Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Munculnya para Zero


__ADS_3

Aleris tersedak saat Vin mencoba menyadarkan Aleris dengan cara memberikan tekanan atau kompresi pada dinding dada, karena sempat jatung Aleris tidak berdetak, Vin yang tahu menahu tentang hal tersebut ia sebisa mungkin berharap tindakannya benar dan semoga jantung Aleris bisa berdetak kembali, dan benar tak lama Aleris tersadar.


Aleris mencoba membenarkan posisi duduknya, ia kaget karena ia sudah masuk kedalam rumah, awalnya ia sangat ketakutan ia akan mati karena kawanan monter kelelawar tersebut. Vin menarik kedua tangan Aleris yang bengkak dan lebam bewarna hitam itu. Tangan Vin menyentuh kedua tangan Aleris yang lebab ia memejamkan matanya.


Lalu Vin membuka matanya, mata Vin tiba-tiba mengeluarkan cahaya merah mengarah kedua tangan Aleris, dan tak lama luka lebam tersebut menghilang. Aleris yang sempat syok karena melihat kekuatan Vin yang terpendam dimana ia bisa mengobati lukanya.


Aleris kaget ia lalu berdiri, "Kau?"


Vin mengangguk, "Tapi aku hanya bisa mengobati luka ringan saja, selebihan aku tidak bisa...."


Aleris masih lemas, ia berjalan mendekat kejendela dan melihat situasi di luar, ternyata masih sama saja tidak berubah.


***


Randi dengan wujud drakula itu, masih bertarung dengan Auvamor, ia beberapa kali menendang, menghantam, dan melempar tubuh Auvamor, tapi Auvamor juga beberapa kali berhasil menghindar, dan berhasil menghantam Randi. Raja Gevarnest tersenyum seraya duduk menyaksikan bertarungnya Auvamor dan Randi.


Entah saat ini mereka tidak bertarung dengan kekuatan yang ia punya, mereka hanya bertarung dengan bela diri, hingga keduanya babak belur di kedua wajah mereka. Sempat Auvamor kalah dibabak pertama, tapi disaat babak kedua dimulai kembali, Randi terlihat tenaganya sudah berkurang, bahkan Auvamor bisa melempar tubuh Randi dengan kedua tanganmya, hingga menerobos reruntuhan bangunan.


"Berdiri, berdiri!!!!!!!!!" pekik sang raja.


Randi masih tergeletak tak memunculkan gerakan, Auvamor tersenyum dan menoleh kearah sang raja, ia berlari seraya mengeluarkan bola api dari tangannya, sang raja yang sigap berdiri dan membuat penghalang dengan kekuatan anginnya yang besar seperti angin topan dihadapannya, membuat Auvamor tiba bisa menyerang dengan bola apinya, bola apinya tiba-tiba tertiup oleh angin tersebut.


Tiba-tiba Levaron berlari kearah ruangan itu, ia tersentak kaget saat melihat ruangan didalam kerajaan yang sudah berantakan, dan melihat raja sedang bertarung, ia terdiam dipojok ruangan namun ia tidak bisa diam-diam lagi. Ia kembali melihat jendela kerajaan, jika serangan raksasa mulai menembus masuk kedalam kerajaan, ia pikir portal kerajaan yang dibuat raja sudah melemah.


"Tuan!!!!!!" teriak Levaron memberanikan diri.


Sang raja dan Auvamor tersengak kaget, mereka spontan menghentikan pertarungan mereka, sang raja mohat Levaron mendekat.


"Tuan! serangan para raksasa itu sudah sampai masuk kedalam kerajaan, lemparan mereka sepertinya membuat portal dikerajaan hancur dan melemah..."


Auvamor ikut mendengar ucapan Levaron, ia tersenyum tipis, ketika Auvamor mencoba untuk menyerang kembali, ketika sang raja dan Levaron masih saling berbicara, tiba-tiba Randi bangkit dan melempar tubuh Auvamor dengan keras hingga terlempar jauh sampai keluar kerajaan.


Sang raja dan Levaron tersentak kaget.


"Sialannnnnn!!!!!!!" sahut sang raja.

__ADS_1


"Dimana Rine! dan Varegar!!!!" teriaknya.


***


Rine membuka sebuah kotak yang disimpan disela-sela laci kokpit pesawat.


"Apa itu!" sahut Varegar.


Rine tidak menjawab ia membuka kotak tersebut dan memunculkan sebuah mutiara bening yang lumayan besar.


"Dengar ini adalah alat yang aku buat, untuk menlohat situasi diluar sana, dan mengambil serbuk kristal ini untuk menyiram mutiara ini, ini adalah salah satu cara agar kita bisa melihat didalam mutiara ini..."


