
Percintaan panas beberapa menit yang lalu membuat Nisa kehabisan banyak tenaga. Setelah dua kali mendapatkan pelepasan, dia terkapar di atas ranjang tanpa pakaian dan hanya ditutupi selimut tebal.
Dia tidak berkutik saat Andreas masuk ke dalam selimut yang sama dan memeluk erat tubuh polosnya di balik selimut. Karna sudah terlalu lelah dan lemas, jadi Nisa diam saja mendapatkan pelukan yang bukan sekedar pelukan biasa lantaran tangan Andreas mengisap perutnya dengan lembut tanpa henti.
"Tidur saja kalau sudah mengantuk." Sebuah kecupan mendarat di kening Nisa. Wanita cantik itu mengangguk seraya memejamkan matanya yang sudah sulit untuk terbuka lebar.
Akibat ulah Andreas yang terlalu bersemangat untuk menanam benihnya di rahim Nisa, dia menggempur Nisa habis-habisan. Dengan begitu, dia berharap salah satu benihnya akan hidup dan berkembang di dalam sana. Meski ada yang harus dia lakukan setelah itu. Yaitu membuat Nisa lupa meminum pil penunda kehamilan itu untuk beberapa hari.
Karna menurut informasi yang Andreas dapat dari sebuah artikel internet, seorang wanita masih bisa hamil walaupun rajin mengonsumsi pil kontrasepsi jika sehari saja tidak meminumnya.
Ya, karna keinginannya yang terlalu besar untuk bisa memiliki anak lagi dari rahim Nisa, Andreas sampai mencari banyak informasi di internet tentang cara bagaimana bisa membuat sangat istri hamil walaupun sedang mengonsumsi pil kontrasepsi.
15 menit berlalu sejak Nisa memejamkan matanya. Andreas mulai mendengar deru nafas teratur yang menandai kalau Nisa sudah masuk ke alam mimpi.
Perlahan Andreas turun dari ranjang. Dia meraih pil kontrasepsi di atas nakas yang terletak di samping tempat tidur.
"Maaf sayang, aku harus menyembunyikan ini." Ucapnya lirih sembari melirik Nisa yang terlelap.
Andreas sudah memutuskan untuk menyembunyikan pil itu agar besok pagi Nisa tidak melihat pil kontrasepsi itu dan akhirnya lupa untuk meminumnya.
Belum lagi besok pagi mereka harus bersiap untuk pergi ke bandara pukul 9. Andreas yakin kesibukan akan membuat Nisa lupa dengan pil yang setiap hari dia minum itu.
Andreas melempar tablet pil di tangannya ke bawah kolong ranjang. Dia kemudian memastikan kalau pil itu tidak akan di lihat oleh Nisa jika besok pagi istrinya itu mencarinya.
"Kalau kamu mau mempertimbangkan untuk punya anak lagi, pasti aku tidak akan menyembunyikan pil itu." Lirih Andreas. Dia kembali naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Nisa sembari memeluknya.
...*****...
Sementara itu di rumah yang sama namun kamar yang berbeda, Tiara tampak tidak bisa tidur lantaran memikirkan kejadian di rumah orang tuanya 4 jam yang lalu.
Saat itu Aditya dan Tiara sedang menikmati makan malam bersama dengan keluarganya. Tak berselang lama, Elena yang baru pulang dari kantor membuat masalah setelah mengetahui bahwa Tiara membawa calon suaminya dan akan menikah dalam waktu dekat.
Flashback
"Setidaknya kamu harus menghargaiku sebagai Kakak.!" Ketus Elena begitu mendapat kabar Tiara dan Aditya akan menikah.
"Mana bisa kamu yang menikah lebih dulu di banding aku, kakakmu." Tatapan mata Elena begitu tajam. Sebagai orang yang lebih tua dari Tiara, tentu dia tidak mau membiarkan Tiara yang lebih dulu menikah.
__ADS_1
"El, tenang dulu nak." Tegur Mama Amira lembut. Dia menarik tangan Elena agar kembali duduk di kursinya.
"Mana bisa Mah. Apa kata teman-teman aku kalau Tiara yang menikah lebih dulu." Jawab Elena sewot.
"Maaf Kak,," Ucap Tiara lirih. Dia tau perasaan Elena. Jika posisinya di balik, tentu dia juga akan merasa malu karna adiknya yang lebih dulu menikah. Tapi dia bisa apa kalau memang sudah digariskan untuk menikah lebih awal di banding dengan Kakaknya.
"Tidak ada gunanya minta maaf." Sahut Elena ketus.
"Elena, tolong berhenti membuat kekacauan." Pinta Pak Heru dengan nada memohon.
Tegurannya seketika membuat Elena menatap tak suka ke arahnya.
"Aku.? Membuat kekacauan.?" Elena mengukir senyum kecut.
