
Mereka berempat turun dari elang itu kesebuah tempat, seperti kuil ditengah-tengah hutan, didepan kuil terdapat sebuah air terjun yang tinggin membuat sungai mengalir disamping kuil itu, air terjun nya yang mengalir deras dan jernih, seraya mereka merasakan hawa dingin karena kuil itu benar-benar dejat dengan air terjun.
Mereka turun, dan elang itu lalu terbang begitu saja entah kemana, sama yang dilakukan mereka berempat zero itu turun, para zero itu menyuruh mereka untuk mengikutinya kesebuah tempat.
Ia berjalan melewati beberapa kuil yang terlihat sepi, padahal hari masih terlihat cerah, salah satu zero itu berhenti dan mempersilahkan mereka untuk masuk kersebuah kuil.
"Beristirahat disini terlebih dahulu untuk sementara"
Memang mereka terlihat kebingungan, dan masih banyak pertanyaan yang mereka ingin tayakan namun zero itu dengan cepat mempersilahkan mereka masuk untuk beristirahat dan beranjak pergi begitu saja.
Mereka meletakan barang-barangnya, dan menjatuhkan tubuhnya untuk beristirahat, tidak ada yang istimewa di dalam kuil itu, hanya ada beberapa lemari dan meja makan sepertinya dan kamar mandi, sedikit luas, dan bisa digunakan lebih dari lima orang.
Agil menjatuhkan tubuhnya, ia masih sedikit merasakan sakit ditangannya, tanpa diminta jay mendekat dan membawakan sebuah larutan untuk memijat tangan agil, agil menerimanya, ia tersenyum, "Aku tidak minta kau datang sendiri" ucap agil.
Jay hanya tersenyum, ia lalu mengompres beberapa luka memar diwajah agil dengan air hangat.
Argus membuka jendela kuil itu, betapa takjupnya ketika membuka mata, ia langsung disuguhkan pemandangan air terjun yang tinggi, dan pohon-pohon yang menari karena angin dari air terjun yang mengalir dengan deras.
Rambut argus terbawa angin dan ia merasakan hawa sejuk dan dingin, ia menatap air terjun itu.
"Ada ya kuil didekat sini paman beberapa tempat yang tidak begitu banyak dan dikelilingi hutan belantara dan kita bisa menyaksikan air terjun didepan mata, bahkan suaranya deras terdengar jelas" sahut tea.
Argus hanya terdiam, untuk saat ini memang dia tidak banyak bicara, ia hanya melakukan dengan gerakan saja.
Kuil itu hanya berdiri beberapa tempat saja, tidak banyak seperti desa, apakah hanya ada beberapa zero yang tinggal disana tidak ada banyak? Tempat itu sepi hanya suara derasnya air terjun.
"Apakah kita bisa mempercayai zero itu?" Tea bertanya.
"Aku yakin kita diselamatkan oleh mereka dengan niatan baik" sahut jay.
Argus berdiri dan keluar dari kuil itu, tea sempat ingin ikut pergi bersama agil keluar mencari angin, namun tea sadar ia tidak bisa meninggalkan jay dan agil berdua disini, sesuatu akan terjadi jika tea meninggalkannya.
Argus membuka pintu dengan hati-hati, ia menatap kanan-kiri tempat itu, masih sama sepi dan hening, argus berjalan-jalan menelusuri tempat itu, hingga ia bertemu dengan zero itu yang juga baru saja keluar dari kuil.
Zero itu menundukan kepala menghormati argus yang berjalan didepannya, argus terdiam karena kebingungan, zero itu sadar dengan kebingungan argus, ia mendekat.
"Kami diajarkan untuk seperti ini diorang yang lebih tua, jadi kami tidak memandang kekuasaan yang tinggi"
Argus tersenyum, lalu ia melanjutkan jalannya, zero itu berjalan disamping argus, "Saya temani anda jalan-jalan"ucap zero.
"Siapa namamu?" Argus mengeluarkan suaranya.
"Nama kami dirahasiakan, namun anda dan teman-teman anda bisa memanggil beberapa dari kami dengan sebutan zero 1, 2, 3, dan seterusnya"
"Bagaimana kita bisa membedakanya"
"Disamping jubah kami ada angka, dan ini angka milik saya nomor 1"
"Kenapa dirahasiakan?"
