
Menutup telfon seraya melirik kesal ke arah Aditya. Tiara tak habis pikir bagaimana bisa Nisa mengijinkan Aditya untuk menginap di rumah itu. Entah apa yang telah di katakan Aditya pada tuan rumah sampai mengijinkan Aditya menginap 1 malam disana.
Tiara tak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusan dari majikannya itu. Dia tidak berani protes untuk menyuruh Nisa melarang Aditya menginap.
"Bagaimana.? Masih mau bilang kalau aku bohong.?" Kata Aditya dengan senyum meledek yang tertahan. Sekarang dia bisa membuat Tiara percaya kalau Nisa benar-benar mengijinkannya menginap di rumah ini. Sebelumnya Tiara tak mau percaya dan menganggapnya mengarang cerita sampai tak ada belas kasihan hingga mengusirnya puluhan kali.
Tiara mendengus kesal. Dia tak meladeni perkataan Aditya, gadis cantik itu memilih untuk beranjak dari meja makan lantaran malas jika harus berdebat lagi dengan laki-laki menyebalakan yang suka seenaknya sendiri.
"Hey, mau kemana kamu.?" Aditya ikut beranjak dari duduknya untuk mengejar langkah Tiara. Bisa-bisanya Tiara pergi begitu saja disaat belum selesai berbicara dengannya.
"Aku sakit perut, apa Kak Adit mau ikut ke toilet.?!" Jawab Tiara menahan kekesalan.
Semakin lama dia merasa bahwa kekesalannya pada Aditya semakin besar saja. Mungkin karna Aditya selalu muncul di hadapannya dengan membuat ulah. Atau hanya perasaan Tiara saja lantaran sudah kecewa pada Aditya hingga membuat laki-laki itu tampak menyebalkan di matanya.
Seketika Aditya mengurungkan niat untuk mengikuti Tiara. Dia berhenti di tempat dan berbalik badan kembali ke meja makan untuk menghabiskan makan malamnya.
Sayangnya setelah menunggu 1 jam, gadis itu tak menampakkan batang hidungnya lagi. Makan malam yang masih tersisa di piringnya bahkan dibiarkan begitu saja.
"Anak itu benar-benar." Gumam Aditya yang baru menyadari kalau sebenarnya Tiara pergi ke kamar dan mungkin mengunci diri disana.
Aditya membereskan meja makan lebih dulu dan mencuci piring sebelum pergi dari ruang makan. Dia tidak mungkin membiarkan beberapa piring dan gelas kotor masih tergeletak di ata meja makan.
Sementara itu, Tiara yang sedang memantau Aditya lewat cctv, sedikit tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh Aditya untuk membereskan meja makan.
Setidaknya di balik sikap Aditya yang suka seenaknya sendiri padanya, laki-laki itu masih punya niat baik untuk meringankan pekerjaannya.
...*****...
__ADS_1
"Kenzie sudah tidur lagi.?" Tanya Andreas lirih setelah masuk ke dalam ruang tidur Nisa.
Wanita yang tengah memeluk putranya itu menjawab dengan anggukan kecil. Dia tidak berani bersuara karna Kenzie baru saja memejamkan mata dan takut terbangun jika mendengar suaranya.
Andreas berjalan mendekat. Dia menatap putranya dengan tatapan bersalah lantaran baru saja membuat putranya itu menangis.
Tadi saat pukul 12 malam, Kenzie terbangun bertepatan dengan dirinya yang akan melakukan virtual meeting dengan rekan bisnisnya yang ada di Amerika.
Dia tidak bisa menuda meeting lagi karna sedang membahas projek penting. Sedangkan Kenzie malah menangis saat dia pamit untuk keluar dari kamar.
Beruntung Nisa dengan sigap memberikan pengertian pada putra mereka walaupun Kenzie masih menangis selama beberapa menit sejak Andreas keluar dari kamar itu.
"Sudah selesai.?" Tanya Nisa lirih. Dia tampak kasihan melihat wajah lelah Andreas. Pasti dia tidak konsentrasi karna harus meeting tengah malam seperti ini bahkan sampai pukul 2 pagi.
Perbedaan waktu 11 jam lebih cepat antara Indonesia dan Amerika, mengharuskan Andreas meeting tengah malam seperti ini agar menyesuaikan dengan jam kerja di Amerika.
Selama virtual meeting dia tidak bisa fokus karna memikirkan tangisan Kenzie. 2 jam bertahan untuk menyelesaikan meeting, tapi rupanya masih banyak yang harus mereka bahas. sampai akhirnya Andreas meminta untuk mengakhiri meeting dan melanjutkannya di hari berikutnya.
