
Meski Andreas sudah melarang Nisa untuk tidak menunggunya pulang, tapi malam ini Nisa kembali ingin menunggu Andreas sampai suaminya itu pulang.
Dengan menunjukkan hal-hal kecil seperti itu, Nisa pikir akan membuat Andreas semakin tertarik dan jatuh cinta padanya.
Karna jujur saja Nisa belum merasakan bahwa Andreas benar-benar mencintainya. Namun dia merasa kalau Andreas memang tulus padanya.
Seperti biasa, Nisa menunggu di ruang tamu. Kali ini sembari memainkan ponselnya untuk belajar lagi tentang bisnis yang akan dia jalani bersama Mella.
Lama menunggu hingga jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Andreas belum juga kembali.
Nisa bahkan sudah menguap berkali-kali dan akhirnya memutuskan untuk merebahkan diri di sofa panjang itu sambil memainkan ponselnya.
...****...
"Gue cabut,,!" Andreas beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan meja yang tadi dia tempati bersama 3 teman laki-lakinya.
"Buru-buru amat bro.! Nggak jadi main nihh.?!!" Teriak salah satu dari mereka karna tiba-tiba Andreas pergi begitu saja setelah salah satu dari mereka baru saja membayar 4 wanita untuk menemani mereka.
"Nggak punya waktu.!" Jawab Andreas tanpa menoleh lagi pada mereka dan meninggalkan tempat hiburan malam itu.
"Lu lupa kalau Andreas udah nikah.? Sudah pasti dia nggak butuh wanita-wanita disini lagi. Istrinya justru lebih menggoda,," Celetuk teman yang satunya lagi, lalu terkekeh.
"Sialan, bener juga lu.!" Sahutnya.
"Ah palingan juga balik ke habitatnya kalau udah bosen sama yang di rumah.!"
Mereka terus membicarakan Andreas sampai akhirnya wanita-wanita itu datang dan membuat mulut ketiganya tak bersuara lagi, sedangkan tangan dan mulut berkelana kemana-mana.
Sampainya di apartment, Andreas segera membuka pintu. Hal pertama yang dia lihat adalah Nisa. Wanita itu tengah tertidur pulas di sofa dalam keadaan meringkuk dan tangan yang memegang ponsel.
Setelah menutup dan mengunci pintu, Andreas berjalan menghampiri wanita cantik yang sedang tertidur itu. Berdiri depannya, menatap Nisa dengan tatapan datar. Cukup lama diam di sana tanpa mengatakan atau melakukan apapun, Andreas lalu membungkuk untuk mengangkat tubuh Nisa dan memindahkannya ke kamar.
__ADS_1
Membaringkannya di ranjang, lalu menyelimuti tubuhnya.
"Keras kepala sekali," Gumam Andreas lirih.
Dia sudah menyuruh Nisa untuk tidak menunggunya, tapi wanita itu tetap saja menunggu bahkan sampai ketiduran di ruang tamu.
Andreas beranjak ke kamar mandi, dia membersihkan diri, mengganti baju dan ikut berbaring di samping Nisa.
Menatap sekilas wajah cantik itu sebelum akhirnya memejamkan mata dan tertidur.
...****...
Nisa keluar dari kamar setelah mencuci wajah dan membersihkan diri. Rambut panjangnya hanya di gulung dan di ikat asal ke atas.
Sebenarnya dia bingung saat bangun dalam keadaan sudah di atas ranjang. Karna dia ingat kalau semalam masih menunggu Andreas pulang di ruang tamu.
Dan saat bangun, tidak ada Andreas di kamar itu.
"Andreas,,, kamu dimana.??!" Nisa setengah berteriak memanggil suaminya itu. Mengedarkan pandangan kesemua sudut ruangan untuk mencari keberadaannya.
Yang ada, Nisa malam melihat beberapa makan tertata rapi di atas meja makan. Makanan yang di pesan dari salah satu restoran di lantai bawah.
Terlihat dari box bekas makanan yang ada di atas meja.
"Apa di ruang kerjanya.?" Tebak Nisa dan dia bergegas menuju ke ruang kerja Andreas yang terletak di sudut apartemen dengan posisi sedikit tersembunyi.
"Andreas,, kamu di dalam.?!" Nisa mengetuk pintu.
"Apa aku boleh masuk.?!"
Beberapa kali mengetuk pintu dan berteriak, Andreas tak kunjung menjawabnya.
__ADS_1
Nisa yang penasaran, mencoba membuka pintu dengan perlahan. Dia pikir Andreas mengunci pintunya, ternyata pintu itu dengan mudahnya terbuka.
Nisa terdiam, mengamati ruang kerja Andreas yang dipenuhi oleh rak dengan banyaknya buku serta dokumen yang berjejer rapi di sana.
Di sudut ruangan ada kursi dan meja dengan komputer dan laptop di atasnya.
Sedangkan di tengah-tengah ruangan ada 2 sofa panjang, 1 sofa single dan meja.
Nisa menutup pintu, berjalan masuk untuk mencari Andreas yang mungkin saja sedang berada di balik salah satu rak di sana.
"Anisa,, Apa yang kamu lakukan disini.?" Suara berat Andreas seketika mengagetkan Nisa. Dia langsung berbalik badan, bingung melihat Andreas yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. Dan entah datang dari mana. Sedangkan Nisa tak mendengar Andreas membuka atau menutup pintu.
"Aa,,aandreas aaku,, maaf aku masuk tanpa ijin,," Ucap Nisa gugup. Apalagi melihat tatapan mata Andreas yang tajam.
"Aku cari kamu. Aku pikir kamu ada di sini,,"
Nisa menundukkan pandangan, dia tidak berani berlama-lama menatap mata tajam Andreas.
Melihat kaki Andreas melangkah maju, Nisa reflek mundur. Entah kenapa dia merasa Andreas sedang marah padanya karna tanpa ijin masuk ke dalam ruang kerja itu.
"Andreas,,, a,aaku nggak bermaksud lancang." Ucapnya terbata. Dia takut Andreas akan berfikir buruk padanya lantaran di dalam ruang kerja ini pasti banyak dokumen penting milik perusahaan.
"Kamu kenapa hemm..?" Andreas merangkul pinggang Nisa, menariknya pelan hingga tubuh Nisa menempel padanya.
"Santai saja,, kamu bebas masuk keruangan manapun yang ada di apartemen ini." Ucapnya lembut. Andreas tentu saja melihat kegugupan yang di rasakan oleh Nisa. Itu sebabnya bicara seperti itu untuk menangkannya.
"Aku benar-benar minta maaf."
Nisa bisa bernafas lega saat mengetahui Andreas tidak marah padanya.
"Sudah aku bilang, santai saja." Andreas mengusap lembut sebelah pipi Nisa sembari tersenyum.
__ADS_1
"Ayo sarapan, aku sudah memesan makanan." Andreas mengubah posisi dengan berdiri di samping Nisa, merangkul pundak Nisa dan mengajaknya keluar dari sana.
Begitu keluar, Andreas mengunci pintu menggunakan kode akses yang ada di sana.