Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 43


__ADS_3

Nisa menikmati kebersamaannya dengan Kakak ipar dan Mama mertuanya di ruangan khusus untuk olahraga yang ada di rumah mewah Tuan Chandra.


Sikap baik yang di tunjukkan oleh Irene dan Nyonya Zoya, membuat Nisa merasa sangat nyaman berbaur dengan mereka.


Setidaknya pernikahan yang dia rencanakan untuk balas dendam, memberikan sedikit kebahagiaan baginya karna bisa merasakan kebersamaan bersama keluarga.


Hal yang sudah lama tidak bisa Nisa rasakan karna dia hanya hidup seorang diri.


“Seru sekali. Badanku terasa lebih ringan.” Ucap Nisa selesai melakukan yoga hampir 1 jam.


“Yoga memang bagus untuk kesehatan tubuh sayang,," Balas Nyonya Zoya. Tutur katanya yang lembut, membuat Nisa merasa nyaman menganggap Nyonya Zoya bagian dari keluarganya untuk saat ini. Lebih tepatnya selama dia masih menjadi istri Andreas.


"Apa Mama dan Kak Irene sering yoga bersama.?" Nisa bertanya dengan nada antusias. Dia sampai bergeser untuk lebih dekat dengan Irene dan Nyonya Zoya agar bisa leluasa mengobrol.


"Hanya 1 minggu sekali, kadang 2 minggu sekali kalau Mama sedang sibuk." Jawab Nyonya Zoya. Setiap weekend dia memang selalu menyuruh Devan dan Irene untuk menginap di rumahnya, agar paginya bisa olahraga besama.


Tak hanya Irene dan Devan saja yang dia suruh untuk menginap, Andreas juga sudah dia suruh untuk menginap agar hubungan keluarga mereka semakin membaik, tapi Andreas tak pernah mau bermalam di rumah ini lagi.


Setiap ada perkumpulan keluarga, Andreas akan langsung pulang ke apartemennya tanpa mau menginap.


"Sekarang sudah tambah personil, jadi lebih seru yoganya." Sambung Irene.


"Sepertinya kita harus yoga setiap 1 minggu sekali." Usulnya penuh semangat.


"Mama akan senang kalau Nisa mau yoga bersama di sini. Apa lagi kalau bisa membujuk Andreas agar mau menginap di sini setiap weekend." Nyonya Zoya memegang lengan Nisa, dia berharap banyak pada menantunya itu untuk membuat Andreas kembali dekat dengan keluarganya agar hubungan orang tua dan anak kembali seperti dulu lagi.


Dengan adanya Nisa di samping Andreas, Nyoya Zoya berharap putra sambungnya itu lebih bahagia dan menjadi sosok yang lebih baik lagi.


"Nisa akan usahakan Mah,," Jawab Nisa.


...***...

__ADS_1


Nyonya Zoya sudah meninggalkan ruangan olahraga. Kini hanya ada Nisa dan Irene yang masih berada di sana. Keduanya duduk di kursi yang menghadap ke taman belakang dengan dinding kaca sebagai pembatas.


"Sepertinya Andreas sangat mencintaimu, dia memperlakukanmu dengan baik. Kamu pasti bahagia menikah dengannya,," Kata Irene lirih. Wanita cantik itu meluruskan pandangan dengan tatapan menerawang. Raut wajahnya terlihat sendu.


Nisa menoleh, memperhatikan wajah Irene dari samping. Dia tidak paham tujuan Irene mengatakan semua itu. Padahal Irene hanya melihat sekilas kebersamaannya dengan Andreas, tapi sudah menyimpulkan perasaan Andreas dan pernikahannya bahagia.


"Aku yakin Kak Irene jauh lebih bahagia dariku." Sahut Nisa. Nada bicaranya lebih tinggi dari Irene. Dia bisa mengatakan semua itu karna sudah tau seperti apa sifat Devan. 2 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal laki-laki itu. Devan sangat perhatian dan lembut ketika dia sudah mencintai seseorang. Nisa merasakan bagaimana Devan memperlakukannya bak ratu.


"Aku.? Bahagia.?" Irene langsung menoleh, menatap Nisa dengan seulas senyum yang mengiris hati.


"Semua orang mengatakan hal yang sama sepertimu. Tapi tidak seperti itu kenyataannya." Irene menunduk senduk. Seolah menahan air matanya agar tidak tumpah. Lalu kembali meluruskan pandangan menerawang.


