Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 146


__ADS_3

Mengetahui Nisa yang terlihat begitu membenci kota Jakarta, Andreas bisa merasakan bagaimana kenangan buruk di kota tersebut telah memberikan trauma tersendiri di hati Nisa hingga tak mau menginjakkan kaki lagi di sana.


"Kalau begitu bagaimana kalau kamu dan Zie ikut denganku.?" Andreas menatap tak yakin, tapi dia merasa tak ada salahnya untuk mencoba memberikan penawaran pada Nisa. Seandainya Nisa setuju, tentu dia akan merasa sangat bahagia bisa membawa anak dan istrinya ke negera tersebut.


Nisa menggelengkan kepala. Bukan tanpa alasan dia menolak untuk menetap di Amerika. Walaupun baru 3 tahun berada di Batam, tapi kota ini telah memberikan kehidupan yang bahagia untuknya. Dan banyak kenangan indah bersama dengan putra tercintanya. Belum lagi usaha yang sudah dia rintis dari bawah hingga saat ini sudah cukup berkembang. Tak mungkin dia akan meninggalkan perusahaannya begitu saja meski memang tak sebanding dengan perusahaan besar Andreas di sana.


"Ya sudah, biar aku usahakan untuk membuka perusahaan cabang disini." Andreas memilih mengorbankan perusahaan besarnya demi bisa berkumpul dengan anak dan istrinya. Andreas enggan memaksa Nisa untuk mengikuti keputusannya. Karna dia yang memohon kembali pada istrinya itu, jadi sudah seharusnya dia yang berkorban.


"Terimakasih," Ucap Nisa tulus.


Keputusan Andreas sudah cukup membuktikan bahwa pria itu memang benar-benar ingin kembali pada keluarga kecilnya. Dan menganggap Nisa serta anaknya jauh lebih berharga dari apapun.


"Aku juga ingin mengatakan satu hal padamu." Perkataan Nisa membuat Andreas menatap serius.


"Meski aku bersedia untuk kembali dan memulai dari awal, aku tidak berfikir untuk memberikan adik pada Kenzie." Nisa berucap tanpa keraguan, tak peduli meski hal itu mungkin mungkin akan membuat Andreas keberatan. Tapi dia telah mempertimbangkannya baik-baik. Salah satu untuk mencegah kehancuran seandainya hal buruk terjadi lagi pada rumah tangganya, maka dengan tidak menghadirkan kehidupan lain di antara mereka. Karna selain bisa membuat hidupnya bahagia, kehadiran seorang anak juga bisa membuatnya hancur dalam keadaan tertentu. Seperti yang pernah dia alami sebelumnya.


Andreas sontak terdiam. Ada perasaan sedih mendengar keputusan Nisa yang tak mau memiliki anak lagi dengannya. Tapi untuk saat ini Andreas mencoba memahami perasaan Nisa, memahami kekhawatiran dan trauma dalam diri wanita cantik itu.


Saat ini dia hanya perlu menyetujui permintaan Nisa, namun bukan berarti Andreas akan dia saja tanpa berusaha meyakinkan Nisa agar mau memiliki anak lagi suatu saat nanti.


"Aku bisa mengerti." Andreas kembali menggenggam tangan Nisa seraya menatap teduh.


"Kamu pasti sangat menderita karna berjuang sendirian saat melahirkan Kenzie."


"Maaf karna aku tidak ada di sampingmu saat itu." Ucapnya penuh sesal. Walaupun Andreas tak bersalah sepenuhnya karna sejak awal Nisa tak pernah memberitahu tentang kehamilannya.


"Tidak apa Ndre, itu sudah berlalu. Aku tidak mau membahas lagi sesutu yang sudah berlalu." Tutur Nisa. Dia sudah menutup buku masalalunya. Saat ini dia ingin fokus untuk menata hatinya agar dia bisa membuat Kenzie bahagia dengan keputusannya kembali pada Andreas.

__ADS_1


"Sudah sore, aku harus mandi." Nisa menarik pelan tangannya dari genggaman Andreas untuk beranjak dari balkon, namun pria itu justru menahan tangannya saraya ikut berdiri.


"Boleh ikut.?" Tanyanya hampir tanpa ekspresi. Bahka tak menunjukkan rasa malu sedikitpun.


Nisa hampir melongo mendengarkan permintaan Andreas.


