
"Cantik sekali,," Puji Andreas seraya memeluk tubuh Nisa dari belakang. Di tatapnya wanita cantik itu dari pantulan cermin. Nisa sedang mengoleskan lipstik tipis di bibirnya.
Wanita itu hanya mengukir senyum tipis untuk merespon perkataan Andreas. Dia sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. Banyak hal yang harus dia sampaikan pada tim dan karyawannya karna mulan besok sampai 1 bulan kedepan dia akan berada di Amerika.
"Dimana Kenzie.?" Tanya Nisa. Tadi setelah sarapan, dia meminta Andreas untuk menemani Kenzie bermain. Tapi baru 20 menit berlalu, Andreas sudah menyusulnya ke kamar.
"Ada di taman belakang, sama Tiara." Andreas bicara sambil mengendus aroma tubuh Nisa dengan menempelkan hidung di leher jenjang wanitanya.
"Geli Ndree,," Nisa menepis dengan menjauhkan lehernya dari hidung Andreas.
Tapi bukan Andreas kalau dia berhenti begitu saja meski sudah di tegur. Pria itu justru kembali menempel dan kali ini meniup pelan leher Nisa hingga membuat tubuh Nisa meremang.
Dia sangat hafal titik sensitif di tubuh Nisa, jadi selalu menjahili wanita itu di bagian lehernya.
"Andreas hentikan." Nisa berusaha melepaskan diri dari dekapan Andreas, tapi pira itu malah semakin erat memeluknya.
"Kalau begitu cium aku dulu,," Ucapnya memberi syarat. Dia enggan melepaskan Nisa begitu saja sebelum mendapatkan ciuman dari bibir lembut nan manis itu.
"Bagaimana aku bisa menciummu kalau posisinya seperti ini." Nisa menatap dirinya yang posisinya di peluk Andreas dari belakang. Bahkan untuk bergerak saja tidak bisa.
"Lepaskan aku dulu." Pintanya.
Andreas buru-buru melepaskan pelukannya, tapi dia langsung membalik tubuh Nisa agar berhadapan dan kembali mendekapnya dengan melingkarkan tangan di pinggang Nisa.
Andreas sedang mengantisipasi kejadian yang tidak di inginkan. Entah kenapa dia merasa kalau Nisa akan kabur setelah dia melepaskan pelukannya. Itu sebabnya dia buru-buru mengunci lagi tubuh istrinya itu agar tidak bisa lari.
Raut wajah Nisa seketika berubah saat menyadari dirinya kembali di kurung oleh kedua tangan besar Andreas. Tadinya dia berniat untuk lari setelah Andreas melepaskannya.
"Kenapa hemm,,?" Tanya Andreas dengan menaikan satu alisnya. Dia mengukir senyum smirk. Ternyata memang benar kalau Nisa berencana akan melarikan diri. Terlihat dari raut wajahnya yang kebingungan seraya menatap kedua tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Jangan coba-coba lari." Ujar Andreas berbisik.
__ADS_1
Nisa mengukir senyum untuk menutupi kebingungannya.
"Siapa bilang aku mau lari." Dia menyakalnya. Lagipula sudah di tahan oleh Andreas, dia tidak akan bisa pergi kecuali sudah memberikan apa yang Andreas inginkan.
"Kalau begitu cepat cium aku." Andreas memajukan wajahnya. Bibirnya sedikit terbuka, seolah sudah siap untuk menyambut ciuman dari Nisa.
"Kamu itu benar-benar nakal dan mesum.!" Cibir Nisa pada akhirnya. Karna dia kesal tidak bisa lari dari sana.
Andreas hanya menarik kedua sudut bibirnya. Dia tidak pernah tersinggung ataupun kesal saat Nisa mencibirnya. Yang ada justru gemas lantaran ekspresi Nisa sangat lucu.
Tanpa aba-aba, Nisa langsung menyambar bibir Andreas. Pria itu tampak membulatkan matanya lantaran kaget. Tapi hanya berlangsung beberapa detik saja, karna setelah itu Andreas langsung membalas pagutan bibir Nisa dengan lembut namun dalam.
