Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Merayakan Kelahiran 3


__ADS_3

Raja mendorong kursi roda dimana ratu duduk disana. Seraya mengendong bayinya yang tertidur digendongannya. Ratu ingin sekali melihat ruangan untuk pesta yang sudah setengah jadi ia melihat hiasan indah disetiap ujung ruangan itu. Kursi berjajar rapi dan lampion dipojok yang indah menyala.


Raja menyentuh tangan ratu, bukankah ini adalah acara yang sudah lama ratu tunggu-tunggu. Lalu raja menyium kening istrinya, semua para selir atau pelayan menyambut mereka dengan baik dan hormat.


"Kau tidak mengundang teman-temanmu?" tanya ratu.


Raut wajah raja berubah, "Disituasi seperti ini aku tidak bisa mengundang mereka, yang terpenting aku sudah menyebar undangan kepada warga Majestic"


Ratu tersenyum, "Aku paham, walaupun acara ini hanya dihadiri warga saja, tapi aku sudah senang sekali bisa memperkenalkan anakku"


Raja menundukan kepalanya.


"Lalu? bagaimana jika terjadi sesuatu?" ucap raja, seraya duduk didepan istrinya.


Ratu menyentuh wajah raja, lalu ia tersenyum.


"Tidak, tidak akan terjadi" ucap ratu meyakinkan suaminya.


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?"


"Karena aku ibunya..."


Acara perayaan itu akan diadakan malam nanti, biasanya mereka selalu mengadakan perayaan untuk kelahiran anaknya yang akan dihadiri seseorang yang penting dari berbagai penjuru. Namun kali ini karena situasi yang tidak memungkinkan mereka akan mengadakan pesta sederhana.


Setelah Aleris bangun, ia melihat seorang tubuh wanita yang tergeletak disebuah tempat tidur disampingnya ia seperti kenal bentuk tubuh itu, namun ia hiraukan ia masih merasakan nyeri di lengannya. Aleris membenarkan posisi duduknya seraya memeggangi lengannya.


"Kenapa masih terasa sakit?" gumamnya.


Aleris tersentak ketika suaranya menbuat wanita itu terbangun. ia mengucek-ucek matanya.


"Fay?" sahut Aleris saat melihat wanita itu beranjak dari tempat tidurnya.


Fay tersenyum, lalu Aleris membentangkan kedua tanganya berharap ia bisa memeluk Fay. Fay lalu berlari kearah dada bidang Aleris dan memeluknya.


"Sudah sangat lama kau tidak pulang kesini" gumam Aleris.


"Ya kalau aku pulang kesini kau juga tidak akan berada disini kan" ucap Fay melepaskan pelukannya.


"Kata Arvand juga kau dengannya jarang bertemu dan berinteraksi" lanjutnya.


Aleris menunduk, "Memang seperti ini lah semesta"


Fay lalu menyentuh lengan Aleris ia membuka kain perbannya, Aleris masih menatap tidak menyangka Fay ada didepannya.


"Ini akan cepat pulih, jika aku ganti kain perbanya lagi, dan aku oles obat" sahut Fay seraya membuka kain.


Bahkan Aleris tidak bisa berpaling, ia terus menatap Fay, hingga Fay sangat merasa terganggu.


"Pejamkan matamu" ucap Fay seraya menutup mata Aleris dengan tangannya.


Fay beranjak pergi setelah ia telah mengganti perban.


"Ayo makan!" sahut Fay diambang pintu.


Sudah ada banyak orang kerajaan yang duduk dikursi, didepan mereka sebuah meja panjang dan banyak piring berisi makanan lezat. Sudah sangat lama Aleris tidak kumpul saudara seperti ini.


Disebuah ruangan dapur yang megah dan besar, seperti meja bundar mereka duduk melingkari meja panjang itu siap melahap satu persatu makanan.


Mahagaskar, Leon, Varegar, Jangsal, Levaron, Arvand, Raja Gevarnest, ratu Carlota dan ada banyak orang kerajaan yang duduk dikuris makan siap menyantap. Mereka menyambut kedatangan Aleris dan Fay, apa lagi Aleris mereka semua kaget Aleris datang ikut serta dalam acara ini.


Bahkan raja yang sudah terlihat tidak mengenakan menurut Aleris, juga menyambutnya. Mata Aleris tidak bohong yang pertama kali ia lihat seorang bayi yang digendong ratu, namun kembali ia berusaha untuk menghindar.


"Selanat datang Aleris, bukankah sudah lama kau tidak merasakan seperti ini?" pekik raja.


Aleris duduk disamping Leon dan Mahagaskar tersenyum.


