Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 59


__ADS_3

"Selamat Kak,,," Ucap Nisa yang langsung memeluk Irene setelah mengetahui jenis kelamin bayi di dalam kandungan Irene.


"Aku tidak sabar melihat keponakanku yang cantik,," Katanya sembari mengusap perut besar itu.


Nisa begitu antusias, dia ikut hanyut dalam kebahagiaan yang di rasakan oleh Irene. Tak peduli meski status Irene adalah istri dari laki-laki yang dulu pernah melamarnya.


Walaupun masih ada cinta untuk Devan di hatinya, Nisa tak mau membiarkan cinta itu terus tumbuh. Dia tidak mau egois dengan merusak kebahagiaan Irene yang begitu mencintai Devan.


Cukup dia saja yang merasakan bagaimana sakitnya di tinggalkan oleh orang yang amat dia cintai.


Lagipula ada calon anak mereka yang akan membutuhkan sosok seorang ibu dan ayah dalam satu rumah. Keduanya harus tetap bersatu dan bersama dalam merawat dan membesarkan anak-anak mereka.


Sekalipun Nisa bisa saja merebut kembali cintanya, namun dia tak akan setega itu demi mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan membuat orang lain menderita karena kehilangan.


"Makasih banyak,," Irene mengulas senyum kaki dan buru-buru melepaskan diri dari pelukan Nisa. Dia kemudian berbaur dengan teman-temannya yang juga ingin mengucapkan selamat padanya.


Nisa termenung, dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan sikap Irene terhadapnya.


Biasanya Irene akan banyak berbicara, tak hanya sekedar membalas ucapannya saja.


"Apa yang kamu pikirkan,?" Bisik Andreas. Dia berdiri di samping Nisa, lalu mengikuti arah tatapan Nisa yang tertuju pada Irene.


"Tidak ada." Nisa memilih berlalu, kembali ke tempat duduk khusus untuk keluarga besar mereka.


"Kamu baik-baik saja.?" Andreas mencekal pergelangan tangan Nisa. Mencegah wanita cantik itu yang baru saja akan duduk di tempatnya.


Nisa menatap Andreas, mengukir senyum sembari menganggukkan kepala.


"Aku baik-baik saja." Lirihnya, kemudian duduk di kursi meski Andreas masih memegangi tangannya.


"Kita bisa pergi ke kamar kalau kamu ingin istirahat," Andreas menatap lekat wajah Nisa. Keceriaan yang selalu terpancar dari sorot matanya terlihat sedikit redup.


"Aku,,,,


"Andreas Chandratama,,!!" Seorang laki-laki datang menghampiri Andreas dan menepuk keras pundaknya.


Sontak Andreas melepaskan genggaman tangannya dan menatap laki-laki itu.


"Gue cariin dari tadi, nggak taunya mojok disini." Serunya.

__ADS_1


"Lama nggak ketemu, penampilan kamu nggak banyak berubah,," Komentarnya sambil memperhatikan Andreas dari ujung kaki sampai kepala.


"Bastian,,?!" Andreas menautkan kedua alisnya. Dia memperhatikan dengan seksama wajah yang tak asing baginya.


Andreas tak salah menebak. Dia yakin jika laki-laki itu adalah teman sekolahnya dulu yang bertahun-tahun tinggal di luar negeri.


"Memangnya siapa lagi.? Baru gue tinggalin 9 tahun udah mau amnesia.!"


"Kamu lupa kalau nggak ada gue, kamu nggak bisa deketin Irene." Cecarnya.


Seketika Andreas menatap tajam. Memberikan isyarat pada Bastian untuk tidak membahas kisah masa lalunya.


"Udah nggak usah sewot, terima kenyataan aja kalau Irene lebih memilih Devan."


"Masih banyak wanita cantik di luar sana yang mau sama kamu." Bastian terus menyerocos, dia tidak sadar jika alarm peringatan sudah mengintainya sejak tadi.


"Tadinya aku pikir Irene hamil karna ka,,


"Annisa,,," Andreas memotong ucapan Bastian, dia meraih tangan Nisa dan mengajaknya beranjak dari kursi.


