Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 103


__ADS_3

Andreas sudah mendapatkan informasi yang dia dapatkan. Penumpang atas nama Anissa Salsabilla dan Kenzie Chandratama melakukan penerbangan ke kota Batam pukul 8 pagi tadi.


Andreas duduk termenung di salah satu kursi tunggu bandara. Selain di kejutkan dengan kehamilan Nisa yang tak pernah ia ketahui, sekarang dia kembali di kejutkan dengan fakta bahwa Nisa menyematkan nama keluarga besarnya pada nama putra mereka.


Hal itu membuatnya semakin merasa bersalah dan frustasi. Setelah dia meninggalkan Nisa begitu saja 3 tahun yang lalu, wanita itu dengan senang hati mencantumkan namanya untuk diberikan pada Kenzie.


Hanya dengan en cantumkan namanya, Andreas meyakini bahwa Nisa masih sangat mencintainya meski sudah dia campakkan begitu saja.


Seandainya Nisa tak mencintainya, pasti nama Chandratama tidak akan ada di belakang nama Kenzie.


"Maaf,, maafkan aku,,," Suara Andreas tercekat. Dia meremas kuat rambutnya dengan kedua tangan. Dia sadar telah melakukan kesalahan besar pada wanita yang sebenarnya sangat dia cintai itu.


"Tuan,, jangan seperti ini. Sebaiknya kita kembali dulu ke apartemen,," Nada bicara Aditya terdengar memohon. Dia tidak tega melihat Andreas semakin kuat meremas rambutnya sendiri.


"Bukankah kita akan mencari tau alamat Nona Nisa.?" Aditya masih berusaha membujuk Andreas untuk beranjak dari bandara.


Laki-laki berperawakan tinggi itu perlahan berdiri, dia berjalan gontai meninggalkan bandara.


Andreas tak langsung menyusul Nisa ke Batam lantaran dia harus mencari tau lebih tempat tinggal Nisa di sana. Dia tak mau menyusul ke Batam dengan sia-sia tanpa mengetahui di mana istri dan anaknya tinggal.


Andreas sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Mella. Karna dia yakin Mella tau dimana alamat Nisa.


...******...

__ADS_1


Andreas duduk termenung di ruang tamu. Pandangan matanya menerawang jauh. Dia semakin kehilangan semangat dalam hidupnya.


Raut wajahnya begitu sendu. Laki-laki yang dulu gagah dan tangguh itu kini terlihat sangat lemah.


Meski ada perasaan bahagia mengetahui keberadaan darah dagingnya, namun rasa bersalah dan kecemasan lebih besar menguasai dirinya.


Dia takut Nisa tak akan menginjinkannya untuk. bertemu Kenzie, atau sekedar untuk menyentuh putranya itu.


Belum lagi trauma di masalalu yang membuatnya merasa tidak bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk putranya.


Terlebih dia telah meninggalkan putranya begitu saja dan tidak ada di samping Nisa di masa kehamilan dan melahirkan putranya.


Suara bel membuat Aditya segera beranjak. Sejak tadi dia memang berada di dalam apartemen Andreas untuk memastikan bosnya itu tak melakukan perbuatan yang membahayakan nyawanya. Namun dia hanya diam berdiri tak jauh dari Andreas.


"Bagaimana.? Apa ada informasi.?" Tanya Aditya.


"Sudah. Wanita itu tinggal di apartemen xxx." Jawabannya seraya menyodorkan kartu nama.


Aditya menerima kartu nama tersebut. Lengkap dengan nomor telfon dan alamat kantornya.


Berjalan menghampiri Andreas, Aditya menyodorkan kartu nama itu.


"Ini nomor telfon dan alamat kantornya yang baru." Ucapnya pelan.

__ADS_1


Andreas mengambil kartu nama tersebut.


Dia tidak menyangka bisnis milik Nisa dan Mella sudah sangat besar sampai memiliki kantor sendiri.


Bisnis kecil yang dulu sempat dia bantu diam-diam tanpa sepengetahuan mereka berdua.


"Wanita itu tinggal di apartemen. Apa kita akan kesana sekarang.?" Tanya Aditya.


Andreas kemudian menatap arloji di tangannya. Sudah pukul 10 malam, dia tidak mau mengganggu istirahat Mella.


Belum lagi kemungkinan terbesar kalau Mella tidak akan mudah memberitahu tentang keberadaan Nisa.


Jadi dia harus bicara 4 mata dengan Mella, meminta baik-baik padanya agar Mella mau memberitahu alamat Nisa.


"Besok pagi saja." Jawab Andreas lirih.


Dia menyimpan kartu nama milik Mella di dompetnya.


...*****...


sedikit dulu upnya, nnti kalo sempat bikin lagi🙏🏻


ada kesibukan hari ini.

__ADS_1


__ADS_2