
"Nona baik-baik saja.?" Supir taksi itu langsung menepikan mobilnya. Dia menoleh kebelakang, memastikan penumpangnya baik-baik saja setelah di perhatikan terus memegangi kepalanya beberapa saat.
"Kepala saya sakit,," Dengan suara yang tercekat, dia berusaha tetap sadar meski rasanya sudah tidak sanggup lagi menahan sakit kepalanya. Pandangan mata saja sudah mulai kabur. Dia tidak bisa melihat dengan jelas.
"Sebaiknya saya antar Nona ke rumah sakit," Supir itu langsung mengambil tindakan, dia tidak mau mengambil resiko dengan mengantarkan penumpangnya dalam keadaan sakit.
Terlebih wajah penumpangnya semakin terlihat pucat.
Belum sempat melajukan kembali mobilnya, penumpang wanita yang duduk jok belakang itu tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"Nona,,?!! Nona.?!! Anda baik-baik saja.?!!" Supir taksi itu panik. Dia langsung turun dan membuka pintu belakang untuk memastikan penumpangnya masih hidup.
"Syukurlah,," Dia bernafas lega, denyut nadi dan nafasnya masih ada. Penumpangnya itu hanya pingsan.
Dia bergegas masuk kembali ke dalam mobil, tak ada pilihan lagi selain membawanya ke rumah sakit agar penumpangnya mendapatkan pertolongan pertama.
Masalah dimana dan siapa keluarganya, dia akan menyerahkan pada pihak rumah sakit agar pihak rumah sakit yang menghubungi keluarga penumpangnya itu.
...****...
"Astaga,, kenapa aku bisa sampai lupa menanyakan jadwal meeting,," Mella menepuk keningnya. Besok dia dan Nisa ada meeting dengan klien, dan klien itu baru saja menanyakan jam berapa Nisa dan Mella bisa datang ke kantornya.
Mella juga tidak bisa menentukan jamnya tanpa meminta persetujuan dari Nisa.
Meriah ponsel di atas meja, Mella langsung menghubungi nomer telfon Nisa.
"Hallo Nis,, klien minta jadwal meeting besok." Ujar Mella begitu sambungan telfonnya terhubung.
"Kira-kira kamu bisa jalan jam berapa.?"
Dia berbicara hampir tanpa jeda, bahkan Nisa saja belum mengatakan apapun di seberang sana.
"Maaf mba, pemilik ponsel ini pingsan saat di perjalanan. Sekarang dia sedang berada di rumah sakit."
Mella seketika syok. Dia hampir tak bisa berkata-kata. Pikirannya kacau, takut terjadi sesuatu dengan keadaan Nisa saat ini.
Padahal Nisa tampak baik-baik saja saat pamit dari ruko sekitar 25 menit yang lalu.
__ADS_1
Penerima telfon itu memberitahu Mella di rumah sakit mana Nisa di rawat.
Tanpa pikir panjang, Mella buru-buru pergi ke rumah sakit. Dia harus memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.
...****...
"Bagaimana keadaan teman saya Dok.?" Mella langsung menodong pertanyaan pada dokter yang barus saja keluar dari ruangan Nisa.
Dokter laki-laki yang di perkirakan berusia 36 tahun itu memperhatikan Mella dari ujung kaki sampai kepala. Keningnya berkerut, tatapan matanya menajam. Dia seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
Cukup lama terdiam, sampai Mella kembali menegurnya.
"Dok.?? Teman saya baik-baik saja kan.?" Mella reflek menyentuh lengan si Dokter. Dia terlalu panik dan ingin tau kepastian kondisi Nisa saat ini.
"Silahkan ikut saya." Ajak si Dokter dengan suara datar. Dia kemudian berjalan mendahului Mella, membuat Mella bergegas mengikuti langkah Dokter itu yang masuk ke dalam salah satu ruangan.
Mella masuk begitu saja ke dalam ruangan itu. Pintu ruangannya segera di tutup oleh sang Dokter yang kemudian mempersilahkan Mella untuk duduk di depan mejanya.
"Jadi dia teman kamu.?" Tanya si dokter. Dia membuka berkas yang sejak tadi ada di tangannya saat keluar dari ruangan Nisa.
Mella menjawabnya dengan anggukan.