Argus lalu berjalan kearah sungai dan duduk dibatu yang berada dekat sungai, ia merendam kakinya, sungai itu sangat dingin namun segar.
Zero itu mengikuti gerakan agil.
"Apakah boleh saya bertanya?"
Argus mengangguk, "Apakah orang tua yang kami temui tadi adalah rekan anda?"
Argus lalu menjelaskan semuanya tentang perjalanannya, hingga bertemu kakek itu, lalu argus kemudian terdiam ia teringat tenyang sebuah monster kuno itu.
"Katanya monster itu disegel kenapa bisa keluar?"
__ADS_1
Zero itu meggerutkan dahinya, "Aku tidak tahu pasti tapi biasanya ada seseorang yang mengambil monster itu untuk dimanfaatkan namun setelah selesai dia dikembalikan tanpa disegel"
Argus membuang muka, dan menghembuskan nafasnya.
Tanpa argus bertanya, zero itu menjelaskan, "Maaf membuat anda dan teman-teman anda terlihat tidak nyaman, kuil ini terlihat sepi karena zero-zero yang lainnya sedang melakukan perjalanan mereka, yang tersisa disini hanya ada saya zero 1, zero 5, zero 9, dan atasan kami"
"Bisa kah aku bertemu dengannya?" Ucap agil.
"Dia sedang tidur maaf, karena belum waktunya saya tidak menyuruh anda untuk bertemu sekarang, jadi sepertinya besok"
Argus bisa mendiskripsikan apa yang ada didepanya, wajahnya tampan matanya sayu, dan tubuhnya kekar, sebagian besar apakah memang seperti itu bentuk dari seorang zero.
"Apakah anda dari suku serafina?" Ucap zero itu.
Argus langsung membuka matanya lebar, "Kau tahu?"
"Saya tahu karena tanduk anda"
Zero itu menjelaskan tentang perkumpulan laki-laki yang diutus untuk menjalankan tugas, selama masa pelatihan lima tahun yang diajarkan adalah meditasi dan bela diri, mereka datang dari suku-suku yang berada dalam negeri.
Argus bertanya apakah menjadi zero berat, zero 1 mengatakan dengan singkat, "Berat karena setiap harinya melihat rekan kami yang terbunuh oleh para monster"
"kenapa kau mau bergabung?"
Zero itu tersenyum, "Apakah anda pernah egois? membuat hal yang tidak penting menjadi penting karena keegoisan itu, saya melakukanya karena mengabi pada negeri ini, apa lagi tahun ini musim dimana para monster keluar"
Baru saja argus merasakan keegoisan itu, membuat paksaan dengan agil agar agil segera mengenali dan beradaptasi dengan lingkungan namun semuanya memang salah.
"Saya pernah membasmi monster raksasa diteluk alaska, hanya ada saya dan zero 3, kami menggunakan kekuatan kami untuk pertama kalinya, namun karena zero 3 menggunakan kekuatannya dengan keegoisanya, ia mati dibunuh oleh monster itu"
Butuh beberapa tahun lamanya membentuk sebuah kekuatan yang disegel ditubuh para zero, tujuan hidup mereka memang hanya satu membasmi para monster, tidak ada hal yang lain untuk mereka lakukan.
"Benar-benar mengabdi untuk negeri ini" sahut argus.
Zero 1 itu menatap kuil yang ditempati agil, jay, dan tea, lalu ia bertanya.
"Mereka berbeda dengan dirimu, apakah mereka buka asli suku serafina?"
Argus mengikuti mata zero 1 itu yang sedang menatap kuil, "Kau pasti tahu mereka ada disini"
Seperti tahu yang dikatakan argus zero itu hanya mengangguk, "Mereka tersesat dinegeri kami?"
"Apakah menjadi zero itu memiliki banyak rahasia?"
Zero 1 hanya mengangguk, sepertinya ia tahu apa yang akan dikatakan argus ia ingin bertanya tentang tersesatnya orang-orang asing yang datang ke negeri ini.