"Kau akan menikmati makanan lezat ini lagi..." lanjut raja.


Aleris mengangguk walaupun ia sangat membenci melihat wajah raja.


"Artinya kau kembali kesini karena memang ini rumah kan? jangan sombong karena kau sudah memiliki istana, jadi asal bicara tidak ingin menginjakkan kaki disini lagi, jangan seperti itu, toh kamu kembali lagi..." pekik raja.


Semua orang terdiam saat raja mengucapkan hal itu, semua orang terlihat sangat canggung, dan saling menatap satu sama lain, tentu Varegar hanya tersenyum bahagia.


"Baiklah tuan, sepertinya sudah saatnya untuk menyantap" sahut Mahagaskar mengalihkan pembicaraan.


Mahagaskar sudah bisa melihat raut wajah Aleris yang sudah berubah, ia lalu segera mengalihkan pembicaraan.


"Sebelum menyantap makanan enak didepan kita, aku berharap acara perayaan besok tidak akan ada suatu halangan apapun, berharap acara perayaan dimulai hingga selesai tidak akan masalah apapun, berpegangan kuat kepara ciri khas kerajaan Majestic, jangan lupa simbol kekuatan yang kita miliki" pekik raja, diikuti suara gelas disatukan bersamaan, Cheers!


Makan sore hari itu dilaksanakan hingga beberapa jam karena setelah makan pun mereka masih berbincang-bincang, hal itu tidak membuat Aleris tertarik, ia lebih baik pamit pergi.


"Nanti malam, akan dilaksanakan perayaan sekitar jam tujuh malam" sahut Arvand tiba-tiba datang.


Aleris yang berdiri dibalkon kerajaan menoleh, Aleris hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Arvand.


"Sudah tidak terasa sakit" ucap Aleris singkat.


Arvand melangkah kedepan, berjajar dengan Aleris menatap gemerlap lampu perumahan didepan mereka.


"Kau sudah tahu kan?"


Aleris menoleh, namun Arvand masih menatap pemandangan didepannya.


"Seorang yang aku tunggu-tunggu, lahir tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan, kenapa harus iblis? kau tahu? bahkan dukun terkenal dengan kepintarannya tidak bisa menatap terlalu lama bayi itu, karena baginya itu sangat menyakitkan, lalu apa kabar aku, ayah dan bunda?"


"Kerena kejadian itu, para dukun berusaha menutup portal disekeliling tembok kota Majestic berharap tidak akan ada lagi kejadian yang berhubungan dengan iblis sialan itu..." lanjut Arvand.


Aleris hanya menundukan kepalanya, ia tidak tahu harus mengatakan apa, seolah ia juga ada diposisi Arvand.


"Bagimu, kenapa iblis melakukan ini kepada bunda? kau yang mengerjakan pekerajaan tentang mencari tahu masalah ini, aku ingin tahu apa jawaban versimu"


Angin sore menyambut dengan rasa dingin yang langsung menyengat ditubuh.


"Aku tidak bisa menjawab yang spesifik, karena bahkan semua orang masih menduga-duga"


Arvand menatap aleris.


"Seorang yang salah namun tidak tahu kesalahannya akan pantas mendapatkan balasanya, aku tidak bisa terus memikirkan siapa yang benar dan siapa yang salah, karena pada kenyataanya semuanya tergantung kepada alam semesta saja"


Arvand menyipitkan matanya.


"Masalah orang-orang yang tersesat didunia kita saja masih aku pikirkan sampai sekarang, ditambah hal menjijikan terus berdatangan..." pekik Arvand.


Hari perayaan itu akhirnya dimulai. Setelah semua orang menyebar undangan kepada warga sekitar untuk datang dalam acara tersebut, mereka sudah menyiapkan beberapa kursi yang sanagt banyak diruangan besar itu, tentu raja membatasi siapa saja yang bisa masuk.


Sebenarnya ini bukan hal yang diinginkan ratu, tapi jika tidak menrayakan dan memperkenalkan anak keduanya rasanya mereka bukan benar-benar raja dan ratu yang secara harfiah mereka adalah pemimpin kota Majestic.


Semua orang berdatangan, disambut beberapa prajurit yang menjaga disamping gerbang. Perayaan ini memang selalu dilakukan oleh ratu dan raja jika menyakut hal-hal yang memang harus dipublikasikan seperti hari lahir, pernikahan, atau yang lainnya.


Semua warga yang masuk kedalam kerajaan dibuat kagum oleh hiasan indah diruangan besar itu, bahkan rasanya seperti surga, bukankah warga sekitar masuk kedalam kerajaan rasanya sangat mustahil? tapi jika raja dan ratu berkehendak semuanya akan terjadi begitu saja.


