
Masih ditempat yang kotor, mereka tak henti-hentinya mengambil sedikit air yang mengalir seperti kehilangan daya tubuh mereka, sesekali mereka lemas tak berdaya, rasa lapar yang begitu membuat menjalar sampai ke kepala, randi masih terduduk merasakan kantuk dan lemas yang berlebihan sedangkan gilang yang masih berusaha mengambil air dari tubuh-tubuh goa.
"Maafkan aku lang, mungkin ini adalah saatnya aku harus pergi" tiba-tiba randi berucap yang tak senonoh.
"Apa maksutmu?" Ucap gilang seraya terasa lemas.
"Lihatlah kita, apa yang kita alami ini? Sirna sudah untuk menyelamatkan agil, kita saja sudah seperti ini"
Sengaja gilang tiba-tiba jatuh terduduk, menangis.
"Ran jangan gitu ran, katanya janji bakal keluar ketempat ini dan menyelamatkan agil ran"
Randi hanya memejamkan mata.
"Ran!!!! Lakukanlah dengan lapang dada!!!!!!!"
Tiba-tiba dengan gerakan lambat randi membuka matanya.
"Benar kau selalu berkata seperti itu kan? Kenapa sekarang kau menyerah begitu saja, heh bodoh!!!!! Ayo berusaha pergi, pergi dari sini!!!!!!!" Gilang menampar pipi randi.
Dengan sempoyongan randi berdiri, menuju pagar besi itu seraya menatap kosong didepan.
"Tolong kami!!!" Suara itu tidak terdengar keras, bahkan sangat lemah.
Gilang hanya duduk lemas menangis.
"Lang ingat waktu pertama kali kenal agil, smp? Ingat kan wajahnya seperti apa? Jelek banget" randi tertawa seraya masih membelakamgi gilang.
Randi melanjutkan, "Waktu dia masuk terus dia tidak ada temannya kita yang udah kenal dari kecil nyamperin kan?"
Randi terdiam sejenak, lalu melanjutkan lagi.
"Waktu itu dia takut, tapi akhirnya mau juga, kenalan dasar ngentol, setelah kenal dengannya dia adalah sosok yang keren juga ya, tidak nolep polos gitu hahaha" randi tertawa.
"Kalau sampai kehilangan agil seperti.... rasanya kehilangan separuh nyawa ya ran, terus kalau gitu kamu mau mati aja seperti ini?"
Randi hanya tertawa terbahak-bahak entah apa yang ada di pikiran randi, yang gilang tahu saat itu mereka hanya stress, dan kehilangan teman dekatnya agil.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat, randi terbelalak, gilang lalu beranjak mendekat ke samping randi, dan benar prajurit itu datang.
"Tolong menyingkir sebentar" prajurit itu, membuka pagar besi.
Randi dan gilang melongo kaget, mereka merasa senang bisa bebas dari goa busuk itu.
"Silahkan ikuti saya" prajurit itu beranjak diikuti randi dan gilang yang masih syok.
"Lang kita tidak mimpi kan?"
"Ini benar ran, sumpah!!!"
"Aku kaget apa yang akan kita lakukan nanti!!" Tanya randi.
"Suttt.... dikeluarkan saja sudah senang banget gini ran, sumpah, ada apa ya kenapa kita di keluarkan begitu saja?"
"Emm pak, kalau boleh bertanya kenapa kita bisa bebas ya?"
Prajurit itu hanya diam.
Randi dan gilang saling mengode.
"Biarlah ran, yang penting kita keluar sekarang!!!"
Randi tak henti-hentinya tertawa.
"Dari yang tadi lemas, sekarang jadi ber energi sumpah ran!!!!!" Gilang berteriak sangat senang.
"Sutttt....!!!" Ucap prajurit itu.
Tiba-tiba ketika mereka sedang asyik berjalan dilorong goa, ada seseorang dari belakang yang membekap mereka, dengan cepat mereka jatuh pingsan.
