Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 88


__ADS_3

Nisa mengantar Andreas sampai ke depan pintu apartemen. Seperti biasa, Nisa selalu mencium punggung tangan suaminya itu sebelum di tinggal pergi ke kantor.


Andreas tampak mengukir senyum tipis. Dia kemudian memegangi pipi Nisa, mendekatkan wajah untuk mendaratkan kecupan di kening dan bibir istrinya itu yang sejak beberapa hari sedikit ada perubahan dari raut wajah serta bentuk tubuhnya.


"Aku berangkat dulu," Kata Andreas seraya mengusap lembut pipi Nisa.


"Nanti di antar supir saja, jangan pergi sendiri." Pesannya.


Nisa sudah meminta ijin pada Andreas untuk pergi menemui Mella, namun Andreas tak mengijinkannya jika Nisa pergi menggunakan taksi.


"Baiklah Pak Andreas yang tampan," Nisa mengacungkan jempolnya. Dia tak mau membantah ucapan Andreas asalkan boleh pergi menemui Mella.


Walaupun menemui Mella hanya alasan saja, karna yang sebenarnya adalah dia harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia tinggal selama 2 minggu.


"Kau ini,," Andreas mencubit gemas hidung mancung Nisa.


Keduanya terkekeh bersama, saling menatap dengan sorot mata yang di selimut berbagai perasaan dalam satu waktu.


...*****...


"Terimakasih Pak,," Ucap Nisa pada supir pribadi Andreas yang sudah mengantarkannya sampai ke ruko.


"Tidak usah menunggu, nanti saya akan minta Andreas untuk menjemput." Ujarnya, lalu keluar dari mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh si supir.


"Baik Nyonya,,"


"Kalau begitu saya pamit ke kembali ke kantor." Supir itu menutup kembali pintu mobilnya.


Sembari menenteng 3 paper bag berisi oleh-oleh untuk Mella dan beberapa karyawannya, Nisa masuk ke dalam ruko.


Kedatangan Nisa di sambut antusias oleh mereka, selain rindu pada bosnya itu, mereka juga tidak sabara melihat oleh-oleh yang sudah di janjikan oleh Nisa.


"Uuhh ya ampun yang habis honeymoon." Seru Mella dengan suara hebohnya.


Dia langsung menghampiri Nisa dan memeluknya. Di tinggal sahabatnya selama 2 minggu ternyata cukup membuatnya rindu.


"Astaga Mella,," Nisa mencoba melepaskan diri dari dekapan Mella karna merasa sesak.


"Kamu gemukan ya.?" Ujar Mella sembari melepaskan pelukannya. Kini dia menatap Nisa dari ujung kaki sampai kepala dengan seksama.


Setelah tadi memeluk Nisa, Mella bisa merasakan perubahan fisik sahabatnya itu.


Kening Nisa langsung mengkerut. Di sebut gemukan oleh Mella jadi membuatnya sensitif.


Dia tidak merasa badannya mengembang, setiap berdiri di depan cermin masih terlihat langsing.

__ADS_1


"Apaan sih, siapa yang gemukan." Nada bicara Nisa sedikit tak suka.


Dari dulu dia selalu memiliki berat badan yang ideal, bahkan postur tubuhnya selalu di puji banyak teman-temannya di sekolah.


"Tapi , kamu emang kelihatan sedikit berisi." Ujar Mella. Dia kekeuh dengan pendapatnya, pendapat yang jelas-jelas beralasan karna terlihat secara kasat mata bagaimana bentuk tubuh Nisa saat ini.


"Kalau tidak percaya, coba saja di timbang." Mella berusaha meyakinkan Nisa kalau ucapannya tidak salah.


"Timbangan berat badannya ada di pojok ruangan kerja kita." Tuturnya.


"Tapi sebelum kamu timbang berat badan, tinggalin dulu oleh-olehnya. Mana punyaku.?" Mella langsung menodong Nisa.


Dia sudah tidak sabar membuka oleh-oleh dari Swiss.


"Nih,, kamu bagi sama yang lain." Nisa memberikan semua paper bag pada Mella.


Papsr bag yang berisi beberapa dompet dan jam tangan.


"Baik banget sih istrinya sultan. Sering-sering pergi ke luar negeri ya,," Ledek Mella sembari terkekeh.


Nisa tau maksud candaan itu, tentu agar Mella bisa mendapatkan oleh-oleh dari luar negeri.


"Lain kali aku ajak kamu ke luar negeri," Sahut Nisa. Dia tidak bercanda, memang sudah ada rencana untuk mengajak Mella dan semua karyawannya berlibur ke luar negeri.