"Kenalin dia Bastian, teman sekolahku." Ucapnya sembari merangkul Nisa agar lebih dekat dengannya.


"Bastian, kenalin ini Annisa. Dia istriku.!" Ujar Andreas dengan menekankan kalimatnya. Tatapan matanya juga semakin tajam, membuat Bastian hanya mengukir senyum kaku dan menyambut uluran tangan Nisa.


"Nisa,,"


Senyum tipis tercetak indah di bibir Nisa, sesaat membuat Bastian tertegun dan hanyut dalam senyum manisnya.


"Bastian." Ucap Bastian tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari wajah Nisa. Dia juga terus menjabat tangan Nisa hingga membuat Andreas melotot tajam. Tapi lagi-lagi Bastian tak menyadarinya.


“Mau minum Bas,,?" Tawar Andreas.


Kedua tangannya melepaskan paksa jabatan tangan Nisa dan Bastian, karna temannya itu tak kunjung melepaskan tangan Nisa.


"Tunggu dulu,, dia istri kamu.?"


"Sejak kapan kamu nikah.? Kenapa nggak ngundang gue.?" Cecar Bastian. Dia tidak menyangka Andreas bisa melanjutkan kehidupannya dengan normal setalah merasakan patah hati yang mendalam.


Bastian tau betul bagaimana ketulusan dan cinta yang dia miliki untuk Irene. Meski wanita itu tak pernah bisa melihat besarnya cinta Andreas padanya. Karna di mata dan hati wanita itu hanya ada Devan seorang, sampai menutup mata dan hati bahwa ada laki-laki yang dulu mencintai lebih dari dirinya sendiri.

__ADS_1


"Lu nggak penting. Untuk apa gue ngundang lu.!" Sinis Andreas.


"Aku ke toilet sebentar Ndre,," Pamit Nisa lirih.


"Mau aku antar.?" Tawarnya.


Nisa menggelengkan kepala dan bergegas pergi dari sana.


"Kamu serius udah nikah Ndre.?" Tanya Bastian tak percaya. Dia baru saja menatap kepergian Nisa hingga hilang dari pandangan matanya.


"Lu pikir gue pernah bercanda.?!" Sinis Andreas kesal.


"Sekali lagi lu sebut nama Irene di depan Nisa, gue buang lu ke laut.!" Geramnya penuh amarah.


"Sorry Bro,, mana gue tau kalau dia istrimu. Lagipula gue juga nggak liat dia duduk di belakang kamu."


...****...


"Irene, Andreas, Devan.??" Lirih Nisa sembari menatap dirinya dalam pantulan cermin. Dia harus berfikir keras setelah mendengar ucapan Bastian.


"Dia menyuruh Andreas untuk menerima kenyataan kalau Irene lebih memilih Devan.? Sebenarnya,,,,


Nisa terdiam, perlahan dia mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi antara mereka bertiga di masa lalu. Andreas, Devan dan Irene terlibat cinta segitiga.


"Irene,, Irene,, iirr. Tunggu.! Kenapa aku baru baru mengingat hal sepenting itu.?!!" Seru Nisa. Dia melewatkan sesuatu yang penting selama ini.


Sudah berbulan-bulan yang lalu, dia baru ingat dengan ucapan Andreas yang menyebut nama Irene pada malam mengerikan itu.


"Jadi semua akar permasalahannya ada pada wanita itu.?" Nisa mengukir senyum kecut.


Karna Irene, bukan hanya hatinya saja yang hancur tapi kehidupannya juga hancur.


Karna Irene, kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya lenyap begitu saja.


Karna keegoisan seseorang yang berkuasa, membuat wanita lemah seperti Nisa menanggung semua kepedihan ini.


"Devan milikku, aku akan merebutnya darimu.!" Seru Nisa penuh penekanan. Soroti mata tajamnya menyimpan amarah dan dendam yang begitu besar.


Dia tak peduli lagi dengan kebahagiaan orang lain. Sudah saatnya dia membahagiakan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Seperti yang di lakukan oleh Irene.

__ADS_1


__ADS_2