Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Pertanyaan tentang kejanggalan


__ADS_3

Dengan mata melotot Aleris menjawab.


"Kau gila? ada keperluan apa kau ingin bertemu raja?"


Randi hanya membalas dengan tertawa meledek.


"Kau tidak bisa berpikir logis kenapa aku melakukan ini? jadi selama ini curahatan ku tidak didengar olehmu?" sahut Randi.


Aleris hanya menghelan nafasnya, ia tahu sangat tahu apa yang dirasakan oleh Randi.


"Kita akan pulang!"


Namun tanpa ada tanda-tanda, tangan Randi melayang dan menghantam wajah Aleris membuat Aleris tersungkur, pukulan itu sangat keras membuat pipi Aleris memar begitu saja dengan cepat.


Wajah yang kanan saja masih merah karena hantaman Arvand, ini sudah nambah lagi dibagian kiri, batin Aleris.


Aleris hanya terdiam memahami perasaan Randi, mata Randi masih melotot kearahnya.


"Kau ingin aku kembali ke istana? kau pikir aku akan setuju?" pekik Randi.


Hal itu membuat Lidra sedikit khawatir dengan keadaan Aleris, bahkan pertama kali Lidra melihat wajah Aleris, Lidra sudah yakin ada yang tidak beres terjadi hingga pipi kanannya memerah.


"Baiklah ikut aku ke kerajaan..."


"Tuan!" Lidra menepis, namun Aleris hanya mengangguk dan menahan agar Lidra tetap tenang.


Lidra yakin jika Aleris sudah berkata demikian, pasti semuanya akan terlihat baik-baik saja. Dengan perasaan takut dan gelisah Randi terus mengikuti Aleris dan Lidra yang berjalan didepannya.


Apa aku yakin ingin mengatakan itu kepada Raja? apakah aku mempunyai tenaga sekuat itu?


Lakukanlah dengan lapang dada!


Tiba-tiab suara bisikan.datang berbisik ditelingan kiri Randi, membuat Randi tersentak, suara itu persis dengan suara Agil, Randi mencoba melihat sisi kanan kiri namun tidak ada siapa-siapa disana.


"Kau kenapa?" ucap Aleris.


Randi masih terdiam, ia melotot kenapa bisikan itu sangat jelas terdengar ditelinganya.


"Tidak, hanya saja ada bisikan aneh tiba-tiba"


Aleris dan Lidra terlihat aneh mendengarkan perkataan Randi. Lalu mereka langsung melanjutkan perjalanannya.


Apakah Agil ada di kota Majestic? tapi... bagaimana bisa? aku berharap kita segera bertemu.


Mereka bertiga telah sampai didepan gerbang besar di kerajaan Majestic. Aleris menoleh kearah Randi dibelakangnya.


"Kau yakin? ingin mengatakan kepada raja? boleh aku tahu apa yang ingin kau katakan? jelas bukan hanya tentang tersesatnya kalian disini kan pasti?"


Randi menarik nafas berulang kali, seraya menatap secara bergantian kearah Aleris dan Lidra.


"Aku ingin mengatakan itu saja.."


"Tidak dengan isu itu? kau tidak penasaraan? benar lho isu ngarang ala otakmu itu..."


"Kenapa bisa iblis..."


Aleris hanya menggeleng seraya mengangkat kedua pundaknya, tanda tidak tahu. Ia membuka gerbangnya dan betapa terkejutnya saat Randi masuk.


Halaman luas, mewah, dan megah dan pondasi yang tinggi menjulang, seperti kerajaan dinegeri dongeng pada umumnya. Ada banyak jendela balkon dan beberapa menara yang tinggi menjulang, warga kerajaan yang serba abu-abu itu benar-benar berhasil memanjakan matanya.


Lidra menepuk pundak Randi yanng masih terbengong menatap indah kerajaan.


"Kau tidak pernah melihat kerajaan besar seperti ini kan?"


Randi tersadar. Lidra lalu menyusul Aleris yang sudah berjalan kedepan, tiba-tiba Lidra menghalangi jalan Aleris ia menatap mohon kepada Aleris.


"Sepertinya tuan akan terkena masalah membawa manusia asing kesini tanpa seizin raja..."


Aleris tersenyum miring.


"Bagaimana lagi? kau lihat siberandal itu kan? akan ada rencana apa lagi nantinya jika aku tidak memberikan hal ini kepadanya?" ucap Aleris berlalu begitu saja.


