
"Ya ampun,, Momi sampai di cuekin." Ledek Nisa pada putranya. Kenzie tengah duduk di samping Andreas dan sedang di suapi.
Sejak tadi keduanya sibuk mengobrol dan mengabaikan Nisa yang duduk di depan mereka.
"Momi mau di suapi Papi.?" Ucapan Kenzie sontak membuat Nisa kaget. Begitu juga dengan Andreas. Keduanya jadi saling pandang sampai akhirnya Nisa menolak sembari menggelengkan kepala.
"Momi malu Zie,," Jawab Andreas saat Kenzie bertanya kenapa Mominya tidak mau di suapi.
"Jangan malu Momi. Zie tidak malu,," Kenzie menyuruh Nisa agar tidak malu di suapi Andreas, dan mengatakan kalau dia juga tidak malu di suapi oleh Papinya.
"Apa zie mau es krim.?" Nisa mengalihkan pembicaraan, takut nanti Kenzie meminta Andreas agar menyuapinya.
"Es klim, mau Momi." Sahut Zie antusias.
"Ok, Momi pesankan dulu es krimnya." Nisa buru-buru memanggil pelayan dan memesankan es krim untuk putranya.
"Kamu tidak menawariku.?" Ucap Andreas saat Nisa sedang memesan es krim untuk Kenzie.
Nisa lantas menatap Andreas.
"Mau.?" Tanyanya. Andreas mengangguk sebagai jawaban.
"Tambah vanilla mint satu." Kata Nisa pada pelayan. Dia memesankan es krim untuk Andreas sesuatu dengan rasa favorit pria itu.
"Kamu masih ingat.?" Andreas menatap haru. Ada perasaan bahagia yang tiba-tiba menyeruak lantaran Nisa masih ingat dengan rasa es krim favoritnya. Padahal dulu hanya 2 kali mereka makan es krim bersama.
"Kamu pikir aku amnesia.?" Jawab Nisa datar. Dia menutup buku menu dan mengembalikannya pada pelayan.
"Bukan begitu maksudku,," Andreas hampir saja tertawa lantaran mendengar jawaban Nisa menurutnya lucu.
Atau mungkin karna pertanyaannya yang ambigu sampai Nisa menjawab seperti itu.
"Tapi kamu bertanya aku masih ingat, seolah-olah aku sedang lupa ingatan." Potong Nisa. Dia masih memasang ekspresi datar walaupun nada bicaranya terdengar kesal.
"Kalau begitu apa lagi yang kamu ingat tentangku.?" Andreas menatap dengan tatapan dalam. Perlahan sudut bibirnya terangkat, dia mengulas senyum yang hanya bisa di artikan oleh Nisa jika memang wanita itu masih mengingat semua tentang Andreas.
"Jangan bercanda Andreas, ini tempat umum." Tegur Nisa. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain lantaran ingin menghindari tatapan Andreas.
"Aku tidak bilang apapun Nisa, jadi mereka tidak akan tau apa yang sedang kita bahas." Andreas terlihat sengaja memajukan badannya, dia malah menatap Nisa tak berkedip untuk menggodanya.
Dia di buat gemas dengan ekspresi wajah Nisa yang sedang menahan malu.
"Tapi kamu tersenyum seperti itu." Protes Nisa, bibirnya mencebik kesal melihat Andreas memasang tatapan dan senyum mesumnya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa dengan senyumku.?" Bukannya berhenti, Andreas malah semakin semangat mengoda Nisa.
Tapi seketika dia berhenti lantaran Nisa mengancam akan kembali ke kamar dan meninggalkan mereka berdua di restoran.
"Jangan marah,,," Entah sudah berapa kali Andreas bicara seperti itu.
"Asataga,, aku tidak marah Andreas." Nisa memberikan jawaban yang sama.
"Ayo habiskan es krimnya Zie. Momi ingin membeli sesuatu," Nisa menyuapkan es krim ke mulut putranya.
"Mau beli apa.?" Andreas tampak menatap penasaran.
"Oleh-oleh untuk karyawan di kantor." Jawab Nisa.
...*****...
"Ada apa.?" Tiara memasang wajah datar. Dia tidak mempersilahkan Aditya untuk masuk, tapi langsung menodongnya dengan pertanyaan.
"Aku mau mengajakmu makan siang. Kamu boleh pergi kan.?" Tanya Aditya. Dia merasa masih punya hutang pada Tiara setelah Tiara membantunya. Jadi selama Nisa dan Andreas pergi ke Bali, dia akan sering-sering mengajak Tiara pergi ke luar. Lagipula kasihan juga melihat Tiara hanya sendiri di rumah dengan dua orang laki-laki di sana.
"Makasih, tapi aku baru selesai makan." Jawab Tiara.
"Mungkin lain kali, aku juga sedang sibuk membereskan mainan Kenzie." Tiara menolak ajakan Aditya. Sebenarnya bisa saja meninggalkan pekerjaannya dan di kerjakan nanti malam, tapi kejadian semalam membuatnya enggan untuk terlalu dekat dengan Aditya.
