Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 152


__ADS_3

"Untung saja masih ada minuman kaleng yang sama di lemari pendingin." Gumam Tiara seraya membuang kaleng minuman yang sudah dia teguk sampai habis.


Karna tersedak saat sedang makan cemilan di dalam kamarnya dan kebetulan air minumnya habis, Tiara langsung lari ke dapur dan asal menyambar minuman kaleng di atas meja makan yang sudah dalam ke adaan terbuka.


Saat sudah meneguk setengahnya, Tiara baru sadar kalau minuman itu pasti punya seseorang yang baru saja mengambilnya dari lemari pendingin.


"Ya ampun, bagaimana ini." Gumamnya panik. Dia takut pemilik minuman itu akan marah kalau tau minuman itu di ambil olehnya.


Tiara kemudian bergegas membuka lemari pendingin untuk mengganti minuman kaleng yang sudah di teguk itu.


Beruntung masih ada 1 minuman kaleng yang sama di sana. Tiara membukanya agar dalam keadaan seperti sebelumnya, lalu meletakkan minuman kaleng itu di tempat yang sama.


Setelah itu dia buru-buru kembali ke kamarnya dengan membawa sisa minuman tadi.


"Sedang apa kamu.?" Suara Aditya mengagetkan Tiara yang baru saja membuang kaleng minuman di dapur.


"Memangnya Kakak tidak liat aku sedang apa.?" Bukannya menjawab, Tiara malah balik bertanya. Gadis itu kemudian bergeser dari dekat tempat sampah untuk membereskan beberapa gelas kotor yang ada di meja makan.


Helaan nafas keluar dari mulut Aditya. Entah kenapa sikap ketus Tiara membuat pikiran kacau akhir-akhir ini. Dia jadi terus memikirkan gadis itu.


Berdiri di tempat, Aditya memperhatikan setiap gerak gerik Tiara yang tengah memindahkan gelas kotor itu ke tempat cuci piring dan mulai mencuinya.


Memandangnya lekat, Aditya mencoba mencari jawaban atas apa yang dia rasakan pada gadis itu. Ada perasaan dalam hatinya yang bahkan tidak dia ketahui arti dari perasaan itu.


Mungkinkah cinta telah hadir dalam dirinya untuk sosok wanita yang baru dia kenal.?


Apa secepat itu dia mencintai wanita lain setelah merasakan sakit hati karna di tinggalkan.


Tak berusaha untuk menyangkal perasaannya, tapi Aditya juga tidak yakin akan perasaannya itu.


Rasanya terlalu cepat jika dia jatuh cinta pada Tiara. Itu sebabnya Aditya masih berusaha untuk memahami perasaannya sendiri.


"Ekhemm,," Aditya pura-pura berdehem untuk memulai percakapan dengan Tiara lantaran gadis itu tampak acuh seraya mencuci piring, padahal Tiara masih melihat keberadaannya di sana.


"Apa tidak ada sesuatu yang bisa aku minum.?" Tanya Aditya. Tiara yang baru selesai mencuci gelas seketika menoleh.

__ADS_1


"Banyak air mineral di lemari pendingin. Atau ambil saja di dispenser." Jawabnya datar.


"Aku ingin minuman hangat." Ucap Aditya.


"Di dispenser juga bisa keluar minuman hangat." Tiara kembali menyahuti perkataan Aditya dengan acuh. Padahal dia tau kalau Aditya ingin di buatkan teh hangat seperti kemarin malam.


Mendapati jawaban Tiara seperti itu, Aditya lalu berinisiatif mendekat ke arah dapur membuat mengambil cangkir untuk di sisi teh dan gula.


Tiara tampak memperhatikan apa yang dilakukan oleh Aditya. Dari mulai Aditya mengambil cangkir, mengambil teh dan meletakkan di dalam gelas. Lalu Aditya meraih toples kaca berisi garam.


"Apa tidak bisa membedakan mana garam mana gula." Celetuk Tiara seraya mengambil toples baca itu dari tangan Aditya dan memberikan toples yang berisi gula pada laki-laki itu.


Aditya sontak mengulum senyum tipis yang bahkan tak di sadari oleh Tiara. Sebenarnya dia bukan tidak tau isi toples yang dia ambil tadi, tapi Aditya sengaja mengambil garam untuk melihat seperti apa reaksi Tiara ketika melihatnya mengambil garam. Seandainya Tiara membiarkannya menuangkan garam itu ke dalam cangkir, artinya Tiara memang benar-benar kesal padanya dan tak peduli. Tapi ternyata Tiara malah dengan sigap menukarkan garam itu dengan gula. Ya walaupun dengan ekspresi wajah yang ketus.


...****...


10 menit, 15 ment, kini menjelang menit ke 20 Andreas masih setia menunggu reaksi dari obat yang telah dia campurkan pada minuman milik Nisa. Tapi wanita yang masih dia pijat itu belum menunjukkan reaksi apapun. Dia masih tenang menyelesaikan pekerjaannya di depan laptop.


