
Sejak di pindahkan ke ruang rawat inap, Andreas tak beranjak sedikitpun dari sisi Nisa. Dia duduk di samping ranjang istrinya yang belum sadarkan diri. Kondisi Nisa sudah jauh lebih baik setelah mendapatkan penanganan dari dokter dan harus di infus. Tapi Nisa masih berada di bawah alam bawah sadarnya.
Kenyataan dan masalah yang tengah dia hadapi saat ini, memiliki pengaruh besar pada kesehatan Nisa. Wanita itu terlalu stres memikirkan apa yang telah terjadi pada kedua orang tuanya dan kehancuran hidupnya saat ini.
Andreas menatap lekat wajah Nisa, wajah yang begitu sendu. Bahkan saat memejamkan mata saja sudah bisa dilihat seberapa besar rasa sakit dan kehancuran yang sedang dia rasakan saat ini.
Wanita sederhana dengan kelembutan hati itu telah melewati kehidupan yang sulit dan menyakitkan.
Andreas bisa merasakan bagaimana hancurnya Nisa setelah mengetahui bahwa kecelakaan yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya merupakan kejadian yang telah di rencanakan oleh seseorang.
Siapa yang tidak hancur menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya memang sengaja di lenyapkan. Hanya untuk sebuah kekuasaan dan harta yang tak bernilai di bandingkan 2 nyawa.
Tangan Nisa dalam genggaman Andreas terlihat bergerak. Sesuatu yang membuat Andreas langsung bernafas lega. Terlebih dia melihat Nisa yang mulai membuka matanya.
"Syukurlah kamu sudah siuman." Lirih Andreas. Seulas senyum tak bisa dia tahan kala melihat Nisa sadarkan diri.
"Kamu mau minum.? Biar aku ambilkan." Andreas hendak beranjak dari duduknya, namun tangan Nisa mencegahnya.
"Aku kenapa.?" Tanya Nisa bingung. Dia tidak ingat apapun, tiba-tiba bangun dalam keadaan sudah berada di kamar rumah sakit dan tangan yang di pasang infus.
"Kamu hanya perlu istirahat. Jangan pikirkan apapun dulu,," Andreas mengusap lembut wajah Nisa.
Dia kemudian beranjak untuk mengambil air minum dan sedotan.
"Minum dulu, tidak usah bangun." Kata Andreas. Dia mengarahkan sedotan itu ke mulut Nisa.
Sebenarnya bisa saja dia membangunkan Nisa untuk duduk, tapi melihat kondisi Nisa yang baru sadarkan diri, rasanya tidak tega jika menyuruh Nisa untuk duduk.
Nisa tidak menolak, dia membuka sedikit mulutnya untuk minum menggunakan sedotan.
Air minum dalam gelas itu habis tanpa sisa. Nisa memang merasa sangat haus, bahkan tenggorokannya terasa kering dan sakit.
__ADS_1
"Makasih Ndre,," Ucap Nisa tulus. Dia menghargai kebaikan Andreas yang mau membawanya ke rumah sakit, menemaninya, bahkan mengurusnya.
"Aku akan menyuruh suster untuk membawakan sarapanmu." Andreas meletakkan gelas kosong itu di atas nakas, lalu menghubungi suster untuk membawakan makanan Nisa.
Nisa menarik nafas dalam, dia meluruskan pandangan ke depan dengan tatapan menerawang.
"Aku tidak tau kesalahan apa yang sudah di perbuat orang tuaku pada orang tua kak Irene,," Lirih Nisa dengan suara tercekat.
Andreas yang baru saja selesai menghubungi suster, kini beralih menatap Nisa dengan intens dari samping.
"Tapi apapun kesalahannya, tidak harus di balas dengan nyawa."
"Kenapa kekuasan dan harta menutup mata hati mereka.!"
"Nyawa kedua orang tuaku lebih berharga dari harta.! Tidak seharusnya dia membunuh orang tuaku."
Kata demi kata terucap dari bibir Nisa dengan penuh amarah dan kehancuran. Kedua matanya sampai berkaca-kaca.
Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana hancurnya hati Nisa setelah mengetahui kenyataan pahit itu.
Tapi ternyata kecelakaan itu karna campur tangan manusia biadab yang tidak punya hati.
Andreas menarik nafas dalam. Dia terbawa suasana melihat Nisa begitu hancur dan rapuh. Buliran bening bahkan mulai membasahi wajah cantik Nisa.
"Aku pastikan Tuan Fans akan menanggung perbuatannya." Ujar Andreas meyakinkan. Dia kembali duduk di samping ranjang, meraih tangan Nisa dan menggenggamnya.
Nisa menoleh, ucapan Andreas sedikit membuatnya lega. Entah kenapa Dia yakin Andreas akan tulus membantunya untuk menegakkan keadilan dengan menjebloskan Tuan Frans ke penjara.
"Terimakasih Ndre. Aku percaya padamu,," Ucap Nisa dengan tatapan dalam. Andreas tak menjawab, dia hanya mengangguk pelan.
...*****...
__ADS_1
"Tidak usah Ndre, aku bisa makan sendiri,," Nisa menolak saat Andreas akan menyuapkan makanan ke mulutnya. Bukan tanpa alasan dia menolak. Nisa tidak mau kebaikan dan perhatian Andreas membuat tekadnya goyah.
Nisa tidak mau terlalu dalam memainkan perannya. Apalagi orang-orang yang ada disekelilingnya sudah memberikan luka dan penderitaan padanya. Mereka saling berkaitan dan ikut andil dalam rasa sakit dan kehancuran hidupnya.
"Jangan banyak protes, cepat buka mulutnya,," Tegas Andreas. Dia tetap memaksa untuk menyuapi Nisa.
"Kamu harus banyak makan biar cepat sehat." Ujarnya lagi.
Mau tidak mau, Nisa terpaksa membuka mulutnya dan menyantap makanan yang disodorkan oleh Andreas.
"Bagaimana denganmu.? Apa kamu sudah makan.?" Tanya Nisa.
"Tidak usah memikirkanku. Aku sudah makan,," Jawab Andreas. Tentu saja dia berbohong. Jangankan berfikir untuk makan, sejak membawa Nisa ke rumah sakit saja dia belum minum sama sekali.
Melihat kondisi Nisa yang belum sadarkan diri, mana sempat Andreas memikirkan dirinya sendiri.
"Benarkah.?" Nisa menatap ragu. 3 bulan hidup bersama Andreas, dia bisa membaca raut wajah Andreas ketika sedang berbohong.
"Iya. Aku sudah ma,,
kruuyukk,, kruyuuukk,,
Nisa sontak tertawa mendengar bunyi alarm kelaparan yang berasal dari perut Andreas. Tawa renyah Nisa membuat Andreas mengulum senyum.
Hahahaa,, aku tau kamu bohong,," Ujarnya masih dengan tawa yang renyah.
"Dasar cacing sialan, tidak bisa di ajak kerjasama." Umpat Andreas sambil menatap perutnya sendiri.
Nisa hanya menggelengkan kepala melihat Andreas marah pada cacing di dalam perutnya.
"Sini biar aku suapi kamu juga,," Nisa meraih sendok dari tangan Andreas, dia menyendok makanan dan mengarahkannya ke mulut Andreas.
__ADS_1
Andreas terlihat ragu, tapi kemudian menerima suapan dari Nisa.
Dan keduanya saling menyuapi satu sama lain hingga makanan itu habis tanpa sisa.