Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 131


__ADS_3

"Kak, yang benar saja.?" Tiara tak habis pikir menatap Aditya.


"Ini terlalu mahal." Protesnya pada dress seharga hampir 1 juta yang di pilih oleh Aditya.


Bayangkan saja untuk ukuran seorang asisten rumah tangga seperti Tiara, 1 dress yang di hargai 900 ribu sangatlah mahal. Dia bisa membeli 4 sampai 5 baju dengan uang sebanyak itu. Rasanya sayang sekali kalau harus mengeluarkan uang 900 ribu hanya untuk 1 dress saja.


"Mahal dari mana.?" Aditya sampai mengerutkan kening. Dia mencoba untuk melihat price tag di dress itu yang belum sempat dia lihat sebelumnya.


"Tidak, ini masih standar." Komentar Aditya setelah melihat harga dress di tangannya.


Selama di Amerika, Aditya sudah biasa membeli baju-baju dengan harta di atas jutaan jika rupiahkan.


"Tapi Kak ini,,,


"Sudah jangan banyak protes, lagipula aku yang membelikannya untukmu.” Potong Aditya.


Tiara mengangguk paham, walaupun sebenarnya tidak setuju Aditya membelikan dress itu untuknya. Tapi kembali lagi dengan tujuan Aditya membelikan dress itu untuknya, yaitu agar dia terlihat seperti orang berada di mata mantan kekasih Aditya. Jadi tak ada alasan untuk tetap menolak.


Selain dress, Aditya juga membelikan tas dan hells yang tak kalah mahal untuknya.


Semua itu membuat Tiara berfikir, untuk apa Aditya melakukan semua itu yang menurutnya sama sekali tidak bermanfaat.


Apa untungnya memamerkan wanita lain di depan masa lalunya. Kalau memang Aditya tidak mau kembali, kenapa tidak menolaknya saja secara terang-terangan tanpa harus mengajaknya bersandiwara seperti ini.


"Aku jemput kamu nanti jam 6 sore. Kita ke salon dulu sebelum pergi makan malam." Ucap Aditya seraya memberikan paper bag berisi barang belanjaan yang sudah dia bayar.


"Salon.? Untuk apa lagi.?" Tiara tak habis pikir dengan jalan pikiran Aditya. Kenapa dia harus di tuntut untuk tampil sempurna. Hal itu membuat Tiara penasaran dengan sosok wanita tersebut. Tiara jadi membayangkan mungkin saja wanita itu sangat cantik dan sempurna seperti Nisa.


"Make up dan menata rambutmu." Jawab Aditya. Dia menggandeng tangan Tiara dan mengajaknya keluar dari toko itu.


Sesaat Tiara membeku, menatap tangannya yang sudah kesekian kali di gandeng oleh Aditya. Ada rasa nyaman dan tenang yang seketika menyelimuti.


Dia masih belum menyangka akan bisa sedekat ini dengan Aditya setelah rasakan cinta beharap bisa memilikinya. Bahkan dia tak keberatan untuk menjadi pacar pura-puranya.

__ADS_1


"Aku bisa make up dan menata rambut sendiri Kak, jadi tidak usah ke salon." Tiara baru bersuara setelah keluar dari toko.


"Tapi di salon akan lebih tertata dan rapi." Sahut Aditya yang bersikeras untuk membawa Tiara ke salon.


"Kakak meragukan kemampuanku.? Aku pernah kursus make up, jadi jangan khawatir." Ujar Tiara dengan nada bicara yang terdengar meyakinkan. Aditya sampai menoleh, tampak tak percaya dengan ucapan Tiara. Apalagi selama ini dia tak pernah melihat Tiara memoleskan make up di wajahnya. Gadis itu hanya memakai lipstik tipis saja tanpa terlihat memakai bedak sedikitpun.


...****...


Situasi di dalam kamar terasa canggung ketika Andreas dan Nisa sudah berbaring di atas ranjang yang sama dengan Kenzie berada di tengah-tengah mereka.


Kenzie yang belum paham dengan kondisi kedua orang tuanya, tampak bahagia saja ketika bisa tidur bersama mereka. Dia terus berceloteh, mengajak Nisa dan Andreas bicara.


Sebuah momen yang baru pertama kali dia rasakan sejak terlahir ke dunia.


"Tadi Zie main sama Papi, selu banget Momi. Iya kan Papi.?" Kenzie menatap Nisa dan Andreas bergantian. Nampak binar bahagia saat dia menceritakannya.


"Iya sayang,," Andreas mengulas senyum seraya mengacak gemas rambut putranya. Putranya itu termasuk anak yang pandai berbicara di usianya baru 2 tahun lebih.


