
"Kamu baik-baik saja.?" Aditya menatap intens wajah Tiara. Entah kenapa dia merasa semakin lama wajah Tiara terlihat semakin merah. Soroti matanya juga berbeda, dan gadis itu tampak gak bisa tenang di tempat duduknya. Tiara terlihat gelisah dan berulang kali memainkan jari tangannya.
Tiara mengangguk pelan, padahal dia merasa bahwa ada yang aneh dalam dirinya tapi tidak bisa menjelaskannya pada Aditya, karna Tiara juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
"Kalau sudah mengantuk sebaiknya tidur saja. Aku juga akan kembali ke kamar." Aditya kemudian beranjak dari duduknya setelah menyuruh Tiara untuk tidur.
Namun melihat Tiara yang masih mematung di tempat seraya menggigit bibir bawahnya, Aditya lantas berjalan mendekat ke arahnya.
Kali ini dia benar-benar merasakan ada yang aneh dengan gerak gerik Tiara.
"Apa kamu sakit.?" Aditya bertanya dengan tatapan cemas. Tapi Tiara lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Aditya semakin cemas dan bingung.
"Ayo biar aku antar ke kamarmu." Ajaknya dengan menggandeng tangan kiri Tiara. Sepertinya Tiara memang harus istirahat. Dia tampak tidak baik-baik saja.
Tidak ada penolakan, Tiara menurut begitu saja
Gadis itu bahkan tidak marah saat tangannya di genggam oleh Aditya.
Berbeda dengan beberapa menit yang lalu, jangankan di gandeng, Tiara bahkan masih bicara ketus padanya.
"Sebenarnya dia kenapa.? Sorot matanya sudah seperti orang yang sedang bernafsu saja."
Batin Aditya seraya memandangi lekat mata Tiara
Keduanya tidak ada yang menyadari tentang minuman yang salah sasaran itu. Jangankan Tiara yang mungkin tidak tau bahwa ada obat semacam itu. Bahkan Aditya sendiri yang sudah membeli obat itu juga tidak sadar kalau Tiara sedang dalam pengaruh obat perangsang.
"Apa kak Adit tidak merasa panas.?" Tiba-tiba Tiara bersuara ketika hampir sampai di depan pintu kamarnya.
"Panas.?" Aditya mengulangi ucapan Tiara dengan kening yang mengkerut.
"Kamu demam.?" Katanya yang kemudian menempelkan punggung tangan di kening Tiara.
Tapi ternyata suhu tubuh Tiara masih terbilang normal.
"Tidak, bukan panas itu." Ucap Tiara.
"Tapi gerah." Katanya dengan raut wajah yang semakin tidak karuan.
"Gerah.? Tapi udara disini cukup sejuk." Aditya kini menatap curiga. Dia mulai merasakan kejanggalan dalam diri Tiara. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat dengan obat perangsang.
Walaupun sebelumnya tak pernah melihat secara langsung reaksi orang yang berada dalam pengaruh obat tersebut, tapi Aditya mengetahui ciri-ciri umumnya. Dan dia sudah mendapati 3 ciri-cirinya.
"Apa mungkin Tiara meminum obat itu.? Tapi bagaimana bisa."
__ADS_1
Aditya dibuat berfikir keras. Rasanya tidak mungkin kalau tiba-tiba Tiara yang meminum obat tersebut.
Membukakan pintu kamar Tiara, Aditya mengantarnya sampai ke dalam. Dia harus memastikan Tiara baik-baik saja kalau memang sedang dalam pengaruh obat.
"Apa sebelumnya kamu meminum atau memakan sesuatu.?" Aditya mencoba mengorek informasi. Setidaknya dia bisa menyimpulkan kebenarannya jika sudah mendengarkan keterangan dari mulut Tiara.
"Aku makan itu." Tiara menunjuk beberapa cemilan di atas nakas. Aditya tak berfikir macam-macam setelah melihat cemilan itu, karna tidak mungkin cemilan dengan kemasan di campur dengan obat.
"Apa ada yang lain lagi.?" Tanya Aditya.
"Minuman kaleng, aku minum minjman kaleng yang tergeletak di atas meja makan tak lama sebelum kak Adit ke dapur."
Jawaban Tiara sontak membuat Aditya membulatkan matanya. Dia sangat yakin kalau minuman itu yang sudah menyebabkan Tiara menjadi aneh seperti ini.
"Sial, bagaimana ini.!"
Aditya mengumpat dalam hati.
Apa yang harus dia lakukan dalam kondisi Tiara yang sedang terpengaruh obat perangsang.
Tidak mungkin dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat Tiara dekat padanya. Karna Tiara pasti akan marah setelah pengaruh obatnya hilang.
"Ya sudah, sebaik kamu tidur saja."
