Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 95


__ADS_3

"Aku tidak akan mengulangi ucapanku." Ucap Andreas dengan tatapan datar.


Dia baru bersuara setelah terdiam beberapa saat.


Dan ucapannya mampu membuat Nisa tersenyum getir. Itu artinya semua yang baru saja dia dengar dari mulut Andreas adalah kebenaran. Tujuan Andreas menikahinya hanya untuk mencampakkannya dan membuatnya hancur, bukan karna ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya malam itu.


"Belasan tahun di perlakuan tidak adil, Papa hanya memikirkan dirimu tanpa menghargaiku yang sudah berkerja keras demi kemajuan perusahaan."


"Bagaimana bisa aku melihat kalian bahagia.!" Seru Andreas penuh amarah.


"Kehancuran kalian adalah kebahagiaanku Devan. Itu sebabnya bertahun-tahun aku mendirikan perusahaan sendiri untuk menghancurkan kalian." Andreas tertawa puas. Tawanya menggema di ruangan luas itu.


"Kamu ingin menghancurkan keluargamu.? Tapi Nisa tidak termasuk dalam bagian keluarga kita, kamu terlalu kejam jika menyeretnya kedalam permasalahan kita. Nisa tidak tau apapun Andreas.!!" Seru Devan.


Dia masih bisa terima jika Andreas menghancurkan perusahaan dan menghancurkan keluarganya, tapi belum bisa terima karna Andreas menjadikan Nisa sebagai alat balas dendamnya.


Dan kini melihat tangis Nisa yang begitu memilukan adalah kehancuran terbesar bagi Devan. Hatinya seakan dihujami ribuan benda tajam setiap kali Nisa meneteskan air matanya.


Wanita itu bahkan terlihat syok, dia hanya diam sambil terus menatap sendu wajah Andreas.


Nisa seolah tidak percaya jika laki-laki yang selama ini bersikap baik di depannya, ternyata menyimpan boom besar yang meluluhlantakkan segalanya.


"Aku tidak peduli.!" Andreas mengukir senyum sinis.


"Nyatanya kehancuran dia adalah kehancuranmu.!!" Senyum di bibir Andreas semakin merekah. Dia bisa melihat bagaimana Devan begitu terluka melihat Nisa menangis.


"Kau baj* ngan Andreas,,!!" Teriak Devan seraya mendekat dan mendaratkan tinjuan di wajah adiknya itu. Tak puas dengan satu tinjuan, Devan kembali mendaratkan pukulan berulang kali hingga membuat Andreas tersungkur.


Nisa berteriak, dia langsung mendekati mereka dan menarik Devan yang hendak memukul Andreas lagi.


"Tidak Devan,, hentikan.!!" Pinta Nisa memohon. Dia sudah berhasil menjauhkan Devan dari Andreas.


Andreas hanya terkekeh. Dia berdiri, kemudian mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Laki-laki itu tampak santai saja saat mendapatkan pukulan dari Devan, tanpa berniat untuk membalas pukulannya.


"Kamu mau memukul ku lagi.? Pukul saja Devan, pukul sepuasmu." Andreas justru menantang. Dia berjalan mendekat, seakan siap untuk mendapatkan pukulan kesekian kalinya.


"Anggap saja aku sedang berbaik hati karna bahagia melihat kalian semua hancur.!" Senyum di bibir Andreas tampak mengerikan, begitu juga dengan sorot matanya yang sulit di artikan.


Andreas seperti memiliki dua kepribadian berbeda yang berbanding terbalik.

__ADS_1


Mungkin kisah tidak menyenangkan di masa lalu, menimbulkan sakit hati dan dendam yang kuat sampai menyebabkan Andreas bisa berbuat seperti itu.


Dia tak lagi memikirkan orang lain, yang terpenting adalah tujuannya untuk menghancurkan keluarganya sendiri harus tercapai.


"Andreas,, ini tidak benar,," Ucap Nisa seraya menggelengkan kepala. Matanya menatap sendu, dia berharap Andreas sadar bahwa apa yang dia lakukan merupakan kesalahan besar.


Karna menghancurkan keluarganya sendiri hanya akan membuat Andreas semakin terluka suatu saat nanti.


"Aku mohon hentikan sekarang juga sebelum terlambat," Nisa mendekat, dia menggenggam tangan Andreas dengan sorot mata memohon.


Nisa yakin kalau sebenarnya Andreas memiliki hati yang baik dan tulus, dia tega menghancurkan keluarganya karna merasakan kekecewaan serta sakit hati yang besar atas perlakuan sang Papa dan masa lalunya yang menyedihkan.


Sama halnya seperti Nisa yang sempat berniat untuk balas dendam pada Andreas lantaran sudah merenggut kesuciannya.