"Kalian pikir siapa yang sudah membuatku jadi seperti ini.?!" Tatapan mata Elena semakin tajam. Namun ada kekecewaan yang mendalam dari sorot matanya.
"Aku memang tidak secantik Tiara, aku juga tidak sepintar dia, tapi apa kalian pikir aku tidak butuh pujian dan perhatian lebih saat kecil.?!"
"Jangan karna aku lebih tua, kalian jadi lebih memperhatikan Tiara di banding aku saat itu.!"
"Mama bahkan lebih peduli padanya.!"
"Elena,," Lirih Mama Amira dengan suara tercekat. Dia menyadari kesalahan yang di ucapkan oleh Elena. Tapi ada sebuah fakta besar yang selama ini dia sembunyikan dari Elena. Sebenarnya Elena bukanlah darah dagingnya, melainkan anak dari mendiang suaminya dengan selingkuhannya.
"Jangan harap Tiara bisa menikah begitu saja.!"
"Aku akan membuat pernikahannya berantakan.!" Teriak Elena seraya beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya.
Flashback off
"Apa Kak Elena benar-benar akan membuat pernikahanku berantakan.?" Gumam Tiara sendu. Dia tak habis pikir kenapa Elena bisa sampai membencinya sebesar itu.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Tiara. Dia meraih ponsel dan menerima panggilan dari Aditya.
"Kenapa tidak menjawab pesanku.?" Ucap Aditya begitu Tiara mendekatkan ponsel di telinga.
"Maaf, aku baru selesai membereskan mainan Kenzie." Jawabannya bohong. Lagipula Nisa juga tidak akan membiarkan Tiara bekerja sampai larut malam.
__ADS_1
"Sudah malam, sudah waktunya istirahat. Kenapa masih mengerjakan pekerjaan rumah.?" Cecar Aditya.
Tiara baru akan menjawab, tapi Aditya kembali berbicara.
"Kamu masih memikirkan perkataan Elena.?" Tanyanya.
"Tidak perlu di pikirkan, aku pastikan dia tidak akan mengacaukan pernikahan kita. Tenang saja" Ucapnya tegas.
"Hemm,, aku mengerti."Jawab Tiara.
"Aku harus tidur sekarang. Byee,,," Tiara memutuskan panggilan telfonnya begitu saja sebelum Aditya menjawabnya.
...*****...
"Andreas, bangun." Nisa menggoncang bahu Andreas. Pria itu masih terlelap dengan tangan yang melingkar di perut Nisa hingga membuat Nisa tidak bisa beranjak dari atas tempat tidur. harus
"Hmm,,," Andreas hanya berdehem kecil. Bukannya membuka mata, dia malah semakin erat memeluk Nisa.
"Bangun Ndre, sudah pagi." Nisa sedikit mengeraskan suaranya.
"Aku harus ke kamar Kenzie untuk melihatnya."
Begitu mendengar nama putranya, Andreas langsung membuka mata lebar-lebar.
"Ya ampun, apa Kenzie sudah bangun.?" Ucapnya cemas dan buru-buru turun dari ranjang.
Sebenarnya Andreas tidak tega membiarkan Kenzie tidur sendirian di kamarnya. Tapi rupanya Nisa sudan menerapkan hal itu sejak 1 tahun yang lalu.
"Apa kamu mau keluar kamar dengan memakai celana dlm saja.?" Tegur Nisa seraya menggelengkan kepala melihat Andreas hendak membuka pintu kamar dengan hanya memakai celana dlm.
"Astaga.!" Pekik Andreas kaget. Tapi setelah itu dia justru terkekeh geli. Entah apa jadinya kalau dia keluar dalam keadaan seperti itu dan di lihat oleh Tiara ataupun yang lainnya.
"Kau itu benar-benar,," Ucap Nisa. Dia sampai ikut terkekeh dengan kecerobohan Andreas.
Mungkin karna terlalu antusias ingin melihat Kenzie, jadi sampai tidak sadar kalau semalam baru melempar baju dan celana pendeknya ke sembarang arah.
Setelah memakai baju dan celana, Andreas bergegas ke kamar putranya yang bersebelahan dengan kamar Nisa. Dia membuka pintu perlahan dan masuk kedalam.
__ADS_1
Sebenarnya Andreas sudah melihat kalau Kenzie masih terlelap. Tapi dia tetap menghampiri putranya untuk sekedar mengecup kening Kenzie dan memandangi wajah mungil putranya yang sangat mirip dengannya.
Puas memandangi wajah putranya, Andreas kembali pergi ke kamar Nisa. Dia punya misi yang harus di kerjakan, yaitu mengalihkan perhatian dan pikiran Nisa agar lupa dengan pil kontrasepsi itu. Dengan membuat Nisa sibuk, Andreas berharap Nisa tidak akan akan mencari pil itu.