"Kak, aku,,," Tiara terlihat sudah tidak bisa mengontrol dirinya. Sudah 40 menit berlalu sejak dia meneguk minuman kaleng itu sampai habis, untung saja dosisnya tidak banyak.
Tiba-tiba saja Tiara menempelkan bibirnya pada bibir Aditya. Obat itu benar-benar membuat gadis polos seperti Tiara menjadi wanita liar yang tak sungkan menyambar bibir lawan jenis.
Aditya sontak membeku. Tubuhnya menegang. Sentuhan bibir Tiara mampu mengalirkan gairah.
Tak puas dengan menempelkannya saja, Tiara mulai mengecap bibir milik Aditya meski sangatkaku karna sebelumnya tidak pernah melakukannya.
...****...
Sementara itu di kamar lantai dua, suara de sahan sensual dan seksi menggema disana.
Jarak sofa dan ranjang yang cukup jauh, membuat Nisa berani melepaskan de sahannya.
Andreas berhasil mengobrak-abrik pertahanannya. Berniat untuk tidak terlalu menunjukkan reaksi berlebihan, tapi pada akhirnya Nisa seperti wanita yang gila sentuhan.
Andreas tak pernah berubah, dia masih sama seperti dulu yang selalu membuatnya melayang tinggi ke langit ke tujuh.
Hentakan demi hentakan membuatnya kehilangan kewarasan.
__ADS_1
Pria itu benar-benar memberikan kenikmatan yang tak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
Nisa masih bertahan di posisi semula. Pegangan di sandaran sofa semakin erat lantaran tubuhnya terguncang mengikuti hentakan Andreas di belakangnya yang semakin kencang.
Dua bukit yang bergerak menjadi sasaran dua tangan Andreas. Dia mere mas dan memainkan pucuk bukit itu hingga membuat Nisa semakin melenguh tak karuan.
Beberapa menit kemudian tubuh Nisa bergetar hebat seiring dengan lenguhan panjang dan keluarnya cairan kenikmatan itu.
Seperti biasa Andreas membiarkan Nisa untuk beristirahat lebih dulu sebelum memulai lagi dan membalas kenikmatan yang telah dia berikan padanya.
Duduk di atas pangkuan Andreas dalam keadaan nafas tersneggak, Nisa memeluk seraya bersender pada dada bidang Andreas.
"Aku tidak pernah berfikir kita bisa seperti ini lagi." Lirih Andreas seraya memberikan usapan di punggung polos Nisa.
"Apa kamu masih mengingat kenganan 4 bulan selama kita bersama.?" Tanya Andreas.
"Dulu hampir setiap hari kita bertarung di atas atas ranjang." Ujarnya mengingatkan. Pria itu sampai mengulum senyum karna dulu sangat candu dengan tubuh Nisa, bahkan sampai saat ini pun masih sama.
Nisa merespon dengan anggukan kepala. Tentu saja dia masih mengingatnya dengan jelas.
Sentuhan Andreas sangat berkesan hingga sulit untuk hilang dari ingatannya meski 3 tahun berlalu.
Hening, tak ada obrolan apapun selama hampir 5 menit sampai akhrinya Nisa melepaskan pelukannya dan dan menayap dalam wajah Andreas dengan kedua tangan yang melingkar di lehernya.
Keberanian itu seketika datang, tanpa ragu Nisa memagut bibir Andreas. Dia membuat Andreas membuka mulut dan kini lidah itu saling beradu.
Ciuman yang awalnya lembut, berubah menjadi ciuman panas.
Tubuh Andreas kembali bereaksi, benda itu kembali tegak hingga membuat Nisa yang duduk di pangkuannya bisa merasakan hal itu.
Kini Nisa sudah bergerak liar di atas pangkuan Andreas. Dia membuat pria tampan itu mengeram nikmat.
"Ohh sh--iitt,,!! Ya, lebih cepat sayang," Racau Andreas sudah kehilangan akal sehatnya akibat goyangan Nisa.
Racauan Andreas semakin membuat Nisa bersemangat. Tak peduli meski harus terlihat sangat liar di depan Andreas.
Keringat sudah bercucuran di tubuh keduanya, Nisa juga sudah terlihat lelah menggerakkan tubuhnya, tapi dia terus melanjutkan tugasnya untuk membuat Andreas mencapai *******.
Erangan panjang mengakhiri percintaan panas mereka. Nafas keduanya memburu, mereka saling mendekap satu sama lain.
Perasaan bahagia menyelimuti Andreas, begitu juga dengan Nisa yang tampak mengukir senyum tipis.
"Your so hot, baby." Bisik Andreas dengan suara seraknya yang terdengar seksi.
__ADS_1
Pipi Nisa merona, untung saja Andreas tidak melihatnya.