Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 52


__ADS_3

"Bagaimana kalau ada yang masuk.?" Tanya Nisa cemas. Mau di taruh dimana wajahnya jika salah satu karyawan Andreas memergokinya sedang bermesraan di kantor.


"Asistenku ada di depan. Aku sudah menyuruhnya untuk tidak mengijinkan orang lain masuk."


Setelah menjawab kecemasan Nisa, Andreas kembali melancarkan aksinya yang sempat tertunda. Dia langsung menyambar bibir Nisa tanpa permisi. Menye -sap dan melu -matnya tanpa jeda hingga nafasnya mulai memburu. Serta kedua tangannya yang sudah menjalar ke mana-mana, memberikan rangsangan untuk memancing gairah Nisa.


"Ndree,," Nisa menahan tangan Andreas yang hampir saja melepaskan kancing dress bagian depan.


"Kita lanjutkan nanti saja di rumah. Aku tidak mau berbuat macam-macam disini." Tutur Nisa cemas. Sekalipun Andreas sudah meyakinkan Nisa bahwa tidak ada satupun yang akan masuk ke dalam ruangannya, hal itu tak membuat Nisa berani berbuat lebih dari sekedar bertukar saliva.


Karna jika Andreas sudah memainkan kedua aset kembarnya, maka laki-laki itu benar-benar menginginkannya saat itu juga.


"Sebentar saja sayang, aku tidak tahan lagi,," Pinta Andreas dengan tatapan memohon dan memelas. Dia melanjutkan kegiatannya untuk membuka kancing bagian tubuh Nisa. Tentu tanpa bisa dicegah lagi oleh Nisa.


Kini Nisa terlihat lebih pasrah. Lagipula tak bisa menolak permintaan Andreas melihat raut wajah Andreas yang sudah berkabut gairah.


Tak mau memusingkan hal lain, Nisa berusaha mengimbangi permainan Andreas. Dia tidak mau menjadi pemain yang pasif hingga tak meninggalkan kenangan yang berkesan di ingatan Andreas. Nisa membuang rasa malunya agar bisa seagresif mungkin saat bersama Andreas.


Tak peduli Andreas mau menilainya seperti apa. Yang jelas Nisa ingin mencapai tujuannya untuk memikat hati dan pikiran Andreas supaya hanya teringat padanya saja.


Nisa mengubah posisi, dia masih duduk di pangkuan Andreas namun saling berhadapan.


Jemari lentiknya melepaskan dasi milik Andreas, melemparnya asal dan mulai membuka satu persatu kancing kemeja Andreas. Nisa memberanikan diri menjelajahi leher Andreas sambil terus melepaskan kancing kemeja hingga bawah.


Andreas mengukir senyum dengan tangan yang menggerayangi punggung Nisa.

__ADS_1


Siapa yang tidak senang melihat Nisa jauh lebih agresif di banding sebelumya. Membuat Andreas semakin bersemangat dan terbakar gairah.


Seluruh kancing kemeja Andreas sudah di buka. Nisa menyingkap kemeja itu hingga bagian depan Andreas terlihat sempurna. Jemari tangannya sengaja dia mainkan pada dada bidang yang berotot itu. Semakin turun ke bawah, mengusap roti sobek Andreas yang menggiurkan. Lalu semakin turun hingga hampir menyentuh aset Andreas.


"Sekarang baby,," Bisik Andreas dengan suara beratnya yang serat. Dia sudah tidak tahan lagi setelah melewati pemanasan yang menggairahkan.


Andreas menurunkan Nisa dari pangkuannya, lalu berdiri untuk melepaskan ikat pinggang dan menurunkan celananya.


Sementara itu, Nisa sudah melepaskan kain di bawah sana tanpa melepaskan dressnya. Dia kemudian naik kembali di atas pangkuan Andreas sesuai arahan suaminya itu.


"Sakit Andreas,,!" Nisa mencengkram bahu Andreas. Dia juga menopang tubuhnya dengan kedua lutut yang bertumpu pada sofa, agar tidak duduk sepenuhnya di pangkuan Andreas di saat sebagian benda itu masuk ke dalam.


"Kalau begitu tetap diam pada posisimu." Andreas memberi arahan agar Nisa tetap diam dalam posisinya yang masih menopang tubuhnya.


Setelah Nisa mengangguk, Andreas mulai menggerakkan panggulnya ke atas dan bawah untuk membuat Nisa lebih terang -sang.


"Turunkan pelan-pelan." Pinta Andreas. Nisa mengangguk patuh dan mulai menurunkan tubuhnya untuk membuatnya semakin masuk lebih dalam.


...****...


Devan turun dari mobil. Dia merapikan dasi dan jasnya lebih dulu sebelum melangkah untuk memasuki perusahaan yang di kelola oleh Andreas.


Sesuai yang di janjikan oleh Andreas, Devan membawa data dan laporan mengenai perusahaan asing yang menawarkan bantuan pada perusahaan sang Papa.


Data yang di minta oleh Andreas itu yang akan menjadi bahan penyelidikan tentang seperti apa perusahaan asing itu.

__ADS_1


Tanpa di dampingi siapapun, Devan masuk ke dalam gedung perkantoran itu seorang diri.


Dia menyuruh supir pribadinya untuk menunggu di bawah.


Sama halnya seperti Andreas yang disegani dan di hormati oleh karyawan di perusahaan itu. Devan pun di perlakuan sama. Mereka menghormati Devan sebagai kakak Andreas.


Sampainya di lantai ruang kerja Andreas, Devan menghampiri asisten Andreas yang tengah duduk di meja kerjanya, tak jauh dari ruangan Andreas.


Asisten Andreas langsung berdiri saat melihat Devan berjalan mendekat ke arahnya.


"Selamat siang Tuan Devan." Sapanya lalu membungkuk hormat.


"Siang." Devan menjawab singkat.


"Apa Andreas ada di dalam.?" Tanyanya.


"Tuan Andreas ada di dalam bersama istrinya. Tapi beliau melarang siapapun masuk ke dalam." Asisten Andreas terlihat tidak enak memberikan jawaban seperti itu pada Devan. Pasalnya Devan juga bagian dari keluarga bosnya.


"Istrinya.? Andreas datang bersama istrinya.?" Cecar Devan. Seketika merasakan amarah yang tiba-tiba muncul. Pikirannya juga melayang ke mana-mana karna mereka hanya berdua di dalam ruangan itu, bahkan Andreas melarang siapapun untuk masuk.


Meski Devan sadar jika keduanya bebas melakukan apapun karna status pernikahan mereka, tapi setelah mengetahui niat buruk Andreas terhadap Nisa, Devan tidak terima membayangkan Nisa di sentuh dan di tiduri oleh Andreas setelah itu akan di buat menderita.


"Sial.!!" Umpat Devan. Dia berjalan cepat arah pintu yang langsung di susul oleh asisten Andreas. Dia panik melihat Devan yang sepertinya akan memaksa masuk ke dalam.


"Maaf Tuan, saya tidak maksud melarang. Tapi ini perintah dari Tuan Andreas." Asisten itu menghalangi jalan Devan, namun segera di singkirkan oleh Devan.

__ADS_1


Dengan cepat Devan membuka pintu ruangan Andreas. Seketika Devan tertegun. Nafasnya memburu lantaran menahan amarah.


Tanpa sadar dia mengepalkan kedua tangannya melihat pemandangan di dalam sana.


__ADS_2