyusahkannya. Dia tipe wanita yang penurut dan pengertian.
...****...
"Buruan Nisa,, kamu harus lihat sendiri,," Mella langsung memanggil Nisa, padahal Nisa baru saja melangkah ke dalam ruko. Dia bahkan masih memegangi pintu yang dia buka tadi.
"Dasar crewet." Nisa hanya bisa menggelengkan kepala melihat Mella yang terlihat sangat antusias untuk mengajaknya ke ruangan kerja mereka.
"Menurutmu bagaimana.? Apa sebaiknya kita langsung terima tawaran itu.?" Mella kembali berbicara, padahal Nisa baru berjalan ke arahnya.
"Ya ampun Mel, aku aja belum baca emailnya." Nisa kembali menggelengkan kepalanya. Meski sudah bertahun-tahun bersama Mella, tapi selalu ada tingkah dan ucapannya yang membuat Nisa heran.
__ADS_1
"Kita harus pastikan lagi kebenaran email itu kan." Tutur Nisa.
Selain memastikan kebenaran email itu, Nisa juga ingin mencari tau lebih jauh tentang semua kerja sama yang masuk dari perusahaan-perusahaan besar itu. Karna sampai detik ini dia belum tau siapa orang di balik kesuksesan yang dia peroleh saat ini.
Karna bisa dibilang usaha Nisa dan Mella berkembang pesat setelah menerima kerja sama dari beberapa perusahaan dan pabrik-pabrik besar.
Bahkan dari hasil keuntungan kerja sama itu, Nisa bisa menyimpan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Uang itu yang rencananya akan dia gunakan untuk biaya hidupnya setelah mengakhiri sandiwara ini.
"Tidak perlu Nis, aku sudah menghubungi nomor perusahaan itu dan mereka membenarkan tawaran kerja sama untuk kita." Ucap Mella menjelaskan.
"Kalau kamu masih belum percaya, kamu bisa hubungi perusahaan itu lagi."
Nada bicara Mella yang meyakinkan, membuat Nisa sedikit percaya.
Keduanya kemudian masuk ke ruang kerja, memeriksa kembali email itu dan berbicara langsung dengan pengirim email melalui sambungan telfon.
"Baik Pak, kami akan datang tepat waktu. Terimakasih atas tawaran kerja samanya." Nisa berbicara sopan dan ramah, dia kemudian mematikan sambungan telfonnya setelah membicarakan pertemuan untuk menandatangani kerja sama itu.
Berbeda dengan Nisa yang justru tampak berfikir keras setelah meletakan telpon.
"Aku takut semua ini akan menjadi boom waktu di kemudian hari." Gumamnya dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Kita tidak tau siapa dan apa motif dibalik banyaknya tawaran kerja sama dari perusahaan-perusahaan besar ini." Ungkapnya. Terkadang dia ingin selalu berfikir positif, tapi tak jarang ada pikiran buruk yang terlintas dalam benaknya tentang seseorang yang mungkin saja ingin berniat jahat padanya.
Bisa saja suatu hari semua perusahaan itu menuntut usaha kecil miliknya.
"Maksudnya,,?" Mella tampak tidak mengerti apa yang sedang di takutkan oleh Nisa.
Perlahan Nisa mulai mengungkapkan kekhawatiran yang dia rasakan.
Dan semua perkataannya membuat Mella terperangah, karna semua kekhawatiran itu tak pernah terlintas sedikitpun di benak Mella. Dia hanya berfikir positif, yakin kalaupun ada seseorang di balik pesatnya usaha mereka, orang itu pasti memilih niat yang baik untuk membantu bisnis mereka.
__ADS_1
Tapi setelah mendengar semua perkataan Nisa, Mella jadi overthinking. Sepertinya memang dia harus lebih waspada depannya, menyelidiki lebih jauh setiap kali ada tawaran kerja sama yang terbilang tak masuk akal.
...*****...
"Aku pulang dulu Mel,, Andreas sudah di depan." Nisa beranjak dari kursinya sembari meraih tas miliknya.
"Ekhemm,, baik-baik kamu Nis. Kayaknya kamu semakin mendalami peran jadi istri Andreas." Goda Mella. Dia mengulum senyum meledek.
Bagaimana tidak, dia melihat Nisa yang langsung beranjak setelah membaca pesan yang masuk di ponselnya. Wanita itu terlihat bersemangat untuk menyambut Andreas di depan ruko karna sampai terburu-buru.
"Jangan mulai deh Mell. Aku selalu ingat batasan." Jawabnya.
"Bye,, aku pulang,," Nisa melambaikan tangan pada Mella, kemudian keluar dari ruangan itu.
Begitu keluar dari ruko, Andreas tampan berdiri di depan mobil dengan satu tangan yang di sembunyikan di balik badannya.
Laki-laki itu mengulas senyum lebar pada wanita cantik yang baru saja keluar dari ruko.
Nisa menatap Andreas sembari berjalan ke arahnya. Meski begitu, pikirannya melayang pada peringatan yang baru saja di lontarkan oleh Mella.
Sepertinya peringatan itu harus selalu dia ingat setiap saat bahkan detik. Karna pesona Andreas semakin menyilaukan. Tak hanya menyilaukan mata, tapi juga menyilaukan hatinya.
Nisa menghentikan langkah tepat di depan Andreas.
"Happy 4th month anniversary,,," Ucap Andreas. Dia mengeluarkan buket bunga dari balik badannya. Senyum bahagia tampak terukir di wajah laki-laki tampan itu sembari menyodorkan buket bunga pada Nisa.
Dalam buket bunga itu disertai dengan kartu ucapan romantis.
Nisa tertegun, dia bahkan terlihat bingung harus bereaksi seperti apa.
Bahkan dia kesulitan untuk memahami perasaannya saat ini.
__ADS_1