Lidra menetah Randi yang masih sibuk menatap indah kerajaan didepannya.


Saat gerbang kerajaan dibuka, Aleris melihat Varegar, Mahagaskar, dan Raja Gevarnest yang terduduk dibangku raja, sedangkan Varegar dan Mahagaskar menemani raja di samping kanan kirinya.


Mahagaskar terbelalak saat melihat siapa yang dibawa Aleris, kedua orang asing yang masuk kedalam kerajaan. Raja Gevarnest berdiri dengan kaget begitu pun Varegar.


Randi mencoba terlihat tenang dan fokus pada rencananya. Ia bahkan sudah tidak perduli dengan hiasan dan bangunan yang megah didalam kerajaan padahal hal itu sangat menganggu Randi untuk terus melihatnya.


"Siapa dia?!?!? kenapa tidak dihentikan!!!" pekik raja.


Membuat Randi dan Lidra terkejut.


Apakah aku akam baik-baik saja? aku sudah berhadapan dengan raja disini? apakah aku akan membatalkan rencananya?


Randi mencoba menarik nafas dalam-dalam, menenagkan jatungnya yang terus berdegup kencang.


"Aku menyuruh para prajurit untuk tidak menghalangi perjalanan aku dan mereka saat menuju ke kerajaan..."


"Aleris!" pekik Mahagaskar.


Varegar mendekat kearah Aleris, Randi, dan Lidra yang masih terdiam di tengah gerbang terbuka.

__ADS_1


"Aku tidak salah lihat? kau membawa sampah masuk kesini?"


Aleris menatap tajam Varegar.


"Ini tidak ada hubungannya denganmu..." ucap Aleris berlalu melewati Varegar.


Varegar kaget karena aksi Aleris yang melewatinya begitu saja.


"Tuan Gevar! Aleris sudah lancang!" pekik Varegar.


Apakah ini suasana didalam kerajaan? sangat mengerikan seperti ini? lalu apa yang akan aku lakukan? kenapa aku sangat bodoh?


Mahagaskar melangkah dengan cepat mendekati Aleris, ia memeggang kedua lengan Aleris menyuruhnya berhenti melangkah.


"Ada apa sialan!!!" bisik Mahagaskar.


"Aku membawa mereka hanya sebenar saja, jadi tidak apa-apa kan?"


"Siapa me........" ucapan Mahagaskar dipotong oleh raja Gevarnest.


"Biarlah, biar mereka datang kepadaku..." pekik Raja.


Aleris menyuruh Lidra dan Randi untuk bergegas berjalan mendekat, memang ada sosok mata yang melihat mereka dengan tatapan aneh, namun mereka tetap berjalan kedepan.


"Kau sudah kesini jadi jangan membuatku marah...." bisik Aleris.


Randi dan Lidra kemudian menundukan kepalanya. Varegar dan Mahagaskar lalu kembali ketempatnya.


Randi melangkah kedepan, lima langkah ia lewati.


"Tuan, saya minta maaf mungkin saya lancang..."


"Tidak! to the point saja sekarang, intinya aku tidak suka basa-basi..." raja menepis.


Randi mengigit bibirnya berulang kali, ia memejamkan matanya.


Apakah aku berani mengatakan ini? ayolah Ran. Raja sudah ada didepan matamu, bukankah sejak awal kau ingin membunuh raja ini? kau bahkan memiliki buku dimana hal itu tertulis kejahatan yang dilakukan oleh raja.


"Saya adalah orang asing yang tersesat di dunia ini.."


Varegar, Mahagaskar, dan Raja pun terbelalak kaget.


"Saya sangat bingung kenapa ini terjadi? saya hanya ingin jawaban, dan kenapa saya datang kemari? karena saya pikir anda adalah orang yang tepat untuk saya tanyakan..."


Raja Gevarnest tertawa, tawanya memenuhi ruangan dengan gema. Varegar terbelalak dan melirik kepada Raja.


"Pertanyaan yang sangat bagus...." ucap Raja.


Randi melirik kearah Aleris, namun tidak sekali pun Aleris menatapnya, ia hanya fokus kedepan, dan kedua tangannya yang ia letakkan dibelakang tubuhnya.


"Kau ingin jawabannya? tapi jika jawabanya adalah tentang kematian kau siap menerima?" lanjut raja.


Tentu hal itu membuat Randi bingung.


"Ksu sudah sangat berani bertanya tentang hal ini kepadaku, masuk kedalam kerajaan, raut wajahmu yang tenang tanpa beban setelah masuk kesini, jadi aku pikir kau memiliki jiwa yang pemberani..." lanjut raja.


