
Rumah sakit Medistra Jakarta. Seorang laki-laki paruh baya di larikan ke ruang UGD, di temani oleh anak pertamanya yang terlihat cemas.
Devan tak pernah membayangkan dirinya akan mengantarkan sang Papa ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.
Setelah mendapatkan pertolongan dari petugas rumah sakit, Devan duduk di depan ruang UGD. Dia merogoh ponselnya dalam saku jas, mencoba untuk menghubungi sang Mama walaupun dia tidak tau bagaimana caranya menyampaikan kabar buruk ini padanya.
Sambil menunggu panggilan telfonnya terhubung, Devan berusaha berfikir, mencari kata-kata yang tepat agar tak membuat sang Mama panik.
"Sebaiknya aku telfon Irene saja." Devan membatalkan panggilan telfonnya. Dia sudah punya cara lain untuk mendatangkan sang Mama ke rumah sakit tanpa harus mengabarkan berita menyedihkan itu.
"Ya hallo,, ada apa Van,?" Suara lembut Irene terdengar menenangkan di seberang sana. Rasanya mampu mengurangi sedikit kecemasan yang dia rasakan.
Pembawaan Irene memang lembut, Devan mengakui hal itu. Mungkin karna itu juga dia tidak pernah bisa marah pada Irene sejak dulu, meski kehadiran Irene tak pernah dia inginkan.
"Kamu sedang apa.?"
Untuk pertama kalinya Devan menanyakan apa yang tengah di lakukan oleh Irene. Biasanya dia hanya menanyakan tentang kondisi kehamilan Irene, tanpa mau tau wanita cantik itu sedang melakukan apa di rumah.
"Aku baru selesai makan pasta."
"Kamu sudah makan siang.?" Irene bertanya dengan penuh perhatian.
"Belum," Jawab Devan di iringi dengan gelengan kepala. Padahal Irene tidak akan bisa melihatnya menggelengkan kepala.
"Apa perusahaan Papa belum stabil.?" Tanya Irene. Belakang ini dia ikut pusing melihat kesibukan Vano akibat menyelesaikan masalah pekerjaan.
"Akhir-akhir ini kamu sangat sibuk sampai sering telat makan." Nada bicara Irene penuh kecemasan.
Rupanya tak hanya di rumah saja Devan melewatkan jam makannya, tapi di kantor pun sampai melewatkan makan siang.
"Aku belum sempat saja." Jawab Devan. Sebenarnya bukan tidak sempat, tadi tidak ingin makan dalam keadaan genting seperti ini. Di tambah dengan kondisi sang Papa yang tiba-tiba drop.
"Mau aku buatkan pasta.? Aku akan membawakannya untukmu." Tawar Irene antusias. Selain ingin membawakan makanan, dia juga ingin memberikan semangat pada Devan agar bisa menghadapi segala permasalahan yang sedang di hadapi.
Sama halnya seperti Devan yang sudah memberikannya semangat dan selalu ada di sampingnya saat di tinggalkan selama-lamanya oleh sang Mama.
__ADS_1
Karna itulah, Irene mengurungkan niatnya untuk tidak berpisah dengan Devan. Dia masih memiliki secerca harapan pada sosok laki-laki yang mulai bisa menerima kehadirannya.
"Baiklah. Tapi bawa ke rumah sakit, karna saat ini aku sedang di rumah sakit."
Devan menerima tawaran pasta buatan Irene, karna tidak mau membuat Irene kecewa dengan penolakannya.
"Kamu sakit.?!" Seru Irene panik.
"Bukan aku, tapi Papa Chandra,," Jawab Devan lesu. Dia kemudian menjelaskan kronologi dan keadaan sang Papa saat ini.
Tak hanya itu saja, Devan juga menyuruh Irene datang ke rumah sakit dengan mengajak Mama Zoya tanpa harus menjelaskan pada Mama Zoya tentang keadaan sang Papa.
"Lalu aku harus bilang apa.?" Tanya Irene. Nada bicaranya tidak seceria tadi. Dia ikut sedih dan mencemaskan kondisi Papa mertuanya.
Belum hilang rasa sakit dan kesedihan di tinggal sang Mama, kini harus merasakan kesedihan lagi.
