Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 163


__ADS_3

Sore itu Aditya menjemput Tiara di rumah Nisa karna mereka akan pergi lagi ke rumah orang tua Tiara. Aditya akan membahas soal hari pernikahannya sekaligus pamit untuk pergi ke Amerika selama 1 bulan.


"Bawa apa saja.? Kenapa banyak sekali." Tiara menatap 4 paper bag di jok belakang mobil yang baru saja dia naiki. Salah satu paper bag itu berasal dari restoran cepat saji, dan 3 paper bag lainnya tidak Tiara ketahui isinya.


"Hanya makanan dan beberapa barang untuk keluargamu." Jawab Aditya seraya menyalakan mobil dan melajukan nya keluar dari halaman rumah Nisa.


"Harusnya tidak perlu repot-repot." Ucap Tiara yang menyayangkan Aditya mengeluarkan banyak uang hanya untuk menemui keluarganya.


"Kemarin aku tidak sempat membawa apa-apa karna lupa." Aditya terlihat tidak enak hati. Entah kenapa dia benar-benar lupa untuk sekedar membawakan sesuatu saat pergi menemui orang tua Tiara. Mungkin karna sedang banyak pikiran. Dia juga harus mengurus keberangkatan keluarga kecil Andreas ke Amerika, jadi pikirannya terbagi.


Kini keduanya sudah sampai di depan rumah orang tua Tiara. Mereka turun dari mobil dan mengeluarkan barang bawaan dari jok belakang.


Kedatangan mereka di sambut oleh anak laki-laki berusia 10 tahun yang merupakan adik Tiara.


"Kak Titi,,," Saka berlari menghampiri kakaknya. Bocah itu memeluk Tiara dengan erat seolah sangat merindukan sang Kakaknya.


"Saka gimana kabarnya.?" Tanya Tiara setelah melepaskan pelukannya. Saka menjawab dengan antusias.


"Ayo masuk dulu," Ajaknya.


"Kenalin ini teman Kak Titi." Tiara menyuruh Saka untuk mencium tangan Aditya.


"Saka Om," Ucapnya polos.


"Om.?" Kening Aditya mengkerut. Dia belum terlalu tua untuk di panggil Om.


"Bukan Om, tapi Kak." Ujar Tiara meluruskan. Dia hampir saja tertawa melihat reaksi Aditya yang kaget di panggil Om.


"Namanya Kak Adit." Ucapnya Tiara lagi.


Saka tampak mengangguk paham.


"Kakak bawa apa.?" Dia menatap paper bag di tangan Aditya.


"Itu burger ya Kak.?" Ujarnya seraya menunjuk salah satu paper bag.


"Iya, ini untuk Saka." Aditya menyodorkan paper bag itu pada Saka. Bocah itu menerimanya dan langsung berlari masuk, membuat Aditya terkekeh kecil.


"Ya ampun Saka,," Pekik Tiara kaget. Dia tidak enak hati karna Saka langsung pergi setelah Aditya menyodorkan makanan padanya.


"Maaf,," Ucap Tiara seraya menundukkan kepala lantaran malu.

__ADS_1


"Tidak apa, Saka masih kecil." Sahut Aditya memaklumi.


...*****...


"Bagaimana caranya menyingkirkan obat ini.?" Gumam Andreas lirih. Di tatapnya tablet pil kontrasepsi dalam genggaman tangannya.


Sejak awal Andreas memang sudah berencana untuk membuang jauh-jauh obat itu dari tangan Nisa agar istrinya itu bisa mengandung darah dagingnya lagi. Sayangnya dia belum memiliki ide bagaimana caranya membuang obat itu tanpa di sadari oleh Nisa.


"Nisa pasti akan membeli obat ini lagi kalau tau obatnya hilang." Ucapnya sedikit putus asa.


Andreas melirik ke arah ruangan walk in closet. Di dalam sana ada Nisa yang sedang melakukan ritual rutin sebelum tidur, yaitu memakai skincare.


Setelah meletakkan obat itu di tempatnya, Andreas bergegas menghampiri Nisa.


Jika tidak bisa membuang obat itu, maka dia akan tetap menggunakan cara pertama yaitu melakukan pendekatan dengan Nisa agar lebih intim lagi dan membuat Nisa kembali yakin padanya kalau dia tidak akan pernah meninggalkan Nisa lagi.


Nisa menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara pintu terbuka. Dia pikir Andreas sudah tidur karna saat masuk ke dalam kamar, Andreas sedang berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Nisa baru masuk ke kamar setelah pukul 11 malam lantaran harus menyelesaikan pekerjaannya.


