
"Aku butuh baju tidur Ndre,," Ucap Nisa setelah masuk ke dalam kamar.
Kamar dengan warna dan interior yang didominasi warna white grey. Kamar yang katanya di tempati oleh Andreas saat dia masih remaja.
Nisa hanya mendapatkan sepenggal cerita tentang masa remaja Andreas dari Nyonya Zoya.
"Mama bilang sudah menyuruh pelayanan untuk menyiapkan baju tidur kita. Coba kamu lihat di dalam lemari," Andreas mengarahkan Nisa untuk masuk ke walk in closet.
Nisa mengangguk paham. Dia masuk ke walk in closet untuk mengambil baju tidur miliknya dan milik Andreas.
Sementara itu, Andreas masih berdiri di tempat. Dia memperhatikan dengan seksama setiap sudut kamar yang dulu dia tempati.
Tepatnya setelah Mama kandungnya di rawat di rumah sakit dan pada akhirnya harus tinggal di rumah sakit jiwa.
Tepatnya 15 tahu yang lalu saat pertama kali kamar ini menjadi miliknya. Selama 5 tahun menempati kamar ini, tentu membuat Andreas jadi teringat masa remajanya.
Tak banyak yang berubah sejak 10 tahun Andreas meninggalkan kamar ini dan untuk pertama kalinya dia menginjakkan kembali kakinya di kamar ini.
Barang-barang dan koleksi mainan miliknya bahkan masih tertata rapi.
"Ya ampun,,!!" Pekik Nisa kaget. Dia sampai menjatuhkan kain yang sempat dia lebarkan tepat di depan wajahnya sendiri.
"Ada apa.?" Andreas masuk dengan buru-buru. Menatap wajah Nisa yang memerah namun terlihat panik. Wanita itu langsung menggelengkan kepala. Dengan perlahan menunduk dan mengambil kain yang terjatuh di tepat di kakinya.
Kain tipis dengan warna merah yang menyala. Andreas seketika menahan tawa. Dia tentu tau kain apa yang sedang di ambil oleh Nisa dan langsung di masukkan kembali ke dalam lemari.
"Di,,disini nggak ada baju tidur untuk wanita,," Ucap Nisa gugup. Wajahnya semakin merona saat Andreas berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Nisa meraih baju tidur Andreas dan menyodorkan baju itu padanya.
"Hanya ada baju tidur untukmu," Kata Nisa. Dia tidak berani berkata jujur tentang baju yang tadi dijatuhkan olehnya. Nisa merasa malu dan mungkin tak berani menatap Andreas jika harus memberitahukan tentang baju itu.
"Nggak ada atau kamu yang nggak berani pakai.?" Tanya Andreas dengan nada menggoda. Dia tak mengambil baju tidur di tangan Nisa, tapi malah membuka lemari yang baru saja di tutup oleh Nisa dengan buru-buru.
"Jangan Andreas,," Nisa menahan tangan Andreas yang akan membuka lemari itu. Detak jantungnya seketika bergemuruh. Entah mau di taruh dimana wajahnya jika Andreas mengambil dan memegang kain tipis itu di hadapannya.
"Kenapa pipimu sangat merah.?" Ledek Andreas. Dia menahan tawa melihat raut wajah Nisa yang menahan malu dan gugup. Membuat pipi putih Nisa terlihat semakin merah.
"Awas, biar aku lihat sendiri isi lemarinya." Andreas menyingkirkan pelan tangan Nisa. Dia lalu membuka lemari itu dan langsung meraih kain tipis yang ada di dalam.
"Andreas, jangan.!" Seru Nisa panik. Dia reflek merebutnya dari tangan Andreas dan menyembunyikan di balik punggungnya.
"Kenapa hmm.?" Andreas mengubah posisi di depan Nisa, dia mendorong pelan bahu Nisa hingga tubuh istrinya itu bersandar pada lemari di belakangnya.
"Itu baju tidur untukku, kenapa bilang nggak ada.?" Tangan Andreas diam-diam menyelinap di belakang tubuh Nisa dan mengambil kain tipis dari tangannya.
"Baju tidur untuk wanita yang sudah menikah." Balas Andreas cepat.
"Kenapa nggak mencobanya.? Kamu pasti semakin cantik dan seksi,,,
"Andreas.!" Nisa membungkam mulut Andreas. Dia jadi semakin malu mendengar Andreas bicara seperti itu.
Andreas menyingkirkan tangan Nisa sambil mengukir senyum padanya. Senyum gemas lantaran Nisa semakin panik.
"Sepertinya ini waktu yang tepat. Mama Zoya mungkin menginginkan cucu darimu,," Bisiknya.
__ADS_1
Andreas melingkarkan kedua tangan di pinggang Nisa, tangan yang perlahan bergerak ke atas dan menurunkan resleting dress Nisa.
"Maksudmu.?" Dahi Nisa berkerut. Tak paham dengan ucapan Andreas.
"Dia ingin kita membuat cucu malam ini." Andreas mempertegas.
“Aku sudah memberikan waktu selama ini, sekarang kamu sudah siap kan.?” Tanyanya sembari mengedipkan mata pada Nisa. Wanita itu sampai tidak sadar kalau Andreas sudah melepaskan resleting dressnya. Dan hanya dengan sekali tarikan di kedua bahunya, dress itu merosot hingga sebatas pinggang.
"Andreas kau itu benar-benar.!" Nisa masih sempat memukul dada bidang Andreas sebelum menutupi tubuh bagian depannya.
Andreas hanya terkekeh kecil. Dia lalu memberikan lingerie tipis itu pada Nisa.
"Aku tunggu di ranjang,," Ucapnya lalu pergi dari walk in closet.
Sementara itu, Nisa berdiri mematung setelah membenarkan dressnya. Dia menatap lingerie di tangannya dengan perasaan yang tak menentu.
Sejujurnya tidak masalah jika dia melakukannya dengan Andreas. Toh Andreas sudah pernah meniduri nya bahkan sebelum ada ikatan pernikahan.
Nisa juga sudah merencanakan semua ini. Dia ingin menarik perhatian dan hati Andreas dengan cara melayani semua kebutuhannya tanpa terkecuali. Termasuk melakukan hubungan suami istri. Nisa juga sudah menunda kehamilan dengan mengkonsumsi pil kontrasepsi 2 hari sebelum pernikahannya berlangsung. Dia tidak mau memiliki anak di pernikahannya bersama Andreas, karna akan menyulitkan dia ketika harus mencampakkan Andreas nantinya.
Tapi sayangnya sampai detik ini Nisa belum memiliki keberanian untuk melakukan hubungan di atas ranjang. Dia masih takut dan trauma dengan kejadian malam itu.
"Apa yang harus aku lakukan,," Gumam Nisa bingung. Dia sampai mondar-mandir di dalam walk in closet.
"Tapi kalau nggak mencobanya, kapan aku bisa terbiasa melakukannya." Ujarnya setelah cukup lama diam dan berfikir.
Nisa akhirnya memberanikan diri untuk memakai lingerie seksi itu walaupun dia sangat takut dan malu.
__ADS_1
Benar kata Andreas, dia semakin seksi dengan balutan kain tipis yang menerawang.
Cukup lama Nisa berdiri di depan cermin. Meyakinkan diri untuk keluar dan menghampiri Andreas dalam keadaan sudah siap untuk menjalankan tugasnya.