
"Aditya, mobil itu sudah keluar.!" Andreas tampak cemas saat melihat mobil yang tadi siang di tumpangi oleh Nisa, kini meninggalkan halaman kantor.
Tak mau kehilangan jejak dan membuat Andreas semakin kacau, Aditya buru-buru menyalakan mobil untuk membuntuti mobil itu.
"Jangan sampai kehilangan jejak Ditya, atau kamu akan tau akibatnya." Kecemasan Andreas memuatnya berakhir dengan mengancam asisten pribadinya itu.
"Saya mengerti Tuan." Aditya menjawab tanpa menoleh sedikitpun, dia memfokuskan pandangan ke depan agar tidak kehilangan mobil yang di yakini ada Nisa di dalamnya.
Andreas mulai bernafas lega saat mobil yang di tumpangi Nisa masuk ke sebuah komplek perumahan. Dia yakin bahwa Nisa dan putranya tinggal di komplek perumahan itu.
"Pak Dito, tolong bilang pada security untuk mengunci gerbang. Saya tidak mau menerima tamu hari ini." Titah Nisa setelah keluar dari mobil.
Ini adalah salah satu upaya untuk mencegah Andreas masuk ke dalam rumahnya, kalau tiba-tiba Andreas mengetahui keberadaan tempat tinggalnya.
Nisa tidak bisa memungkiri kalau Andreas terlalu pintar untuk mencari keberadaannya. Laki-laki itu bahkan tiba-tiba berada di Batam dan muncul di hadapannya. Padahal 2 hari yang lalu mereka bertemu di Jakarta.
"Baik Bu,,"
Pak Dito langsung menjalankan perintah yang di berikan oleh sang majikan. Dia tak banyak bertanya namun cukup memahami tujuan Nisa yang tak menginginkan seorangpun datang ke rumahnya.
Karna kejadian saat di kantor tadi siang cukup membuatnya tercengang dan kesulitan untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Dia tidak kalau ternyata mantan suami majikannya masih hidup. Selama ini Pak Dito berfikir jika Papa kandung Kenzie telah meninggal.
Masuk ke dalam rumah, Nisa bergegas menghampiri putranya yang sedang bermain. Tampa mengatakan apapun, dia merengkuh putranya dan memeluknya erat.
Sudah cukup selama 3 tahun dia mengharapkan sesuatu yang tak mungkin, sudah cukup dia bodoh karna berfikir Andreas akan mencari keberadaannya.
Saat ini dia akan mementingkan kebahagiaannya dan Kenzie, hidup berdua sudah cukup baginya.
Tak mau lagi mengorbankan hati untuk terluka.
__ADS_1
"Momi,," Gumam Kenzie yang tampak kebingungan saat tiba-tiba di peluk oleh Nisa.
Suara Kenzie semakin membuat Nisa mengeratkan pelukkannya dan bahkan mulai meneteskan air mata.
"Ada apa Bu.?" Tanya Tiara cemas, dia menatap Nisa yang menangis sembari memeluk Kenzie.
Dia bahkan tidak melihat saat Nisa pulang karna baru pergi ke dapur untuk membuatkan susu Kenzie.
"Tidak apa Ara,," Nisa lantas mengusap air matanya. Dia tersenyum tipis seraya menyambar botol susu di tangan Tiara.
"Sini biar saya saja, kamu boleh mengerjakan pekerjaan lain."
Nisa beranjak dari ruang keluarga, dia menggendong putranya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
...*****...
"Maaf Pak, Bu Nisa sedang tidak bisa menerima tamu. Bapak bisa datang lagi nanti atau membuat janji dulu dengan Bu Nisa." Satpam di rumah Nisa menyuruh Andreas pergi secara halus.
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan, tolong sampaikan padanya untuk menemuiku." Andreas memohon. Dia sudah mencari berbagai alasan agar di ijinkan untuk masuk dan bertemu dengan Nisa, namun satpam itu tak mau tau. Dia menjalankan tugas sesuai perintah sang majikan.
Dia mendongakkan kepala, menatap rumah berlantai 2 itu dengan sorot mata sendu.
Di tengah-tengah kekacauan hati dan pikirannya, terselip sedikit kebahagiaan saat menatap rumah tersebut. Bahagia karna Nisa dan putra mereka hidup dengan layak.
Meski begitu, penyesalannya jauh lebih besar dari kebahagiaannya saat ini.
Andreas menyadari bahwa dirinya cukup kejam, menyeret orang yang tak bersalah dalam balas dendamnya.
Itu sebabnya dia membantu usaha Nisa di Jakarta, serta selalu mengirim uang bulanan ke rekening Nisa bahkan sampai menyedikan rumah sebagai tempat tinggal Nisa yang layak sebelum dia meninggalkan wanita itu.
Tapi rupanya Nisa tak mau menerima rumah itu dan memilih untuk meninggalkan Jakarta.
__ADS_1
Yang Andreas tau, Nisa mengambil semua jatah bulannya yang jumlahnya cukup besar.
"Katakan padanya, aku tidak akan menemuinya." Tegas Nisa lewat sambungan telfon dari satpam di rumahnya.
Dia sudah menduga kalau Andreas pasti akan menemukan tempat tinggalnya.
"Tapi Bu, dia tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Ibu." Tuturnya.
Nisa tampak menarik nafas dalam, rasa kesal membuat dadanya terasa sesak.
"Biarkan saja, nanti juga pergi sendiri."
Setelah mengatakan itu, Nisa langsung menutup panggilan telfonnya. Dia kembali fokus bermain dengan Kenzie.
Tak peduli dengan keberadaan Andreas yang sedang menunggunya di luar rumah.
...*****...
"Sebaiknya kita kembali ke hotel dulu Tuan, sejak pagi kita belum mandi." Aditya sampia menggaruk tengkuknya yang terasa gatal dan lengket.
Sejak pagi dia sudah berada di jalanan untuk mencari keberadaan Nisa, sekalipun belum kembali ke hotel meski sudah pukul 7 malam.
Bahkan dia sampai harus makan siang dan makan malam di dalam mobil.
"Kalau kamu mau mandi kembali saja ke hotel, setelah itu datang lagi kemari dan bawakan aku baju ganti." Titah Andreas yang masih mengarahkan pandangan ke pintu rumah Nisa. Pintu itu sejak sore masih tertutup rapat.
"Lalu Tuan mau mandi dimana.?" Aditya mengerutkan keningnya. Baru kali ini dia melihat bosnya seperti gelandang. Penampilan sudah acak-acakan dengan raut wajah yang menyedihkan.
"Disini pasti ada tempat ibadah, aku bisa mandi di sana." Andreas menjawab datar tanpa menoleh sedikitpun pada Aditya.
Sedangkan Aditya hanya bisa melongo.
__ADS_1
"Sudah sana pergi.!" Usir Andreas yang menyadari kalau Aditya masih berdiri di belakangnya.
Buru-buru Aditya pergi dari sana, dia sudah tidak sabar untuk berdiri di bawah guyuran shower yang akan menyegarkan kembali tubuhnya.