Memang dibatasi, dan yang datang keperayaan itu juga sudah sangat banyak, mereka semua berdandan layaknya para putri dan pangeran, tidak bisa dipungkiri selama masa jabatan sebagai seorang raja, raja Gevarnest terkenal menyayangi para warganya, sehingga mereka tidak sungkan untuk datang atau menyambut ratu atau raja. Namun raja juga terkenal sangat jahat jika sesuatu terjadi padanya.


Suasana semakin ramai, malam itu adalah malam yang begitu menyenangkan melihat warga Majestic tersenyum tak henti-henti karena melihat sebuah ruangan indah, akhirnya mereka bisa melihat dengan jelas ruangan kerajaan yang benar-benar megah dan mengkilap.


Disebuah balkon istana, tepat diatas ruangan itu terdapat balkon yang bisa melihat langsung para warga yang mulai bedatangan dan duduk dikursi yang sudah disiapkan dibawah. Mata Aleris berkaca-kaca, ia tidak bisa membayangkan yang akan diperkenalkan oleh ratu dan raja adalah seorang bayi iblis. Ia berharap tidak akan terjadi sesuatu.


Akhirnya para prajurit menutup gerbang, sudah tidak bisa dihitung berapa banyak yang datang, namun raja sudah yakin ini sudah sesuai dengan yang ia bayangkan.


Raja Gevarnest dibalik tirai memeluk ratu Carlota.


"Tenang, bukankah kita sudah terbiasa berpidato?" ucap raja.


Ratu Carlota mengangguk, namun tidak henti-hentinya kaki yang tergeletak dikuris roda bergetar.


Raja duduk seraya memeggangi kaki ratu yang terus bergetar.


"Kau tahu? kaki ku bergetar tapi aku tidak merasakan apapun"


Raja hanya membalas dengan senyuman.


Varegar lalu memulai sesi permulaan, ia akan membuka sesi acara, ia membuka tirai dan melangkah kepanggung, dan berhenti dimeja pidato.


"Selamat malam warga Majestic" ucap Varegar.


Masih permulaan tapi antusias warga sangat bersemangat, mereka langsung memberi tepuk tangan kepada Varegar. Varegar melambaikan kedua tangannya.


Mahagaskar, Leon, dan Aleris menyaksikan dibalkon atas mereka antusias dan selalu waspada.


"Perayaan yang kami laksanakan setelah beberapa tahun ini, akan memperkenalkan anak kedua yang telah ratu kandung selama sembilan bulan, kami melakukan perayaan sederhana dan mengundang para warga Majestic untuk meyaksikan anak yang telah lahir untuk membangun dan meneruskan kerajaan dan kota Majestic, tujuan perayaan ini semoga anak kedua ratu akan menjadi penompang kehidupan selanjutnya dan bisa menyejahterakan masyarakatnya...."


Pidato Varegar ia ucapkan tidak begitu lama, semua warga sudah tidak sabar menunggu dan ingin cepat melihatnya.


Arvand gugup dibalik tirainya, tanganya gemetaran, lalu Fay mencoba menenangkannya, ia menggengam kedua tangan Arvand.


"Bukankah kau sudah terbiasa?"


Arvand menoleh, "Yang aku Khawatirkan bayi itu...."


Fay menggeleng, seolah ia tahu tidak akan terjadi sesuatu. Advand membuka tirai, saat melangkah sudah banyak yang memberikan tepuk tangan.


"Selamat malam, terima kasih sebelumnya yang sudah datang keacara ini, aku sangat menghormati kalian semua karena kekuatanku sebenarnya hanya adanya warga Majestic disini."


Aleris tersenyum tipis mendengar pidatoyang diucapkan Arvand.


"Sebagai anak pertama raja Gevanest selama aku hidup ia senantiasa memberikan ilmu dan bimbingan kepadaku, hingga aku bisa berdiri disini melihat orang-orang, tentu sedikit terkejut saat harus mendapat kabar ratu mengandung anak kedua..."


Semua orang tertawa karena Arvand melakukan pidato dengan sedikit dibumbui komedi.

__ADS_1


Arvand tertawa, "Ah!" Arvand meningat sesuatu.


"Aku harap seorang anak bernama Tifa datang keacara ini!" mata Arvand menelusuri sekitar.


Lalu ia kaget saat seseorang yang duduk dipojok berdiri seraya melambaikan tangannya. Arvand lalu melambaikan tangannya juga.


"Terima kasih Tifa! kau sudah datang, mungkin kalian tidak tahu apa yang terjadi, tapi inilah semesta ada banyak orang yang akan kalian kenal nantinya. Saat bertemu tifa aku belanjar cara menjadi sabar, jadi selama aku menanti adikku dilahirkan aku belajar sabar..."