"Kak Irene sedang hamil, sebentar lagi akan menjadi seorang ibu dan keluarga kecil kalian semakin sempurna. Mana mungkin orang akan menilai kehidupan Kakak tidak bahagia." Ucap Nisa.


Melihat pernikahan Irene dan Devan yang akan dikaruniai seorang anak, tentu saja Nisa yakin pernikahan mereka bahagia. Termasuk Irene.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat Nisa." Suara Irene melemah. Dia mulai menarik nafas dalam, butuh kekuatan untuk menceritakan kepedihan yang selama ini dia pendam seorang diri tanpa ada satu orangpun yang tau.


"Kebahagiaan dan senyum ini palsu, tidak nyata." Ucapnya dengan suara tercekat.


Ada nada penyesalan, namun penyesalan itu hanya akan semakin membuatnya merasa sakit.


Dia berusaha menerima semua konsekuensi atas jalan yang sudah dia pilih sendiri.


"Maksudnya.?" Tanya Nisa.


"Aku tidak mengerti." Nisa menatap bingung.


"Pernikahanku dan Devan terjadi karna perjodohan. Aku yang memaksa orang tuaku agar menjodohkanku dengan Devan."


"Tak peduli bagaimana perasaan Devan padaku saat itu, aku hanya ingin hidup bersamanya karna aku sudah mencintainya sejak pertama kali melihatnya."

__ADS_1


"Tepatnya sejak aku duduk di bangku SMA."


"Devan 2 tahun lebih tua dariku, dia dan Andreas senior saat aku baru masuk SMA."


Irene mengulas senyum tipis, dia mengingat saat pertama kali melihat Devan yang kala itu lewat di depan kelasnya. Pandangan pertama pada Devan, membuat Irene jatuh hati. Sejak saat itu Irene percaya adanya cinta pada pandangan pertama.


Dia tak pernah berhenti memikirkan Devan.


Hal yang membuat dia semangat untuk kembali ke sekolah juga karena Devan. Irene hanya ingin melihat wajahnya setiap hari karna itu membuatnya semangat dan bahagia.


Di lain sisi, Nisa mengalihkan pandangan dengan rasa yang mengiris hati. Kini dia tau kenapa Devan tiba-tiba meninggalkannya 2 tahu silam.


Karena sebuah perjodohan, Devan meninggalkannya dan menjalani perjodohan itu.


Ada sedikit rasa kesal pada Devan karna tidak memiliki upaya untuk mempertahankannya. Paling tidak, mencoba untuk membawanya ke hadapan Tuan Chandra dan Nyonya Zoya seperti yang di lakukan oleh Andreas.


Tidak adanya upaya Devan untuk mempertahankannya, membuat Nisa merasa sakit. Dia jadi membandingkannya dengan pengorbanan Andreas yang sampai berani menentang Tuan Chandra demi bisa menikahinya.


Sedangkan Devan pergi begitu saja tanpa kabar. Membiarkan hubungan mereka tanpa kepastian.


Tak ada upaya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Tapi malah menghilang tanpa kabar.


"Aku harus berpura-pura di depan semua orang jika pernikahan kami baik-baik saja. Kedua orang tuaku bahkan mengira kalau aku sangat bahagia, seperti yang kamu bilang tadi. Hanya karna melihat aku dan Devan baik-baik saja, dan akan di karuniai seorang anak, mereka jadi berfikir kami bahagia." Irene menghapus air matanya yang mulai membasahi pipi.


"Tapi Kak Irene sedang hamil sekarang. Bukankah itu artinya hubungan kalian baik-baik saja.?" Tanya Nisa. Dia tak bisa sepenuhnya percaya dengan perkataan Irene yang menyebut bahwa dirinya tidak bahagia, sedangkan dari pernikahannya dengan Devan, Irene sampai mengandung.


Dan kehamilan itu sudah pasti karna ada hubungan suami istri.


"Selama lebih dari 1 tahun pernikahan, Devan tak pernah menyentuh ku. Apa kamu yakin aku bisa hamil jika tidak melakukan apapun.?" Ucap Irene dengan senyum menyayat hati.


"Aku sampai mencampurkan obat pada minuman Devan malam itu agar dia mau menyentuhku."

__ADS_1


"Jika tidak, mungkin sampai detik ini aku belum hamil." Irene mengusap perutnya yang terlihat lebih menonjol dengan balutan baju yang ketat.


Nisa terlihat tak percaya mendengar penuturan Irene. Dia sampai kehabisan kata-kata dan hanya bisa diam dengan segala pikiran yang berkecamuk.


__ADS_2