Randi tersadar ketika sadar tubuhnya tergeletak disuatu tempat, tempat itu berhawa dingin menyejukkan, tapi terlihat seperti diruangan yang besar, randi masih trauma dia takut bahwa ia dibawa ditempat yang menyeramkan lagi, matanya tertutup kain ia tidak bisa melihat dimana tempat ini dan tanganya diikat dengan erat.
"Lang, lang" randi bersuara seraya mencari dimana tubuh gilang, ia mendapatkannya, mendapatkan lengan gilang.
Gilang terbangun seraya sesak nafas, ia kaget ketika membuka mata masih terlihat gelap.
"Ran, rannn udah mati ya kita?" Ucap gilang merengek.
"Enggak lang, aku disini"
Gilang meraih tangan randi.
"Ini dimana??" Gilang bertanya.
"Disini" tiba-tiba seorang wanita menjawab pertanyaan dari gilang itu, suaranya mengema, seperti diruangan yang besar dan tinggi.
Randi sontak kaget, mencoba menetralisir suara itu.
"Siapa kau hei? Malucia?" Tanya gilang.
Suara langkah kaki itu seperti mendekat, wanita itu membuka kain dari mata randi dan gilang, yang mereka lihat adalah wanita cantik seperti malucia, bersih dan bening, postur tubuh yang seperti malucia, tinggi namun kulitnya putih berbeda dengan malucia yang sawo matang.
Disebuah ruangan yang besar menjulang tinggi, hanya ada beberapa kursi dan kain tergeletak disana, ada meja kecil dipojok ruangan dan jangan lupa dua obor menempel disetiap tubuh ruangan itu.
"Siapa kau?" Tanya randi beranjak berdiri.
Sebelum menjawab pertanyaan randi, gilang menyaut.
"Pasti kau temannya malucia?"
Lidra hanya mengangguk.
__ADS_1
"Dimana kita?" Ucap randi.
"Tenang kau ditempat kami, sudah aku bawakan makanan dimeja itu silahkan makan"
"Tunggu, kenapa kita ada disini seharusnya tadi kita sudah bebas"
"Kalau kau bebas kau bisa mati, biar aman kau tinggal disini lebih dulu" lalu lidra beranjak pergi, dan menutup pintu dengan keras.
"****, cantik" gerutu gilang.
Randi menghiraukan perkataan gilang lalu dengan semangat, mereka menuju tempat meja itu, ada sebuah sub daging segar disana, hati mereka sangat berteriak kegirangan ketika melihat ada apa didepannya, dengan rakus mereka langsung menyantap makanan itu.
"Aku sudah membebaskan teman-temanmu"
Suara aleris terdengar berat dan memenuhi ruangan itu, cahaya matahari masuk ke celah jendela tinggi istana itu membentuk panjang didepan malucia yang sedang duduk didepan jendela, menatap hamparan luas rumput dihalaman istana.
Aleris membelakangi malucia, ia menyilangkan tangannya.
"Aku harap setelah ini kau bisa memikirkan kembali"
Malucia masih dengan wajahnya yang terlihat kecewa.
"Kenapa? Kenapa kita tidak bisa berteman dengan mereka?" Suara lirih malucia, sampai mungkin tidak terdenganr oleh aleris.
Aleris mendekat dan berdiri didepan malucia, menatap wajah malucia yang sedari tadi hanya terlihat murung.
"Aku pernah melihat ada banyak bangsa kami yang menolong mereka, dan mereka dibunuh"
Malucia menatap malas ke arah aleris.
"Kenapa dibunuh?"
Aleris menghelan nafas panjang.
"Entahlah cia, yang ku tahu mengantarkan mereka ditempat dimana akan memulai permainan baru mereka, kau tahu bukan tempat ini sudah menjadi permainan"
Tangan malucia mengusap wajahnya yang terlihat berantakan, ia memajukan wajahnya agar terkena sinar matahari, lalu memejamkan mata.
Aleris menatap wajahnya itu, dan ia duduk menatap lekat wajah malucia didepannya.