Dia hanya bisa berdo'a agar tidak terjadi hal buruk pada Papa mertuanya.
Devan lalu menyuruh Irene untuk mengajak Mama Zoya ke rumah sakit dengan alasan periksa kandungan.
Alasan itu tidak akan membuat Mama Zoya khawatir. Jadi dia akan datang ke rumah sakit dalam keadaan tenang, setidaknya sampai Devan bisa mengatakan langsung tentang kondisi sang Papa.
"Semoga Papa baik-baik saja. Kamu juga harus jaga kesehatan,," Suara Irene bergetar, wanita cantik itu sedang menahan tangis di seberang sana. Sekarang dia mencemaskan suaminya, tidak mau jika sampai terjadi sesuatu padanya.
...****...
"Sayang, kenapa banyak sekali panggilan masuk.?" Dari arah kamar, Nisa menghampiri Andreas yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Apa tejadi sesuatu dengan keluarga kamu.?" Tanyanya cemas.
Nisa terkejut saat dia mengaktifkan data internetnya. Seketika banyak notifikasi panggilan tak terjawab yang masuk dan beberapa chat yang menumpuk dari keluarga Andreas.
"Benarkah.?" Dahi Andreas mengernyit, laki-laki itu tampak tidak tau akan hal itu.
"Kamu lihat ini,," Nisa menyodorkan ponsel lamanya pada Andreas, kemudian duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Mama Zoya menelfon, Papa juga. Lalu nomor ini, apa ini nomor ponsel Devan.?" Nisa menunjuk nomor paling atas. Foto profilnya tidak terlalu jelas dan dia juga belum sempat membukanya.
"Benar, itu nomor Devan." Jawab Andreas datar.
"Sebenarnya apa yang terjadi.?"
"Apa mereka tidak mengubungi ponselmu.?" Tanya Nisa. Kecemasan masih tergambar jelas di wajahnya. Pikirannya jadi tidak karuan.
Dibalik semua anggota keluarga Andreas yang berusaha menghubunginya, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Aku belum sempat menyalakan ponsel lamaku." Jawab Andreas. Dia tampak santai saja, lalu menyodorkan ponsel milik Nisa.
"Kalau begitu aku akan menghubungi Mama dan bertanya padanya,," Belum sempat menekan nomor ponsel Mama Zoya, Andreas sudah mengambil kembali ponsel itu dari tangan Nisa.
"Nanti saja, kita baru sampai sayang. Apa kamu tidak lelah.?" Ujar Andreas. Tangannya diam-diam menonaktifkan ponsel Nisa dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Aku juga ingin istirahat dan ingin minum teh buatanmu."
"Apa aku boleh minta secangkir teh hangat yang manis.?" Andreas mendekat dan mendaratkan ciuman singkat di bibir Nisa.
"Semanis bibir kamu,," Pujinya.
"Ya ampun Andreas,," Nisa reflek memukul dada bidang Andreas. Suaminya itu benar-benar pandai memporak porandakan hatinya. Ada saja tingkah dan sentuhannya yang mampu merubah benci menjadi cinta.
"Kenapa.? Ciumannya masih kurang.?" Goda Andreas dengan suara beratnya. Pemilik rahang tegas dan hidung mancung itu mengukir senyum tipis, senyum yang membuatnya lebih mempesona dan pastinya mampu melelehkan kerasnya hati Nisa.
"Dasar nakal,,!" Nisa tampak malu-malu sembari beranjak dari sisi Andreas.
"Tunggu sebentar, aku buatkan tehnya dulu." Katanya lalu pergi ke dapur.
"Mereka tidak pernah tau penderitaan dan rasa sakit yang aku dapatkan selama ini.!" Geram Andreas lirih.
"Kehancuran mereka bahkan tidak sebanding dengan penderitaanku.!" Kedua tangan Andreas mengepal kuat. Rahangnya tampak mengeras dengan wajah yang merah padam.
Sungguh, dia tak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini.
__ADS_1
Terlahir dalam keadaan tidak di inginkan, melihat pertengkaran, kekerasan fisik, dibedakan, harus kehilangan cinta pertamanya dan wanita yang melahirkannya harus mengalami gangguan jiwa. Memangnya siapa yang mau berada di posisinya.
Terlalu mengenaskan dan sakit untuk di jalani.