Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 142


__ADS_3

Masih berada di atas ranjang dan di bawah selimut yang sama, keduanya terlihat sama-sama canggung. Nisa membuat jarak, dia juga tak berani menoleh kesisi kiri. Rasa malu menyelimuti, bahkan di tak habis pikir kenapa bisa melakukan hal seperti itu dengan Andreas. Belum lagi saat mengingat tingkahnya sendiri yang sangat agresif, membuat Nisa seakan kehilangan wajah di depan Andreas. Dia tidak bisa membayangkan apa yang Andreas pikirkan tentangnya saat ini. Di tengah-tengah proses gugatan cerai yang dia layangkan pada Andreas, tapi dia sendiri yang akhirnya meminta Andreas untuk menyentuhnya.


Berbeda dengan reaksi Nisa yang merasa sangat malu. hal berbeda justru di rasakan oleh Andreas. Sejak tadi hatinya di selimuti kegelisahan. Dia mengkhawatirkan perasaan Nisa padanya saat ini.


Seharusnya hal itu tidak terjadi di antara mereka. Andreas merasa menyesal karna tak bisa menahan diri dan tak bisa menolak keinginan Nisa yang sedang dalam pengaruh obat.


"Apa kamu marah padaku.?" Andreas menatap nanar wanita cantik yang berbaring memunggunginya. Wanita yang tak mau menatapnya setelah melakukan percintaan kedua kalinya.


"Tidak,," Nisa menjawab cepat dengan suara lirih.


Sepertinya memang tidak ada alasan bagi Nisa untuk marah pada Andreas atas apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Karna hal itu terjadi atas keinginannya sendiri.


"Syukurlah. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri seandainya kamu marah padaku." Andreas bisa bernafas lega. Setidaknya beban pikirannya tidak bertambah.


"Sebaiknya kamu tidur di sini saja, biar aku yang menemani Kenzie." Andreas menyingkap selimut, dia mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai untuk dia pakai lagi.


"Iya, terimakasih Ndre,," Ucap Nisa tulus. Tapi dia belum berani menunjukkan wajahnya di depan Andreas lantaran malu untuk menatapnya.


Setelah mendengar pintu di tutup, Nisa langsung menunjukkan wajahnya yang masih merona.


Dia bergegas memunguti pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Percintaan yang baru saja terjadi itu tiba-tiba melintas dalam benaknya, seketika membuat pikiran melayang.


Sentuhan demi sentuhan kembali terasa seolah begitu nyata. Nisa sampai menggigit bibir bawah. Menahan gelayar kenikmatan yang masih begitu terasa.


Namun sesaat dia segera menipis pikiran itu, sadar bahwa kejadian itu adalah sebuah kesalahan. Percuma dia menutup hati untuk Andreas kalau pada akhirnya apa yang baru saja terjadi membuatnya dilema.


Keluar dari kamar mandi, Nisa melihat jam yang menunjukan pukul 10 malam. Dia berfikir untuk keluar dari hotel dan pergi ke apotik. Keadaan di Bali cukup ramai, jadi tak masalah meskipun dia keluar pukul 10 malam.


Nisa lebih dulu masuk ke kamar sebelah, dia harus mengambil tas dan ponsel miliknya di sana.


Saat masuk, Andreas tampak sedang berbaring memeluk putra mereka yang masih tertidur.


"Aku mau mengambil ponselku." Lirih Nisa saat Andreas melihat ke arahnya.

__ADS_1


Mereka hanya saling menatap sekilas. Terlihat jelas kalau keduanya masih merasa malu dan canggung.


"Mau kemana.?" Andreas sedikit curiga saat Nisa mengambil tas dan juga cardigan.


Karna tidak mungkin Nisa memakai cardigan untuk tidur.


"Aku ingin duduk di balkon." Jawabnya bohong. Kemudian buru-buru keluar karna takut Andreas akan bertanya lebih detail padanya.


Keluar dari kamar hotel, Nisa mencari apotik terdekat melalui ponselnya. Jalan buru-buru di koridor, dia tak memperhatikan jalanan di depannya hingga tanpa sadar menabrak seseorang yang baru saja keluar dari salah satu kamar.


Ponsel di tangannya hampir saja terjatuh, Nisa juga harus mengembangkan badannya karna hampir terhuyung ke belakang.


"Maaf,, aku tidak,," Seketika Nisa menghentikan ucapannya setelah melihat siapa sosok yang dia tabrak.


"Bri.? Kamu disini juga.?" Nisa sedikit terkejut mengetahui Brian juga menginap di hotel yang sama dengannya.


