Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 44


__ADS_3

"Aku pikir dengan seiring berjalannya waktu, Devan akan membuka hati dan bisa mencintaiku seperti aku mencintainya."


"Tapi ternyata aku salah," Irene mengulas senyum pahit. Selama ini hatinya sangat hancur namun berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan semua orang.


"Selama hampir 2 tahun menjalani pernikahan denganku, nyatanya Devan masih mencintai wanita di masa lalunya." Irene menundukkan wajah. Buliran bening kembali membasahi pipi. Rasa sakit di hatinya semakin menusuk. Tak ada seorang istri pun yang akan baik-baik saja jika mengetahui suaminya masih mencintai wanita lain.


Nisa tertegun, mendengar kenyataan bahwa Devan masih mencintainya membuat hatinya berkecamuk. Kini Nisa baru percaya bahwa semua ucapan Devan waktu itu memang benar adanya. Laki-laki itu memang belum bisa berhenti mencintainya meski sudah menikah.


Nisa pikir kehidupan Devan dan Irene baik-baik saja karna mereka akan segera di karuniai seorang anak. Dia kira ucapan Devan yang mengatakan masih mencintainya adalah omong kosong untuk membuatnya iba.


Rupanya Nisa tidak salah mengartikan sorot mata Devan yang terlihat tidak bahagia.


"Anisa,, Devan sering menyebut nama Anisa ketika sedang tertidur."


"Tidak hanya satu atau dua kali, tapi sudah tak terhitung sampai sekarang." Tutur Irene dengan air mata yang semakin mengalir deras.


Nisa tak bisa berkata-kata, tubuhnya terlihat bergetar, dia sampai menyembunyikan kedua tangannya dibalik punggung karna gemetar. Nafasnya terasa sesak mendengar penuturan Irene. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan bahwa takdir tak berpihak padanya dan Devan meski mereka saling mencintai.


Nyatanya bukan hanya dia saja yang tersiksa dengan perasaan cintanya, tapi Devan juga merasakan hal yang sama.


Hidup bersama orang yang tidak dia cintai pasti sangat sulit untuk di jalani.


"Awalnya aku pikir kamu adalah Anisa yang dicintai oleh Deva. Tapi ternyata kalian tidak saling mengenal sebelumnya." Ucap Irene.


Saat pertemuan makan malam pertama kali dengan Nisa, Irene sempat menaruh curiga saat mendengar calon istri Andreas memiliki nama yang sama dengan wanita yang dicintai oleh Devan.


Melihat reaksi Nisa dan Devan yang biasa saja, Irene langsung menepis kecurigaan itu.


"Entah sampai kapan Devan akan terjebak dengan perasaan masa lalunya dan tidak melihat keberadaanku disisinya."


"Mungkin jika suatu saat aku pergi, dia baru bisa menyadari bahwa aku sangat mencintainya." Irene mengukir senyum bahagia yang terlihat di paksakan.


"Apa sekarang kamu masih berfikir pernikahanku dengan Devan bahagia.?" Tanya Irene.


Dia menghela nafas berat dan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Kamu beruntung menikah dengan Andreas. Setidaknya di balik sikap dingin Andreas dan selalu menentang Papanya, dia memberikan cinta dan kelembutan padamu."


"Aku sangat mengenal Andreas, dia hanya terlihat menakutkan dari luar, tapi sebenarnya hatinya tulus." Irene berbalik badan, tersenyum lebar pada Nisa karna merasa ikut senang dengan kebahagiaan adik iparnya itu.


"Sepertinya kamu lebih mengenal Andreas daripada aku." Ujar Nisa tenang. Dia ikut beranjak dari duduknya, berdiri berhadapan dengan Irene.


Irene tersenyum mendengar ucapan Nisa, apalagi raut wajah Nisa terlihat menahan cemburu.


"Kamu jangan salah paham, dulu kami sangat dekat. Apalagi setelah mengetahui orang tua kita saling mengenal."


"Andreas tipe orang yang mudah berbaur membuka pertemanan dengan siapapun. Termasuk aku."


"Sedangkan Devan sangat sulit untuk di dekati, lebih tepatnya tak suka berteman dekat dengan wanita."


