Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 150


__ADS_3

"Sudah Ndre," Nisa mendorong pelan dada Andreas setelah pagutan bibirnya terlepas. Nafas keduanya terdengar memburu tak teratur.


Walaupun hanya bertukar saliva beberapa menit, nyatanya tak bisa di pukiri mampu membangkitkan gairah keduanya. Bedanya Nisa terlihat lebih bisa mengontrol dirinya di banding Andreas hingga tidak terlalu menunjukkan kabut gairah di matanya.


Raut wajah Andreas tampak kecewa lantaran Nisa menyudahi pagutan bibirnya. Belum lagi dengan penolakan yang dia terima.


"Kamu tidak mau berbuat lebih.?" Tanya Andreas dengan menatap lekat kedua wajah Nisa.


"Atau jangan bilang,,,"


"Masih banyak waktu Ndre. Bagaimana kalau nanti Zie mencari kita." Nisa memotong cepat ucapan Andreas.


Andreas yang sedang memikirkan hal menakutkan seketika bisa menghela nafas lega. Tadi Andreas sempat berfikir jika Nisa tidak akan mau lagi melakukan penyatuan dengannya. Mengingat ucapan Nisa saat di Bali yang mengatakan tak mau memiliki anak lagi.


Kalau saja Nisa benar-benar menggunakan cara itu untuk mencegah memiliki anak, sudah bisa dipastikan Andreas tak akan sanggup menahan diri untuk tak menyentuh Nisa.


Bagaimana pun juga dia pria dewasa yang harus dipenuhi kebutuhan biologisnya.


"Aku pikir kamu tidak akan mau melakukannya lagi denganku." Tutur Andreas dengan tatapan memelas dan frustasi.


Nisa sampai menarik sudut bibirnya, merasa lucu dengan pikiran Andreas.


Kalau dia tidak memberikan kebutuhan biologis pada Andreas, sama saja dia berniat untuk menyiksa Andreas.


"Mana mungkin kamu akan diam saja kalau aku memberikan syarat seperti itu." Sahut Nisa.


"Diminta menunggu selama 7 hari saja kamu tidak sanggup." Celetuknya saat tiba-tiba teringat pada Andreas yang dulu sampai memasang wajah frustasi saat mengetahui dirinya tak bisa melakukan penyatuan akibat terhalang palang merah setiap bulannya.


Andreas mengulum senyum, dia merasa bahagia lantaran Nisa masih mengingat semua hal tentangnya dulu.


"Sebenarnya sejak tadi pagi aku sudah tidak sanggup, tapi kita sibuk menghabiskan waktu sebelum kembali ke Batam lagi." Tiba-tiba ada keberanian yang membuat Andreas bisa berkata jujur meski dia sedikit takut dengan reaksi Nisa setelah ini.


"Kamu ini.!" Nisa mencubit pelan lengan Andreas.


"Nanti malam saja, tunggu Zie tidur." Ucap Nisa saraua bangun dari pangkuan Andreas dan bergegas pergi tanpa berani menatap wajah Andreas lantaran malu.


Sementara itu Andreas yang sudah mendapatkan lampu hijau bahkan mendapatkan jadwal terbangnya, di buat senyum-senyum sendiri sembari menatap kepergian Nisa yang mulai hilang dari pandangan.


...*****...

__ADS_1


Sambil menggendong Kenzie yang merengek ingin menghampiri Andreas, Tiara berniat pergi ke kamar Nisa untuk memberikan Kenzie pada Papinya itu. Namun langkahnya di tahan oleh sesesorang yang baru saja masuk ke ruangan itu dengan membawa cemilan dan buah.


"Mau kemana kamu.?" Tanya Aditya datar.


"Zie menangis ingin ke Papinya." Tiara menjawab dan kembali melangkahkan kaki.


"Jangan naik ke atas dulu.!" Cegah Aditya seraya menahan tangan Tiara agar tidak beranjak dari ruang bermain Kenzie.


"Memangnya kenapa.?" Tiara sampai menautkan kedua alisnya lantaran Aditya melarangnya membawa Kenzie kamar orang tuanya.


"Mereka sedang membuat adik untuk Kenzie, jangan sampai kamu menggangunya." Jawab Aditya.


"Apa.?!!" Pekik Tiara yang tampak syok. Dia syok bukan karna jawaban Aditya, tapi dia jadi berfikir kalau Aditya baru saja mengintip atau menguping di depan kamar Nisa sampai laki-laki itu bisa tau kelai Andreas dan Nisa sedang membuat adik untuk Kenzie.


"Bagaimana Kak Adit bisa tau.?" Tiara memberikan tatapan mengintimidasi.


"Jangan bilang Kakak baru saja mengintip." Tuduhan Tiara sontak membuat Aditua menelah kasar udahnya.


Antara geram dan malu mendengar Tiara menuduhnya mengintip ke kamar Nisa.


Padahal tanpa harus mengintip sekalipun, orang yang sudah dewasa sepertinya pasti tau apa yang sedang dilakukan oleh sepasang suami-istri jika tidak kunjung keluar dari dalam kamar.


