Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 45


__ADS_3

Devan berdiri di balkon kamar. Dia kembali ke rumahnya setelah makan malam bersama keluarganya.


Seharian bertemu Nisa, melihat Nisa begitu dekat dengan Andreas membuatnya sakit.


Terlebih saat melihat tanda kepemilikan Andreas di leher Nisa. Menambah perasaan sesak di dadanya.


Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk memperjuangkan perasaannya, dan kini harus melihat Nisa menjadi milik Andreas seutuhnya.


Semua itu hanya membuat Devan semakin frustasi.


"Tinggalkan wanita itu atau Papa akan membuat hidupnya menderita.!"


"Papa bisa melakukan apapun, termasuk membuat wanita itu menghilang dari kehidupanmu.!"


Devan menggebrak besi pembatas balkon.


Karna ancaman dari sang Papa, dia terpaksa meninggalkan Nisa dan menerima perjodohan itu.


Setelah keluar dari rumah dan memilih menjalani kehidupan sendiri di kota lain, sang Papa berhasil menemukan keberadaannya. Termasuk mengetahui hubungan dia dengan seorang wanita di kota itu.


Devan rela meninggalkan keluarganya, meninggalkan semua harta kekayaan miliknya demi menentang perjodohan itu. Karna Devan tak bisa mencintai Irene, terlebih dia tau bahwa Andreas pernah menaruh hati pada wanita itu.


Tapi nyatanya sang Papa tak tinggal diam, terus berusaha mencari keberadaannya dan memaksanya untuk menjalani perjodohan itu.


Bukan salahnya jika sampai detik ini dia belum bisa mencintai Irene.


"Apa wanita itu masih ada di hatimu.?" Suara sendu milik Irene membuyarkan lamunan Devan.


Dia menoleh, menatap Irene yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya dengan meluruskan pandangan ke depan.


Wajahnya sedikit menengadah, menatap langit malam yang kelabu tanpa dihiasi bintang. Seakan mewakili perasaannya saat ini.


"Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi." Jawab Devan datar.


Sebelum pernikahannya dan Irene terjadi, dia sudah mengatakan yang sejujurnya pada Irene tentang perasaannya. Devan tak menutupi apapun dari Irene. Dia terang-terangan mengatakan bahwa mencintai seseorang, dan mengatakan jika dirinya sudah bertunangan dengan wanita itu. Lalu terpaksa meninggalkan wanita itu demi menuruti permintaan sang Papa.


Tapi meski sudah berkata jujur pada Irene tentang perasaannya, Irene tetap mau menikah dengannya. Mengatakan pada Devan bahwa seiring berjalannya waktu, cinta pada wanita itu akan hilang dan berubah mencintainya.


Sayangnya sampai detik ini cinta untuk Irene tak pernah ada di hati Devan.

__ADS_1


"Sebaiknya kita tidur, sudah malam." Ucap Devan, dia lalu beranjak begitu saja dari balkon.


"Apa yang kurang dariku.?" Suara Irene tercekat. Mata berkaca-kaca, menahan rasa sakit yang terasa menusuk.


Selama hampir 2 tahun, Irene merasa keberadaannya tak pernah di anggap. Devan tak menghargainya sedikitpun sebagai seorang istri karna hatinya masih mencintai wanita lain.


Dia sudah melakukan segara cara untuk mendapatkan hati Devan, berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya itu. Selalu menyiapkan semua kebutuhannya, mencoba untuk menjadi istri yang baik hanya untuk mendapatkan secuil pengakuan dari Devan. Hanya untuk dihargai sebagai seorang istri.


Irene sadar bahwa dirinya bersalah karna memaksakan kehendak untuk menjadikan Devan sebagai pendamping hidupnya meski tau bahwa Devan tidak mencintainya. Tapi dia tak pernah berfikir perjuangan dan pengorbanannya untuk mendapatkan cinta dari Devan begitu sulit dan menyakitkan.


Banyak air mata yang terbuang. Banyak luka yang harus dia terima.


Devan terlihat menghentikan langkah. Laki-laki itu menarik nafas dalam. Tak ada yang kurang sedikitpun dari Irene, wanita itu sempurna. Irene melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Hanya saja hati tak bisa di paksakan kemana ia akan berlabuh.


"Jawabannya tetap sama, cinta tidak bisa di paksakan." Jawab Devan dengan berat hati.


Irene sudah sering menanyakan hal itu, dan jawabannya akan tetap sama.


