Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 74


__ADS_3

"Hallo,, Andreeeasss,,,


Suara Devan melayang di udara antaran mendengar Andreas berbicara dari sebrang sana.


"Lebih cepat sayang,," Suara itu terdengar berat dengan nafas yang tersenggal.


Devan tertegun. Jantungnya berdetak kencang lantaran pikirannya seketika kacau.


Tanpa melihat secara langsung, Devan sudah bisa menebak jika Andreas sedang melakukan kegiatan di atas ranjang.


Beberapa detik kemudian, suara sensual seorang wanita terdengar sedang men de sah. Meski tidak melihat siapa pemilik suara itu, namun Devan bisa memastikan jika suara des sahan itu milik Nisa.


Seketika Devan mengepalkan kedua tangannya. Ada perasaan kesal bercampur sakit hati dan cemburu yang menyelimutinya. Sama seperti saat dia melihat Andreas dan Nisa melakukan hubungan panas itu di kantor.


Devan sadar bahwa perasaannya salah, tidak seharusnya dia merasa kesal dan sakit hati melihat Andreas bisa bercinta dengan Nisa. Karna bagaimana pun mereka berdua sudah resmi menikah. Tapi hati tak bisa berbohong, ada kecemburuan dan perasaan tidak terima saat melihat Nisa di sentuh oleh Andreas.


Seandainya dia tak memikirkan keselamatan Nisa pada saat itu, mungkin dia akan tetap berada di samping Nisa. Wanita pertama yang mampu meluluhkan hatinya di antara banyaknya wanita diluar sana yang berusaha untuk mendapatkan hatinya.


Terlepas dia akan memiliki seorang anak dari rahim Irene, tapi Nisa memiliki tempat tersendiri di hatinya. Tempat yang tak bisa di sentuh sedikitpun oleh Irene meski wanita itu tak kalah sempurna dari Nisa.


"Aku lelah Andreas,,"


Mendengar Nisa bicara pada Andreas dengan suara tersenggal, Devan buru-buru mematikan sambungan telfonnya. Dia tidak tahan mendengar suara percintaan panas Andreas dan Nisa. Terlalu menyakitkan dan membuat hatinya terasa terbakar.


...*****...


Andreas keluar dari walk in closet, dia baru saja memeriksa tas dan barang bawaan Nisa untuk memastikan tidak ada pil penunda kehamilan yang di bawa oleh Nisa.


Andreas berjalan ke arah ranjang dan duduk di sisi ranjang. Dia menatap wajah Nisa yang tengah tertidur pulas. Wanita cantik itu langsung tertidur setelah mengakhiri percintaan panas mereka.


Bahkan sudah 3 jam berlalu, tapi belum ada tanda-tanda Nisa akan bangun.


Tangan Andreas terangkat, dia mengusap wajah Nisa dengan jemarinya. Menyentuh semua bagian wajah Nisa dan berakhir pada bibir merah muda itu. Dia sedikit mengusap bagian bibir Nisa, dan tampa sadar mengukir senyum tipis dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kamu harus mengandung anakku." Gumam Andreas lirih. Setelah beberapa menit, dia baru menggoncang pelan lengan Nisa untuk membangunkannya.

__ADS_1


"Anisa,,, bangun,," Andreas mengeraskan suaranya.


Hal itu membuat Nisa terbangun dari mimpi indahnya bersama Devan.


Wanita itu hanya terdiam setelah membuka mata. Terlihat bingung menatap sosok Andreas di hadapannya.


Dia baru saja bermimpi menjalani pernikahan yang bahagia bersama Devan, mewujudkan mimpi yang dulu mereka inginkan bersama. Tapi saat membuka mata, Nisa disadarkan oleh kenyataan bahwa dia dan Devan tak memiliki hubungan apapun lagi.


"Sudah sore, kita harus mandi,," Ujar Andreas. Dia melirik sekilas jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Sore.?!" Nisa tampak kaget. Dia buru-buru bangun, namun kemudian reflek menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang ternyata tidak memakai apapun.


"Berapa lama aku tidur.?" Tanya Nisa cemas. Dia melihat jam dan seketika kaget karna ternyata dia tidur berjam-jam setelah melakukan kegiatan panasnya bersama Andreas.