Rencana itu dia buat setelah memutuskan untuk tetap melanjutkan pernikahannya dengan Andreas. Jadi dia bisa menggunakan uang hasil keuntungan bisnisnya untuk memboyong karyawannya ke luar negeri.


Nisa masuk ke ruang kerjanya. Benda pertama yang dia lihat adalah timbangan berat badan. Timbangan itu berada di pojok ruangan, persis yang di katakan oleh Mella.


"Mana mungkin berat badanku naik. Porsi makanku saja masih normal," Gumamnya.


Nisa tidak yakin kalau berat badannya naik, tapi entah kenapa ingin memastikannya sendiri.


"Tapi apa salahnya memastikan."


Setelah cukup lama menatap timbangan itu, Nisa akhirnya memutuskan untuk menimbang berat badannya.


"Ya ampun, jadi benar aku gemukan.?" Nisa tampak syok melihat berat badannya saat ini.


"Kenapa tiba-tiba naik 5 kg.?" Keningnya berkerut. Masih tidak percaya kalau berat badannya naik drastis.


"Bagaimana ini,," Nisa dibuat risau, dia tidak mau terlihat bulat.


"Sepertinya aku harus mengurangi gula dan nasi."


Kecemasan Nisa bukan tanpa alasan, dia tidak mau terlihat gendut di depan Andreas. Mengingat pekerjaan Andreas yang sudah pasti selalu berhadapan dengan wanita-wanita cantik bertubuh langsing dan seksi di kantor.

__ADS_1


Hampir 5 jam Nisa berada di ruko, dia memutuskan untuk pulang karna semua pekerjaannya sudah selesai.


Tadinya dia ingin tetap berada di ruko sampai Andreas pulang dari kantor dan menjemputnya. Tapi Nisa berubah pikiran karna ingin melakukan yoga di apartemen setelah pulang dari ruko.


...*****...


"Kemana saja kamu.?!" Sinis Devan. Dia berdiri di depan meja kerja Andreas, menatap kecewa pada adiknya setelah 2 minggu tak bisa di hubungi.


Bahkan sampai sekarang nomor ponselnya tidak aktif.


Devan langsung pergi ke perusahaan Andreas begitu mendapatkan kabar jika Andreas sudah kembali bekerja.


"Katakan saja apa yang kalian butuhkan." Ujar Andreas acuh. Dia sudah bisa menebak kedatangan Devan ke perusahaannya. Tentu saja untuk meminta bantuannya meng-handle masalah besar yang sedang terjadi di perusahaan pusat.


"Kau.!!" Devan menarik kerah kemeja Andreas, membuat laki-laki itu berdiri dari duduknya.


"Sesibuk apa kamu sampai tidak bisa di hubungi.?!" Sinis Devan.


Dengan gaya yang tenang, Andreas tersenyum lebar. Melihat kemarahan Devan adalah hal yang dia tunggu-tunggu selain ingin membuatnya hancur.


"Aku sibuk meniduri mantan tunanganmu." Jawab Andreas lantang. Andreas sengaja memancing kecemburuan Devan. Dia ingin melihat seberapa besar perasaannya terhadap Nisa yang masih di pendam oleh Devan.


"Tutup mulutmu.!!" Bentak Devan. Cengkramannya semakin kuat. Sebagai seseorang yang dulu mencintai Nisa dengan tulus, Devan tentu tidak rela melihat Nisa hanya dijadikan mainan oleh Andreas dan alat balas dendam.


"Wanitamu mencintaiku dan tergila-gila pada ku di atas ranjang." Andreas terkekeh. Dia sengaja membuat Devan semakin murka.


"Setelah aku mencampakkannya, apa yang akan kamu lakukan Devan.?!" Sentak Andreas sembari menepis kasar tangan Devan dari lehernya.


Suara tawanya menggema di ruangan itu.


"Siapa yang akan kamu pilih, istrimu atau cinta masalalumu." Andreas menatap mengejek. Dia yakin Devan tidak akan bisa memilih karna Irene akan melahirkan darah dagingnya.


"Kamu tau sendiri Nisa wanita baik-baik, dia tidak akan mau kembali dengan laki-laki yang sudah beristri." Ujar Andreas lagi.


Devan tampak sudah mengepalkan kedua tangannya sejak tadi. Sorot matanya juga semakin menunjukkan kebencian yang besar pada sosok saudaranya sendiri.


Dia tak menyangka Andreas akan sekejam ini.


Adiknya itu seolah melupakan kebersamaan dan kedekatan mereka beberapa tahun silam.


Bahkan seperti menghapus ikatan darah di antara mereka.


"Kamu yakin akan mencampakkan Nisa.?!"


"Aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidupmu.!!" Geram Devan.

__ADS_1


Andreas hanya terkekeh. Dia kemudian mengusir Devan dari ruangannya.


__ADS_2