Mella sontak mengerutkan keningnya. Dia merasa pertanyaan kedua dari dokter itu sedikit melenceng. Jarang sekali seseorang yang sedang sakit di berikan pertanyaan seperti itu ketika di bawa ke rumah sakit.
"Memangnya kenapa.? Dokter suka sama teman saya.?" Tanya Mella spontan.
Karna Nisa sangat cantik, Mella jadi berfikir kalau dokter itu tertarik dengan Nisa dan ingin mengetahui statusnya.
Dokter itu tersenyum simpul, senyumnya mampu membuat Mella tak berkedip untuk beberapa saat. Dia baru sadar kalau Dokter yang sejak tadi dia ajak bicara itu memiliki wajah yang menawan. Apalagi saat sedang tersenyum seperti itu.
"Mana mungkin saya suka sama teman kamu." Nada bicara Dokter itu terkesan merendahkan.
Mella tampak tidak nyaman dengan nada bicara dan ekspresi wajah si Dokter.
"Baguslah kalau Dokter tidak suka. Lagipula teman saya sudah memiliki suami. Suaminya bahkan lebih tampan dan kaya dari anda karna suami teman saya CEO perusahaan besar." Mella sedikit sewot menjawabnya. Dia tidak terima Nisa mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Oh ya.? Saya pikir temanmu hamil dengan pelanggannya." Ujar sang Dokter yang tampak tidak yakin dengan penuturan Mella.
__ADS_1
"Apa maksud Dokter.? Pelanggan apa.?" Mella mengerutkan kening.
Bukannya mendapatkan keterangan tentang kondisi Nisa, dia malah di buat kesal dengan si Dokter yang lebih banyak basa-basi.
"Bukankah dia sejenis dengan kamu yang menjajakan diri.?" Nada bicaranya tenang dan pelan, tapi terdengar sangat menusuk di hati dan telinga Mella.
Dia langsung menatap lekat wajah laki-laki di depannya. Dokter itu bisa tau tentang indentitasnya. Jika bukan salah satu pengunjung karaoke tempatnya bekerja, kemungkinan dokter itu pernah tidur dengannya.
"Teman saya tidak seperti itu, dia wanita baik-baik.!"
"Anda akan menyesal karna sudah menilai buruk teman saya.!"
"Tolong katakan saja kondisi teman saya, saya tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama disini.!" Ketus Mella.
Dia tak lagi bicara ramah dan sopan pada Dokter itu. Meski belum bisa mengingat siapa sosok yang ada di hadapannya saat ini, namun Mella tak mau memperpanjang obrolannya. Lagipula sudah menjadi masa lalu, dia tak lagi menjajakan diri seperti yang di katakan oleh Dokter yang kini diketahui bernama Angga Pratama.
Mella membaca name tag yang ada di atas meja itu.
...****...
Mella keluar dari ruangan dengan perasaan yang campur aduk. Semua perasaan melebur menjadi satu. Bahagia, sedih, bingung, marah, kecewa, dan masih banyak lagi perasaan yang sulit untuk dia ungkapan dengan kata-kata.
Bergegas masuk ke dalam ruangan Nisa, Mella baru bisa tersenyum saat melihat sahabatnya itu sudah sadarkan diri.
"Mel,, bagaimana kamu bisa tau kalau aku disini.?" Nisa terlihat senang melihat kedatangan Mella, tapi dia juga bingung karna tiba-tiba sahabatnya itu ada di sana.
"Syukurlah kamu baik-baik saja,," Mella menghampiri Nisa, berdiri di sisi ranjangnya.
"Ini tas kamu, ponselnya juga ada di dalam. Siapa tau kamu mau telfon Andreas." Ujarnya seraya menyodorkan tas milik Nisa.
"Aku tadi telfon kamu, tapi malah bukan kamu yang terima telfon."
"Untung saja supir itu langsung bawa kamu ke rumah sakit." Tuturnya.
Senyum di bibir Nisa semakin lama semakin merekah. Dia sedang di selimuti kebahagiaan karna baru saja mendapatkan kabar bahagia dari salah satu suster yang merawatnya.
"Aku hamil Mell,," Ucap Nisa. Mata berbinar, dia berharap banyak pada kehamilannya.
__ADS_1
Berharap rumah tangannya bersama Andreas akan semakin bahagia setelah kehadiran buah cinta mereka yang masih berada di dalam kandungan.