
Suara dering ponsel memaksa Andreas untuk beranjak dari ranjang. Dia menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya yang hanya berbalut celana pendek. Sementara itu, Nisa masih terdiam di balik selimut yang sama. Dia memperhatikan Andreas yang duduk di sisi ranjang sembari mengangkat panggilan telfon dari seseorang.
"Ada apa.?!" Suara Andreas terdengar ketus, membuat Nisa penasaran siapa orang yang sedang menelfon Andreas.
"Apa.?!! Kau bercanda bukan.?!" Andreas sontak berdiri dari duduknya. Dia menoleh sekilas ke arah Nisa dengan raut wajah panik.
"Ya, aku akan segera turun.!" Serunya kemudian mematikan sambungan telfon dan meletakkan ponselnya begitu saja di atas nakas.
Andreas buru-buru memunguti pakaiannya yang beberapa masih berserakan di lantai.
"Ada apa Ndre.? Apa terjadi sesuatu.??" Nisa beranjak dari ranjang dengan tubuh yang berbalut selimut. Dia mendekati Andreas yang tak kunjung menjawab pertanyaannya karna sibuk memakai bajunya.
"Tunggu disini, jangan pergi kemanapun.!" Tegasnya.
"Aku akan segera kembali." Andreas memeluk Nisa sekilas, dia juga mendaratkan kecupan singkat di kening Nisa.
"Tidak Ndre,, kamu harus jawab dulu pertanyaanku." Nisa mencekal pergelangan tangan Andreas, dia tak bisa membiarkan Andreas pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa yang sebenernya terjadi hingga membuat laki-laki itu begitu khawatir dan syok.
"Kekacauan terjadi di ballroom. Aku harus memastikan Papa dan Mama baik-baik saja." Sahut Andreas cepat. Kepanikan semakin tergambar jelas di wajahnya. Dia mencemaskan keadaan Tuan Chandra dan Nyonya yang kabarnya masih terjebak di dalam ballroom setelah beberapa penyusup menyandera semua orang yang masih ada di ballroom.
Penyusup yang diketahui sebagai musuh dari keluarga Irene.
"Kekacauan apa Ndre.? Jangan membuatku khawatir,," Nisa mendadak cemas. Dia teringat pada Devan yang ada di ballroom tersebut.
Melihat kepanikan di wajah Andreas, Nisa bisa menebak jika kekacauan yang terjadi sangat berbahaya.
Andreas terdiam. Dia menatap lekat wajah Nisa yang begitu khawatir. Andreas paham untuk siapa kekhawatiran yang di rasakan oleh Nisa.
Dia yakin istrinya itu sedang mengkhawatirkan mantan tunangannya.
"Jangan khawatir, aku pastikan mereka akan baik-baik saja." Ucap Andreas lirih. Sebisa mungkin dia memberikan jawaban yang bisa membuat Nisa lebih tenang.
"Turuti saja perintahku. Jangan coba-coba untuk membuka pintu kamar, apalagi datang ke ballroom." Pesannya kemudian buru-buru pergi tanpa menghiraukan Nisa yang terus memanggilnya.
__ADS_1
...****...
"Aku takut,," Irene semakin membenamkan wajahnya dalam dekapan Devan. Tubuhnya bergetar menahan rasa takut yang menyelimuti hati dan pikirannya. Dia bahkan tidak berani mengangkat wajah untuk melihat apa yang ada di depannya sebelum Devan berlari ke arahnya dan membawanya dalam dekapan.
"Jangan biarkan sesuatu terjadi pada kedua orang tuaku,," Lirihnya dengan suara menahan tangis.
Dia sempat melihat kedua orang tuanya di ancam menggunakan pisau oleh beberapa laki-laki bertubuh tinggi. Sampai akhirnya semua keluarganya di sekap di dalam ruang make up. Termasuk Tuan Chandra dan Nyonya Zoya.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Devan sembari memberikan usapan di punggung Irene untuk menenangkannya.
Beruntung sebelum di sekap dalam ruang make up, Devan sempat menghubungi Andreas.
Sekalipun Andreas tidak melihat keberadaannya di ballroom, setidaknya banyak tamu undangan yang melihat mereka di bawa ke ruang make up.
"Apa kau tuli.?!!" Bentak seorang laki-laki paruh baya yang di ketahui sebagai rekan bisnis orang tua Irene.