Dengan cepat Randi menepis.


"Tidak tuan, saya hanya butuh jawaban segera jadi saya tidak punya pilihan lain..."


Raja tersenyum, lalu turun dari tangga kursi raja dan mendekati Randi. Raja menyodorkan tanganya untuk berjabat tangan. Dengan rasa Takut Randi menerima jabatan itu, namun Raja meremas jabatan tangan Randi, membuat Randi berteriak kesakitan.


Aleris melangkah mendekat seraya dengan cepat mencoba melepaskan genggaman raja kepada Randi.


"Wau? apa ini? teman baru? kenapa kau sangat khawatir?"


Lidra yang menutup mulutnya karena aksi raja tersebut. Aleris menghelan nafasnya dan masih menatap tajam kearah Raja Gevarnest.


Raja melepaskannya, "Lihat? raut wajahmu sangat terlihat jika kau memang membenciku..."


Aleris memutar bola matanya.


Apa ini? kenapa? aku akan mati? kenapa raja meremas tanganku dengan kuat? aku hanya bertanya sialan!!!


Dengan tenaga yang sudah hampir habis, Randi mengeluarkan suaranya untuk kesekian kalinya.


"Tuan, saya akan cepat pergi dari sini jika tuan sudah memberikan jawabanya...."


"Sudah! sudah saya beritahu, saat meremas tanganmu, bahkan aku tidak tahu tentang kegilaan semesta ini, kau sudah sangat lancang dan berani memfitnah diriku..."


Karena hal itu, Randi dengan cepat bersujud meminta maaf.


"Tuan, bukan itu maksud saya, saya hanya ingin.."


Ucapan Randi ditepis oleh Aleris.


"Terima kasih waktunya, terima kasih!" Aleris menarik baju Randi hingga tubuh Randi terseret dan beranjak pergi begitu saja.


Diikuti Lidra, ia menundukan kepalanya untuk salam perpisahan, dan berlalu.


"Didikanmu sangat buruk..." sahut Varegar menatap Mahagaskar.


Mahagaskar hanya menghelan nafasnya.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, kau akan sia-sia mengatakan seperti itu disana...." ucap Aleris melangkah melewati Randi dan Lidra didepannya.


Ia menghadang mereka dengan tatapan emosi.


"Pulang kalian..." sahut Aleris.


Randi memutar bola matanya.


"Kenapa kau ingin aku pulang?" ucap Randi.


"Apakah aku menyusahkan disini?" lanjut Randi.


"Mending kau saja yang kembali ke istana Aleris" sahut Randi seraya menyenggol lengan Lidra.


Lidra hanya menundukan kepalanya, "Baiklah kau saja yang pulang" ucap Aleris.


Lidra menatap Randi, "Gilang?"


Randi menghelan nafasnya, "Biarlah dia tinggal disana, bukankah aku dan dia sudah sangat jauh? dia lebih semang dengan Silas dan yang lainnya"


"Apa yang kau katakan?" sahut Aleris.


"Kau lihat sendiri kan?" lanjut Randi.


"Aku bisa pergi sendiri, melakukan hal sendir, aku hanya butuh istirahat dan sendiri disini...."


"Janji kepadaku kau tidak akan melakukan hal gila lagi, jika ada hal gila dan itu kau yang melakukannya tidak segan-segan aku akan membunuhmu"


Randi hanya mengangguk, dan beranjak pergi begitu saja.


Masih ditempat, Lidra tidak bisa berpaling melihat Rando yang kian lama semakin mengecil karena ia sudah melangkah sejauh mungkin, hingga tubuhnya hilang setelah ia berbelok disebuah jalan.


Aleris menepuk pundak Lidra.


"Ada banyak tugas diistana ku kan? aku takut mereka tidak bisa melawan monster karena tidak ada kau, aku mengizinkan kau untuk sesekali datang kesini untuk melihat keadaan Randi, aku juga akan pulang beberapa hari lagi, dan kalau bisa aku akan membawa Randi..."


Tiba-tiba Lidra menepis.


"Tuan..."


Aleris menoleh.


"Tapi jika aku menjadi Randi, aku akan seperti itu, coba kau bayangkan apakah dia selalu diselimutii rasa penasaraan? dia kehilangan temannya, dia juga kehilangan dunianya, bagaimana bisa dia akan diam saja.."


Aleris menghelan nafas.


