Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 62


__ADS_3

Nisa berlari menuju ballroom dengan wajah panik. Dia tak menghiraukan perintah Andreas yang melarangnya keluar dari kamar hotel. Karna dia tidak bisa tinggal diam di dalam kamar hotel, sedangkan tidak tau kekacauan seperti apa yang terjadi di ballroom hingga membuat Andreas begitu khawatir saat meninggalkan kamar.


Sampainya di ballroom, banyak tamu undangan yang bergegas pergi meninggalkan ruangan itu dengan buru-buru. Beberapa polisi terlihat memberikan arahan pada tamu undangan untuk mengosongkan ballroom.


Nisa dibuat kebingungan karna tidak melihat Andreas dan yang lainnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi,," Gumam Nisa bingung. Dia terus mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan anggota keluarga Andreas maupun Irene.


"Benar, semua keluarganya di sekap di ruangan make up,," Ujar salah satu tamu undangan yang kebetulan lewat di samping Nisa. Tamu undangan itu sedang berbicara dengan temannya.


Nisa langsung menoleh, menatap seseorang yang baru saja memberikan petunjuk dimana semua anggota keluarganya berada.


Nisa berusaha masuk di ruang make up meski banyak polisi yang melarangnya. Namun setelah mengatakan jika dirinya menantu dari Tuan Chandra, akhirnya dia di ijinkan untuk masuk ke dalam.


"Kalian baik-baik saja.?" Devan meletakkan sebelah tangannya pada pipi Irene. Dia menatap sendu wanita yang lebih dari 2 tahun menjadi istrinya. Untuk pertama kalinya, Devan memberikan tatapan sendu pada Irene. Tatapan sendu yang bercampur dengan kekhawatiran.


Dia juga menghapus air mata Irene yang terus menetes karna menangisinya.


Setelah itu, Devan mengusap lembut perut besar Irene. Kekhawatirannya semakin besar mengingat perut Irene yang sempat di lempari dengan map tebal.


"Jangan pikirkan aku, aku baik-baik saja." Suara Irene tercekat. Dia berusaha menutupi luka sayatan di pinggang Devan menggunakan tangannya.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit, kamu mengeluarkan banyak darah." Ucap Irene. Dia terlihat sangat kacau melihat kondisi Devan.


Ketulusan cinta Irene pada Devan memang tak bisa di selami untuk mengukur seberapa dalam rasa cintanya.


Meski bertahun-tahun kehadirannya tak memiliki arti sedikitpun untuk Devan. Bahkan laki-laki itu terang-terangan mengatakan tidak mencintainya, juga tak pernah menyentuhnya layaknya seorang istri, namun rasa cinta Irene pada Devan tak memudar sedikitpun.


Nisa terdiam di tempat. Pemandangan di depan matanya menimbulkan rasa sakit dalam hatinya. Tatapan Devan pada Irene jelas disertai perasaan cinta dan kekhawatiran yang besar.


Sepertinya Devan mulai menyadari bahwa kehadiran Irene berarti dalam hidupnya.

__ADS_1


Nisa menarik nafas dalam. Kekhawatiran yang sempat ada saat melihat darah di tubuh Devan, kini sirna begitu saja dan berubah menjadi rasa sesak di dada. Mungkin memang takdir tak berpihak padanya untuk merebut Devan dari Irene.


"Annisa,, Kenapa kamu keluar.?!" Tegur Andreas. Dia buru-buru menggandeng tangan Nisa dan membawanya ke posisi yang lebih aman. Karna suasana di dalam ruangan itu masih kacau.


Apalagi Tuan Haris terus memberontak, dia tidak mau di bawa oleh polisi dan terus berteriak pada Tuan Frans.


"Kita lihat saja Frans.!! Aku juga akan menyeretmu ke penjara.!!"


"Kamu terlibat dalam kecelakaan 10 tahun yang lalu.!!"


"Dengarkan baik-baik Tuan Chandra.!! Besanmu itu yang sudah menyebabkan Anggara dan istrinya meninggal.!!" Seru Tuan Haris sembari menunjuk Fans dan menatapnya penuh amarah.