"Kau mungkin tahu kan? Ada sesuatu disana banyak para peri yang menghianati kita dan mencari jawaban pergi ke kerajaan itu, kau masih setia disini malucia aku mohon jangan seperti mereka, ini akan ada jawabannya"
"Sampai kapan!!!!!" Malucia berdiri seraya berteriak.
"Sampai waktunya tiba, dunia kita berubah belum lama cia, kalau sudah lama bagaimana reaksi mu he?" Aleris mendekat.
"Sudah-sudah!!!!!!!!!" Malucia lalu beranjak pergi, membuka pintu dengan kasar dan menutupnya dengan kasar juga.
Diruangan yang penuh dengan buku-buku yang berbentuk seperti kayu di gulung, dan kain-kain putih menempel pada sela-sela ruangan, tempat tidur yang dilapisi entah kulit apa terlihat sangat aestetik, dan kursi yang eksotis seperti ruangan para profesor pada umumnya, aleris terdiam sesaat, ia berjalan ke arah kaca besar dan menatap wajahnya itu.
"Aku saja tidak tahu apa yang terjadi, tujuanku hanya melihat para peri berkerja" gerutu aleris.
Randi berusaha membuka pintu itu, tapi ternyata pintu itu terkunci, disini adalah tempat yang sedikit nyaman menurut mereka dibanding tempat jelek seperti goa itu, randi masih mengedor-gedor pintu itu tapi sia-sia pintu itu sangat keras.
"istana mungkin ran" gilang bersuara setelah ia terbangun dari tidurnya.
Randi mendekat.
"Kau bisa tidur disaat tubuhmu yang kotor ini?" randi duduk disamping gilang.
"Tidak menyangka ya ran, entah dimana ini berasal, entah dimana kita berada, kita masih hidup, dari yang tiba-tiba diawan aneh ada air terjun ya juga, dihutan jamur yang indah menurutku, di hutan seperti tropis lalu ditangkap elang, aku pikir kita akan mati disantap mereka, tapi ternyata mereka membawa kita ke goa, mereka punya akal dan pikiran ya?" ucap gilang.
"Entahlah lang, apapun yang terjadi kepada kita, yang penting kita hidup"
"Dimana malucia?" tiba-tiba gilang mengingat malucia.
Randi seperti malas melanjutkan perkataannya.
"Lang bisa saja dia dalang dari semua ini"
"Ran kau ini masih benci banget sama dia?"
Randi memalingkan wajah seperi malas menjawab pertayaan bodoh itu.
"Bukunya masih diperutmu?" tanya randi.
Tanpa bersuara, gilang menunjuk ke arah perutnya lalu membuka bajunya, dengan hati-hati randi mencoba membuka pintu kembali namun sia-sia, namun di tengah kesusahannya tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan cepat tubuh randi mematung menatap siapa yang ada didepan mereka, wanita itu menyiapkam baju dan melemparkan begitu saja ke arah randi yang masih mematung.
"Tidak ingin membersihkan tubuh?" tanya lidra.
Dengan diam-diam mereka berjalan di lorong istana, ini adalah pertama kali randi dan gilang melihat istana yang mereka tempati, istana besar menjulang tinggi dengan mewah, karena hanya ada istana ini yang berdiri ditengah hutan, ini yang membuat mencolok dari istananya, ada banyak pintu yang randi dan gilang hitung, dan beberapa bangunan diatasnya yang diselimuti tumbuhan hijau, sedikit seperti istana yang tak terawat namun tumbuhan itu bisa menyala seperti lampu ketika malam kata lidra, ada patung peri yang lumayan besar dipasang disetiap tubuh istana itu, dan didepan ada sebuah patung besar dan menurut randi patung itu sangat tampan, mungkin itu aleris.
Mereka berjalan mengendap-endap berjalan melewati pinggir istana, mereka bisa melihat tingginya bagunan itu, ketika menatap ke arah depan ada banyak taman bunga, dan padang rumput, beberapa angsa dan kuda putih yang asik bermain dihalaman itu, betapa takjubnya randi dan gilang, beberapa saat mereka berhenti hanya ingin menikmati hawa indah didepan matanya, angsa itu sedang asyik bermain air dan beberapa kuda yang sedang mencari makananya.