Rine mengeluarkan serbuk kristal itu dan menaburi diseluruh badan mutiara itu, dan tiba-tiba munculah gambar yang meperlihatkan situasi diluar ruangan. Varegar tersentak saat mutiara itu menunjukan bagian depan kerajaan dimana para prajurit yang sedang berusaha melindungi serangan dari lemparan raksasa.


"Apakah portal itu sudah melemah?" sahut Rine.


Varegar masih terdiam, situasi digerbang kerajaan yang membuat para prajurit kesusahan.


"Dimana Gevarnest? dimana dia? kenapa dia sangat lamban sekali?"


Mutiara itu lalu mencari keberadaan Aleris, namun tetap mereka tidak melihat adanya sosok Aleris diluar sana, yang mereka lihat hanyalah Agil, Gilang, dan Fay yang mencoba turun dari dinding kerajaan.


***


"Gil ati-ati" sahut Fay yang masih berada diujung jendela.


Fay paling terakhir turun, karena bidan yang terjal dan tali yang menjadi alat turun tidak begitu kuat, Agil masih berada ditengah tali, sedangkan Gilang masih diujung.


"Bagaimana jika tali ini tidak kuat?" sahut Gilang.


Agil yang masih menahan tubuhnya menjawab.


"Tidak, santai saja ini pasti berhasil..."


Fay melihat para raksasa itu yang sudah berhasil menyerang kerajaan.

__ADS_1


"Semoga kita segera bisa menjauh dari kerajaan ini, aku takut lemoara raksasa itu akan mengenai kita..." gumamnya.


Bahkan mereka bertiga sangat khawatir jika para kelelawar ini datang dan menyerang mereka, untungnya mereka masih berada jauh dari kawanan monster.


Akhirnya Agil berhasil turun, ia turun tepat didepan dinding kerajaan.


"Lang, lewati genting kerajaan ini dan lompat dari ujung dinding." teriak Agil.


Dengan was-was, Gilang mengangguk, ia mencoba turun ia melewati genting kerajaan dan berdiri diujung dinding ia bersiap lompat. Agil berhasil mendapatkan tubuh Gilang yang melompat dari dinding.


Sekarang gantian Fay, Fay masih berada ditengah tali tersebut. Agil menatap tajam Fay, berharap tidak terjadi apa-apa, namun dugaan Agil salah, tali yang diikat di ujung jendela putus, Fay berteriak saat tubuhnya meluncur kebawah, dengan keras tubuh Fay menghantam genting kerajaan, namun Fay masih baik-baik saja. Karena terhalang dinding Agil tidak bisa melihat apakah Fay baik-baik saja.


"Fay! Fay!!!! Fay!!!!" panggil Agil.


Fay masih kesakitan ia mencoba berdiri, tapi kakinya sangat sakit saat dimana ia jatuh dan mendarat dengan satu kaki kanannya.


"Akk....akuu baik-baik saja...." jawab Fay.


Fay berdiri dan berjalan mendekat kearah dinding, Agil dan Gilang merasa lega Fay memperlihatkan dirinya yang terlihat baik-baik saja, Fay kemudian melompat dan menghantam tubuh Agil. Hingga tubuh Fay menindih tubuh Agil yang ada dibawahnya.


Fay menatap Agil, mereka sangat canggung. Agil segera menyingkir.


"Lihat itu!!!" pekik Gilang menyadarkan Fay dan Agil.


Mereka melihat para kawanan monster kelelawar yang disegel dengan batu, dan batu itu tiba-tiba hancur, dan membuat tubuh para kelelawar itu juga hancur bersamaa dengan segel batu. Bahkan mereka melihat tidak hanya satu, ada beberapa yang tiba-tiba monster kelelawar itu disegel dimasukan kedalam batu bulat, dan tiba-tiba hancur berkeping-keping.


Tentu hal ini membantu mereka agar para monster satu persatu musnah.


"Sebenarnya musuh kita sebenarnya sang raja, tapi bagaimana bisa kita harus membunuh para monster ini, mereka baik bukan?"


Agil menoleh ia menjawab.


"Lang, tapi mereka juga menyerang kota, mereka ingin semuanya hancur ditangan mereka, ya kalau bisa juga kita harus menyerang dua-duanya..."


"Dengan kekuatan seadaanya yaang kita miliki ini? bagaimana bisa? kita loncat dari dinding saja sudah kesakitan?"

__ADS_1


Fay menghelan nafasnya, memang benar apa yang dikatakan Gilang, tapi ia tidak pernah tahu mempertaruhkan warga dan suatu tempat yang menjadi pondasi mereka.


__ADS_2