
"Kak Irene harus makan. Menangis juga butuh tenaga." Ucap Nisa seraya menyodorkan sendok di depan mulut Irene.
"Lagipula menangis tidak akan membuat seseorang yang telah pergi akan kembali." Nisa menekankan setiap kalimatnya. Dia bahkan melirik ke arah Devan sembari tersenyum tipis.
Sekali teluk dua lalat berada dalam genggaman. Istilah itu sangat cocok dengan situasi saat ini. Sindiran halus Nisa berhasil membuat Irene dan Devan tersentil.
Kehilangan kedua orang tua dan laki-laki yang dulu sangat dia cintai, tak membuat mereka kembali meski hampir setiap hari menangisinya.
"Ayo buka mulutnya,,"
"Jangan sampai terjadi sesuatu pada bayi di dalam perut Kak Irene,," Nisa tersenyum untuk membujuk Irene. Senyum itu hanya di jadikan sebagai penutup luka yang saat ini sedang di rasakan oleh Nisa.
Melihat Irene menangis kehilangan, tak lantas mengurangi kepedihan yang selama ini Nisa rasakan akibat perbuatan Irene dan Tuan Frans.
Nisa berharap semua orang yang telah membuat hidupnya menderita, bisa merasakan penderitaan yang sama.
Kejam memang, tapi semua itu pantas untuk mereka dapatkan.
Irene menatap nanar dengan air mata yang terus mengalir. Perlahan dia mau membuka mulutnya dan mau memakan suapan dari tangan Nisa.
Nyonya Zoya dan Devan tampak bernafas lega melihat Irene mau makan. Karna sejak kemarin sangat susah untuk membujuknya makan. Bahkan membuat Devan kewalahan karna kesulitan membujuk istrinya itu.
"Aku hampir gila saat kehilangan kedua orang tuaku." Pandangan mata Nisa menerawang. Senyum di bibirnya juga terlihat getir. Luka belasan tahun silam terlalu membekas di hatinya.
"Aku juga menangis setiap hari, sepanjang malam berharap mereka akan kembali dan memelukku dalam kesepian." Nisa menatap Irene yang ternyata sedang menatapnya juga.
"Maafkan Papa," Lirih Irene dengan suara bergetar.
Nisa hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Lagipula mana mungkin dia bisa memaafkan manusia berhati iblis seperti Tuan Frans. Manusia yang menganggap bahwa nyawa seseorang lebih berarti daripada harta.
"Mama tinggal ke dalam sebentar,," Nyonya Zoya pamit pergi dari sana. Setidaknya dia sudah bisa tenang melihat Irene mau makan beberapa suap.
"Iya Mah,,," Nisa tersenyum tipis.
Sementara itu, Devan dan Andreas terlihat sedang berbicara. Keduanya berdiri cukup jauh dari tempat Nisa dan Irene duduk.
Nisa bahkan tidak melihat saat keduanya pergi dari sana, karena dia terlalu fokus menyuapi Irene sambil terus mengeluarkan isi hati sekaligus menyindirnya.
"Nisa sudah mengalami banyak penderitaan sejak kecil. Menurutmu apa yang akan terjadi padanya jika aku membuatnya semakin menderita.?" Bisik Andreas penuh penekanan. Dia menatap tajam pada Devan dengan mengulas senyum smirk.
__ADS_1
Devan seketika menatap ke arah Nisa. Soroti matanya jelas di penuhi dengan kecemasan. Dia tidak akan sanggup melihat Nisa lebih menderita lagi.
Dari tempatnya duduk, Nisa menatap bingung pada Devan yang terlihat cemas sembari melihat ke arahnya.
Tak berselang lama, Andreas juga menoleh ke arahnya. Namun laki-laki itu mengulas senyum manis padanya.
"Jangan coba-coba menyakitinya.!" Geram Devan. Tentunya dengan suara lirih agar tidak di dengar oleh orang lain.
"Sudah terlambat Kakakku tersayang.!" Jawab Andreas sembari menepuk bahu Devan.
"Siapkan saja hatimu untuk melihatnya menderita."
Andreas terkekeh kecil penuh kepuasan. Melihat Devan hidup tidak tenang dan terpuruk adalah tujuannya.