Dia tak mau merasakan sakit hati yang lebih menyakitkan dari sebelumnya.
"Kalau begitu aku saja yang makan disini. Apa makanannya masih ada.?"
Tiara menatap heran mendengar permintaan Aditya. Entah kenapa dia merasa kalau Aditya hanya sedang mencari alasan untuk bisa bersamanya.
"Tidak Tiara, buang jauh-jauh pikiranmu itu.!" Batinnya.
Tiara buru-buru menipisnya pikirannya, dia tak mau berasumsi apapun tentang perasaan Aditya padanya.
"Aku hanya memasak untuk 3 orang. Pak Dito dan Aldo belum makan." Tiara menjawab apa adanya. Dia tidak mungkin memberikan jatah makan siang mereka untuk Aditya.
"Kalau begitu aku pesankan makanan untuk mereka. Makanan buatanmu biar aku yang makan." Ucap Aditya tegas. Dia langsung mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi untuk memesan makanan.
Tiara sampai melotot melihat sikap Aditya yang terkesan seenaknya sendiri. Dia bahkan sampai melarang Aditya dan memintanya untuk pergi, tapi laki-laki itu menolak.
"Kamu mau membereskan mainan Kenzie bukan.? Biar aku bantu." Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, Aditya menyelonong masuk begitu saja ke dalam rumah.
"Kak mau apa.? Di dalam tidak ada orang lain." Tiara segera mengejar langkah Aditya. Dia tidak mungkin membiarkan Aditya masuk karna bukan pekerja di rumah Nisa.
__ADS_1
Dia juga tidak mau di tuduh macam-macam oleh supir dan satpam di rumah ini.
"Memangnya kenapa.? Aku hanya bertamu sebentar, bukan mau menginap." Jawaban santai Aditya membuat Tiara semakin geram. Di tambah tingkah Aditya yang langsung duduk di depan meja makan tanpa permisi.
"Jangan khawatir, aku sudah meminta ijin pada majikan kamu sebelum datang ke sini." Pengakuan Aditya tak lantas membuat Tiara percaya. Sebisa mungkin dia berusaha untuk mengusir Aditya.
...****...
"Pakai ini saja,," Andreas menyodorkan kartu atm miliknya saat Nisa akan membayar barang belanjaannya.
"Tidak usah Ndre, makasih,," Nisa menolak halus dengan mendorong pelan tangan Andreas, menyuruh pria itu untuk memasukkan kembali kartu miliknya.
"Anissa,," Suara teguran Andreas menarik perhatian wanita 25 tahun itu. Nada bicara Andreas penuh penekanan, begitu juga dengan tatapan mata yang sendu bercampur memohon.
Andreas kembali menyodorkan atm itu dan membuat Nisa terpaksa menerimanya. Dia hanya tidak mau memperpanjang urusan lagi hanya karna menolak niat baik Andreas.
Andreas tampak mengukir senyum lebar saat Nisa mengambil kartu dari tangannya. Setidaknya dia bisa merasakan kembali memberikan uang pada sangat istri setelah 3 tahun tak meberikan kewajibannya itu.
Dan mungkin saja itu akan menjadi pemberian terakhir sebelum status mereka berubah.
"Pinnya.?" Tanya Nisa.
"Tanggal lahir Kenzie." Jawab Andreas.
Niea sedikit terkejut mendengarnya.
"Bagaimana kamu tau.?" Tanyanya. Karna sejak bertemu kembali dengan Andreas, dia tak pernah memberitahukan tanggal lahir putranya.
"Aku bertanya pada Tiara."
Jawaban Andreas membuat Nisa menganggukkan kepala. Dia tidak berfikir sampai ke sana. Mungkin tidak hanya tanggal lahir Kenzie saja yang di tanyakan oleh Andreas pada Tiara. Bisa jadi Andreas mengorek informasi tentang kehidupan dia dan Kenzie selama ini.
Nisa lalu membayar semua barang belanjaannya, kemudian mengajak Andreas dan Zie untuk kembali ke hotel lagi lantaran harus menaruh semua belanjaannyan, dan setelah itu mereka akan pergi ke pantai.
"Kamu gendong Zie saja, biar aku yang bawa belanjaannya." Andreas menurunkan putranya. Dia mengambil 8 paper bag besar dari tangan Nisa.
Pria itu benar-benar sigap dan sangat perhatian pada Nisa hingga tidak bisa melihat Nisa kerepotan.
"Makasih Ndre,," Ucap Nisa tulus.
Setelah menggendong Kenzie, Nisa mengikuti langkah Andreas di sampingnya.
Inilah sifat Andreas yang dulu Nisa kenal. Dia sangat baik, penuh kelembutan dan perhatian. Bukan Andreas yang dulu meninggalkannya dan saat bertemu kembali pura-pura tidak melihatnya.
__ADS_1