"Cepat tanda tangani surat perjanjian itu.!!" Desaknya sembari menyodorkan map berisi selembar kertas tentang perjanjian yang berhubungan dengan perusahaan mereka.
"Aku tidak akan menandatanganinya.!" Seru Tuan Frans. Dia menolak menandatangani surat perjanjian yang sebenarnya sudah mereka sepakati bersama sebelum membangun perusahaan itu bersama-sama.
"Jangan salahkan aku jika bukti kejahatan mu di masa lalu tersebar di seluruh penjuru negeri.!!"
"Jika itu terjadi, kamu bukan hanya kehilangan perusahaan itu, tapi juga membusuk di penjara.!" Haris mengarahkan pisau pada leher Frans.
Sudah berkali-kali dia mencoba berbicara baik-baik pada Fans, namun sahabatnya itu semakin berbuat seenaknya untuk menguasai perusahaan yang sejak dulu mereka bangun bertiga.
Fans bahkan menjadi otak dalam pembunuhan sahabat mereka yang seharusnya masih menjadi bagian dari Airlangga Group.
Pembunuhan yang terjadi belasan tahun silam itu tersimpan rapat-rapat tanpa meninggalkan jejak mencurigakan sedikitpun.
"Tidak Haris,, jangan sakiti suamiku." Nyonya Dilla menatap sendu.
"Aku tidak akan berbuat gila jika bukan karna keserakahan suami mu.!!" Bentak Haris. Selama bertahun-tahun dia mempercayakan perusahaan mereka di pimpin oleh Fans karna hanya Frans yang paling handal membangun perusahaan agar berkembang pesat.
__ADS_1
"Dia sudah melenyapkan satu sahabatnya.! Sekarang dia juga berniat menusuk ku dari belakang.!!" Bentak Haris. Dia tak segan-segan menekankan pisau di leher Fans.
"Tidak.! Papa tidak mungkin berbuat seperti itu.!" Irene tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan Devan. Dia setengah berlari menghampiri sang Papa yang menurutnya dalam bahaya.
"Irene.!!" Devan bergegas mengejar Irene, namun dua orang laki-laki menghadang Devan. Satu di antaranya bahkan memukul perut Devan hingga membuat Devan tersungkur.
Tuan Chandra dan Nyonya Zoya reflek menyebut nama Devan saat melihat putranya di pukul. Keduanya tak bisa berbuat apapun karna kaki dan tangan mereka bahkan di ikat.
"Lepas Om, aku mohon jangan sakiti Papa." Irene bersimpuh di lantai. Dia memohon pada sahabat Papanya yang sejak dulu dia anggap seperti Papanya juga.
"Kalau tidak mau terjadi sesuatu pada Papamu, maka bilang padanya untuk segera menandatangani surat perjanjian ini.!" Haris melemparkan map hitam itu pada Irene. Bahkan sampai mengenai wajah dan perut Irene. Membuat wanita itu meringis kesakitan karna map tebal yang mengenai wajah dan perutnya.
Devan terlihat mengepalkan kedua tangannya. Dia bergegas menghampiri Irene meski harus menghajar 2 orang yang menghalanginya.
"Kamu akan menanggung akibatnya jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku.!" Devan mencengkram leher Haris.
Sontak membuat Haris reflek menggerakkan tangan kanannya yang sedang memegang pisau hingga mengenai pinggang Devan.
Kemeja yang dia pakai bahkan robek. Pisau itu tak hanya menggores kain yang melekat di tubuh Devan, tapi juga menggores pinggang Devan y
sampai mengeluarkan darah.
"Devan,,!!" Irene dan kedua orang gua Devan berteriak. Ketiganya syok dan cemas melihat ada darah yang keluar dari tubuh Devan.
Braaakkk..!!!
Suara pintu yang di buka paksa, membuat Haris dan ke 6 anak buahnya kalang kabut. Apalagi mereka melihat banyak polisi yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Jangan bergerak.!!" Bentak polisi sembari mengarahkan senjata mereka pada Haris dan anak buahnya.
Mereka tak bisa berkutik dan pasrah begitu saja.
Sementara itu, Andreas buru-buru melepaskan ikatan di tangan dan kaki kedua orang ruangan.
__ADS_1
Sedangkan Irene buru-buru menghampiri Devan dan hanya bisa menangis melihat Devan yang semakin banyak mengeluarkan darah.