"Kamu pasti tau kalau Nisa tergila-gila dengan permainan panasku." Andreas tersenyum bangga.
"Mungkin sebentar lagi benihku akan tumbuh di rahimnya."
"Menurutmu bagaimana jika setelah anak itu lahir, aku mengambil dan membawanya pergi jauh dari Nisa.?" Ujar Andreas.
Mendengar niat jahat Andreas pada Nisa, membuat amarah Devan seketika memuncak.
Dia langsung mencengkram kerah kemeja Andreas.
Nisa langsung beranjak dari duduknya, dia reflek lantaran kaget tiba-tiba melihat Devan akan memukul Andreas.
"Devan.!!" TeriakNisa. Dia setengah berlari menghampiri keduanya.
"Apa yang kamu lakukan.?!!" Serunya sembari melepaskan cengkraman tangan Devan.
"Tidak apa sayang, mungkin aku salah bicara padanya,," Ucap Andreas lembut. Dia merangkul pundak Nisa sambil melirik Devan.
Hal itu sontak membuat Devan semakin emosi. Dia tidak tau jenis manusia apa yang ada di hadapannya saat ini. Andreas seperti memiliki dua kepribadian yang terlihat sangat mengerikan meski tidak melakukan kekerasan fisik.
Kepribadian Andreas yang pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran dalam diri Devan. Dia mengkhawatirkan Nisa yang saat ini sudah berada dalam genggaman Andreas.
"Kau benar-benar mengerikan Andreas.!!" Seru Devan tak habis pikir.
"Annisa,, aku mohon pergi sejauh mungkin dari Andreas. Jangan percaya apapun yang dia katakan.! Dia hanya ingin,,,
"Aku ingin mengambil hatinya." Ujar Andreas cepat. Dia memotong ucapan Devan.
__ADS_1
"Aku sudah tau tentang hubungan kalian di masa lalu." Tuturnya santai.
Nisa langsung menatap cemas. Dia tidak pernah bercerita pada Andreas, tapi laki-laki itu sudah mengetahuinya.
"Tidak udah takut," Lirih Andreas sambil tersenyum teduh pada Nisa.
"Aku bisa mengerti kalau kamu masih menyukainya."
"Aku sudah pernah bicara padamu bukan.? Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku percaya perlahan kamu akan mencintaiku sepenuhnya."
"Devan hanya tidak suka aku berusaha untuk mendapatkan hatimu."
Penjelasan Andreas membuat Nisa tak bisa berkata-kata. Dia tidak tau harus bersikap dan berbicara apa saat ini.
"Omong kosong macam apa yang kamu katakan.!" Ketus Devan.
Andreas terlalu pandai bersilat lidah. Dia bisa mengarang cerita dengan cepat.
"Ini kenyataan Devan.!"
"Kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa aku mencintai Nisa dan menginginkannya untuk selamanya.!" Jawab Andreas tegas.
"Dia terlalu sempurna untuk di sia-siakan."
"Menurutmu kenapa aku berani mentang Papa demi bisa menikah dengan Nisa.?"
"Tak seperti dirimu yang sama sekali tidak berusaha untuk memperjuangkannya."
"Kamu pasti lebih mengenalnya di banding aku."
"Dia wanita yang sangat menjaga kesuciannya. Jadi aku sangat beruntung bisa memilikinya."
Andreas tersenyum lebar. Senyum yang terkesan meremehkan Devan karna tidak bisa berbuat sesuatu untuk Nisa.
"Kita lihat saja Andreas.! Aku akan tunjukkan pada Nisa, seberapa mengerikannya dirimu.!" Geram Devan.
Devan hanya tersenyum miring, dia kemudian mengajak Nisa pergi dari sana.
"Kamu tidak perlu percaya padaku ataupun Devan, percaya saja dengan kata hatimu." Andreas membuyarkan lamunan Nisa.
"Bukankah hati lebih tau tentang kebenaran." Ujarnya lagi sambil tersenyum teduh.
__ADS_1
Nisa hanya diam saja, dia sulit untuk mencerna apa yang baru saja dia lihat dan dengar.
Dia tidak tau harus mempercayai ucapan Andreas ataupun Devan.