"Aku tahu...aku tahu aku juga akan seberusaha mungkin seperti Randi, tapi melihat isi gila ini? apakah Randi tidak salah? tenang, mungkin ini adalah kemauan Randi bisa tinggal dengan orang-orang disini..." ucap Aleris lalu beranjak masuk kekerajaan.


Dijalan setapak, Randi menemukan sebuah batang kursi yang terbuat dari kayu, yang lebar ia duduk dibatang tersebut. Terletak disebuah pinggir sungai, Randi bisa melihat sawah dan perkebunan yang memancar disana, memang karena kota Majestic didalam tembok, Randi tidak bisa melihat bukit atau gunung, namun ketika ia keluar tembok ia bisa melihat gunung dan bukit yang terpancar seperti mengelilingi kota Majestic.


Randi membuka tasnya, dan mengeluarkan buku berukuran kecil tersebut, lalu ia melamun melihat buku tersebut beberapa menit.


"Apa ini? apakah benar? aku lihat sendiri kok tadi, raja itu mengatakan jika mereka tidak melakukan hal ini, apakah aku yang bodoh?"


"Sejujurnya aku tidak paham, apa yang di tulis dibuku ini, yang aku tahu liontin, liontin, liontin, dan kejahatan raja, bahkan aku harus membasahi buku ini dulu untuk bisa membacanya...." pekik Randi seorang diri.


Memang tujuan Randi disini untuk menenagkan pikirannya, ia hanya butuh sendiri sementara waktu, ia butuh hati dan pikiran agar rileks. Ia hanya ingin melihat banyak orang disini, ia tidak ingin terus melihat hutan yang sepi diistana Aleris.


"Kalau bisa mah, mau hidup di dalam kerajaan..." sahut Randi.


"Gilang...." gumamnya.


"Aku tidak kecewa karena kau lebih asyik dengan Silas dan yang lainnya, aku hanya ingin memcari jawaban dan setelah itu kita bisa pulang, lebih tepatnya aku tidak ingin kau terluka..."


Terlintas dipikiran Randi tentang Agil, beberapa menit pikirannya hanya tertuju kepada Agil.


"Apakah dia sudah tiada? lihat saat aku mencarinya tidak ada satu pun orang yang hidup disana, malah aku bertemu dengan raksasa gila!"


"Kalau memang sudah tiada, aku pikir kau bisa membantu aku untuk menyelesaikan permasalahan ini..." lanjutnya.


Entahlah seperti ada kekuatan yang membuat Randi berpikiran seperti itu, bahkan Randi sudah tidak intens lagi membahas Agil atau yang berhubungan dengan pencariannya. Randi hanya fokus pada teka-teki yang ia lihat didalam buku tersebut.


"Tapi aku masih berharap sih kalau kau masih hidup, dan menyusulku di Majestic ini..." sahut Randi.


Randi berdiri, ia menghembuskan nafasnya, dan siap untuk segera mencari penginapan. Ia melangkah melewati jembatan, dan tak lupa ia menyapa beberapa orang yang melintas didepannya.


Namun saat ia melangkah seperkian detik, ia melihat segerombolan para prajurit yang datang menunggangi kuda dari arah balik perumahan menuju kerajaan. Suara langkah kaki kuda yang bergumuruh.


Siapa mereka? dari mana asalnya? baju prajurit itu sangat berbeda dengan prajurit yang ada disini, lhoh siapa dia?


Ditengah-tengah para prajurit itu, ada seorang yang kelihatannya sangat rapi dan bersih seperti pangeran atau raja, ia terlihat tidak memiliki tangan pada tangan kirinya.


Dengan cepat, orang-orang itu melewati benerapa orang yang ada didepannya dengan sangat cepat. Orang-orang sangat terkejut dengan kedatangan mereka tiba-tiba.


"Apakah dia adik dari raja Gevar" ucap salah satu orang yang berdekatan dengan Randi.


Randi tidak sengaja mendengarkan, lalu ia melangkah mendekat.


"Siapa pak? adik raja?" tanya Randi.


Bapak tua seraya membawa nampan dan caping tersebut menjawab.


"Sepertinya, tapi saya kurang tahu, yang saya lihat tapi kok ia hanyq memiliki satu tangan saja, yang saya tahu adik raja Gevar memiliki kedua tangan yang utuh..."

__ADS_1


Hal itu yang membuat Randi memikirkan lagi, hal itu membuat PR bagi Randi lagi.


__ADS_2