Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 182


__ADS_3

"Ternyata masih hidup." Ucap Devan seraya tersenyum kecut. Dia bicara seolah selama ini tidak tau akan keberadaan Andreas. Padahal 1 tahun terakhir dia mengetahui kabar tentang keberadaan adik tirinya itu. Tapi karna enggan berurusan dengan Andreas dan ingin hidup tenang tanpa adanya seseorang pembuat onar, Devan menganggap jika Andreas sudah mati.


"Si*lan.! Apa maksudmu.!" Pekik Andreas dengan tatapan tajam. Emosinya seketika memuncak karna ucapan Devan. Saudaranya itu seolah menginginkannya mati atau mungkin menganggapnya sudah mati.


Nisa menghela nafas kasar. Dia sudah menebak akan terjadi hal yang tidak di inginkan seperti. Dia tau betul siapa Andreas, suaminya itu pasti sulit untuk mengendalikan emosinya jika sudah berhadapan dengan Devan. Kejadian lebih dari 3 tahun lalu masih membekas di ingatan. Bagaimana Andreas begitu meluapkan emosi tanpa memandang kalau Devan adalah saudaranya.


"Andreas, bukannya aku sudah bilang untuk tidak membuat keributan.!" Nisa kembali menegur suaminya. Tentunya dengan berbisik agar tidak menjatuhkan harga diri Andreas di depan Devan.


"Aku sudah bicara baik-baik padanya, tapi dia memancing keributan. Kamu dengar bukan dia bicara apa padaku.?" Andreas mengadu sembari menahan kekesalan. Kalau tidak berada di tempat umum serta tidak ada Kenzie dan Nisa, mungkin Devan sudah merasakan tinjuan darinya.


"Sepertinya kalian berdua harus bicara. Selesaikan masalalu, jangan ada lagi pertikaian ataupun dendam.!" Tegas Nisa sembari bergantian menatap Andreas dan Devan. Meski tidak yakin mereka mau kembali sebagai saudara, tapi setidaknya dendam dan kebencian di antara keduanya bisa di hapus agar tidak ada lagi permasalahan di kemudian hari.


"Ayo ikut,, kita bicara di sana.!" Titah Nisa yang mengarahkan jari telunjuknya pada meja VVIP khusus untuk keluarga. Disana jauh dari jangkauan para tamu undangan, jadi bisa leluasa bicara panjang lebar untuk menyelesaikan masalah di antara Andreas dan Devan.


Andreas dan Devan sontak menurut. Keduanya samasekali tidak mengajukan protes pada Nisa.


Lagipula siapa yang bisa menolak permintaan orang yang begitu spesial di hati keduanya.


"Saya tunggu di sini saja Pak,," Wanita yang sejak tadi hanya diam menyimak obrolan mereka, kini bersuara setelah Devan akan mengikuti langkah Nisa.


"Ada banyak pria tua nakal disini, sebaiknya ikut saja.!" Pinta Devan tegas. Ucapan Devan tampak membuat wanita itu ketakutan hingga mengedarkan pandangan. Sepertinya yang di katakan Devan ada benarnya juga, karna dia bisa melihat beberapa tatapan pria paruh baya yang seakan sedang mengintai mangsa jika melihat wanita muda.


"Baik Pak." Dia mengangguk pasrah dan akhirnya mengekori Devan.


Kini sudah ada 4 orang yang menempati salah satu meja VVIP itu. Nisa sengaja menitipkan Kenzie pada asisten rumah tangganya agar putranya itu tidak mendengarkan obrolan serius antara orang dewasa.


"Devan,, aku meminta maaf atas nama suamiku." Ucap Nisa penuh ketulusan. Dia bahkan sampai menundukkan kepala di depan Devan. Memohon agar Devan bersedia untuk memaafkan Andreas.

__ADS_1


"Sayang,, untuk apa meminta maaf padanya." Protes Andreas. Dia tidak rela Nisa meminta maaf pada Devan atas namanya. Menurutnya, dia tidak memiliki kesalahan apapun pada Devan. Apa yang dulu sudah dia lakukan pada keluarganya adalah balasan karna sudah memperlakukannya secara tidak adil.


"Ndree,, aku mohon berdamailah dengan keadaan. Lupakan masa lalu, lupakan apa yang telah membuatmu sakit dan kecewa." Pinta Nisa, dia menggenggam tangan Andreas seraya menatap sendu.


"Hiduplah bahagia dengan hati yang tenang, tanpa ada dendam dan kebencian. Bukan hanya kamu saja, tapi kita semua." Ucap Nisa dengan mata yang berkaca-kaca.