"Jangan terlalu di pikirkan, anak-anak menangis itu hal yang wajar, apalagi hanya karna tidak mau di tinggal bekerja." Nisa memberikan pengertian pada Andreas setelah melepaskan Kenzie dari dekapannya. Dia agak sedikit menjauh supaya suaranya tidak menganggu tidur nyenyak Kenzie.
"Kalau kamu mengikuti kemauan Kenzie, sudah pasti 24 jam kamu akan di sampingnya dan bisa bekerja." Ujarnya lagi. Andreas menatap Nisa dan mengangguk paham. Dia lantas mendaratkan kecupan di kening Kenzie.
Laki-laki itu semakin kagum saja pada Nisa. Pasti banyak kesulitan yang harus di lalui oleh Nisa selama membangun bisnisnya sembari mengurus Kenzie. Karna dia merasakan bagaimana fokusnya terbagi selama meeting. Pikirannya terus tertuju pada Kenzie yang menangis dan memanggil namanya.
Entah bagaimana Nisa bisa mengembangkan bisnisnya selama ini. Dan jika Kenzie sakit, pasti juga bukan hanya pikirannya saja yang terbagi, melainkan waktu serta tenaganya.
Andreas kemudian berpindah ke sisi ranjang satunya dimana Nisa tengah berbaring di sana.
__ADS_1
Wanita itu tampak bingung melihat Andreas yang naik ke atas ranjang dan berbaring di sampingnya. Dia sampai harus bergeser ke tengah agar badan Andreas bisa muat seluruhnya di atas kasur.
"Harusnya kamu tidur di sana Ndre,," Lirih Nisa seraya menunjuk di sisi ranjang yang tadi sempat di duduki oleh Andreas.
"Aku ingin tidur di sampingmu dan memelukmu seperti ini." Andreas melingkarkan tangannya, dia mendekap erat tubuh Nisa dari belakang.
"Kamu telah melewati hari-hari yang sulit selama ini. Kedepan, aku tidak akan membiarkanmu berada dalam kesulitan sekecil apapun." Suara Andreas tercekat. Dia tidak sanggup membayangkan penderitaan Nisa selama dia meninggalkannya.
Nisa tertegun, perkataan Andreas membuatnya terharu. Setiap kata yang keluar dari bibir Andreas terdengar sangat tulus.
"Jangan penah takut lagi menghadapi dunia, selama ada aku di sini, aku akan menjagamu dan Kenzie melebihi diriku sendiri." Ucapnya. Bukan sebuah bualan ataupun omong kosong belaka, tapi janji yang akan Andreas tepati untuk menebus semua kesalahannya pada mereka berdua.
Manik mata Nisa mulai mengembun. Ucapan Andreas menginginkan kembali akan perjuangannya selama ini untuk tetap hidup dan berdiri tegak demi Kenzie. Banyak kepedihan yang tak pernah dia ceritakan pada siapapun dan memilih memendamnya sendiri. Karna dia tak memiliki bahu untuk bersandar dan membagi keluh kesahnya selama ini.
Meskipun ada Mella yang selalu siap mendengarkan keluh kesahnya, namun Nisa enggan membebankan Nisa dengan segala permasalahan hidupnya.
Seketika air matanya luruh karna tak kuasa di bendung. Tubuh Nisa bergetar, dia menahan tangisnya agar tidak pecah.
Mendapati Nisa menangis, Andreas merasakan sesak di dadanya. Tangisan Nisa saat ini sudah cukup menjelaskan bagaimana beratnya kehidupan yang di jalani oleh Nisa selama ini.
"Menangislah jika itu membuatmu jauh lebih tenang." Ucap Andreas dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia lalu membalik tubuh Nisa agar menghadap ke arahnya.
Tangis Nisa semakin pecah begitu mendengar ucapan Andreas, dia juga menghambur dalam dekapan pria itu dengan membenamkan wajahnya di dada bidang Andreas.
Nisa menumpahkan semua kesedihan, rasa kecewa, lelah dan sakit hati yang selama ini sudah menggunung di dalam hatinya.
Sosok seperti ini yang sejak dulu dia butuhkan untuk membagi semua keluh kesahnya. 3 tahun dia menunggu Andreas kembali, menunggu sandaran ternyaman untuk berbagi keluh kesahnya selama ini.
__ADS_1
"Maafkan aku Anissa, maafkan aku,," Andreas mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala Nisa. Dia bahkan ikut meneteskan air mata karna tangis Nisa begitu memilukan dan membuatnya ikut merasakan kepedihannya.