Devan berlalu, meninggalkan Irene yang mulai meneteskan air matanya.


Mendapatkan tak semudah mempertahankan.


Dia terlalu terobsesi untuk bisa memiliki Devan, sampai tidak berfikir bahwa berjuang sendiri sangat melelahkan dan penuh dengan pengorbanan.


...****...


Melakukannya sambil meluapkan emosi yang terpendam dengan perasaan masing-masing.


Keduanya mengubah emosi mereka dengan melakukan penyatuan panas yang menggebu dan liar.


Keduanya sama-sama menumpahkan kegelisahan hati tanpa di sadari satu sama lain.


Permainan itu tak sekedar dijadikan untuk mendapatkan kepuasan saja, melainkan untuk membuat perasaan gelisah yang berkecambuk di hati keduanya.


Nisa memejamkan mata rapat-rapat, memeluk erat punggung Andreas yang sedang memacunya.


Kata demi kata terlintas di benak Nisa tentang hubungan Devan dan Irene yang sebenarnya. Mengetahui fakta bahwa Devan tak mencintai Irene dan masih sangat mencintainya, membuat Nisa begitu frustasi. Dia membenci takdirnya, benci karna cinta tak berpihak padanya dan Devan.


Sementara itu, Andreas terlihat gamang. Dia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Sesuatu yang tak bisa dia kendalikan dengan baik.

__ADS_1


Sesuatu yang mungkin akan menghancurkan semua rencana yang sudah bertahun-tahun dia buat.


Erangan keduanya mengakhiri permainan panas itu. Andreas melepaskan pelindung dan melemparnya ke dalam tempat sampah.


Sebelum beranjak dari ranjang untuk membersihkan diri, Andreas menyelimuti lebih dulu tubuh polos Nisa.


Wanita itu tampak kelelahan dengan kedua mata yang terpejam dan nafas yang memburu.


Nisa membuka mata, dia sempat melihat punggung polos Andreas yang menghilang di balik ruangan kamar mandi.


"Aku tidak mungkin merebut Devan. Seorang anak akan membutuhkan ayahnya." Gumam Nisa lirih. Dia memutuskan untuk merelakan Devan dan membuang perasaannya. Sekalipun dia tau bahwa Devan masih sangat mencintainya.


"Lalu bagaimana dengan balas dendam ku pada Andreas.?" Nisa dilema.


Keadaan telah menggoyahkan pendiriannya. Melihat Andreas dengan kehidupannya yang sulit, membuat Nisa merasa kasihan jika suatu saat harus meninggalkan Andreas disaat laki-laki itu sudah mencintainya.


Nisa langsung memejamkan mata saat mendengar suara langkah kaki. Dia pura-pura tidur sebelum Andreas datang.


Naik ke atas ranjang, Andreas berbaring di samping Nisa. Laki-laki itu menatap sekilas wajah Nisa, sebelum masuk dalam selimut yang sama dan ikut memejamkan mata.


...****...


Nisa mengantar Andreas sampai ke depan, seperti biasa sia selalu mencium punggung tangan suaminya itu. Dan Andreas selalu diam saja dengan tatapan intens.


"Aku berangkat." Pamitnya sembari menarik tangannya dari genggaman Nisa.


"Tunggu Andreas.!" Nisa menahan pergelangan tangan Andreas.


"Aku menyuruh Mella untuk berhenti bekerja di club, tapi Bang Antoni tidak mengijinkannya."


"Apa kamu tidak keberatan menyuruh Bang Antoni menerima surat pengunduran diri Mella.?" Nisa menatap penuh harap. Selain ingin cepat-cepat melihat Mella berhenti bekerja di club, Nisa juga ingin secepatnya menjalankan usaha yang sudah mereka rencanakan.


Andreas tak langsung menjawab, dia terlihat berfikir sejak dan akhirnya mengatakan apa yang di harapkan oleh Nisa.


"Hemm,," Ucapnya dengan anggukan kecil.


"Bilang pada Mella, malam ini tidak perlu datang ke club lagi."


Mendengar hal itu, Nisa reflek menghambur ke pelukan Andreas.

__ADS_1


"Makasih banyak Ndre,," Ucapnya tulus.


Andreas hanya diam saja dengan kedua tangan lurus kebawah. Tak membalas pelukan Nisa. Sampai akhirnya Nisa sadar dan langsung melepaskan pelukannya, lalu mempersilahkan Andreas untuk ke kantor.


__ADS_2