Lagi-lagi semua orang tertawa.


"Baiklah mungkin ini yang bisa aku ungkapkan walaupun aku tidak melupakan hafalan yang sudah aku tulis dicatatan hahahah" ucapnya.


Aleris, Mahagaskar, dan Leon tersenyum.


Ia lalu pamit undur diri, ia masuk kedalam tirainya. Arvand mengisyaratkan bahwa sudah waktunya raja dan ratu masuk.


Raja meyakinkan ratu seraya menggandeng tangannya, ratu mengendong bayinya dikursi roda.


Mereka melangkah dan membuka tirai. Semua orang menyambut dengan baik dan memberikan tepuk tangan yang meriah.


Raja lalu mengangkat satu tanganya, untuk menghentikan keramaian itu.


Mereka semua terdiam saat melihat ratu duduk dikursi roda.


"Hahaha terima kasih sudah hadir, banyak cinta yang kalian berikan untukku..." pekik ratu.


"Mungkin kalian kaget kenapa aku duduk dikursi roda"


Ratu menghelan nafasnya.


"Panjang ceritanya, saat aku bercerita mungkin bisa sampai satu minggu disini..."


Semua orang tertawa.


"Bukan apa-apa, karena aku masih dalam proses pemulihan jadi lebih baik menggunakan kursi rodaa...."


Lalu ratu menyerahkan bayinya keraja, raja lalu mengenddong bayi itu.


"Semuanya yang terhormat, acara yang aku adakan malam ini, adalah tentang bagaimana aku akan memperkenalkan sosok yang telah lahir ke dunia ini, sosok yang akan berdiri bersama membangun kota yang sejahtera, berdiri kokoh bersama-sama melawan rintangan"


Semua orang menyoraki, mereka memberikan sorak yang dapat memenuhi ruangan besar itu.


Raja mengangkat bayi itu keatas, "Aku perkenalkan anak keduaku, yang dimana akan membasmi para iblis dan monster dan yang akan menjadi lebih baik tanpa adanya sentuh tangan jahat, Pangeran Richeos!" pekik raja.


Ratu tersenyum, nama yang sudah ia simpan lama.


Semua orang menyambut dan memberikan tepuk tangan. Seseorang selir lalu membawakan sebuah cangkir yang berisi air bunga, raja melespakan pakaian bayi Richeos.


Selama acara itu raja selalu berhati-hati saat membawa bayi itu, ia berharap tidak akan ada sesuatu yang terjadi.


Selir itu menyodorkan cangkir ke ratu, lalu raja mendekatkan tubuh bayi itu. Ratu menyiram air bunga itu keseluruh tubuh bayinya, hingga bayi Richeos menangis karena air dingin itu menyiram tubuhnya.


Sebuah ciri khas sejak nenek moyang, ketika anak bayi yang merayakan pesta kelahiran dan memberikan nama, sebuah tradisi menyiram bunga dan air dingin adalah untuk menghilangan kesialan bayi itu.


Raja menoleh kearah ratu, "Katakan apa yang ingin kau hilangkan dari bayi ini..."


Ratu hanya mengangguk.


"Aku sudah mengatakannya didalam hati..." bisik ratu.


Lalu raja Mengangkat bayinya, tepat cahaya lampu menyorot bayi Richeos.


"Richeos nama yang agung dan kharisma!!"


Tiba-tiba lampu yang menyorot bayi tersebut pecah, yang berjatuhan mengenai beberapa orang yang sedang duduk menyaksikan.


Semua orang terbelalak kaget.


Aleris melotot menatap Mahagaskar dan Leon secara bergantian.


"Jangan, jangan....." gumam Leon.


Tuba-tiba Aleris merasakan hawa panas disekitar, hingga ia menyentuh beberapa kali tubuhnya.


"Jangan ku mohonn, acaranya belum selesaiii" gumamnya menatap kearah bawah.


Mahagaskar lalu turun kebawah.


Semua orang panik, lalu para prajurit datang untuk memeriksa. Saat lampu itu terjatuh bahkan raja tidak merasakan ahwa aneh didalam tubuh bayi yang ia sentuh ini.


"Bawa..bawa kemari..." pekik ratu panik, raja memberikan tubuh bayi itu keratu Carlota.


"Maafkan aku, ini adalah kesalahan yang tidak disengaja apakah ada yang terluka?"


Tiba-tiba kaca dari lampu itu melayang dan menusuk leher salah satu orang yang duduk dipojok ruangan, membaut semua orang terkejut dan kaget, hingga membuat gaduh disekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2