Ada keheningan beberapa saat, hanya suara deras air terjun yang air sungai mengalir didepanya, udara sejuk memhuat argus menutup kedua matanya merasakan kesegaran cerpikan air dari air terjun.
"Apa yang kau tahu tentang hidup" argus bersuara.
Zero 1 hanya menatap bingung ia menjawab, "Memiliki tujuan hidup"
"Apakah itu yang kau tahu?"
Zero mengangguk, "Aku bukan orang hebat, aku hanya seorang zero seperti manusia pada umumnya"
"Hidup adalah antara kesenangan dan kebencian menjadi satu, tanpa mereka kau tidak hidup, kau harus menguasai keduanya, begitu juga seperti hati dan pikiranmu...."
Zero 5 mengeluarkan sebuah kotak berisi sebuah kain yang dilipat, ia membukanya dan kain itu bertulisan 'misi kali ini adalah monster teluk alaska' zero 5 memutarkan bola mata seraya berkata, "Aku tidak ingin kesana"
Zero 9 datang dan mengambil kain itu, "Karena kekuatan kami kita bisa mengalahkan monster itu.."
__ADS_1
"Kau ingat zero 3?"
Zero 9 hanya menunduk, "Bagaimana bisa semua para zero mati karena monster diteluk alaska..."
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang berjalan dan berhenti didepan kuil mereka, zero 9 membuka pintu itu, mereka menundukan kepala kepada argus, lalu argus mengikuti cara mereka menundukan kepalanya juga.
"Dari mana saja andaa" tanya zero 5.
"Aku dan zero 1 hanya mencari angin" lalu agus meninta ijin untuk beranjak pergi dan kembali ke kuilnya, tubuhnya melemah saat ia melaukan perkelahian bersama agil, sejak saat itu tubuhnya lemas tak berdaya.
"Apakah aku sudah tua? kenapa aku ditonjok agil langsung tak berdaya?" batinnya.
Zero 1 lalu kembali kekuil itu, ia sudah membuka kotak itu awal, zero 5 dan 9, hanya terduduk diam, karena tugasnya kali ini adalah teluk alaska, zero 1 akhirnya mengeluarkan suaranya, setelah beberapa menit ada keheningan.
"Apakah kalian ingat zero 3?" pertanyaan itu membuat zero 5 dan 9 menatap zero 1 dengan tajam.
"Ia mati karena keegoisannya sendiri bukan? kenapa kalian kawatir dengan misi ini, sudah berapa lama kalian mengabdi menjadi zero? bukankah sudah lima belas tahun?"
Zero 9 berdiri dan menatap zero 1 yang masih berdiri diambang pintu, "Tidak pernah tahu ya rasanya kehilangan?"
"Bahkan orang yang terlihat kuat seperti kita ini juga meraskaan takut dan kesedihan" sahut zero 5.
"Kita terlihat kuat dimata orang-orang disana, tapi sejujurnya kita juga seperti manusia yang lainnya" lanjut zero 9.
Zero 3 tiba-tiba datang dan mendarat kesebuah batang kayu besar, ia berteriak, "Dimana monster itu!!!!!"
Zero satu menepuk pundak zero 3 dengan keras, "Tidak seperti itu memancing monster itu keluar"
Setelah menunggu lama, seekor monster keluar dari dalam hutan, monster itu mengaum dan terbang seraya mengeluarkan api dari dalam mulutnya seperti sebuah naga besar datang dengan mengerikan, dengan cepat zero 1 dan 3 menghindar, dengan jurus kecepatan terbang mereka.
Zero 1 menjelaskan bahwa misi ini adalah sulit jika dilawan oleh satu orang saja, dan butuh kerja sama, namun zero 3 menolak dan sengaja tidak mendengarkannya.
"Zero 3 gunakan kekuatan pembekuanmu!!!" karena ingin terlihat hebat dan kelalaiannya, ia malah menggunakan kekuatan apinya, kekuatan itu membuat zero 3 kewalahan karena monster naga itu mengeluarkan api bersamaan dengan agil mengeluarkan kekuatan apinya.