"Aku pikir kamu sudah tidur." Ucap Nisa yang kemudian kembali mengusapkan krim di wajahnya.


"Aku mendengarmu menerima telfon sebelum kamu masuk kesini." Jawab Andreas.


Sebenarnya dia memang sudah tidur, tapi terbangun lantaran mendengar Nisa berbicara dengan seseorang di seberang sana.


"Tidak apa." Andreas mengukur senyum tipis. Dia berdiri di belakang Nisa yang tengah duduk di depan meja rias.


"Pantas saja semakin terlihat lebih muda." Ujarnya sembari meletakkan kedua tangan di bahu Nisa dan mengusapnya lembut. Manik matanya menatap pada deretan skincare yang sedang di pakai oleh Nisa secara bertahap.


"Dulu tidak sebanyak itu." Komentar Andreas yang membandingkan skincare Nisa saat awal-awal pernikahan mereka.


Nisa tampak mengukir senyum simpul.


"Aku sering berurusan dan bertemu dengan para pengusaha, jadi harus punya wajah yang mulus dan cantik. Siapa tau ada pengusaha muda yang mau denganku." Jawab Nisa dengan seringai di wajahnya.


Andreas tampak melotot kaget mendengar ucapan Nisa.


"Aku akan menghancurkan perusahaannya kalau sampai ada yang berani mendekatimu." Sahut Andreas tegas. Ekspresi wajahnya tampak serius.


"Selain Brian, apa ada lagi yang mencoba mendekatimu.?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi. Dia menatap wajah Nisa dari pantulan cermin.


Nisa terkekeh melihat reaksi Andreas yang terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Banyak. Hampir semua pengusaha di sini mencoba mendekatiku. Apa kamu juga akan menghancurkan semua perusahaan mereka.?" Ucap Nisa yang sengaja memancing kekesalan Andreas.


"Tidak." Andreas menjawab cepat sembari menggelengkan kepala.


"Kenapa.? Apa kamu takut.?" Nisa sampai berbalik badan untuk menatap langsung wajah Andreas.


"Hanya buang-buang waktu." Jawabnya.


"Butuh berbulan-bulan untuk menghancurkan banyak perusahaan. Aku akan kehilangan triliunan kalau fokus menghancurkan perusahaan mereka." Jelas Andreas dengan jumawa.


"Ckk,,, sombong sekali kamu." Nisa mencubit pelan perut Andreas. Wajahnya tampak cemberut karna gagal membuat Andreas kesal.


"Bukan sombong, memang seperti itu kenyataannya." Andreas menjawab seraya mengangkat tubuh Nisa dari kursi.


Nisa reflek mengalungkan tangan di leher Andreas lantaran takut terjatuh.


"Ya ampun Andreas, turunkan aku.!" Pintanya.


"Nanti kalau sudah sampai di ranjang." Jawab Andreas santai. Sembari melangkahkan kaki keluar dari walk in closet, dia terus menatap wajah Nisa dengan mengukir senyum lebar.


"Kamu itu benar-benar tidak berubah. Urusan ranjang nomor satu.!" Gerutu Nisa sambil. memukul pelan dada bidang Andreas. Tapi dia tidak memberontak dan kini terlihat pasrah saat Andreas membawanya mendekati ranjang.


"Apa kamu tidak punya lingerie.?" Tanya Andreas begitu mendudukkan Nisa di ranjang.


"Apa kamu bercanda, untuk apa aku menyimpan benda seperti itu." Jawab Nisa cepat. Hidup tanpa pasangan selam 3 tahun, tentu saja tidak ada gunanya membeli lingerie. Memangnya siapa yang akan Nisa sambut di atas ranjang.


Andreas terkekeh.


"Aku hanya ingin tau saja." Ucapnya.


Perlahan Andreas mencium bibir Nisa. Tangannya juga mulai berkelana mencari tempat favoritnya.


Beberapa menit berlalu, tubuh keduanya hampir polos dengan baju yang sudah terlepas.


"Aku mencintaimu." Bisik Andreas seraya membaringkan perlahan tubuh Nisa di ranjang.


Dia kemudian meninggalkan jejak kepemilikan di beberapa bagian yang tak akan terlihat oleh orang lain.


Perlahan bibir Andreas turun kebawah, berhenti di perut rata Nisa dan mengecupnya beberapa kali.


"Baby girl, semoga kamu cepat hadir disini."

__ADS_1


Batin Andreas penuh harap.


Besok dia akan membuat Nisa lupa mengonsumsi pil penunda kehamilan itu.


__ADS_2