Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 165


__ADS_3

"Kamu mau mandi.?" Tanya Andreas begitu memasuki kamar dan mendapati Nisa akan masuk ke kamar mandi.


Nisa menjawab dengan anggukan kepala. Di tangannya ada pakaian dlm yang semalam tidak dia pakai lantaran sudah lelah dan mengantuk. Kini dia hanya memakai setelan baju tidur tanpa pakaian dlm.


"Apa Zie masih tidur.?" Tanyanya.


"Iya, dia masih pulas." Andreas menjawab seraya berjalan mendekati Nisa. Ini saatnya dia mengalihkan perhatian Nisa dengan membuat wanita itu sibuk agar melupakan pil kontrasepsi.


"Ayo mandi, sebelum Zie bangun." Ajak Andreas. Dengan jahilnya dia mengedipkan sebelah matanya dan langsung menggendong tubuh Nisa.


Seperti biasa, Nisa akan berteriak tapi pada akhirnya pasrah begitu saja.


Lagipula siapa yang bisa menolak Andreas. Wajah tampan dan postur tubuhnya yang sempurna, akan membuat wanita betah di dalam dekapannya. Apa lagi di bawah kungkungannya.


"Andreas,," Tegur Nisa. Dia mencekal kedua tangan Andreas yang mulai menggerayangi tubuh bagian atasnya.


"Apa kamu tidak cape.?" Tanya Nisa heran.


Andreas hanya mengukir senyum simpul. Bukannya berhenti, pria itu malah mengecup sekilas bibir Nisa yang sedang mencebik.


"Kamu membuatku candu." Ucapnya dengan suara serak.


"Bukan candu, tapi kamu saja yang punya otak mesum." Balas Nisa. Dia menyingkir dari hadapan Andreas untuk melepaskan baju di tubuhnya.


Nisa tampak cuek bertel lanjang di depan Andreas, dia tidak lagi merasa malu seperti awal-awal saat di paksa mandi bersama oleh Andreas.


Mendapat cibiran punya otak mesum, pira itu hanya mengukir senyum tipis. Dia ikut melucuti pakaiannya sendiri dan berdiri di bawah shower.


"Apa produk skincare kamu sudah di produksi.?" Tanya Andreas. Dia menatap Nisa yang masuk ke dalam bathtub.


"Sudah, tapi baru mulai kemarin." Jawab Nisa.


"Mau di pasarkan ke luar negeri.?" Ujar Andreas.


"Aku bisa menyuruh Aditya untuk memasarkan skincare milikmu di beberapa negara."


Nisa langsung menoleh. Dia tatapnya Andreas dengan serius. Tawaran yang di berikan oleh Andreas cukup menggiurkan untuk usaha baru miliknya.


"Apa bisa.?" Tanya Nisa.

__ADS_1


"Kamu meragukan kemampuanku.?" Sahut Andreas cepat. Sebagai pengusaha sukses yang punya pengaruh besar, tentu saja Andreas bisa melakukan apapun. Apalagi perusahaannya sudah cukup terkenal di beberapa negara. Bukan perkara yang sulit untuk sekedar memasarkan produk usaha milik Nisa di beberapa negara.


"Bukan itu masalahnya. Tapi produk yang aku buat jauh di bawah brand skincare ternama. Sepertinya akan kalah saing."


"Aku hanya menyasar kalangan menengah ke bawah dengan harga yang terjangkau." Tutur Nisa. Walaupun dia sangat ingin produknya bisa di kenal di beberapa negara, tapi dia sadar diri dengan produknya yang sudah di peruntukkan untuk kalangan menengah kebawah.


"Tidak masalah, kamu bisa membuat formula baru agar bisa bersaing dengan brand ternama."


"Aku punya rekan bisnis yang memiliki perusahaan skincare di Amerika. Skincare miliknya sudah cukup terkenal di beberapa negara. Aku akan mengenalkannya padamu nanti. Kamu bisa membeli formula sesuai keinginan kamu." Tutur Andreas.


Setiap kata yang keluar dari bibir Andreas penuh dengan ketulusan. Dia benar-benar ingin membuat bisnis milik Nisa berkembang pesat agar mampu bersaing di kancah internasional.


Meski sebenarnya dia mampu memberikan apapun untuk Nisa secara materi, tapi Andreas enggan menghentikan bisnis yang sudah di bangun Nisa dengan susah payah. Dia justru ingin membuat usaha itu semakin besar.


"Kamu serius mau mengenalkan ku padanya.?" Kedua mata Nisa berkaca-kaca. Dia tersentuh dengan niat baik Andreas yang ingin membantu bisnisnya.


Andreas menganggukkan kepala dengan seulas senyum teduh.


"Aku ingin melihat bisnismu lebih besar dari saat ini." Tuturnya.


Nisa semakin tersentuh mendengarnya.


"Hanya makasih saja.? Tidak ada yang lain.?" Tanya Andreas yang tampak sedang berusaha menggoda Nisa. Dia lantas mematikan shower yang sejak tadi mengguyur tubuh polosnya. Pria itu kemudian berjalan ke arah bathtub dengan ekspresi wajah yang cool.


"Jadi bantuannya tidak gratis.?" Nisa mencebikkan bibir. Ujung-ujungnya ada udang di balik batu atas bantuan yang di tawarkan oleh Andreas.