Ciuman itu berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya suara ketukan pintu membuat keduanya melepaskan pagutan bibirnya.
"Menggangu saja." Keluhan Andreas kesal.
Nisa langsung mendelik, tentu saja dia tidak terima karna pasti yang ada di balik pintu kamar mereka adalah Tiara dan Kenzie.
...*****...
"Zia, saya mau makan siang di luar. Tolong kamu cek berkas di atas meja saya sebelum kamu istirahat." Perintah Nisa pada sekretarisnya. Dia sudah di tunggu oleh Andreas dan Kenzie di salah satu restoran dekat kantor.
"Baik Bu Nisa,," Zia mengangguk paham.
Nisa kemudian bergegas pergi dari kantor di antar oleh Pak Dito.
Senyum Nisa merekah kala memasuki restoran yang menyajikan makan Korea.
Dari kejauhan dia sudah melihat sumi dan putranya yang menempati salah satu meja di sudut ruangan. Andreas tampak sedang menyuapi es krim pada Kenzie.
Laki-laki yang hanya memakai kaos polos berwarna putih dan celana jeans itu tampak gagah di lihat dari sudut manapun. Otot bisepsnya yang menyembul di balik kaos, terlihat sangat kekar.
__ADS_1
Sebenarnya bukan fisiknya saja yang mampu menarik perhatian Nisa, namun cara Andreas menyuapi dan berinteraksi dengan Kenzie terlihat sangat keren. Sepertinya Andreas cocok mendapatkan gelar hot daddy.
Tanpa sadar sudut bibir Nisa terangkat. Bicara soal hot, Andreas memang sangat hot meski tidak melakukan apapun. Apalagi saat di atas ranjang.
Rasanya ingin mendekap erat tubuh polos yang di penuhi dengan otot-otot dan pahatan sempurna dibagian dada dan perut.
"Ya ampun, pikiran kotor macam apa ini." Nisa membuang nafas kasar. Dia menepis pikirannya dan berjalan cepat menghampiri dua lelaki tampan itu.
"Hai anak Momi,, sedang makan apa.?" Ujar Nisa seraya duduk di samping putranya.
"Makan es klim Momi." Jawab Kenzie.
Nisa meletakkan tas di atas meja dan mengulurkan tangan pada Andreas untuk meminta es krim dari tangannya karna ingin gantian menyuapi Kenzie.
Namun Andreas malah menjabat tangan Nisa dan mengarahkan punggung tangannya untuk di cium oleh istrinya itu.
Nisa tampak bengong, tapi pasrah saja saat di suruh untuk mencium punggung tangan Andreas.
Sedangkan pria itu mengulum senyum. Sebenarnya dia tau kalau Nisa ingin meminta cup es krim dari tangannya, tapi sengaja membuat Nisa mencium punggung tangannya.
Beberapa menit yang lalu, dia melihat seorang wanita mencium punggung tangan lelaki yang sepertinya suaminya. Hal itu langsung mengingatkan Andreas dengan kebiasaan Nisa 3 tahun yang lalu. Nisa akan mencium punggung tangannya setiap berangkat dan pulang kantor.
"Aku minta es krim itu, bukan tanganmu." Ucap Nisa seraya melepaskan tangannya.
"Sudah lama punggung tanganku tidak di cium sama kamu." Ujar Andreas seraya memberikan cup es krim itu pada Nisa.
Nisa terdiam sembari menatap wajah Andreas. Pria itu mengingatkan dirinya dengan kehidupan indah selama 4 bulan menikah dengannya. Meski awalnya mencium punggung tangan hanya sebuat trik untuk mendapatkan hati Andreas, tapi semua itu justru menimbulkan rasa nyaman tersendiri di hatinya dan akhirnya menjadi sebuah keharusan yang dia lakukan setiap hari.
Belum lagi perlakuan Andreas yang selalu mencium kening ataupun mengusap pucuk kepalanya saat pamit untuk bekerja.
Semua kenangan indah itu sangat membekas di ingatannya.
__ADS_1