Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Fitnah Varegar


__ADS_3

Tubuh Aleris tersungkur disebuah ruangan yang gelap, bergema, hanya ada sebuah obor kecil. Tubuhnya sangat lemas bahkan ia tidak bisa berdiri, ia sama sekali tidak memiliki tenaga. Aleris sangat tahu dimana tempat ini, ini adalah ruangan bawah tanah yang biasa raja Gevarnest menyiksa ribuan prajurit atau siapapun yang pengkhianat kepadanya.


Disebuah ruangan itu, hanya ada Aleris, sang raja, dan Varegar. Ia tidak bisa melihat adanya seseorang selain mereka.


"Lepaskan....." gumam Aleris suara beratnya memenuhi ruangan.


Namun yang Aleris terima hanyalah tendangan dari Varegar mengenai tubuhnya yang masih tergeletak dilantai.


"Aku hanya punya satu pertanyaan..." sahut raja.


"Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?" tanya raja.


Aleris memutar bola matanya, "Sudah beberapa kali aku katakan, aku tidak memiliki rahasia apapun..."


"Nyatanya kau banyak memiliki kenalan yang bahkan kenalamu itu bukan orang biasa.." sahut Varegar.


"Aku tegaskan kepadamu, jangan pernah mengeluarkan kalimat mengada-ada yang bahkan aku tidak pernah melakukan itu...." ucap Aleris.


Raja Gevarnest mendekat, "Lalu tentang permasalahan yang masih hangat, tentang iblis? kau sungguh tidak tahu?"


"Atau jangan, kau bersengkongkol dengan iblis itu?" lanjutnya.


Aleris terbelalak, "Tidak! bukannya kau? anakmu sendiri dia seorang iblis!" pekik Aleris.


Raja Gevarnest yang mendengarkan hal itu, memukul wajah Aleris dengan keras.


"Jaga mulutmu!!!!!!" pekik raja.


Raja Gevarnest lalu memperintahkan Varegar untuk memanggil Gilang, yang ia kurung disebuah ruangan.


BRUK!!!


Tubuh Gilang yang tersungkur karena dorongan keras dari Varegar, tubuhnya terjatuh tepat didepan Aleris. Mata Gilang masih tetutup kain dan kedua tanganya yang masih terikat, ia tak banyak bicara, ia hanya pasrah diperlakukan seperti apapun.


Hanya Aleris yang tak henti-hentinya berteriak.


"Diam" sahut Gilang.


Aleris menatap Gilang, "Lang...."


"Kau bisa diam tidak?" ucapnya.


"Jadi? apa yang sebenarnya terjadi?" sahut sang raja.


Mereka masih terdiam, "Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan? Gilang, Randi, Agil yang berjumpa denganku adalah teman baru yang aku temui saat mereka tersesat, mereka tidak ada hubungannya denganku, dan tentang fitnah Varegar..."


Ucapan Aleris terpotong oleh ucapan Varegar.

__ADS_1


"Fitnah? fitnah kau kata!?!?!"


Varegar mendekat kearah Aleris, "Aku tidak pernah mengada-ada, bukankah kau memiliki misi rahasia? jika tidak kenapa kau menyiksa dirimu sendiri agar tinggal disini? tidak mungkin kau diam-diam bertemu dengan mereka bertiga jika tidak memiliki rencana yang sudah kau susun rapi, tanpa ada yang tahu, setelah persoalan para iblis gila ini berhenti secara tiba-tiba, aku sangat yakin kau berkerja sama dengan mereka, memang aku tidak memiliki bukti, tapi kau tahu kan? aku memiliki isting yang baik? maka aku dan raja memutuskan menghancurkan istanamu yang secara tak langsung Ivornest adalah istana milik raja Gevarnest, namun karenamu istana itu dipenuhi kesialan!"


"Apakah itu masuk akal!?!?! ha???!!" teriak Aleris.


"Kalimat yang kau susun barusan adalah fitnah dan mengada-ada, bahkan tidak masuk akal sama sekali!!!!! kau pikir setelah kau menghancurkan istanaku? kau akan bahagia? jangan harap itu!!"


"Kau bisa diam!!!!!!!??" sahut sang raja.


Gilang hanya bisa terdiam, ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata.


"Siksa dia jika Aleris masih bungkam.." bisik raja kepada Varegar.


Namun Aleris masih bisa mendengarnya, tanpa aba-aba Varegar lalu menendang perut Gilang hingga Gilang tersungkur, Aleris yang melihat itu lalu ia berdiri dan menabrakan diri ketubuh Varegar membuat mereka berdua jatuh kelantai.