"Satu-satunya cara agar aku bisa dekat dengannya adalah berteman baik dengan Andreas. Karna dulu mereka berdua selalu bersama kemanapun mereka pergi." Irene mengulum senyum, dia ingat dengan masa-masa itu. Karna rasa cintanya yang begitu besar pada Devan, dia selalu melakukan apapun untuk bisa dekat dengannya.


...****...


Nisa baru keluar dari ruangan itu setelah Irene lebih dulu pergi dari sana.


Meskipun dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkan cintanya kembali karna ada Irene dan calon anak mereka.


Langkah Nisa terhenti saat Devan tiba-tiba muncul di hadapannya. Laki-laki itu menatap dalam, sorot matanya dipenuhi dengan cinta yang sampai detik ini masih bersarang di hatinya. Tak pernah memudar meski telah meninggalkan Nisa selama 2 tahun ini.


Bibir Nisa bergetar, dia menahan tangis melihat Devan yang menatapnya dengan penuh cinta. Tatapan yang selama ini dia rindukan darinya.


Tak mau berlama-lama melihat Devan, Nisa bergegas melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Andreas tak sebaik yang kamu pikirkan, dia sudah mengetahui kalau aku dan kamu pernah menjalin hubungan." Ucap Devan bersamaan dengan menahan tangan Nisa.


Kedua mata Nisa membulat sempurna. Dia terlihat syok mendengar ucapan Devan, tapi sedikit tak percaya akan hal itu.


Kalau memang Andreas tau tentang masa lalunya dengan Devan, kenapa Andreas tak pernah bertanya apapun dan terlihat tidak mengetahui apa-apa.


"Tidak perlu menuduh Andreas, terima saja kalau kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama."

__ADS_1


"Irene dan calon anak kalian membutuhkan cinta dari kamu." Nisa melepaskan perlahan tangan Devan, kemudian berlalu dari sana.


"Dia yang memaksa, meski tau aku tidak bisa mencintainya." Sahut Devan.


Nisa hanya menghentikan langkah sejenak, tapi kemudian kembali melangkah dan meninggalkan Devan.


Sementara itu, seseorang berdiri tak jauh dari mereka. Dia melihat dan mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh Devan dan Nisa.


...****...


"Kamu kenapa.?" Tegur Andreas lirih. Dia menyentuh lembut tangan Nisa yang ada di atas pangkuan. Wanita itu sejak tadi terlihat melamun sejak mobil yang dikendarai oleh Andreas meninggalkan istana megah milik Tuan Chandra.


Tak hanya itu saja, Andreas juga merasakan perubahan dalam diri Nisa setelah melakukan yoga bersama Irene dan Nyonya Zoya.


Nisa lebih banyak diam dan melamun.


Nisa menoleh, dia hanya mengulas senyum tipis sembari menggelengkan kepala. Seakan memberi tau pada Andreas kalau dia baik-baik saja.


Andreas tak percaya begitu saja. Dia tidak yakin jika Nisa baik-baik saja dengan perubahan yang ada. Lebih banyak diam dan melamun. Seolah ada hal besar yang sedang mengganjal pikirannya.


"Apa Irene dan Mama mengatakan hal buruk pada mu.?" Tanya Andreas. Dia khawatir Irene ataupun Nyonya Zoya mengatakan sesuatu yang akhirnya mengganggu pikiran Nisa.


Karna setelah sarapan bersama, tiba-tiba Nisa meminta untuk pulang.


Nisa menoleh, menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis.


"Mereka tidak mengatakan apapun, aku hanya merasa tidak enak badan." Sahut Nisa.


Dia menatap lekat Andreas, mencoba mencari kebenaran dari ucapan Devan.


Tapi Nisa tidak melihat sesuatu yang mencurigakan dari sorot mata Andreas.


"Kamu sakit.? Apa perlu ke dokter.?" Tanya Andreas cemas. Dia sampai menempelkan punggung tangannya di kening Nisa untuk memastikan suhu tubuhnya.


"Aku tidak demam Andreas, hanya tidak enak badan saja. Setelah istirahat mungkin akan lebih baik." Jawab Nisa.

__ADS_1


__ADS_2