"Hmm." Brian mengangguk.


"Kenapa buru-buru.? Mau kemana.?" Brian tampak penasaran.


"Keluar sendiri jam segini.?" Ekspresi wajah Brian menunjukkan cemasan. Walaupun di luar cukup ramai, tapi akan berbahaya kalau wanita secantik Nisa keluar sendirian malam-malam seperti ini. Tentu saja sebagai orang yang masih menaruh hati pada Nisa, Brian mengkhawatirkan wanita itu. Dia tak ingin hal buruk terjadi pada Nisa.


"Di luar masih banyak orang Bri." Nisa tampak santai karna merasa aman-aman saja untuk keluar sendirian.


"Tapi tetap saja kamu tidak bisa pergi sendirian. Biar aku antar, kebetulan aku juga mau keluar." Brian menggandeng tangan Nisa dan memaksa untuk mengantar Nisa meskipun wanita itu sudah menolak untuk di antar.


Sementara itu Andreas kembali menutup pintu dengan helaan nafas berat. Dia baru saja menatap kepergian Nisa dan Brian yang bergandengan dengan tatapan nanar.


Rasa sesak dan sakit di dada begitu mencekat. Nyatanya dia belum sanggup melihat Nisa bersama laki-laki lain. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk mencegah perceraian itu terjadi.


Sepertinya memang tidak akan ada kesempatan kedua untuk laki-laki pengecut sepertinya.


"Aku sendiri yang membuat hidup ini tidak berarti." Andreas meneteskan air mata. Pandangan matanya kosong, dia tampak begitu frustasi memikirkan hubungannya dengan Nisa yang tak bisa di selamatkan.


Hidup tersiksa dalam penyesalan selama 3 tahun, itu yang membuat Andreas merasa bahwa hidupnya tidak berarti.

__ADS_1


Kata maaf terasa percuma, keinginan untuk memperbaiki diri dan menebus semua kesalahan pun tak ada gunanya kalau pada akhirnya Nisa tetap memilih berpisah.


Kesempatan itu datang padanya hanya untuk menebus kesalahan pada putranya.


Sedangkan pada Nisa, apapun yang dia lakukan tak akan bisa menebus kesalahannya.


...*****...


Nisa bangun lebih awal. Dia pergi ruang tidur sebelah untuk membangunkan Andreas dan Kenzie karna pagi ini mereka akan kembali ke pantai sebelum pulang ke Batam nanti sore.


Membuka pintu perlahan, Nisa mengukir senyum tipis melihat Andreas dan Kenzie tidur dalam posisi serta ekspresi wajah yang sama.


Dia berdiri di sisi ranjang, menatap keduanya dengan perasaan yang berkecambuk.


Entah bagaimana dia sanggup untuk memisahkan mereka kembali.


Sejujurnya dia juga merasa bersalah pada Andreas karna saat itu tidak mengatakan yang sebenarnya tentang kehadiran Kenzie.


Amarah dan kecewa membuatnya lupa bahwa Andreas juga berhak tau akan kehadiran Kenzie meski Andreas telah menyakiti hatinya.


"Bangun Ndre,," Nisa menggoncang pelan lengan Andreas. Pria itu langsung menggeliat dan perlahan membuka mata.


"Bukankah kita mau ke pantai lagi pagi ini." Ucap Nisa saat tak ada respon dari Andreas lantaran pria itu hanya diam menatapnya.


Menjawab dengan anggukan, Andreas lalu beranjak dari ranjang.


"Aku siap-siap dulu." Ucap Andreas yang mentap pada putranya dan mendaratkan kecupan di kening, setelah itu bergegas keluar dari sana untuk bersiap di ruang tidurnya karna semua baju dan barang miliknya ada di sana.


Nisa menatap pintu yang baru saja di tutup oleh Andreas. Entah kenapa dia merasa ada berubah dengan tatapan dan sikap Andreas. Namun Nisa berfikir bahwa perubahan sikap Andreas karna kejadian tak terduga tadi malam.


...*****...


Andreas berhenti di depan nakas. Dia memperhatikan tablet obat yang tergeletak di sana. 2 pil sudah hilang dari tempatnya.


Tangannya terulur, mengambil teblet obat itu dan membaca tulisan yang tertera di sana.

__ADS_1


Seketika Andreas meremas benda di tangannya tanpa sadar. Ada perasaan marah dan kecewa yang tak bisa dia luapkan saat mengetahui Nisa tak menginginkan ada kehidupan baru di dalam rahimnya setelah kejadian semalam.


__ADS_2