Fans terlalu serakah, berusaha untuk menguasai perusahaan bersama dengan menyingkirkan kedua sahabatnya sendiri demi memiliki perusahaan itu seutuhnya.


Seketika tubuh Nisa merosot ke lantai. Dia tak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri setelah mendengar kenyataan pahit itu.


Kecelakaan 10 tahun yang lalu yang mengakibatkan kedua orang tuanya meninggal dunia, ternyata perbuatan orang tua Irene.


"Nisa,, kamu kenapa.?" Andreas mengangkat wajah Nisa agar menatapnya. Dia tidak tau apa yang terjadi pada istrinya itu. Tiba-tiba saja Nisa bersimpuh di lantai dengan kondisi yang sangat kacau.


Pandangan mata Nisa menerawang jauh dengan air mata yang terus menetes. Ada kehancuran dan amarah dalam sorot matanya.


Sementara itu, polisi bergegas mengamankan Tuan Haris dan anak buahnya. Sedangkan Irene meminta bantuan pada kedua orang tuanya dan orang tua Devan untuk membawa Devan ke rumah sakit.


...****...


Andreas menuntun Nisa keluar dari ballroom untuk pergi ke basemen. Andreas memutuskan untuk membawa Nisa pulang ke apartemen karna Nisa tak mau bicara dan hanya menangis.


Nisa belum juga bersuara. Dia tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Andreas berulang kali. Hal itu membuat Andreas kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu.


Sampainya di apartemen, Andreas mendudukkan Nisa di ruang keluarga. Dia berjongkok di depan Nisa untuk melepaskan high heelsnya.

__ADS_1


"Tunggu disini." Pinta Andreas. Dia menyimpan sepatu Nisa di sisi sofa dan beranjak ke dapur untuk membuatkan teh hangat.


Saat Andreas kembali, Nisa masih diam dalam posisinya. Tatapan matanya juga masih menerawang jauh. Sesekali meneteskan air matanya yang tak kunjung berhenti meluapkan kesedihannya.


"Minum dulu." Andreas menyodorkan secangkir teh hangat pada Nisa dan ikut duduk di sebelahnya.


"Katakan padaku ada apa.?" Tanya Andreas. Dia mengambil cangkir dari tangan Nisa setelah Nisa selesai meminumnya.


Andreas tidak bisa berhenti mengkhawatirkan kondisi Nisa. Dia dibuat gelisah melihat kesedihan dan kehancuran di mata Nisa yang disertai dengan tangisan memilukan.


"Apa kamu bisa membantuku?" Lirih Nisa. Andreas satu-satunya orang yang bisa dimintai bantuan untuk menyelidiki kasus kematian kedua orang tuanya.


"Aku ingin tau, apa benar Tuan Frans yang sudah menyebabkan kedua orang tuaku meninggal." Suara Nisa bergetar. Dia merasakan sakit yang amat menusuk tatkala mengingat kematian kedua orang tuanya yang begitu tragis akibat kecelakaan.


Dan ternyata kecelakaan itu sudah di rencanakan oleh orang tua Irene.


"Orang tuamu.?" Andreas menautkan alisnya.


"Jadi orang yang sengaja di bunuh oleh Tuan Frans dalam kecelakaan itu adalah orang tuamu.?" Tanyanya.


Nisa mengangguk cepat. Air matanya kembali mengalir mengingat kedua orang tuanya yang sengaja dilenyapkan hanya karna seseorang yang gila harta dan kekuasaan.


"Aku juga terlibat dalam kecelakaan itu."


“Tapi takdir masih berpihak padaku dan membiarkan aku tetap hidup." Tutur Nisa.


’’Untuk membalas perbuatan orang-orang biadab seperti kalian.!!"


Batin Nisa penuh amarah.


Semua orang yang saat ini ada disekelilingnya, ikut andil dalam kehancuran hidupnya.

__ADS_1


Mereka saling berkaitan, merampas kebahagiaan orang yang tak bersalah.


__ADS_2