"Kenapa lama sekali.? Apa obatnya kurang banyak.?"


Padahal tanpa dia tau, minuman kaleng itu sudah di tukar dengan minuman baru saat dia pergi ke kamar mandi lantaran tidak tahan untuk buang air kecil.


"Sayang,,," Panggil Andreas. Nada bicaranya terkesan manja. Seperti Kenzie saat sedang menginginkan sesuatu padanya.


Nisa menoleh, menatap menatap wajah Andreas yang tampak memelas.


"Sudah Ndre tidak usah di pijat lagi, kamu pasti cape." Ucap Nisa yang berfikir Andreas kelelahan karna terlalu lama memijatnya.


Andreas menggeleng. Jangan memijat pundak, meminta seluruh tubuh Nisa saja dia sanggup dan tidak akan merasa kelelahan.


"Apa masih lama.?" Tanyanya seraya menatap laptop milik Nisa.


Mendengar pertanyaan Andreas, seketika membuat Nisa paham apa yang sedang di inginkan oleh pria itu. Apalagi tadi sore dia sudah menjanjikan sesuatu pada Andreas. Pasti pria itu akan menagih janjinya.


Nisa menatap berkas dan laptop di atas meja, dia sedang dilema lantaran pekerjaannya belum selesai. Tapi di sisi lain dia sudah berjanji pada Andreas dan tidak mungkin untuk menundanya lagi.

__ADS_1


"Sebentar, aku bereskan dulu." Nisa bergegas membereskan berkas dan mematikan laptopnya.


Andreas tampak mengukir senyum lebar, tapi disini lain dia sebenarnya bingung karna sepertinya Nisa belum terpengaruh oleh obat itu.


Apa mungkin Aditya salah membeli obat.?


Karna sekalipun mencampurkannya sedikit, pasti tetap akan menimbulkan reaksi.


Sedangkan Nisa tak menunjukkan tanda-tanda apapun. Tapi meskipun begitu, Andreas tak mempermasalahkan lagi karna Nisa sudah bersedia untuk melakukannya.


"Disini saja, takut Zie bangun." Andreas menahan tangan Nisa ketika wanita itu hendak beranjak dari sofa.


Nisa mengangguk, dengan sedikit canggung dia kembali duduk si samping Andreas.


Nisa bisa melihat tatapan mata Andreas yang perlahan mulai berkabut gairah. Pria itu merangkul pinggangnya, menariknya agar lebih dekat.


"Aku harus kembali ke Amerika selama 1 bulan, Apa kamu dan Zie tidak mau ikut.?" Tanya Andreas dengan tatapan lekat.


"Aku banyak pekerjaan Ndre, tidak,,," Nisa langsung menghentikan ucapannya, perhatiannya teralihkan pada kedua tangan Andreas yang mulai melepaskan kancing piyama tepat di atas dadanya.


"Tidak apa hmm.?" Tanya Andreas yang masih bersemangat membuka satu persatu kancing piyama Nisa.


"Tidak mungkin aku meninggalkan pekerjaan." Sambungnya.


"Ndre,,," De sah Nisa tertahan. Andreas tiba-tiba memberikan serangan mendadak dengan menyusupkan satu tangannya ke pembungkus bukitnya seraya memberikan rema san.


"Apa tidak bisa di handle asistenmu.? Bagaimana kalau Zie menangis ingin ikut.?" Andreas menghentikan aktifitasnya untuk menatap wajah Nisa. Dia berharap Nisa mau ikut dengannya ke Amerika. Karna rasnya tak akan sanggup kalau harus berpisah dengan Nisa dan Kenzie selama itu. Karna selama beberapa hari dia sudah terbiasa dengan kehadiran mereka berdua. Pasti dia akan sangat kesepian jika harus melewatkan 1 bulan tanpa mereka.


"Nanti aku pikirkan lagi." Jawab Nisa yang belum bisa memberikan keputusan saat ini.


Tepat setelah mengatakan itu, Andreas langsung membungkam mulut Nisa dengan bibirnya. Dengan gerakan lembut, Andreas melu mat dan menyesap bibir itu bergantian. Tangannya juga tak tinggal diam, mulai membuka pengait di belakang punggung Nisa. Piyama dan penutup bukit itu kemudian di singkirkan oleh Andreas agar dia bisa leluasa memberikan kenikmatan pada istrinya itu.


Beberapa menit belalu, kini keduanya sudah saling memberikan kenikmatan dalam keadaan tanpa sehelai benang tubuhnya.


Andreas mengarahkan Nisa untuk berdiri dan berlutut di atas sofa dengan menjadikan senderan sofa sebagai tumpuan tangannya untuk menopang tubuh.

__ADS_1


Andreas yang berdiri di belakang Nisa mulai mencari jalan agar bisa membenamkan benda besar yang sudah tegak itu.


__ADS_2