"Oh ya.? Memangnya Zie main apa saja sama Papi.?" Nisa tampak antusias menanggapi cerita putranya. Tatapan matanya hanya fokus pada Kenzie, hingga tidak sadar kalau diam-diam Andreas menatapnya penuh haru.


Nisa terus menanggapi ucapan Kenzie hingga cukup lama terlibat percakapan yang begitu menyejukkan mata serta hati bagi Andreas.


Sampai akhirnya tak terdengar lagi celotehan Kenzie karna bocah tampan itu mulai tertidur pulas.


"Jangan menatapku terus,," Tegur Nisa lirih. Dia tidak melirik Andreas saat sedang mengobrol dengan Kenzie, tapi entah kenapa Nisa bisa tau kalau sejak tadi Andreas menatapnya.


"Kamu tidak berubah, justru semakin cantik." Pujian itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulut Andreas. Sejujurnya kalimat itu sudah terlintas dalam benaknya sejak pertama kali di pertemukan dengan Nisa lagi.


Meski saat itu dia pura-pura tak melihat Nisa, tapi di balik kaca mata hitam yang dia pakai, kedua manik matanya tak lepas dari wajah cantik Nisa.


Nisa terdiam beberapa saat sembari menatap Andreas. Namun dia tidak menanggapi pujian dari laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Lagipula dia tidak tau harus menanggapi seperti apa.


"Kapan kamu akan kembali ke Amerika.?" Tanya Nisa. Raut wajahnya tampak lebih serius.

__ADS_1


Seketika tatapan Andreas berubah sendu, rasa sakit tiba-tiba menyeruak dalam dada. Apa sefatal itu kesalahan yang telah dia perbuat pada Nisa hingga kehadirannya seolah sangat mengganggu dan ingin dia cepat-cepat kembali ke Amerika.


Andreas memejamkan mata sekilas, dia mencoba untuk menepis rasa sakit di dadanya dan berusaha untuk mengerti perasaan Nisa yang mungkin sudah terlanjur sakit hati padanya.


Meski begitu, Andreas sangat berterimakasih pada Nisa karna telah mengijinkannya bertemu dan dekat dengan Kenzie.


"Empat hari lagi,," Jawab Andreas lirih. Sebenernya berat untuk meninggalkan Kenzie dan harus jauh lagi dengan Nisa. Tapi perusahaan miliknya ada di sana, dia tak bisa meninggalkan perusahaan itu begitu saja.


Banyak hal yang harus dia rencanakan untuk mendirikan perusahaan di Batam agar nantinya bisa dekat dengan Kenzie dan Nisa.


"Kamu tidak ingin memberikan kenangan untuk Kenzie sebelum kembali ke Amerika.?" Pertanyaan Nisa membuat Andreas menautkan alisnya.


Entah kenangan seperti apa yang di maksud oleh Nisa.


"Kenangan seperti apa.?" Andreas balik bertanya.


"Zie pasti senang pergi berlibur bersama Momi dan Papinya." Tutur Nisa seraya menatap lekat wajah putranya.


Dia ingat bagaimana Kenzie sangat bahagia saat pergi jalan-jalan bertiga bersama dengan Brian.


Hal itu sempat membuat hati Nisa teriris dan berjanji pada dirinya sendiri untuk mengajak Kenzie berlibur dengan Papinya jika suatu saat takdir mempertemukan mereka kembali.


Kini saat Andreas telah kembali, Nisa tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menepati janjinya sendiri. Walaupun dengan kondisi hubungan yang dulu tak pernah dia harapkan menjadi seperti ini.


"Pergi berlibur.?" Tanya Andreas memastikan. Dia tampak terkejut, namun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Anggukan Nisa semakin membuat Andreas bahagia. Seketika dia terlihat sangat bersemangat.


"Kamu ingin mengajak Zie berlibur kemana.? Aku akan minta Aditya untuk mengurus semuanya." Tanya Andreas penuh semangat.


"Terserah kamu saja. Lagipula Zie juga belum mengerti tempat wisata. Yang terpenting bisa pergi berlibur dengan Momi dan Papinya." Jawab Nisa.


Terlepas seperti apa hubungan dia dan Andreas saat ini, dia berusaha mengesampingkan ego untuk memberikan kebahagiaan pada Kenzie.

__ADS_1


"Kalau begitu kita ke Bali saja." Ucap Andreas penuh semangat.


Dia bahkan tidak sabar untuk menikmati liburan bersama keluarga kecilnya sebelum pengadilan memutuskan perceraian mereka.


__ADS_2