Wanita itu mau melakukan balas dendam bukan karna dia orang jahat, tapi karna sara sakit hati dan kecewa yang akhirnya ingin membuat orang tersebut juga merasakan apa yang dia rasakan.


"Aku tau kamu hanya ingin menunjukkan kekecewaan mu saja tanpa berniat untuk menyakiti siapapun." Ucapnya yakin.


Meski Andreas bilang sendiri akan menghancurkannya, Nisa mencoba untuk tidak menghakimi Andreas atas perbuatannya.


Dia masih punya harapan bahwa Andreas mau mendengarkan ucapannya dan mengakhiri balas dendamnya itu.


"Kamu salah, aku sengaja melakukan semua ini untuk menyakiti mereka.!" Sahut Andreas tegas. Dia menarik tangannya dari genggaman Nisa.


"Aku sengaja menikahimu hanya untuk membuat Devan terluka, terbukti sampai detik ini dia memang belum bisa menerima wanita yang dia cintai menikah denganku." Senyum mengejek di bibir Andreas mengembang sempurna.


"Kamu memang tidak tau apa-apa, tapi hanya kamu yang bisa aku peralat untuk menghancurkan Devan.!" Ucapnya seraya menatap mengejek ke arah Devan.


Kakaknya itu memang lemah, dia tidak bisa berbuat apapun bahkan tak bisa memperjuangkan cintanya sendiri.


Dan setelah mengetahui rencananya, Devan juga tidak ada usaha untuk membebaskan Nisa darinya.


"Bre ngs3k,,!! Kamu benar-benar iblis, Andreas,,!!" Devan kembali menyerang Andreas dengan pukulan.


Ucapan Andreas yang menyakiti hati Nisa, membuat Devan kembali tersulut emosi.


Lagi-lagi Andreas tidak menghindar ataupun memberikan perlawanan saat Devan melayangkan pukulan di wajahnya.


"Ya.! Aku memang iblis.! Dan Papamu kamu salah karna sudah bermain-main dengan iblis seperti ku.!" Sahut Andreas.

__ADS_1


Amarah Devan semakin memuncak, dia sudah mencekik leher Andreas dengan satu tangannya, namun Nisa berusaha menarik tangannya.


"Jangan Devan, aku mohon,," Nisa terlihat iba melihat Andreas yang sudah di penuhi memar pada bagian wajahnya.


Apalagi Andreas terlihat pasrah saat Devan menghujaminya dengan pukulan.


"Kamu masih kasihan padanya setelah apa yang dia lakukan padamu.?!"


"Buka matamu Anissa.! Dia tidak pantas mendapatkan belas kasihan dari siapapun.!" Sentak Devan.


Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Nisa. Sudah jelas Andreas hanya mempermainkannya, tapi masih saja terlihat membelanya.


"Aku mencintainya." Ucap Nisa. Suaranya tercekat, sorot matanya dalam namun mengiris hati.


Dia mengakui perasaannya di saat mengetahui bahwa Andreas hanya ingin mencampakkannya.


Nisa menatap dalam penuh harap. Air matanya terus menetes di depan Andreas, berharap air mata itu mampu mencairkan kerasnya hati Andreas yang di penuhi dendam.


"Kamu tidak salah mencintai iblis sepertinya.?"


"Dia bahkan tidak pantas mendapatkan cinta, karna dia tidak tau apa artinya cinta.!"


Devan menggoncang bahu Nisa, laki-laki itu berusaha untuk menyadarkan Nisa.


Setelah apa yang Andreas lakukan, Nisa masih bisa mengatakan cinta pada Andreas.


Sedangkan Andreas terus melukai hatinya dengan perkataan yang menyakitkan.


"Tidak perlu berdebat di sini.! Kalian berdua boleh pergi.!" Andreas dengan entengnya mengusir Devan dan Nisa. Dia terlihat duduk di kursi kebesarannya dan menghubungi seseorang.


"Andreas,, aku mohon katakan padaku kalau semua ini tidak benar." Nisa masih saja belum sepenuhnya percaya dengan perkataan Andreas.


Dia berfikir Andreas bicara seperti itu hanya untuk membuat Devan terluka.


Karna Nisa yakin Andreas memiliki perasaan padanya.


Andreas hanya melirik Nisa tanpa mengatakan apapun.


"Siapkan mobil, kita akan ke bandara sekarang.!" Tegas Andreas. Dia bicara dengan seseorang melalui sambungan telfon dan langsung memutuskan panggilan.

__ADS_1


"Kamu akan meninggalkanku.?" Suara Nisa bergetar. Air matanya semakin tumpah membasahi pipi.


Mendengar Andreas akan pergi ke bandara, Nisa berfikir jika akan pergi jauh meninggalkannya.


__ADS_2