Sebenarnya mereka bingung mau dibawa kemana mereka ini, kenapa mengendap-endap, tapi karena apa yang dilihat randi dan gilang didepan mereka membuat pertayaan itu teralihkan, mereka terus mengikuti lidra yang mengendap-endap seperti takut ketawan seseorang.
"Hei? mau dibawa kemana kita?" tiba-tiba teriak randi dari belakang, lidra menoleh dan dengan cepat mengode untuk diam.
"kenapa?" gilang bertanya, lidra pun mendekat.
"Karena banyak prajurit seperti yang kalian lihat waktu itu, kalau kalian ketangkap kalian akan dibunuh" lidra menjelaskan.
"Lalu kau akan membawa kita kemana?"
"Kesungai dekat hutan, kalian bisa mandi disana"
"Kenapa tidak di dalam istana? lihat istana itu terlihat besar sekali, apa tidak ada tempat mandi?" gilang menyahut.
Lidra memutar bola matanya seraya menghembuskan nafas berat.
"Ikutlah saja aku" ucap lidra menyerah.
__ADS_1
Disetiap perjalan mata randi dan gilang tidak bisa berpaling, ada banyak angsa dan kuda putih di hamparan rumput itu, mereka benar-benar seperti di negeri dongeng, coba bayangkan istana yang besar dan halamannya terdapat taman bunga, beberapa kolam ikan yang dihiasi bunga-bunga, tidak lupa padang rumput yang luas, menjadi tempat istirahat kuda dan angsa.
"Gila, seperti di swiss" gerutu gilang.
Mereka terus berjalan hingga menembus hutan, berbeda dengan hutan tropis seperti yang randi dan gilang lewati, hutan itu asri dan sejuk, benar, hutan memang identik dengan gelap, namun karena hutan itu damai membuat kegelapan itu tidak begitu menakutkan, pohon-pohon yang menjulang tinggi, cahaya matahari samar-samar menembus pepohonan, membuat suasana dingin bisa menjadi hangat.
Tak lama, lidra menghentikan langkahnya, randi dan gilang samar-samar sudah mendengar aliran air yang deras dengam cepat mereka menyusul langkah lidra.
"Wau!!" teriak gilang.
Seperti biasa, sungai didalam hutan pada umumnya.
"Aku akan mencari makanan, silahkan kalian membersihkan diri" lidra beranjak.
"Tunggu!!" Randi memeggang tangan lidra spontan, namun dengan cepat lidra melepaskanya.
"Kau tidak akan meninggalkan kita disini kan?" senyum tulus randi akhirnya keluar juga.
Dengan senyuman yang sedikit malas lidra hanya mengangguk, lalu beranjak pergi, tidak butuh waktu banyak randi dan gilang langsung menyeburkan diri ke sungai itu, sungai itu terlihat jernih, arusnya pun tidak begitu besar.
"Dingin!!!" ucap gilang dengan kesenengan.
Randi tertawa terbahak-bahak, melihat tubuh gilang.
"Kenapa bodoh?" ucap gilang dengan bingung.
"Terlalu lama menyimpan buku di perut tuh sampai perutmu membentuk buku" ucap randi seraya tertawa lepas.
Mereka benar-benar seperti bebas, rasanya seperti kembali didunia mereka tidak ada rasa sedih atau menyesal, bahkan perpisahan dengan agil membuat mereka lupa, benar-benar air sungai yang menyejukan batin randi.
Lidra memetik buah raspberry didalam hutan, memang ada banyak tumbuhan buah didalam hutan, bahkan buah yang langkah pun tersedia disana, yang lidra butuhkan hanyalah memetik buah raspberry dan pisang, tidak butuh waktu yang lama lidra sudah mengumpulkan buah raspberry dan pisang dikeranjangnya, lalu ia kembali menyusul randi dan gilang.
