
"Kenzie sayang,," Andreas memanggil lirih putra tampannya seraya memberikan usapan di pucuk kepala.
Dengan tatapan penuh arti, Andreas ingin mengutarakan apa yang baru saja terlintas dalam pikirannya.
Jika Mominya sulit untuk di dekati kembali, maka masih ada cara lain untuk mendekatinya melalui Kenzie, putra mereka. Melihat bagaimana Nisa begitu mencintai putra mereka dan berusaha mengesampingkan ego demi kebahagiaan putranya, Andreas yakin Nisa tak akan menolak apapun permintaan Kenzie.
Bocah polos berusia 2 tahun itu menoleh, menghentikan aktifitasnya yang tengah memainkan mobil-mobilan.
Andreas dia sesaat, menatap lekat wajah putranya yang begitu polos. Sedikit ragu, apa mungkin dia bisa mendekati Nisa lewat Kenzie sedangkan putranya itu masih sangat kecil dan belum bisa di ajak kerja sama.
Lalu bagaimana caranya dia bicara pada putranya mengenai keinginannya untuk bisa bersatu kembali dengan Nisa dan hidup bahagia bersama.
"Apa Zie senang main sama Papi.?" Tanya Andreas. Mengajak kerja sama dengan putranya sendiri yang masih balita memang harus dari hati ke hati, tidak bisa langsung mengutarakan tujuannya begitu saja karna Kenzie tak akan mengerti.
Dengan mata yang berbinar, Kenzie mengangguk dengan cepat. Bayi yang sejak lahir tak pernah mengenal sosok seorang ayah itu, tentu merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya sejak kemunculan Andreas.
Meski Zie belum tau apa arti sosok ayah yang sebenarnya.
Bagaimanapun darah selalu lebih kental dari air. Keznie bisa merasakan ikatan seorang anak dan ayah kandungnya.
__ADS_1
Walaupun sejak kecil dia dekat dengan Brian, namun kedekatan itu berbeda ketika bersama Andreas.
Karna cinta dan kasih sayang seorang ayah pada anaknya akan jauh lebih tulus di banding dengan orang lain.
"Zie mau sama Papi,," Tiba-tiba Zie mendekat dan duduk di pangkuan Andreas. Sesaat setelah mereka saling menatap.
Andreas mengulas senyum lebar, sikap Zie yang mudah menempel padanya seperti menjadi senjata ampuh untuk tetap bisa berada di samping Nisa. Setidaknya dia akan punya peluang besar untuk memperbaiki hubungan dengan Nisa dan menebus semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada istri dan anaknya.
"Kalau begitu Papi akan tidur di sini sama Zie.? Apa Zie setuju.?" Tanya Andreas.
Sedikit licik memang. Andreas bahkan merasa bersalah karna jadi memanfaatkan putranya agar bisa bersatu kembali menjadi keluarga yang utuh dan bahagia.
"Mau,, Zie mau tidur sama Papi." Jawabnya seraya memeluk tubuh besar sang Papi.
"Kalau begitu, Zie harus bilang sama Momi kalau Zie mau tidur sama Papi." Ujar Andreas. Lagi-lagi Zie memberikan anggukan kepala. Dan sesaat kemudian langsung turun dari pangkuan Andreas.
"Zie mau kemana.?" Andreas bingung melihat putranya yang tiba-tiba berjalan cepat ke arah pintu.
"Mau bilang sama Momi, Zie mau tidur sama Papi." Jawaban polos dari mulut putranya mengundang gelak tawa Andreas. Antara senang dan gemas dengan kepolosan Kenzie.
__ADS_1
"Tidak sayang, nanti saja kalau Momi datang kesini." Kata Andreas masih dengan menahan tawa. Dia berdiri dan bergegas menghampiri putranya dan mengendongnya.
"Anak Papi lucu sekali." Ucapnya sembari mendaratkan kecupan di pipi Kenzie.
Zie yang melihat Andreas masih mengulum tawa, terlihat ikut tertawa meski tidak tau apa yang dia tertawakan. Bocah tampan itu hanya menirukan tawa Papinya.
Tertegun, Andreas tak bisa berkata-kata saat ini. Tawa ceria Kenzie membuat hatinya meleleh.
Ada kebahagiaan dan perasaan yang tak bisa di gambarkan dengan kata. Kebahagiaan yang hanya dia rasakan ketika menatap wajah dan melihat putranya tertawa.
"Apa yang kalian tertawakan.?" Suara Nisa membuat keduanya menoleh bersamaan.
Bukannya menjawab, keduanya malah asik tertawa lagi dan mengabaikan pertanyaan Nisa.
...****...
up dikit, buat ngobatin rindu๐.
seharian sibuk.
__ADS_1
novel "Meluluhkan hati CEO kejam" gak up hari ini ๐๐ป