Varegar dengan cepat menepis, dan mendorong dengan keras tubuh Aleris. Raja Gevarnest yang melihat itu hanya tersenyum lalu ia beranjak pergi dari ruangan tersebut.


Varegar berdiri dan menarik rambut Aleris agar Aleris berdiri, Aleris kembali berhasil menepis dengan tangannya, dan ia dengan cepat menghantam wajah Varegar dengan tangannya. Varegar hanya terdiam ia tersenyum.


"Apa susahnya mengaku?" ucapnya.


Aleris menatap Varegar dengan tajam.


"Mengaku? apa yang harus aku katakan?"


Varegar tertawa, "Kau ingin melihat temanmu mati dihadapanmu?"


Gilang bisa melihat Aleris didepannya, dengan wajah yang berantakan penuh luka memar dan darah.


"Lang...." gumam Aleris.


Gilang membuang muka.


"Baik..." ucap Varegar berdiri.


Tiba-tiba ia menarik kerah baju Gilang, mengangkat tubuh Gilang sampai keatas membuat Gilang merasakan nafasnya sesak karena kerah baju yang melipat lehernya, Varegar tanpa aba-aba lalu membantingnya kelantai, namun yang mendarat terlebih dahulu kepalanya hingga membuat Gilang jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Saat Aleris ingin membalas perbuatan Varegar, seseorang tiba-tiba datang seraya memanggil Varegar dengan keras.


"Arvand..." gumam Aleris.


Arvand melangkah dan mendekat, Varegar menoleh dan menundukan kepalanya.


"Bisa jelaskan ada apa ini?" ucap Arvand.


Aleris menatap Varegar sebentar, lalu ia mendekat kearah Gilang untuk menolongnya.

__ADS_1


"Hentikan aksi gilamu itu..."


Varegar tertawa saat mendengar ucapan yang dikeluarkan oleh seseorang yang baru saja tiba tanpa tahu apa-apa, bahkan Varegar jadi teringat apa yang raja katakan padanya.


"Bunuh siapa saja yang menghalangimu"


"Jika itu pangeran?"


Raja menoleh, "Bunuh saja...."


Varegar lalu mendekat kearah Arvand.


"Sepertinya pangeran tidak tahu apa-apa, sebaiknya tidak usah ikut campur..." sahut Varegar.


Arvand menghelan nafasnya, "Bagaimana bisa aku tidak ikut campur? Aleris adalah temanku...."


Varegar megantongi tangannya kedalam saku celana, ia tersenyum.


"Bukankah pangeran sedang dikerumuni rasa bersalah karena membunuh Bravogar?"


Arvand yang mendengar ucapan Varegar terbelalak, ia tak menyangka Varegar membawa masa lalunya, ia mengucapkan ucapan yang bahkan Arvand sendiri sedang berusaha melupakan persoalan tersebut.


Lalu Arvand tiba-tiba memukul wajah Varegar, dengan keras membuat Varegar tersungkur, hidungnya mengeluarkan darah, Arvand menarik kerah baju memaksa Varegar untuk berdiri.


"Kau tidak ada apa-apanya, jika tidak ada Gevarnest..." pekik Arvand.


Aleris lalu membawa tubuh Gilang yang tak sadarkan diri untuk keluar dari ruangan itu, namun saat ia melangkahkan kaki beberapa langkah, raja Gevarnest tiba-tiba datang dan menghalangi.


"Arvand...." panggil raja.


Arvand menoleh, ia lalu melepaskan kerah baju Varegar begitu saja membuat Varegar terjatuh kelantai, ia mendekat kearah ayahnya.


"Ya, benar aku harus ikut campur, harus! Aleris temanku! dan kau dengan sesuka hatimu melakukan yang bahkan seharusnya kau sudah dihukum! karena fitnah gila!"


Raja Gevarnest menampar pipi Arvand.


"Kau berani mengatakan hal itu kepada ayahmu?" sahut sanga raja.


"Aku berani membela yang benar" ucap Arvand.


Raja Gevarnest memejamkan matanya sebentar, "Kau tidak sda hubungannya dengan ini....." bisik raja.


"Jadi, pergilah atau aku bisa saja membunuhmu.."


Mendengar ucapan dari sang ayah, tentu Arvand tersentak.


"Baiklah, bunuh aku......aku hidup disini hangalah parasit untukmu kan? yang sekarang kau banggakan adalah anak keduamu, seorang iblis!!!!"

__ADS_1


Mata Raja melotot, mendengarkannya, ia dengan spontan memukul wajah Arvand hingga mulut dan hidungnya mengeluarkan darah.


"Katakan lagi!!!!!! katakan lagi Arvand!!!!!"


__ADS_2