Dari jauh saja lidra masih bisa mendengarkan jejeritan mereka.
"Hei aku datang, cepat pakai bajunya!!" ucap lidra dari kejauhan.
Karena tubuh gilang yang sedikit berisi, ia merasa malu jika lidra melihat lipatan demi lipatan lemak perutnya apa lagi perut yang membentuk buku, gilang lalu menepi dan segera memakai baju, entahlah apa yang dipikiran randi, randi masih ingin berenang disungai itu, sampai lidra datang pun randi masih bermain air.
"Hei!!!!" teriak lidra menutup matanya, dengan lirikan mata gilang yang pedas, gilang hanya menghelan nafas pasrah.
"Jangan kaget, emang dia begitu"
Randi sama sekali menghiraukan percakapan lidra dan gilang, randi masih asyik bermain air.
"Wah banyak sekali? apakah ada tanaman buah disana?" tanya gilang, setelah membantu lidra untuk meletakan keranjang itu.
"Ada banyak sekali disana kau bisa memetiknya kapan saja, tapi hati-hati nanti ketawan" ucap lidra seraya duduk disamping gilang.
"Boleh aku mencicipi raspberry nya?"
Lidra hanya mengangguk, gilang lalu mencobanya betapa takjub nya ketika buah itu sudah tertelan.
"Wau ini benar-benar enak" lidra hanya terseyum.
Gilang melanjutkan, "Kau tahu didunia ku, aku bisa memakan raspberry ketika aku diluar kota atau pergi jauh, karena disana seprrti langka" gilang menjelaskan seraya mulutnya penuh dengan raspberry.
"Kalau dengan pisang?" lidra bertanya.
Gilang terseyum, "Pisang mah didepan rumah juga ada, hahahah ada banyak"
Beberapa saat mereka terdiam, hanya gilang yang bersuara mengejek randi yang masih bermain air, lidra menatap mereka berdua.
"Kalian hanya berdua tersesat disini?"
"Tidak!!" tiba-tiba randi mengeluarkan suaranya, ia menoleh ke hadapan gilang dan randi, ia telah lama bermain air membelakangi mereka seperti rasa bosan sudah datang, randi mendekat.
"Tunggu!!!! berhenti disitu kenapa kau terus berjalan?" ucap lidra panik.
Mata lidra sekilas melihat bentuk tubuh randi, berisi namun tidak begitu, otot perut yang sempurna, otot lengan yang menonjol sempuran dan bahu yang sangat lebar, ditambah rambut randi yang basah.
"Santai, kau bisa hadap kesana dulu aku mau ganti baju" randi naik keatas dan segera memakai baju.
Randi duduk disamping gilang, ia mengambil buah pisang dan memakannya.
"Kita tidak hanya berdua yang tersesat disini" randi melanjutkan.
Lidra menoleh.
"Kita itu bertiga" lanjut gilang.
"Karena elang brengsek itu kuta harus berpisah, entahlah dia masih hidup atau tidak" wajah randi berpaling.
Beberapa saat mereka terdiam hanya terdengar suara arus sungai itu dan beberapa burung-burung didalam hutan.
"Kita mau tanya-tanya rasanya percuma jawabanya akan sama saja" gilang menyaut.
Lidra hanya bisa menatap lelaki yang ada disampingnya, lelaki yang benar-benar jantan, tidak menyerah walaupun kehilangan satu temannya.
"Kau tidak pandai bicara ya?" tanya randi menatap lidra.
"Apa?"
"Siapa namamu?"
"Oh ya, sebelumnya kita belum sempat kenalan ya?" sahut gilang.
Dengan senyum terpaksa lidra menjawab.
"Aku lidra"
Mata randi dan gilang masih menatap lidra, mereka pikir lebih sopan jika berjabat tangan namun ya sudahlah.
__ADS_1
"Aku randi, dan ini gilang, senang bertemu denganmu, dan terima kasih sudah membantu kita" ucap randi.