"Kamu tidur 3 jam. Aku tidak tega membangunkanmu karna terlihat kelelahan." Jawab Andreas sembari membenarkan rambut Nisa yang menutupi bagian wajah


"Ya ampun,, kenapa aku tidur selama itu,," Gumamnya bingung.


"Sepertinya kamu kelelahan karna bekerja keras untuk memuaskanku,," Sahut Andreas dengan candaan. Nisa tampak malu dengan pipi yang mulai merona.


"Ya ampun Andreas,,!!" Pekik Nisa. Dia baru bisa bersuara setelah Andreas melepaskan ciumannya.


"Kau itu menyebalkan sekali." Nisa memukul pelan dada bidang Andreas.


Sedikit kesal karna Andreas selalu melakukan apapun sesukanya.


"Bukan menyebalkan, tapi romantis." Jawab Andreas asal. Dia terus berjalan menuju kamar mandi sambil membopong tubuh polos Nisa.


Dan kegiatan panas itu terulang kembali di sana. Andreas kembali melakukannya seperti yang dia minta sebelumnya. Tentu saja Nisa tak bisa menolak permintaan Andreas. Lagipula dia juga menikmati setiap sentuhan Andreas yang memang membuatnya candu, serta selalu ingin melakukannya lagi dan lagi.


Awalnya Nisa hanya ingin membuat Andreas jatuh ke pelukannya dengan cara seperti itu, tapi ternyata dia kecanduan dengan permainan Andreas.


Jadi anggap saja sambil menyelam minum air.


...*****...

__ADS_1


Malam ini terakhir bagi Nisa dan Andreas berada di luar kota. Besok mereka sudah kembali ke Jakarta.


Keduanya juga memutuskan untuk menyambangi rumah Irene. Tentu untuk mengungkapkan bela sungkawa atas meninggalnya Mama Irene.


Itupun atas permintaan Nisa. Dia sedikit mendesak Andreas agar mau mengantarkannya pergi ke rumah Irene.


Andreas menutup laptopnya. Sudah 2 jam dia duduk di depan laptop untuk mengecek dan menyelesaikan pekerjaannya.


Selama. 2 jam itu dia tidak melihat keberadaan Nisa karna mengerjakan pekerjaannya di ruangan lain.


Andreas beranjak dari duduknya, keluar dari ruangan untuk mencari Nisa.


Tak mendapati Nisa di tempat tidur, Andreas bergegas menuju balkon.


Sudut bibirnya terangkat kalau melihat Nisa tengah berdiri di sana dengan balutan dress tanpa lengan dan panjang di atas lutut.


"Sedang apa.?" Andreas mendekap tubuh Nisa dari belakang. Mendekap erat seolah merindukan wanita itu. Karna sejak pagi Andreas memang sibuk rapat dan bertemu klien. Dia pulang saat sudah sore, di tambah sibuk dengan laptopnya setelah makan malam.


"Memikirkan kedua orang tuaku."


"Aku rindu pada mereka." Nisa menjawab tanpa menoleh pada Andreas. Dia tetap meluruskan pandangan. Menatap gelapnya langit yang di penuhi bintang.


Andreas terdiam, dia mengendurkan pelukannya dan memutar badan Nisa agar menghadap ke arahnya. Karna merasa jika Nisa tidak baik-baik saja saja ini.


Dan benar dugaannya, wajah cantik Nisa sudah basah karna air mata.


"Kamu boleh menangis karna merindukan mereka, tapi tidak dengan cara menangis sendiri seperti ini." Ucap Andreas sembari menarik Nisa dalam dekapan.


"Menangislah jika itu membuatmu jauh lebih baik." Ujarnya.


Andreas selalu tersentuh setiap kali membahas tentang orang tua. Sebenarnya dia merasa nasibnya tak jauh berbeda dengan Nisa.


Walaupun kedua orang tuanya masih utuh, namun sejak sang Mama mengalami gangguan jiwa, Andreas merasa kesepian dan merasa seperti tidak memiliki orang tua.


Apalagi sikap sang Papa yang membuat Andreas jauh darinya dan enggan mengakui jika Chandra adalah ayahnya.

__ADS_1


Belasan tahun dia merasa sendiri, tanpa adanya kedua orang tua yang benar-benar bisa mengerti dan menerima dirinya.


__ADS_2