Dia ingin menjalani kehidupan yang normal, tanpa ada bayang-bayang dendam dan kebencian pada siapapun.


"Kamu ingin keluarga kecil kita bahagia bukan.?" Tanya Nisa. Sorot matanya begitu dalam menatap Andreas. Pria itu merasa tertampar dengan ucapan Nisa. Dia menyadari kesalahan terbesarnya yang membiarkan dendam serta kebencian pada sosok Devan terus bersarang di hatinya. Dan jujur saja hal itu yang membuatnya merasa jika kebahagiaannya saat ini belum sempurna.


"Maaf,,," Lirih Andreas. Suaranya terdengar tercekat.


"Aku pikir setelah menghancurkan perusahaan sampai membuat Papa meninggal, kamu bisa hidup bahagia." Sinis Devan.


Dia bisa menangkap arti ucapan Nisa kalau selama ini Andreas tidak bahagia.


"Aku tau tidak mudah, tapi kamu harus ingat bagaimanapun kalian adalah saudara." Ujar Nisa lagi. Dia mengingatkan bahwa ada ikatan yang kuat di antara Andreas dan Devan, Karna darah Chandratama mengalir di tubuh mereka.


"Sudah sayang,, kamu tidak perlu memohon seperti ini atas kesalahan yang tidak kamu perbuat. Aku yang akan meminta maaf pada Devan dan Mama Zoya nanti." Ucapnya. Pria itu tidak tega melihat Nisa terus memohon pada Devan.


"Aku akan memberikan waktu pada kalian untuk bicara empat mata. Selesaikan masalah ini sampai kalian berdua bisa sama-sama memaafkan dan tidak ada lagi kebencian." Nisa kemudian beranjak dari duduknya. Dia menatap wanita yang duduk di samping Devan dan memberinya kode agar ikut dengannya.


...*****...


"Jadi Pak Devan punya adik.? Saya pikir Pak Devan anak tunggal," Ucap Emily yang di ketahui sebagai sekretaris Devan.


"Sesuatu terjadi hingga hubungan keluarga di antara mereka terputus. Kamu pasti mengerti setelah mendengarkan percakapan kami tadi." Jawab Nisa.

__ADS_1


"Apa kamu tau kabar Mama Zoya serta anak dan istri Devan.?" Tanya Nisa.


Dia memang belum tau kabar tentang Irene yang sudah meninggal setelah melahirkan Maura.


"Nyonya Zoya dan Maura baik-baik saja." Jawab Emily seraya mengukir senyum lantaran teringat dengan bocah cantik berusia 3 tahun itu yang belakangan kerap memanggilnya Mama.


"Hanya saja,, yang aku ketahui istri Pak Devan sudah meninggal saat melahirkan Maura." Tuturnya dengan kepala tertunduk. Emily ingat dengan tangis Maura yang pecah karna ingin Mamanya kembali dari surga.


Saat itu dia di beritau oleh Mama Zoya kalau Mama kandung Maura meninggal dunia.


"Meninggal.?" Suara Nisa tercekat. Dia tidak percaya irene lebih dulu meninggalkan mereka.


Nisa baru menyadari hal itu saat berada di Jakarta dan bertemu Devan hanya bersama putrinya tanpa ada Irene. Dan beberapa bulan lalu Devan juga sengaja datang ke Batam untuk menemuinya.


Sementara itu, Andreas dan Devan masih berbicara serius. Berulang kali Andreas mengungkapkan rasa bersalah dan menyesal atas apa yang dia lakukan. Dia juga meminta maaf dengan tulus dan berjanji akan menemui Mama Zoya untuk meminta maaf juga padanya.


Mengakhiri permusuhan antar kakak beradik demi kehidupan yang tenang dan bahagia bersama keluarga kecilnya, Andreas menurunkan ego dan menepis gengsi untuk memohon pada Devan.


Dia juga menjanjikan akan membantu Devan agar perusahaannya menjadi lebih besar dari saat ini.


Namun dengan sopan Devan menolaknya.


"Jangan khawatir, aku yakin dengan kemampuanku sendiri."


"Kamu hanya perlu meminta maaf pada Mama dan Papa. Datang ke makamnya dan meminta maaflah, Papa tidak seburuk yang kamu kira." Ucap Devan sendu. Sudah lebih dari 3 tahun Chandra meninggalkannya, namun kepedihan dan kerinduan itu begitu menyiksa.


Andreas menunduk penuh sesal. Karna saat itu dia tak peduli dengan keadaan Papa kandungnya bahkan tidak merasa kehilangan saat mengetahui Papa Chandra meninggal.

__ADS_1


__ADS_2