Tubuh zero terlempar dan jubah zero 3 terbakar, dengan cepat zero 1 mengeluarkan kekuatan pembekuan dan membekukan api yang dikeluarkan naga itu.
Karena merasa kalah saing, zero 3 mengeluarkan kekuatan api dengan kekesalan, ia mengarahkan ekor naga itu, naga itu meraung ekornya mengibat-ngibat tak berarah, zero satu lalu membawa zero 3 pergi dengan kekuatan pemindahan kilap, zero 1 menepatkan ditempat yang jauh dari monster itu.
"Apa yang kau lakukan!!!!"
"Kenapa? kau ingin terlihat hebat didepanku?"
Zero 1 menggerutkan dahinya, "Apa maksudmu?"
"Akan ku tunjukan" ucap zero 3 seraya pergi menggunakan pemindahan kilap.
Dari kejauhan zero 1 bisa melihat zero menyerang monster itu dengan hebat, berkali-kali ia menggunakan kekuatanya, berganti-berganti, dan menghindari monster itu dengan mudah, hingga salah satu tanduk naga itu bisa ia patahkan.
Namun seperti masih kurang, zero 3 itu mendarat dipundak naga itu, seraya mengendalikan naga itu dengan kekuatanya, zero 1 lalu membantunya untuk mengendalikan naga itu, tapi zero 3 tidak terima ia malah mengeluarkan kekuatan angin membuat tubuh zero 1 tersungkur, zero 1 muak ia mencoba melakukan kembali, ia membantu zero 3, namun zero 3 tetap merasa tidak terima, ia mengeluarkan jurus apinya hingga tubub zero 1 terbakar.
Naga itu terus mengaum karena zero 3 yang duduk dipundaknya dan mengendalikan naga itu dengan kekuatanya, naga itu berhasil mengalahkannya, cakarnya meraih tubuh zero 3 dan membantingnya ketanah, cakar itu meraih kepala zero yang masih meriintih kesakitan, naga itu menarik kepala zero 3, hingga ia tewas, kepalanya terputus.
Zero 1 yang masih merintih, melihat dengan jelas kejadian itu, dengan emosi zero 1 menggunakan kekuatan pembekuan tingkat tinggi, membuat matanya mengeluarkan darah, dengan cepat ia menyerang naga itu berkali-kali, tapi tetap naga itu tidak terbunuh, zeri 1 mengulangi lagi dan lagi sampai energinya terkuras dan lemas, namun naga itu masih terlihat mengaum, zero 1 terus melakukan hal yang sama, hingga akhirnya naga itu terbunuh disaat zero sudah diambang terkurasnya energinya, sepertinya sudah saatnya menyusul zero 3.
Ia terbangun setelah lama ia pingsan, ia berdoa didepan makam, yang ia buat, untuk menguburnya, ia menyisakan kepalanya untuk dibawa kekuil mereka, dengan perasaan kecewa sedih, kecewa karena dirinya sendiri yang tidak cepat menyelamatkan zero 3 dan sedih melihat apa yang ia lihat didepan matanya.
Ia membawa kepala zero 3 dan menjatuhkan didepan atasannya, matanya terus berair dan terjatuh begitu saja, atasnya melotot melihat apa yang zero 1 bawa, sempat zero 1 membenci tugas ini, karena ulahnya sendiri, atasanya mengambil kepala itu dan menguburkannya disebuah makam kuil, ia sujud dan mendoakannya, zero 1 masih terdiam beberapa hari karena menyalahkan diri sendiri, atasnya menenangkannya berkali-kali hingga zero 1 bisa menerima lagi pekerjaan ini.
Walaupun sangat sulit tapi itu lah akhirnya dan salah satu tujuan menjadi zero yang hebat dan kuat, semua perjalanan para zero yang mengerikan disetiap harinya, sejak saat itu zero 1 sangat membenci orang yang memikirkan dirinya sendiri agar terlihat hebat.
Hal yang secuil bisa mengubah hidupmu karena keegoisanmu, ingin menjadi hebat dan kuat, hanya satu syarat ikuti prosesnya dan jalani dengan sederhana, akan tiba saatnya kau merasa bahagia diujung hidupmu karena kau telah menyelesaikan semua perjalananmu
__ADS_1