"Tentu saja gratis. Kamu hanya perlu mencium ku." Sahut Andreas yang menundukan badan dan meletakkan kedua tangan di sisi bathtub sebagai tumpuan. Dia mendekatkan wajahnya di hadapan Nisa.


"Sama saja namanya tidak gratis." Sahut Nisa yang menjauhkan bahu Andreas.


"Aku harus mandi, nanti Kenzie keburu bangun." Ucapnya kemudian bergegas keluar dari bathtub.


Nisa berpindah posisi dengan berdiri si bawah shower.


Melihat Nisa menghindarinya, Andreas tak menyerah begitu saja. Dia kembali mendekat dan melakukan berbagai cara sampai akhirnya di mendapatkan apa yang dia inginkan. Yaitu ciuman panas dari bibir manis milik Nisa.


Sepertinya misi Andreas untuk membuta Nisa melupakan pil kontrasepsi itu mulai berjalan mulus. Sejauh ini dia berusaha membuat Nisa sibuk memikirkan hal-hal lain dan pekerjaan.


...*****...

__ADS_1


Semua orang berkumpul di meja makan. Termasuk Aditya yang baru saja sampai di rumah Nisa. Dia sudah check out dari hotel tempatnya menginap. Karna beberapa jam lagi mereka akan pergi ke bandara untuk berangkat ke Amerika.


"Ara, saya titip rumah sama kamu." Ucap Nisa selesai menghabiskan sarapannya.


"Saya sudah meminta Aldo dan Pak Dito untuk tidak meninggalkan rumah. Jadi kamu tidak perlu takut karna tidak akan sendirian di rumah." Tuturnya. Walaupun harus meninggalkan rumah, Nisa tetap memperhatikan keselamatan dan keamanan Tiara yang akan stay mengurus rumahnya.


"Baik Bu." Tiara mengangguk paham.


"Jangan menetap di sana ya Bu, nanti saya kangen sama Zie." Tiara menatap Kenzie yang tengah duduk di sampingnya. Ada perasaan sedih karna harus berpisah dengan Kenzie selama 1 bulan ke depan. Tentu Tiara akan merindukan canda tawa bocah tampan nan menggemaskan yang biasanya mengisi hari-harinya itu.


"Kangen sama Zie apa kangen sama Aditya." Celetuk Andreas dengan santainya. Dia bahkan asik menyuapkan potongan buah ke dalam mulut tanpa memperhatikan ekspresi semua orang yang menatap ke arahnya.


"Andreas,,," Tegur Nisa pelan. Dia jadi merasa tidak enak pada Tiara yang tampak malu setelah mendengar ucapan Andreas.


"Sayang, apa kamu tidak lihat wajah mereka berdua yang terlihat sedih.?" Ujar Andreas sembari menatap Tiara dan Aditya bergantian. Nisa jadi mengikuti arah tatapan Andreas dan memperhatikan wajah keduanya. Sepertinya yang di katakan oleh Andreas memang benar adanya.


Aditya bahkan tak terlihat bersemangat seperti biasanya. Begitu juga dengan Tiara. Sorot matanya jelas menunjukkan ada kesedihan yang sedang dia tutup-tutupi.


"Saya dan Tiara baik-baik saja." Ucap Aditya. Dia melirik sekilas pada Tiara dengan tatapan datar.


"Yakin.? Jangan sampai setelah kembali ke Amerika kamu jadi tidak fokus bekerja.!" Seru Andreas tegas.


"Banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan."


"Ingat dengan beberapa klien yang ingin melakukan pertemuan."


"Kamu juga harus mengatur ulang jadwal meeting." Tutur Andreas. Pria itu menyebutkan semua tugas Aditya yang sedang menunggu di Amerika.


Aditya tampak menelan ludah dengan susah payah. Ini yang membuat dia sedih. Kepalanya bahkan terasa akan pecah karna memikirkan tanggung jawabnya pada perusahaan tempatnya bekerja.


Setelah hampir 1 bulan berada di Indonesia, banyak pekerjaan yang tidak bisa dia selesaikan karna terkendala jarak.


"Kamu membebankan semua itu pada Aditya.?" Tanya Nisa dengan kening yang mengkerut. Dia jadi kasihan pada Aditya setelah mendengar penuturan Andreas soal pekerjaan Aditya.


"Bukan membebankan, tapi memang sudah menjadi tugas Aditya,seperti itu." Jawab Andreas.


"Jangan khawatir, Aditya akan tetap waras meski pekerjaannya banyak. Tidak sepertiku,," Ucapnya lirih. Sejujurnya banyak kesulitan yang dihadapi Andreas dalam memimpin perusahaan dengan kondisinya saat ini. Dan keberadaan Aditya di sampingnya sangat berpengaruh besar dengan apa yang telah dia capai sejauh ini.


Tapi Andreas bukanlah orang yang tidak tau berterimakasih. Andreas sudah memberikan salah satu anak perusahaan miliknya untuk di kelola oleh Aditya, jika suatu saat kondisi Andreas sudah stabil dan bisa lepas dari bantuan Aditya.

__ADS_1


Karna Andreas juga ingin melihat Aditya berkembang dengan memimpin perusahaan sendiri.


__ADS_2