"Kamu pikir aku sudah gila sampai harus mengintip segala." Sahut Aditya tak terima.


Lagipula apa untungnya mengintip pasangan suami istri yang sedang bercocok tanam. Bukannya membuatnya senang, justru hanya akan membuatnya sengsara karna tak bisa melakukan hal yang sama. Begitulah nasib jomblo.


"Ayo duduk lagi, biar aku yang bujuk Kenzie agar tidak menangis." Aditya menggandeng Tiara ke tempat duduk semula di matras bermain Kenzie.


Setelah berhasil membujuk dan menenangkan Kenzie dengan mengajaknya bermain, bocah tampan itu tidak merengek lagi.


Tapi tak berselang lama, Nisa dan Andreas masuk ke ruang itu. Kedatangan mereka sontak menarik perhatian Aditya dan Tiara. Terutama Tiara, dia menatap keduanya dengan tetapan berbeda akibat perkataan Aditya padanya tentang majikannya yang sedang membuat adik untuk Kenzie.


"Ada apa.? Kenapa kalian menatap seperti itu.?".Andreas menegur dengan suara tegasanya.


Dua orang yang sedang menatap ke arahnya, kompak menggelengkan kepala.


"Tidak ada." Jawab Aditya kemudian.


"Papi,,," Teriakan Kenzie seolah menjadi penyelamat Adtya dari tatapan Andreas yang menelisik. Bosnya itu seperti bisa membaca pikirannya saja. Sedangkan Nisa tampak acuh dan tidak menyadari apapun.

__ADS_1


Andreas bergegas menghampiri putranya dan ikut bermain.


"Ara, tolong bantu siapkan makan malam." Pinta Nisa.


"Baik Bu,," Gadis itu buru-buru beranjak dari duduknya dan mengekori Nisa yang sudah lebih dulu keluar dari ruang bermain Kenzie.


Di dalam ruangan itu kini hanya tinggal 3 orang laki-laki. Andreas dengan antusias menemani putranya bermain. Keduanya tak jarang terkekeh bersama hingga membuat Aditya ikut merasakan kebahagiaan dari raut wajah merka berdua.


Aditya menilai Andreas sebagai ayah yang sangat luar biasa. Dia terlihat begitu menyayangi dan memprioritaskan Kenzie.


"Saya ikut senang akhirnya Anda bisa berkumpul dengan Nona Nisa dan putra kalian." Ucap Aditya. Dia merasa bebannya berkurang setelah melihat Andreas bisa kembali bersama dengan wanita yang sangat di cintai oleh bosnya itu.


Wanita yang namanya memenuhi hati Andreas selama 3 tahun berada di Amerika. Begitu juga dengan foto wanita cantik itu yang setiap hari bertengger di meja kerjanya.


"Terimakasih Ditya." ucap Andreas seraya menepuk pundak asisten pribadinya. Andreas merasa bahwa kebahagiaannya saat ini tak lepas dari campur tangan Aditya yang sudah setia berada di sampingnya dan mau melakukan apapun untuknya.


Bahkan Aditya setia mendampinginya saat sakit 1 minggu lalu.


"Aku berhutang banyak padamu. Semua ini juga berkat bantuanmu." Tutur Andreas lagi.


Namun ungkapan Andreas di salah artikan oleh Aditya. Laki-laki itu berfikir kalau Andreas sudah mengetahui tentang minuman pembawa nik mat itu sengaja di kirim olehnya.


"Jadi Anda sudah tau kalau aku yang mengirimkan minum itu.?"


"Untung saja minuman itu tidak menimbulkan masalah." Tutur Aditya yang kini semakin membuatnya bertambah lega. Karna dia tidak perlu lagi membunyikan apapun lagi dan Andreas.


Mata Andreas melotot tajam setelah mencerna ucapan asistennya. Rupanya Aditya biang kerok atas datangnya minuman laknat yang tidak mereka pesan itu.


"Jadi kamu pelakunya.?!" Seru Andreas. Dia hampir saja memukulkan mobil-mobilan di tangannya pada lengan Aditya, namun seketika mengurungkan niat begitu melihat wajah Kenzie. Dia tdak mau membuat Kenzie mencontoh perbuatannya.


"Kita harus bicara berdua nanti.!" Tegas Andreas pada aasistennya itu. Dia ingin meminta pejelasan pada Aditya kenapa bisa berfikir untuk mengirim minuman itu ke kamarnya.


Dan kalau bisa, dia juga ingin meminta Aditya membeli obat itu lagi karna sepertinya dia akan membutuhkan obat itu jika Nisa masih terus menghindar darinya.


Tidak ada salahnya sedikit berbuat licik untuk perdamaian dan keharmonisan hubungan dia dengan Nisa agar bisa kembali seperti dulu.


"A,aappa Anda marah.? Tapi kenapa Anda senyum-senyum begitu.?" Tanya Aditya gugup.


Seketika Andreas kembali memasang wajah datarnya.

__ADS_1


"Bukan urusanmu." Sahut Andreas ketus.


__ADS_2