"Iissh,,! Jangan bercanda." Nisa menarik paksa tangannya dan menepuk tangan Andreas.


"Aku serius." Jawab Andreas.


"Memangnya kenapa kalau mandi bersama.?"


"Boleh ya.?" Ucapnya dengan senyum tipis yang mengembangkan. Kini Andreas menunjukan tatapan memelas, membuat Nisa bingung untuk menolaknya. Lagipula memang sah-sah saja dia dan Andreas mandi bersama karna mereka masih berstatus suami istri. Bahkan kemarin mereka berdua sudah ber cinta di saat kelanjutan rumah tangga mereka belum menemukan kepastian.


"Hanya mandi saja, tidak ada kegiatan lain." Jawab Nisa penuh ketegasan. Wanita itu lebih dulu berlalu dari sana setelah mengabulkan permintaan Andreas untuk mandi bersama.


"Kenapa tidak di buka semuanya.?" Andreas menatap kecewa lantaran Nisa menetupi 2 area sensitifnya. Sepertinya dia sudah mengantisipasi agar kedua mata Andreas tidak menjadikan dua bukit dan lembahnya sebagai objek untuk di pandang.


"Karna aku tau kamu pasti akan mesum kalau aku tak memakai apapun." Jawab Nisa. Dia beranjak ke bathtub untuk berendam air hangat. Meski ada sedikit rasa malu karan dalam keadaan setengah te lan jang di hadapan Andreas, Nisa mencoba untuk acuh. Lagipula dengan keputusannya untuk kembali bersama Andreas, itu artinya dia juga harus siap melakukan tugasnya lagi sebagai seorang istri.


"Memangnya kamu tidak mau berbuat mesum denganku.?" Andreas berjalan mendekat dan mulai melepaskan baju serta celananya.


Walaupun malu, tapi entah kenapa Nisa justru memperhatikan Andreas dari mulai pria itu melepaskan baju dan celana.


"Stop Andreas.! Yang itu tidak usah di buka." Tariak Nisa ketika Andreas akan melepaskan celana dlmnya. Bahkan tanpa di lepas pun, benda itu tercetak jelas karna telalu menonjol.


"Tapi aku juga harus memandikannya." Jawab Andreas dengan kedua mata yang menatap ke bawah.

__ADS_1


Dia kemudian menanggalkan satu-satunya kain yang menempel di tubuhnya itu. Nisa bahkan sampai berteriak seraya membuang pandangan.


"Andreas.! Kamu benar-benar.!" Protes Nisa kesal.


Pria itu justru terkekeh kecil.


"Jangan khawatir, aku janji tidak akan macam-caman. Kecuali kalau kamu yange minta." Sahutnya yang kemudian ikut masuk ke dalam bathtub.


Duduk di belakang tubuh Nisa, pria itu langsung memeluknya dari belakang dengan meletakkan dagunya di bahu Nisa. Berada di dekat Nisa, apa lagi bisa memeluk wanita itu, Andreas merasakan ketenangan dan kenyamanan yang tak bisa dia dapatkan dari siapapun.


Hanya Nisa yang mampu membuatnya merasakan ketengan itu.


Nisa sempat menolak, berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Andreas.


"Biarkan seperti ini sebentar saja." Pinta Andreas memohon.


Suaranya terdengar penuh beban dan kesedihan yang mendalam. Nisa tak kuasa untuk menolak setelah mendengar suara Andreas.


"Aku sangat merindukanmu. Merindukan kebersamaan kita seperti dulu." Tutur Andreas.


Walaupun pada akhirnya Andreas tetap menjadikan Nisa sebagai alat balas dendamnya, tapi semua perhatian yang dulu dia berikan pada wanita itu benar-benar tulus.


Andreas mendaratkan kecupan di tengkuk leher Nisa. Tubuh wanita dalam dekapannya seketika memberikan reaksi yang alami. Andreas tampak mengulum senyum tertahan. Rupanya Nisa masih memiliki reaksi yang sama seperti dulu.


"Boleh.?" Tanya Andreas saat tangannya mulai menyusuri perut rata Nisa.


Entah kenapa dia kehilangan keberanian untuk menyentuh Nisa sebelum mendapatkan ijin dari istrinya itu.

__ADS_1


Sangat jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Dia akan menyentuh Nisa kapanpun dan dimanapun tanpa perlu meminta ijin pada Nisa.


__ADS_2