Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 90


__ADS_3

Andreas tengah duduk bersama orang kepercayaannya di sofa ruang kerja Andreas.


Asisten itu menyodorkan berkas dan sertifikat rumah yang baru saja selesai di buat.


"Bagaimana dengan proses pembangunnya,," Tanya Andreas sembari meneliti sertifikat rumah di datangnya yang atas nama Annisa Salsabila.


"Sudah 95 persen, kemungkinan 2 minggu lagi sudah siap huni." Jawab Ricard.


Dia yang di tugaskan untuk meng-handle semua yang berkaitan tentang pembangunan rumah mewah itu. Mulai dari mencari lahan yang strategis sampai pembangunan rumah itu selesai.


Rumah yang sudah di bangun sejak 2 bulan terakhir itu membutuhkan hampir 50 pekerja profesional. Andreas memang meminta pada Ricard agar rumah itu bisa di selesaikan kurang dari 3 bulan.


"Baiklah, besok saya akan memastikannya." Andreas memasukkan kembali sertifikat itu kedalam map.


Sejak rumah itu di bangun, Andreas memang belum pernah datang untuk melihat secara langsung. Dia hanya melihat dari foto-foto dan vidio yang dikirimkan oleh Ricard melalui email pribadinya.


Setelah menyuruh Ricard keluar dari ruangannya, Andreas bergegas mengirimkan pesan pada Nisa. Hari ini dia akan pulang malam karna harus meninjau salah satu proyek yang sedang dia garap bersama rekan bisnisnya.


Harusnya jadwal kunjungan proyek itu di lakukan minggu kemarin, tapi karna saat itu masih berada di Swiss, jadi terpaksa harus di tubda.


...****...


"Kamu tidak menelfon Andreas Nis.?"


"Dia harus tau kamu di sini,,"


Sudah kedua kalinya Mella menyuruh Nisa untuk menghubungi Andreas. Bagaimana pun juga Andreas harus tau kalau istrinya sedang di rawat di rumah sakit dan dalam kondisi hamil.


Mella juga bisa tenang kalau sudah ada Andreas yang menemani Nisa. Karna dia harus segera kembali ke ruko untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Jadi tidak bisa berlama menemani Nisa di rumah sakit.


"Nanti saja Mel, Andreas pasti sedang sibuk sekarang."


"Lagipula kata suster aku baik-baik saja. Aku akan minta pulang setelah merasa baikan."


"Kepalaku masih sedikit pusing."


Nisa memahami posisi Andreas di perusahaan, jadi dia tidak mau mengganggu Andreas.

__ADS_1


Nisa juga berencana untuk memberikan kejutan pada Andreas, jadi memang sebaiknya Andreas tidak perlu tau kalau saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit.


Nisa ingin Andreas mendengar kabar kehamilan ini dari mulutnya sendiri.


"Tapi Nis, sebentar lagi aku harus kembali ke ruko. Siapa yang jagain kamu kalau aku pulang.?"


Ucap Mella cemas.


Dia mana bisa tenang membiarkan Nisa seorang diri di rumah sakit dalam keadaan seperti itu.


"Mel, aku bukan anak kecil. Aku bisa jaga diri, kamu tidak perlu khawatir."


"Disini juga banyak suster, mereka yang akan menjagaku."


"Kamu kembali saja ke ruko. Untuk meeting besok, tolong kamu yang handle ya,," Pintanya dengan senyum yang merekah.


Mella langsung paham kenapa Nisa tidak bisa ikut meeting. Sahabatnya itu pasti mau merayakan kehamilannya bersama sang suami.


"Baiklah,, kamu tidak perlu pikirkan pekerjaan untuk beberapa hari ke depan."


"Aku pulang dulu, jangan lupa hubungi aku kalau butuh sesuatu."


...****...


"Aww,, maaf,, maaf,,," Mella menabrak seseorang lantaran dia melamun dan tidak memperhatikan jalanan di depannya.


Dia langsung mengambil berkas yang berserakan di lantai. Yang pasti berkas itu berjatuhan karna Mella tidak sengaja menabrak seseorang yang membawa berkas itu.


"Tidak apa, santai saja." Seorang laki-laki yang mengenakan setelan jas lengkap, ikut memunguti berkas di lantai.


Saat itu Mella bisa melihat jelas wajah seseorang yang dia tabrak.


"De,,devan,," Ucap Mella terbata. Meski tidak secara langsung mengenal Devan, namun Mella tidak asing dengan wajah laki-laki itu.


Dulu Nisa memajang foto Devan di kontrakan dan di dompetnya, Nisa juga beberapa kali memperlihatkan foto Devan di ponselnya pada Mella.


Dan beberapa kali Mella melihat Devan secara langsung. Saat di acara pernikahan Nisa dan saat masih bekerja di tempat karaoke.

__ADS_1


Mella menyerahkan lembaran kertas di tangannya pada Devan.


"Maaf, aku tidak sengaja." Ujarnya.


Dia hendak pergi setelah memberikan berkas milik Devan, namun langkahnya di cegah oleh laki-laki itu.


"Apa kamu tau dimana Nisa.?" Tanya Devan. Dia menatap penuh harap. Hanya sahabat Nisa yang mungkin tau keberadaan Nisa saat ini.


Karna sampai saat ini ponsel Nisa tidak bisa di hubungi. Devan juga baru mendatangi apartemen Andreas, dan tidak menemukan keberadaan Nisa di sana.


Hampir 1 jam menunggu dan menekan belum berulang kali, pintu apartemen Andreas tak kunjung di buka. Itu artinya Nisa memang tidak ada di dalam apartemen.


"Aku tidak tau." Jawab Mella. Dia sudah memikirkannya baik-baik untuk tidak memberitahu dimana Nisa.


Mella juga tidak mau ikut campur dengan persoalan di antara mereka.


Dari yang terakhir dia dengar dari mulut Nisa, sahabatnya itu sudah melupakan masa lalunya dengan Devan. Nisa juga mengatakan tidak mau berurusan dengan Devan lagi jika menyangkut masa lalunya.


Keputusan Nisa yang memilih untuk melanjutkan pernikahannya dengan Andreas, membuatnya ingin mengubur dalam-dalam apa yang pernah terjadi di antara dia dan Devan dulu.


"Aku mohon beritahu aku kalau kamu melihat Nisa." Devan merogoh dompetnya, dia mengeluarkan kartu nama dan menyodorkannya pada Mella.


"Nisa dalam bahaya, hubungi aku secepatnya di nomor ini." Ujar Devan dengan raut wajah yang tampak cemas.


Mella yang awalnya tidak tertarik untuk berurusan dengan Devan, kini dibuat penasaran dengan pernyataan Andreas yang membuatnya tidak tenang.


Ini menyangkut keamanan Nisa, mana mungkin Mella bisa acuh dan tidak mau tau.


Nisa telah berkorban banyak untuknya, jadi dia akan membantu Nisa jika Nisa dalam masalah.


"Apa maksudnya.? Aku tidak mengerti." Tanya Mella. Saat ini perasaannya semakin tidak tenang, apa lagi raut wajah Devan juga terlihat sangat serius. Mella sangat yakin ada sesuatu yang terjadi.


"Ikut aku, kita bicara di tempat lain."


Devan menarik tangan Mella, dia harus berbicara di tempat yang aman untuk menunjukkan semuanya pada Mella.


Sementara itu seorang laki-laki berseragam putih tampak mengulas senyum kecut.

__ADS_1


Wanita yang tadi menolaknya untuk di ajak bersenang-senang, kini malah terlihat pergi dengan laki-laki berdasi.


__ADS_2